Rumah besar itu terasa sunyi saat malam tiba. Hanya suara jam dinding yang setia menemani. Sesekali angin menyapu tirai jendela di ruang tengah. Membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi.
Ndaru baru saja pulang. Dia melepas sepatunya dan meletakkan tas kerjanya di atas sofa. Pikirannya masih penuh dengan angka-angka dari rapat sore tadi. Namun begitu mendengar suara tawa kecil dari lantai dua, semua angka itu menguap begitu saja.
Dia naik ke atas. Pintu ruang bermain terbuka sedikit. Dari celahnya, Ndaru bisa melihat Juna yang tengah duduk di atas karpet bergambar jalan raya. Mobil-mobilan kecil berserakan di sekitarnya. Suster Nur duduk di sofa kecil sambil melipat pakaian.
"Brum... brum...," gumam Juna sambil mendorong mobil-mobilannya menabrak kaki meja.
"Mas Juna nabrak," ucap Ndaru sambil masuk.
Juna menoleh. Matanya berbinar. "Papa!"
Anak itu berlari kecil dengan langkah yang belum stabil. Ndaru berjongkok dan menangkapnya. Lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sampai Juna tertawa kencang.
"Belum tidur?" tanya Ndaru setelah menurunkan anaknya ke dalam pelukan.
"Belum. Tunggu Papa."
"Mas Juna nggak mau tidur sebelum Bapak pulang," jelas Suster Nur sambil tersenyum. "Dari tadi tanya Papa terus."
Ndaru mencium pipi Juna. Ada rasa bersalah yang mengintip di dadanya. Belum genap satu bulan mereka di Jakarta, tetapi dia sudah lebih sering pulang malam. Persis seperti dulu.
Persis seperti yang selalu Farah keluhkan.
"Sus, besok pagi kita pergi," ucap Ndaru. Ia sudah menunda janji ziarah sehari karena urusan butik dan pekerjaan. Kali ini ia meminta Gilang mengosongkan jadwal paginya.
"Ke mana, Pak?"
"Makam Farah."
Suster Nur menghentikan gerakan tangannya. Dia menatap majikannya sebentar, lalu mengangguk pelan. Wanita paruh baya itu sudah bekerja untuk Ndaru sejak Juna masih bayi merah. Dia tahu apa artinya nama itu di rumah ini.
"Saya siapkan bunganya, Pak. Bunga mawar putih, kan?"
Ndaru mengangguk. Dia tidak bertanya bagaimana Suster Nur bisa mengingatnya. Mungkin karena dulu dia sering melihat Ndaru membelinya setiap minggu. Sebelum mereka pindah ke Surabaya. Sebelum Ndaru memutuskan untuk berhenti datang karena tidak sanggup.
"Mas Juna," panggil Ndaru pelan. "Besok kita ketemu Mama, ya?"
Juna yang sedang memainkan kancing kemeja ayahnya mendongak. "Mama?"
"Iya. Mama."
"Mama di mana?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Ndaru, pertanyaan itu selalu terasa seperti pisau yang tumpul. Tidak langsung melukai, tetapi menekan dalam-dalam.
"Mama di tempat yang bagus. Besok kita bawa bunga buat Mama."
"Bunga warna apa?"
"Putih."
"Kayak kuda?" Juna teringat dengan kuda putih yang ia beri makan di tempat berkuda.
Ndaru tersenyum. "Iya. Kayak kuda."
Juna mengangguk puas. Lalu menguap lebar. Rupanya anak itu benar-benar menunggu ayahnya sampai matanya hampir tertutup sendiri.
Ndaru menggendongnya ke kamar. Dia membaringkan Juna di ranjang kecil bergambar dinosaurus itu dan menyelimutinya. Tangannya menepuk-nepuk pelan dada anaknya sampai napas Juna mulai teratur.
Setelah memastikan Juna tertidur, Ndaru keluar. Langkahnya membawanya ke kamar utama. Dia tidak langsung menyalakan lampu. Hanya duduk di tepi ranjang dalam gelap, lalu meraih ponselnya.
Galeri foto. Folder lama yang jarang ia buka.
Wajah Farah muncul di layar. Tersenyum sambil memegang perut buncitnya. Foto itu diambil beberapa minggu sebelum Juna lahir. Ndaru ingat hari itu. Farah memaksanya berfoto di taman belakang rumah lama mereka. Ndaru hanya punya waktu sepuluh menit sebelum berangkat ke kantor.
Sepuluh menit. Hanya itu yang selalu bisa ia berikan.
Ndaru menutup ponselnya. Dia mengusap wajahnya kasar. Besok dia akan datang. Setelah sekian lama. Dan dia akan datang dengan membawa kabar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dia akan menikah lagi. Dengan seorang gadis yang menciumnya di depan lift.
Ndaru tertawa kecil. Getir.
***
Di apartemennya, Shana masih duduk di depan laptop. Kursor di layar berkedip-kedip mengejeknya. Sudah dua jam dia duduk di sana dan hanya berhasil menulis tiga kalimat. Itu pun sudah dihapus dua.
"Kenapa, sih, lo?" gumamnya pada diri sendiri.
Biasanya Shana bisa menulis dengan lancar di malam hari. Dunia fantasi yang ia bangun selalu menjadi tempat pelarian yang nyaman. Naga, penyihir, kerajaan di atas awan. Semua itu jauh lebih masuk akal dibanding kehidupannya sekarang.
Namun malam ini, kepalanya penuh dengan hal lain. Kebaya putih. Tatapan datar Ndaru. Kalimat "kamu meremas ujung kebaya waktu keluar tadi".
Shana menutup laptopnya dengan kesal. Dia meraih ponsel dan menghubungi satu-satunya orang yang bisa ia ganggu jam segini.
"Apa?" sapa Erina tanpa basa-basi.
"Gue udah pilih kebaya."
"Terus?"
"Warna putih. Cantik banget, Mbak. Lo pasti suka."
Terdengar helaan napas di seberang sana. "Harganya berapa?"
"Nggak usah tanya. Nanti lo darah tinggi."
"Shana!"
Shana terkekeh. "Bukan gue yang bayar. Tenang aja."
"Bukan masalah siapa yang bayar." Erina terdengar mengomel sambil mengunyah sesuatu. "Lo jangan jadi kebiasaan dikasih barang mahal sama mereka. Nanti lo lupa diri."
"Iya, Mbak."
"Terus apa lagi? Lo nggak mungkin telepon cuma buat pamer kebaya."
Shana terdiam sebentar. Dia memeluk lututnya di atas kursi. "Akadnya di Atma Hotel, Mbak."
Kali ini Erina yang terdiam. Cukup lama sampai Shana mengira sambungan terputus.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Erina pada akhirnya. Suaranya melunak.
"Nggak apa-apa. Cuma aneh aja."
"Kalau lo nggak mau, bilang sama dia."
"Dia bilang lebih baik kita yang nutup ceritanya. Bukan orang lain." Shana menirukan nada datar Ndaru. "Masuk akal, kan?"
Erina mendengkus. "Pinter juga dia ngomong."
"Satu lagi, Mbak."
"Apa?"
"Gue minta lo yang dampingin gue pas akad. Dia setuju."
Hening sejenak. Lalu terdengar suara Erina yang sedikit bergetar, meski ia berusaha keras menyembunyikannya. "Ya iya lah gue yang dampingin. Emang siapa lagi? Lo pikir gue bakal biarin lo jalan sendiri ke tengah sarang Atmadjiwo?"
Shana tersenyum lebar. Matanya mendadak terasa panas.
"Makasih, Mbak."
"Udah, tidur sana. Besok ada pertemuan lanjutan di penerbit, kan?"
"Iya."
"Jangan begadang. Mata lo udah kayak panda di foto berita tadi sore."
"Sialan!"
Panggilan terputus dengan suara tawa Erina. Shana meletakkan ponselnya dan menatap langit-langit kamar. Dalam diam, matanya beralih pada bingkai foto kecil di atas meja. Foto lama yang warnanya sudah memudar. Seorang pria berkumis tipis yang menggendong gadis kecil berkepang dua di pundaknya.
"Yah," bisik Shana. "Shana mau nikah."
Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak ada.
"Bukan nikah beneran, sih," lanjutnya sambil tertawa kecil. "Tapi tetep aja nikah."
Shana memeluk lututnya lebih erat. Malam itu, untuk kesekian kalinya, dia terbangun di jam yang sama. Tepat pukul dua dini hari. Kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak hari di mana hidupnya berubah. Dan seperti biasa, butuh waktu lama baginya untuk kembali terlelap.