Ruang kerja Ndaru di lantai tertinggi gedung Atmadjiwo Grup terasa dingin pagi itu. Pendingin ruangan bekerja terlalu keras. Namun Ndaru tidak berniat menurunkan suhunya. Udara dingin membantunya tetap terjaga setelah semalam hanya tidur tiga jam.
Ruangan itu sebenarnya masih milik Guna. Ndaru hanya meminjamnya sementara sampai Rapat Umum Pemegang Saham digelar. Beberapa barang pribadi kakaknya masih tertinggal di sana. Foto Guna bersama ketua partai. Plakat penghargaan. Sebuah stik golf yang bersandar di sudut ruangan.
Ndaru menatap stik golf itu sebentar. Teringat dengan sindiran Erina saat makan malam. Lalu dia menggeleng pelan dan kembali fokus pada laptopnya.
Suara ketukan pintu terdengar. Gilang masuk dengan map biru di tangannya. Wajahnya terlihat puas. Ekspresi yang jarang Ndaru lihat akhir-akhir ini.
"Pagi, Pak."
"Kamu kelihatan senang, Lang."
"Saya membawa kabar baik, Pak." Gilang meletakkan map itu di atas meja. "Keterangan dari Wawan sudah lengkap."
Ndaru menutup laptopnya dan membuka map itu. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas yang sudah ditandatangani di atas materai. Ada juga sebuah flashdisk kecil yang ditempel di sudut map.
"Ceritakan."
Gilang duduk di kursi di hadapan Ndaru. "Wawan bersedia memberikan keterangan lengkap tentang malam itu, Pak. Dia mengakui kalau malam itu dia sedang mengadakan pesta lajang di kamar 1907 Atma Hotel. Sekitar pukul sepuluh malam, dia dan beberapa temannya melihat Dito Alamsyah masuk ke kamar sebelah, kamar 1908, bersama seorang perempuan."
"Dia yakin itu Dito?"
"Sangat yakin, Pak. Bagas, salah satu temannya, adalah manajer kafe milik Bu Shana. Bagas mengenali Dito dengan jelas. Bagas juga yang menelepon Bu Shana malam itu." Gilang membalik halaman. "Wawan juga menyebutkan kalau perempuan itu masih ada di kamar saat Bu Shana datang. Mereka mendengar suara keributan dari kamar sebelah sebelum akhirnya Bu Shana keluar dan Dito mengejarnya."
Ndaru membaca lembar demi lembar dengan teliti. Keterangan Wawan cukup detail. Dari jam kedatangan Dito, ciri-ciri perempuan yang bersamanya, sampai teriakan Dito yang memanggil nama Shana di koridor.
"Dan fotonya?"
"Wawan mengakui dia yang mengambil foto itu dari celah pintu kamarnya. Dia tidak sempat memotret Dito masuk dengan perempuan itu karena saat itu dia belum curiga apa-apa." Gilang meringis. "Baru saat ada keributan dia keluar dan langsung memotret, Pak. Dan yang ia dapat adalah foto Bapak dengan Bu Shana."
Ndaru mendengkus. Nasib sial memang suka datang di waktu yang tepat.
"Ada bukti lain selain keterangan Wawan?"
Gilang menunjuk flashdisk itu. "Rekaman CCTV koridor lantai 19 malam itu, Pak. Saya sudah minta dari pihak keamanan hotel. Ada rekaman Dito masuk ke kamar 1908 bersama seorang perempuan pukul 22.14. Wajah perempuannya tidak terlalu jelas, tapi wajah Dito sangat jelas."
Ndaru bersandar di kursinya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan. Kebiasaan yang ia lakukan saat sedang berpikir.
"Bagaimana dengan Wawan sendiri?"
"Dia mau membuat video klarifikasi, Pak. Dia akan mengakui bahwa dia yang menyebarkan foto itu, meminta maaf kepada Bapak dan Bu Shana, dan menjelaskan apa yang sebenarnya dia lihat malam itu. Termasuk soal Dito." Gilang berhenti sebentar. "Dengan syarat tuntutan dicabut, Pak. Pernikahannya tinggal tiga minggu lagi. Calon mertuanya sudah mengancam akan membatalkan kalau kasus ini berlanjut."
Ndaru terdiam. Dia membayangkan pria jangkung yang gemetar di hadapannya waktu itu. Bodoh, memang. Ingin viral, ingin jadi seleb. Namun juga hanya seorang pria biasa yang akan menikah bulan depan.
"Kamu sudah bicara dengan tim hukum?"
"Sudah, Pak. Mereka bilang keterangan ini cukup kuat untuk membantah tuduhan Dito di media. Kalau Dito masih bersikeras, kita bahkan bisa menuntut balik atas pencemaran nama baik."
"Bagus." Ndaru menutup map itu. "Minta tim hukum mengurus permohonan yang memang bisa kita ajukan. Jangan menjanjikan hasil perkara yang bukan wewenang kita. Keterangan Wawan harus tetap benar, bukan dibeli dengan janji bebas."
Gilang mengangguk. "Video klarifikasinya, Pak?"
"Biar Wawan rekam sendiri. Jangan ada naskah dari kita. Orang-orang akan tahu kalau itu dibuat-buat." Ndaru menatap Gilang. "Cukup pastikan dia jujur. Tidak dilebih-lebihkan, tidak dikurangi."
"Baik, Pak."
"Dan rekaman CCTV-nya simpan. Jangan disebar. Itu senjata terakhir kalau Dito masih macam-macam."
Gilang mencatat semua itu di iPad-nya. Lalu dia mengangkat wajahnya dengan ragu. "Satu lagi, Pak. Apa Bu Shana perlu diberitahu?"
Ndaru terdiam sebentar. "Kenapa kamu tanya?"
"Video klarifikasi Wawan pasti akan menyebut nama Bu Shana, Pak. Dan Dito juga. Bu Shana mungkin perlu bersiap kalau wartawan datang lagi."
Benar juga. Ndaru meraih ponselnya. Dia membuka percakapan terakhirnya dengan Shana. Pesan tentang naga putih itu masih ada di sana. Belum ia balas sampai sekarang.
Jarinya bergerak mengetik.
Wawan akan membuat video klarifikasi hari ini. Dia akan menyebut nama kamu dan Dito. Bersiaplah.
Ndaru membaca pesannya sekali lagi. Terdengar terlalu kaku. Seperti surat perintah. Dia menghapusnya dan mengetik ulang.
Wawan akan membuat video klarifikasi hari ini. Isinya tentang malam itu, termasuk soal Dito. Kalau wartawan datang ke kafe, hubungi Gilang.
Masih kaku. Namun sedikit lebih baik. Ndaru menekan tombol kirim.
Balasan datang kurang dari satu menit kemudian.
Bagas cerita tim hukum Bapak sedang mempertimbangkan permintaan Wawan. Dia terharu karena temennya akhirnya mau bertanggung jawab.
Ndaru menatap pesan itu. Urusan resminya memang belum selesai. Ia mengingatkan Gilang agar memberi kabar setelah ada hasil, bukan menyebarkan keputusan yang baru diusulkan.
Lalu pesan kedua masuk.
Saya juga mau bilang makasih, Pak. Beneran.
Ndaru menatap pesan itu. Dia tidak tahu kenapa, tetapi kata "beneran" di akhir kalimat itu terasa jujur. Tidak seperti senyum Shana di depan kamera. Tidak seperti kalimat "Mas Ndaru pemalu" yang ia lontarkan di butik.
Dia mengetik balasan. Lalu menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapusnya lagi.
Akhirnya dia hanya mengirim satu kata.
Sama-sama.
Gilang yang sedari tadi memperhatikan dari kursinya berdeham pelan. "Pak, rapat jam sepuluh."
"Saya tahu."
"Sudah jam sepuluh kurang lima, Pak."
Ndaru langsung berdiri dan meraih jasnya. Gilang menunduk menyembunyikan senyum. Dia tidak pernah melihat atasannya itu lupa waktu. Tidak sekali pun dalam tiga tahun terakhir.