Ada rindu yang tak pernah sampai. Ada maaf yang tak sempat terurai. Tanah merah menyimpan yang telah usai. Namun hati masih saja tak mau berdamai.
Komplek pemakaman keluarga Atmadjiwo terletak di pinggiran kota. Jauh dari hiruk pikuk jalanan Jakarta. Pepohonan kamboja berdiri berjajar di sepanjang jalan setapak. Bunga-bunganya yang putih kekuningan berjatuhan di atas rumput yang terawat rapi.
Pagi ini langit cerah. Matahari baru saja naik sepenggalah. Udara masih terasa sejuk, sisa hujan semalam belum sepenuhnya mengering.
Ndaru turun dari mobil sambil menggendong Juna. Anak itu mengenakan kemeja putih kecil dan celana pendek cokelat. Rambutnya disisir rapi oleh Suster Nur. Di tangan kecilnya, Juna memegang setangkai mawar putih dengan sangat hati-hati. Seolah bunga itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Pegang yang benar, Mas. Jangan sampai jatuh," ucap Suster Nur yang berjalan di belakang mereka sambil membawa keranjang berisi bunga tabur dan sebotol air mawar.
"Iya, Sus," jawab Juna serius.
Dua pengawal Ndaru berjaga di dekat gerbang. Gilang sengaja tidak ikut. Ndaru yang memintanya. Untuk hari ini, dia tidak mau ada jadwal, tidak mau ada iPad, tidak mau ada laporan. Dia hanya ingin menjadi seorang suami yang datang mengunjungi istrinya.
Langkah Ndaru melambat saat melewati makam yang masih baru. Tanahnya masih merah dan basah. Karangan bunga di sekitarnya sudah mulai layu. Nisan kayu sementara bertuliskan nama yang membuat dadanya sesak.
Haryadi Djanu Atmadjiwo.
Ndaru berhenti sejenak. Dia menunduk dan memejamkan mata. Bibirnya bergerak membaca doa dalam diam. Juna yang berada di gendongannya ikut diam, meski matanya menatap ke sana kemari dengan penasaran.
"Pa, ini siapa?" bisik Juna.
"Pakde Arya."
"Pakde bobok?"
Ndaru menelan ludahnya. "Pakde meninggal, Sayang. Kita nggak bisa bertemu Pakde lagi, tapi boleh mengingat dan mendoakannya."
Setelah selesai berdoa, Ndaru kembali melangkah. Sekitar tujuh meter dari sana, ada makam ibunya. Yuningsih Atmadjiwo. Dan tidak jauh dari makam ibunya, di bawah pohon kamboja yang paling rindang, ada satu makam yang selama ini Ndaru hindari.
Farah Marissa.
Nisannya terbuat dari marmer hitam. Bersih dan terawat. Ndaru tahu ada orang yang dibayar untuk merawatnya setiap minggu. Dia sendiri yang mengurusnya dari Surabaya. Namun tetap saja, melihatnya secara langsung terasa berbeda.
Ndaru menurunkan Juna. Lalu ia berjongkok di samping makam. Tangannya terulur menyentuh nisan itu. Dingin.
"Assalamualaikum, Far," ucapnya pelan. "Maaf aku baru datang."
Suster Nur memilih untuk mundur beberapa langkah. Dia membuka keranjang dan mulai menyiapkan bunga tabur. Memberikan ruang untuk majikannya.
"Mas Juna, kasih bunganya ke Mama," ucap Ndaru.
Juna menatap ayahnya bingung. Lalu menatap gundukan tanah di hadapannya. "Mama di sini?"
"Iya."
"Mama juga meninggal kayak Pakde?"
"Iya, Sayang. Papa sedih karena kangen Mama."
Juna terdiam. Matanya yang bulat menatap nisan hitam itu lama sekali. Anak berusia dua tahun itu mungkin tidak mengerti apa-apa. Namun dia tahu ada sesuatu yang membuat ayahnya sedih. Dengan hati-hati, Juna meletakkan setangkai mawar putih itu di atas makam. Tepat di bawah nisan.
"Mama, bunga," ucapnya pelan. "Putih. Kayak kuda."
Ndaru tertawa kecil. Namun matanya memerah. Dia menarik Juna ke dalam pelukannya dan mencium kepala anak itu lama.
"Pinter," bisiknya.
Suster Nur memberikan keranjang bunga tabur. Ndaru dan Juna menaburkannya bersama-sama. Juna lebih banyak menabur di luar makam daripada di atasnya, tetapi tidak ada yang menegurnya. Setelah itu Ndaru menyiramkan air mawar dengan perlahan. Membasahi tanah dan nisan yang sudah lama tidak ia sentuh.
Lalu dia membaca Yasin. Suaranya pelan dan sesekali terhenti. Juna duduk di pangkuannya, memainkan kelopak bunga yang berserakan.
Begitu selesai, Ndaru tidak langsung berdiri. Dia masih duduk di sana, menatap nama yang terukir di atas marmer.
"Sus, bisa ajak Mas Juna jalan-jalan sebentar?"
"Bisa, Pak." Suster Nur mengulurkan tangannya. "Ayo, Mas Juna. Kita liat bunga kamboja."
Juna menurut. Dia berjalan sambil memegang tangan Suster Nur, sesekali berjongkok untuk memungut bunga kamboja yang jatuh.
Setelah mereka cukup jauh, Ndaru menghela napas panjang.
"Aku pulang ke Jakarta, Far," ucapnya. "Kamu pasti senang. Dulu kita berencana membesarkan Juna di Jakarta, dekat keluargamu. Setelah kamu meninggal, aku malah membawanya ke Surabaya karena aku sendiri tidak sanggup tinggal di rumah lama."
Angin bertiup pelan. Daun-daun kamboja bergemerisik.
"Mas Arya meninggal. Kamu pasti sudah tahu. Dia mau ke Surabaya ketemu aku. Gara-gara masalah kecil. Masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan lewat telepon." Ndaru tersenyum getir. "Lagi-lagi, Far. Lagi-lagi orang pergi karena aku."
Dia diam cukup lama. Membiarkan kalimat itu menggantung di udara.
"Aku mau bilang sesuatu," lanjutnya kemudian. "Aku nggak tahu kamu akan marah atau ketawa. Mungkin dua-duanya."
Ndaru mengusap nisan itu dengan ibu jarinya.
"Aku mau menikah lagi."
Sunyi.
"Bukan karena aku lupa sama kamu. Bukan juga karena aku jatuh cinta." Ndaru tertawa pelan. "Kamu pasti nggak percaya kalau aku cerita. Ada gadis gila yang cium aku di depan lift. Fotonya tersebar. Papa marah, Mas Guna marah, saham turun. Dan gadis itu malah datang minta dinikahi."
Dia menggeleng pelan, seolah masih tidak percaya dengan ceritanya sendiri.
"Namanya Shana. Dia penulis. Dia keras kepala, nekat, dan bicaranya nggak pernah disaring. Kalau kamu ketemu dia, kalian mungkin bakal bertengkar." Ndaru terdiam sebentar. "Atau mungkin kalian bakal akur. Aku nggak tahu."
Ndaru menunduk.
"Cuma satu tahun, Far. Setelah itu semuanya selesai. Aku cuma minta satu hal." Suaranya mengecil. "Jangan marah sama Juna. Dia nggak tahu apa-apa. Kemarin dia senyum sama gadis itu di bandara. Senyum yang jarang dia kasih ke orang lain."
Ndaru tidak tahu kenapa dia menceritakan hal itu. Mungkin karena hanya di tempat ini dia bisa jujur. Di depan seseorang yang tidak akan bisa menjawabnya lagi.
Dari kejauhan, terdengar suara mobil yang berhenti di dekat gerbang. Ndaru menoleh. Salah satu pengawalnya tampak berbicara dengan seseorang. Lalu membiarkan orang itu masuk.
Ndaru mengenali sosok itu. Rambut panjang tergerai, kacamata hitam besar, dan seikat bunga lili di pelukannya.
Shella.