Barang-barang mulai ditata. Kenangan lama ikut terbawa. Kardus demi kardus tertutup rapat dengan lakban. Namun gerutuan tak kunjung mereda dari mulut sang kakak yang tak pernah lelah melawan.
Apartemen Shana yang biasanya rapi kini berubah menjadi kapal pecah. Kardus-kardus cokelat berserakan di lantai ruang tengah. Sebagian sudah terisi, sebagian masih kosong menunggu giliran. Buku-buku bertumpuk di atas sofa. Pakaian menggunung di atas ranjang.
Erina berdiri di tengah kekacauan itu sambil berkacak pinggang. Rambutnya diikat asal. Kaos oblong kebesarannya sudah kotor terkena debu dari rak buku paling atas.
"Lo bawa semua buku ini?" tanyanya tidak percaya.
"Iya, lah. Itu bahan riset gue, Mbak." Shana mengintip dari balik kardus yang sedang ia isi.
"Riset apa? Ini novel semua."
"Novel juga riset."
Erina mengambil salah satu buku dari tumpukan. Sampulnya bergambar seorang pria bertelanjang dada yang memeluk wanita bergaun merah. Dia mengangkat buku itu tinggi-tinggi sambil menatap adiknya dengan tatapan menghakimi.
"Ini riset?"
Shana langsung merebut buku itu dan memasukkannya ke dalam kardus. "Riset tentang hubungan antar manusia."
"Halah." Erina mendengkus dan kembali membungkus gelas-gelas dengan kertas koran. "Gue nggak ngerti kenapa lo harus pindah sekarang. Nikah aja belum."
"Biar nanti nggak repot, Mbak. Setelah akad, gue langsung pindah ke rumah dia. Mana sempat beres-beres."
"Rumah dia." Erina mengulang dengan nada mengejek. "Bahkan lo belum pernah liat rumahnya kayak gimana."
Benar juga. Shana belum pernah ke sana. Yang ia tahu hanya alamatnya dan satu kalimat dari Gilang. Rumahnya aman, tenang, dan tertutup, Bu. Seperti pemiliknya.
"Nanti juga liat."
"Gimana kalau rumahnya serem? Kayak rumah-rumah orang kaya di film horor? Banyak lukisan orang tua yang matanya ngikutin lo ke mana-mana?"
"Mbak, lo kebanyakan nonton film."
"Gimana kalau bapaknya tinggal di sana juga? Terus tiap pagi lo harus sungkem sama dia? Terus dia ngomong 'ayah kalian mantan narapidana' tiap sarapan?" Erina menirukan suara berat Harris Atmadjiwo dengan sangat buruk.
Shana tertawa sampai terduduk di lantai. "Pak Harris nggak tinggal sama Pak Ndaru, Mbak."
"Lo tahu dari mana?"
"Mas Gilang."
"Mas Gilang, Mas Gilang." Erina menggerutu sambil melempar gulungan koran ke arah Shana. "Sejak kapan lo akrab sama asisten dia?"
"Sejak dia jadi satu-satunya orang di keluarga itu yang mau senyum sama gue."
Suara bel pintu menghentikan perdebatan mereka. Shana bangkit dan membuka pintu. Fathur berdiri di sana dengan tiga kotak pizza dan sekantong minuman dingin.
"Bala bantuan datang," ucapnya sambil tersenyum.
"Mas Fathur!" Shana langsung merebut kotak pizza itu. "Lo emang calon kakak ipar terbaik."
"Jangan panggil dia calon kakak ipar. Dia belum ngelamar," sahut Erina dari dalam.
Fathur meringis. Dia melirik Shana yang menahan tawa. "Masih marah?"
"Dari tadi pagi," bisik Shana. "Semua salah di mata dia. Kardus salah, lakban salah, buku gue juga salah."
Fathur masuk dan meletakkan minuman di atas meja yang masih kosong. Dia menghampiri Erina dan mengecup kepala kekasihnya itu sebentar. "Udah makan?"
"Belum. Nggak nafsu."
"Pizza keju dobel."
Erina melirik kotak di tangan Shana. Bibirnya mengerucut. "Ya udah, satu potong."
Satu potong menjadi tiga potong. Mereka duduk di lantai, bersandar pada kardus-kardus yang sudah terisi. Matahari sore menyusup dari jendela, memberi warna jingga pada ruangan yang berantakan.
"Jadi kalian udah ketemu keluarganya Ndaru," ucap Fathur memecah keheningan. "Gimana?"
Erina langsung meletakkan pizzanya. Dia menatap Fathur dengan mata berapi-api. "Kamu harus denger, Yang. Bapaknya itu sombong banget. Dia pamerin menantu-menantunya satu-satu kayak pamer koleksi batu akik. Yang ini keponakan presiden, yang ini anak pengusaha, yang ini anak menteri. Terus pas giliran Shana? Langsung bahas Ayah."
Fathur menghela napas. Dia sudah mendengar cerita ini sebelumnya di mobil. Namun dia tahu Erina perlu mengeluarkannya lagi.
"Terus kakaknya yang mau nyaleg itu," lanjut Erina. "Mukanya kayak orang nahan kentut sepanjang makan malam. Istrinya juga. Senyum sih senyum, tapi matanya kayak lagi ngukur harga baju gue."
"Mbak Yanti nggak gitu, kok," bela Shana. "Dia cuma kaget aja."
"Lo belain mereka sekarang?"
"Nggak belain. Cuma jangan dibikin lebih serem dari aslinya."
Erina mendengkus. "Terus yang anak SMA itu."
"Mala."
"Iya, Mala. Itu satu-satunya yang normal." Erina mengambil pizzanya lagi. "Dan yang janda itu. Siapa namanya?"
"Mbak Putri."
"Dia diem aja. Tapi kelihatannya baik." Erina terdiam sebentar. Lalu matanya melirik Shana. Ada sesuatu yang berbeda di tatapannya. "Lo nggak apa-apa ketemu dia?"
Shana tidak langsung menjawab. Dia menunduk, menatap potongan pizza di tangannya. Fathur melirik kedua kakak beradik itu bergantian. Dia tahu ada sesuatu yang tidak dikatakan. Namun dia memilih untuk tidak bertanya.
"Nggak apa-apa," jawab Shana pada akhirnya. "Dia nggak salah apa-apa, Mbak."
"Gue tahu. Cuma nanya."
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hanya ada suara kunyahan dan klakson kendaraan dari bawah sana.
"Shan," panggil Fathur. "Kamu yakin sama semua ini?"
"Mas udah tanya itu tiga kali minggu ini."
"Dan aku akan tanya lagi minggu depan." Fathur tersenyum tipis. "Pernikahan itu bukan cuma tanda tangan. Kamu akan tinggal serumah sama orang asing. Ada anak kecil juga di sana. Kamu siap?"
Shana menatap Fathur. Lalu menatap kakaknya yang pura-pura sibuk dengan pizza. Dia tahu mereka berdua khawatir. Dia juga tahu kekhawatiran itu beralasan.
"Aku nggak tahu siap atau nggak, Mas. Tapi aku udah mulai. Nggak bisa berhenti di tengah jalan."
"Sepuluh miliar," gumam Erina sinis.
"Itu juga." Shana tertawa kecil.
Fathur mengangguk pelan. Dia meraih tangan Erina dan menggenggamnya. "Kalau ada apa-apa, kamu tahu harus ke mana."
"Ke rumah Mbak Erina."
"Ke rumah gue," tegas Erina bersamaan. Lalu kakak beradik itu saling tatap dan tertawa.
Setelah makan, mereka kembali bekerja. Fathur membantu mengangkat kardus-kardus berat ke dekat pintu. Erina melipat pakaian sambil terus menggerutu tentang betapa kusutnya baju-baju Shana. Sementara Shana membereskan meja kerjanya.
Tangannya berhenti saat menyentuh bingkai foto kecil di sudut meja. Foto pria berkumis tipis yang menggendong gadis kecil berkepang dua.
Shana menatapnya lama. Lalu dengan hati-hati, dia membungkusnya dengan kain lembut dan menyimpannya di dalam tas ransel. Bukan di kardus. Benda itu terlalu berharga untuk ditumpuk bersama barang-barang lain.
Erina yang melihat itu dari ambang pintu kamar tidak berkata apa-apa. Dia hanya menghela napas dan kembali melipat baju.
Lalu dengan suara sangat pelan, nyaris tidak terdengar, dia bergumam. "Ayah pasti marah liat lo nikah sama Atmadjiwo."
Shana mendengarnya. Namun dia pura-pura tidak mendengar.