Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Juna duduk di pangkuan Ndaru sambil memainkan bunga kamboja yang sudah mulai layu. Sesekali dia mencium aromanya, lalu mengerutkan hidung karena wanginya terlalu kuat.
Suster Nur duduk di kursi depan bersama sopir. Wanita itu tidak banyak bicara. Dia cukup tahu kapan harus diam dan kapan harus mengalihkan perhatian Juna.
"Papa," panggil Juna tiba-tiba.
"Hm?"
"Tante La pulang?"
"Iya. Tante La ada kerjaan."
Juna terdiam sebentar. Jari-jarinya memilin kelopak bunga sampai robek. "Tante La sedih."
Ndaru mengusap kepala anaknya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Di usia sekecil itu, Juna sudah bisa membaca suasana. Mungkin karena terlalu sering melihat orang dewasa di sekitarnya menahan tangis. Di rumah sakit, di pemakaman, di rumah Pakde-nya.
"Tante La kangen Mama," jawab Ndaru pada akhirnya. Itu bukan kebohongan.
"Juna juga kangen Mama."
Ndaru menelan ludahnya. Juna tidak pernah mengenal ibunya. Farah pergi saat anak itu belum genap dua minggu. Yang Juna kenal hanyalah foto di dinding kamar dan cerita-cerita singkat yang Ndaru berikan sebelum tidur. Namun anak itu tetap mengatakan rindu. Mungkin karena dia tahu, rindu adalah sesuatu yang membuat orang dewasa memeluknya lebih erat.
Ndaru memeluk anaknya lebih erat.
"Papa," panggil Juna lagi.
"Apa, Sayang?"
"Tante Cana mana?"
Ndaru terdiam. Suster Nur di kursi depan melirik dari kaca spion. Ada senyum tipis yang tertahan di bibirnya.
"Tante Shana?" Ndaru membenarkan.
Juna mengangguk. "Tante Cana. Yang baaa."
Ndaru tidak bisa menahan senyumnya. Rupanya Juna masih ingat dengan gadis yang menggodanya di mobil malam itu. Yang membuat wajah konyol tanpa suara hanya karena Ndaru menatapnya.
"Tante Shana di rumahnya."
"Kenapa nggak ikut?"
"Tante Shana kerja."
"Kerja apa?"
"Nulis buku."
Juna membulatkan matanya. "Buku cerita?"
"Iya. Buku cerita."
"Ada naganya?"
Kali ini Ndaru benar-benar tertawa. Dia tidak tahu dari mana Juna tahu soal naga. Mungkin dari film kartun yang sering Suster Nur putarkan.
"Papa nggak tahu. Nanti Mas Juna tanya sendiri sama Tante Shana."
"Besok?"
Ndaru menghela napas. Anak ini benar-benar tidak mau menyerah. "Nanti, Mas. Kalau Tante Shana nggak sibuk."
Juna mengangguk puas. Lalu menguap lebar dan menyandarkan kepalanya di dada ayahnya. Tidak butuh waktu lama sampai napasnya mulai teratur. Bunga kamboja itu masih tergenggam di tangan kecilnya.
"Mas Juna suka sama Bu Shana, Pak," ucap Suster Nur pelan dari kursi depan.
"Mereka baru ketemu sekali, Sus."
"Anak kecil tahu siapa yang tulus, Pak." Suster Nur tersenyum. "Waktu di bandara, Bu Shana nggak pura-pura. Saya liat sendiri."
Ndaru tidak menjawab. Dia menatap ke luar jendela. Jalanan Jakarta yang padat terlihat seperti biasa. Namun pikirannya melayang pada wajah Shana di bandara malam itu. Senyum lebar yang ia berikan pada Juna. Senyum yang berbeda dari senyum yang gadis itu berikan pada kamera.
Juna memang anak yang pemalu. Dia jarang mau disentuh orang asing. Bahkan dengan Yanti, kakak iparnya sendiri, Juna butuh waktu berhari-hari untuk mau digendong. Namun dengan Shana, anak itu langsung tersenyum. Langsung mengintip dari balik pelukannya.
Ndaru teringat dengan kalimatnya sendiri di bandara. Jangan terlalu dekat dengan anak saya.
Mungkin dia harus mengulang kalimat itu nanti. Untuk Shana. Atau mungkin untuk dirinya sendiri.
***
Di sisi lain kota, Shana duduk di sebuah ruang rapat kecil di kantor penerbit. Di hadapannya, secangkir teh yang sudah dingin dan setumpuk naskah yang penuh coretan merah.
Pertemuan sudah selesai sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun Shana masih duduk di sana, menatap kertas-kertas itu dengan pikiran kosong.
Tidak, bukan naskahnya yang bermasalah. Editornya bahkan memuji perkembangan cerita yang ia kirim minggu lalu. Masalahnya ada pada kalimat terakhir yang disampaikan sebelum rapat ditutup.
"Pihak rumah produksi tanya, Mbak. Untuk film kedua, apa Mbak Shana masih mau kerja sama dengan Mas Dito?"
Shana tidak menjawab saat itu. Dia hanya tersenyum dan berkata akan memikirkannya.
Memikirkannya. Seolah ada yang perlu dipikirkan.
Film pertama mereka sukses besar. Dua juta penonton di hari pertama. Dito adalah sutradara yang hebat, Shana tidak bisa menyangkalnya. Pria itu mengerti dunia yang ia tulis. Mengerti naga-naganya, penyihir-penyihirnya, kerajaan di atas awannya. Dulu, itu salah satu alasan Shana jatuh cinta padanya.
Namun sekarang, membayangkan duduk satu ruangan dengan Dito membuat perutnya mual.
Kontrak film kedua sudah ditandatangani sebelum semua kekacauan ini terjadi. Nama Dito tertera di sana sebagai sutradara. Membatalkannya tentu tidak mudah. Akan ada denda. Akan ada berita. Akan ada pertanyaan.
Shana tertawa kecil. Denda lagi. Rasanya hidupnya akhir-akhir ini dipenuhi dengan kata itu.
Ponselnya bergetar di atas meja. Shana meliriknya dan mengernyit. Nomor tidak dikenal. Refleks, jarinya sudah bersiap menekan tombol blokir. Namun matanya menangkap pesan yang muncul di layar.
Ini nomor saya. Simpan. —Handaru
Shana mengerjap. Dia membaca pesan itu dua kali untuk memastikan. Lalu tanpa sadar, bibirnya melengkung.
Singkat, padat, dan memerintah. Sangat Handaru Atmadjiwo.
Dia mengetik balasan.
Baik, Pak. Sudah saya simpan. Ada apa?
Balasan datang tidak lama kemudian.
Juna menanyakan kamu.
Shana terdiam. Dia membaca kalimat itu sekali lagi. Lalu sekali lagi. Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Sesuatu yang tidak ia duga.
Tanya apa, Pak?
Kali ini balasannya lebih lama. Shana bisa membayangkan pria itu menimbang-nimbang kalimatnya.
Apa buku kamu ada naganya.
Shana tertawa keras. Cukup keras sampai salah satu staf penerbit yang lewat di depan ruangan melongok ke dalam. Shana buru-buru menutup mulutnya dan melambai meminta maaf.
Bilang ke Mas Juna, ada. Naganya warna putih.
Dia menekan tombol kirim sebelum sempat berpikir dua kali. Lalu menatap layar ponselnya, menunggu balasan yang ternyata tidak kunjung datang.
Sudah dibaca. Tidak dibalas.
Shana mendengkus. Tentu saja. Apa yang ia harapkan? Pria itu hanya menyampaikan pesan dari anaknya. Tidak lebih.
Namun saat ia memasukkan ponsel ke dalam tas, senyum itu tidak juga hilang dari wajahnya. Bahkan saat ia berjalan keluar dari gedung penerbit dan disambut cahaya kamera dari beberapa wartawan yang menunggu, senyumnya tetap di sana.
Dan untuk pertama kalinya, senyum itu bukan untuk kamera.
***
Di ruang kerjanya, Ndaru menatap layar ponsel yang menampilkan pesan terakhir dari Shana.
Naganya warna putih.
Dia tidak membalasnya. Namun dia juga tidak menutup layar itu. Hanya menatapnya sampai Gilang mengetuk pintu dan masuk membawa setumpuk berkas.
"Pak, ini laporan untuk rapat besok," ucap Gilang. Lalu dia berhenti. Matanya menyipit menatap atasannya. "Bapak senyum?"
Ndaru langsung mematikan layar ponselnya. "Taruh di meja, Lang."
Gilang meletakkan berkasnya. Bibirnya berkedut menahan sesuatu. Namun dia cukup bijak untuk tidak berkomentar.
"Satu lagi, Pak. Mbak Shella barusan telepon saya."
Ndaru mengangkat wajahnya. "Bilang apa?"
"Mbak Shella minta saya mencabut namanya dari daftar undangan akad." Gilang terlihat ragu. "Apa saya harus menurutinya, Pak?"
Ndaru terdiam. Wajah Shella di makam tadi pagi kembali terbayang. Mata yang memerah di balik kacamata hitam. Suara yang bergetar menahan marah.
"Hormati permintaannya," jawab Ndaru. "Bilang kalau suatu saat dia berubah pikiran, dia boleh menghubungi kita. Tapi jangan terus mendesaknya datang."
"Baik, Pak."
Setelah Gilang keluar, Ndaru kembali meraih ponselnya. Dia membuka pesan dari Shana sekali lagi. Lalu dengan gerakan cepat, dia menyimpan nomor itu.
Shana.
Tidak ada nama belakang. Tidak ada embel-embel.