Shella berjalan dengan langkah cepat. Sepatu hak rendahnya sedikit tenggelam di rumput yang masih basah. Namun dia tidak peduli. Dia melepas kacamata hitamnya saat sudah berada beberapa langkah dari makam kakaknya.
"Mas Ndaru," sapanya. Ada senyum di bibirnya, tetapi tidak sampai ke mata.
"La." Ndaru berdiri dan membersihkan celananya dari tanah. "Kamu tahu dari mana aku di sini?"
"Aku telepon Sus Nur tadi pagi. Mau ajak Juna main." Shella melirik mawar putih di atas makam. "Ternyata Mas beneran datang."
"Aku sudah bilang, kan?"
"Mas Ndaru sering bilang banyak hal." Shella berjongkok di sisi lain makam. Dia meletakkan bunga lilinya di samping mawar putih Juna. "Tapi nggak semua ditepati."
Ndaru tidak menjawab. Dia tahu kalimat itu bukan hanya tentang ziarah hari ini. Shella memiliki ingatan yang panjang. Terutama tentang janji-janji yang dulu Ndaru berikan pada kakaknya.
Shella memejamkan mata dan berdoa. Ndaru menunggu dalam diam. Dari jauh, dia bisa melihat Juna yang berlari kecil mengejar kupu-kupu. Suster Nur mengikuti di belakangnya dengan sabar.
"Juna makin gede," ucap Shella setelah selesai berdoa. Dia menatap keponakannya dengan tatapan lembut. "Mbak Farah pasti senang liat dia."
"Iya."
"Mukanya mirip Mbak Farah. Matanya, terutama."
Ndaru mengangguk. Dia juga melihatnya setiap hari. Mata bulat itu, cara Juna mengerutkan hidung saat tidak suka sesuatu. Semua itu milik Farah.
"Mas Ndaru cerita apa ke Mbak Farah tadi?" tanya Shella tiba-tiba.
Ndaru menatap adik iparnya itu. Dia bisa saja berbohong. Bilang kalau dia hanya berdoa dan meminta maaf. Namun Ndaru tidak suka berbohong di tempat ini.
"Aku cerita kalau aku akan menikah."
Gerakan Shella yang sedang merapikan kelopak bunga lili terhenti. Dia mengangkat wajahnya pelan. Menatap Ndaru dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara terkejut, terluka, dan marah.
"Mas cerita itu?" tanyanya lirih. "Di sini? Di depan Mbak Farah?"
"Dia berhak tahu."
"Berhak tahu?" Shella tertawa pendek. Tawa yang terdengar sumbang. "Mas, Mbak Farah udah nggak bisa ngapa-ngapain. Mas cuma ngomong biar Mas sendiri yang lega."
"La—"
"Dua minggu lagi, kan?" potong Shella. "Aku liat beritanya. Semua orang liat beritanya. Shana Arkadewi pilih kebaya di Butik Amora. Harganya ratusan juta, katanya."
Ndaru menghela napas pelan. Rupanya berita sudah menyebar lebih cepat dari dugaannya.
"Aku mau kamu datang," ucap Ndaru tenang. "Ke akadnya. Kamu keluarga Juna. Kamu juga keluargaku."
Shella berdiri. Dia membersihkan lututnya dari tanah dengan gerakan kasar.
"Mas minta aku datang ke pernikahan Mas sama perempuan itu?"
"Namanya Shana."
"Aku tahu namanya!" Suara Shella meninggi. Dia langsung menutup mulutnya sendiri dan melirik ke arah Juna. Beruntung anak itu masih sibuk dengan kupu-kupunya. Shella merendahkan suaranya. "Aku tahu namanya, Mas. Semua orang tahu namanya. Perempuan yang dicium di depan lift hotel. Perempuan yang selingkuh dari pacarnya sendiri."
"Itu tidak benar."
"Terus yang benar yang mana? Mas sendiri nggak pernah cerita apa-apa."
Ndaru terdiam. Dia memang tidak bisa menceritakan apa-apa. Kontrak itu mengikatnya. Hanya keluarga yang boleh tahu. Dan meski Shella adalah adik Farah, dia bukan bagian dari keluarga Atmadjiwo yang mengetahui kesepakatan itu.
"Aku cuma minta kamu hargai keputusanku, La."
"Dan aku cuma minta Mas hargai Mbak Farah." Mata Shella mulai berkaca-kaca. "Belum ada tiga tahun, Mas. Belum ada tiga tahun Mbak Farah di sini. Dan Mas udah mau ganti dia sama perempuan yang Mas kenal dari skandal."
Kalimat itu menghantam Ndaru lebih keras dari yang ia kira. Dia ingin membantah. Ingin berkata bahwa tidak ada yang bisa menggantikan Farah. Bahwa pernikahan ini hanya di atas kertas. Namun dia tidak bisa mengatakannya.
"Papa!"
Suara kecil itu membuat keduanya menoleh. Juna berlari mendekat dengan tangan penuh bunga kamboja. Wajahnya berseri-seri. Suster Nur terengah di belakangnya.
"Tante La!" seru Juna begitu melihat Shella.
Shella langsung mengubah raut wajahnya. Dia berjongkok dan merentangkan tangannya. Juna masuk ke dalam pelukannya dengan riang.
"Halo, Sayang. Kangen Tante, nggak?"
"Kangen." Juna menunjukkan bunga-bunga di tangannya. "Buat Mama."
"Pinter." Shella mencium pipi Juna. Matanya masih basah, tetapi senyumnya sudah kembali. "Mas Juna habis kasih bunga ke Mama, ya?"
Juna mengangguk semangat. "Bunga putih. Kayak kuda."
Shella tertawa. Namun tawanya terdengar rapuh. Dia menatap Ndaru dari atas kepala Juna. Tatapan yang masih menyimpan protes.
"Juna mau ikut Tante, nggak? Kita makan es krim."
"Mau!"
"La," tegur Ndaru pelan. "Juna belum sarapan yang benar."
"Aku bisa kasih dia sarapan, Mas. Aku bukan orang asing."
"Aku tahu. Tapi hari ini aku mau sama Juna."
Shella menatap Ndaru lama. Lalu dia mengangguk kaku. Dia menurunkan Juna dan merapikan rambut anak itu yang berantakan karena angin.
"Tante pulang dulu, ya, Sayang."
Juna mengerutkan dahinya. Dia menatap Shella, lalu menatap ayahnya. Lalu kembali menatap Shella. Anak itu merasakan ada yang tidak beres. Udara di antara dua orang dewasa itu terasa dingin, bahkan untuk anak seusianya.
"Tante La marah?" tanya Juna polos.
Shella tersenyum. "Nggak, Sayang. Tante nggak marah."
"Tapi Tante La nangis."
Hening. Suster Nur menunduk, berpura-pura sibuk dengan keranjang di tangannya. Ndaru memejamkan matanya sebentar.
"Tante kelilipan, Sayang," jawab Shella sambil mengusap matanya. "Banyak debu di sini."
Juna mengangguk, meski wajahnya masih terlihat bingung. Dia menarik ujung celana ayahnya. "Papa, Tante La kelilipan."
"Iya, Mas. Nanti Tante tiup matanya di mobil."
Shella berdiri. Dia memakai kembali kacamata hitamnya. Menyembunyikan mata merahnya dari dunia.
"Aku nggak akan datang, Mas," ucapnya pelan. Cukup pelan agar Juna tidak mendengar. "Jangan harap aku datang ke pernikahan itu."
Setelah itu, Shella berbalik pergi. Langkahnya cepat, sama seperti saat ia datang. Bunga lili yang ia bawa tetap tergeletak di atas makam kakaknya. Bersanding dengan setangkai mawar putih pemberian Juna.
Ndaru menatap punggung Shella sampai hilang di balik gerbang. Lalu dia menunduk menatap anaknya yang masih memegang erat celananya.
"Papa," panggil Juna. "Tante La kenapa?"
Ndaru menggendong anaknya. Dia tidak menjawab. Karena sejujurnya, dia juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semua ini pada anak berusia dua tahun. Bahkan pada dirinya sendiri.