Jantung berdebar tanpa aba-aba. Langkah kaki terasa ragu untuk dibawa. Cermin hanya bisa memantulkan rupa. Namun tidak dengan isi hati yang tersimpan rapat di dalam dada.
Shana masih berdiri kaku di depan cermin besar itu. Tangannya meremas ujung kebaya dengan gugup. Dia tidak salah dengar, kan? Sinta baru saja menyebut nama Ndaru. Pria yang seharusnya berada di kantor, sibuk dengan berkas-berkas yang entah berapa banyak jumlahnya.
"Pak Ndaru di sini, Mbak?" tanya Shana sekali lagi. Hanya untuk memastikan.
Sinta mengangguk dengan senyum yang sama sekali tidak hilang. "Pak Ndaru datang sekitar sepuluh menit yang lalu, Bu. Katanya sekalian mau ukur beskap untuk akad."
Shana menelan ludahnya susah payah. Dia kembali menatap pantulan dirinya. Kebaya putih dengan payet rumit itu membalut tubuhnya dengan sempurna. Namun entah kenapa sekarang dia merasa terlalu terbuka. Tidak ada sweater kebesaran yang biasa menjadi tempat persembunyiannya. Tidak ada kacamata yang menjadi tamengnya.
"Saya harus keluar, ya, Mbak?"
"Biasanya calon pengantin pria ingin melihat langsung, Bu." Sinta terkikik pelan. "Apa lagi Pak Ndaru. Pasti penasaran."
Penasaran? Shana ingin tertawa. Handaru Atmadjiwo tidak pernah penasaran dengan apa pun yang berhubungan dengannya. Pria itu hanya penasaran dengan berapa persen saham keluarganya yang naik setelah berita mereka muncul.
Namun Shana tetap mengangguk. Lagi pula ini bagian dari sandiwara. Seorang calon istri yang bahagia tentu akan dengan senang hati memamerkan kebaya pilihannya pada calon suaminya.
"Oke, Mbak. Saya keluar."
Sinta dengan sigap membantu merapikan ekor kebaya yang menjuntai di lantai. Setelah itu dia membuka tirai tebal yang memisahkan ruang ganti dengan ruang tunggu.
Shana melangkah pelan. Benar saja, di sofa beludru berwarna krem itu, Ndaru duduk dengan tenang. Kemeja putihnya dilipat hingga siku. Jasnya tersampir di lengan sofa. Seorang pegawai butik baru saja selesai melingkarkan pita ukur di bahunya. Di sampingnya, Gilang berdiri sambil menatap iPad seperti biasa.
Begitu mendengar suara langkah, Ndaru mengangkat wajahnya.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Ndaru hanya menatapnya. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu kembali naik ke wajahnya. Tatapan yang begitu tenang. Seperti seseorang yang sedang menilai sebuah laporan keuangan.
Shana menahan napasnya tanpa sadar.
"Sudah?" tanya Ndaru pada akhirnya.
Hanya itu? Shana mengerjap pelan. "Sudah, Pak. Saya pilih yang ini."
Ndaru mengangguk sekali. "Tidak terlalu ramai. Bagus untuk kamera."
Bagus untuk kamera.
Shana mengulang kalimat itu di dalam kepalanya. Dia tidak tahu harus merasa lega atau tersinggung. Bukan berarti dia mengharapkan pujian. Sungguh, Shana tidak serendah itu. Namun setidaknya pria itu bisa berbasa-basi sedikit, bukan? Di depan pegawai butik pula. Bagaimana jika mereka menganggap pernikahan ini dingin?
Ah, memang dingin. Shana hampir lupa.
"Apa ada yang perlu diubah, Pak?" tanya Sinta, sepertinya ikut menunggu komentar yang lebih panjang.
"Tanya Shana. Dia yang pakai."
Sinta tersenyum kikuk dan menoleh pada Shana.
"Nggak ada, Mbak. Saya suka," jawab Shana cepat. Bibirnya mengulas senyum lebar yang agak dipaksakan. "Mas Ndaru memang gitu, Mbak. Pemalu. Nanti di mobil pasti muji-muji."
Gilang yang sedari tadi menunduk pada iPad-nya mendadak terbatuk. Sementara Ndaru menaikkan sebelah alisnya. Namun pria itu tidak membantah. Dia hanya kembali menatap Shana dengan tatapan yang sulit diartikan.
Shana pura-pura tidak melihat. Dia berbalik dan kembali masuk ke ruang ganti dengan langkah lebih cepat dari sebelumnya.
"Lang," panggil Ndaru begitu tirai tertutup. "Urus pembayarannya."
"Baik, Pak." Gilang beralih pada Sinta. "Mbak, bisa minta rincian untuk kebaya dan beskapnya? Termasuk biaya penyesuaian dari Ibu Mora."
"Bisa, Mas. Mari ke meja depan."
Di dalam ruang ganti, Shana bisa mendengar percakapan itu dengan jelas. Dia tidak sengaja melirik label kecil yang tergantung di bagian dalam kebaya. Matanya membulat. Angka yang tertera di sana cukup untuk membeli satu unit mobil.
"Mbak," bisik Shana pada pegawai lain yang membantunya membuka kancing. "Ini beneran segini harganya?"
Pegawai itu tersenyum maklum. "Itu harga sebelum penyesuaian, Bu."
Shana memejamkan matanya. Dia sudah bilang tidak akan melihat harga. Namun tetap saja jantungnya hampir copot. Sebagian dirinya ingin keluar dan meminta Gilang untuk memilihkan yang lebih murah. Namun sebagian dirinya yang lain, yang masih kesal dengan kalimat "bagus untuk kamera", memilih untuk membiarkannya.
Biar saja. Toh, Handaru Atmadjiwo tidak akan jatuh miskin hanya karena satu kebaya.
***
Butik Amora terletak di kawasan elit yang cukup sepi. Namun bukan berarti tidak ada mata yang mengawasi. Dari balik dinding kaca, Shana bisa melihat beberapa orang yang berdiri di seberang jalan. Kamera mereka sudah siap sejak tadi.
"Mereka tahu dari mana, sih, Mas?" gumam Shana pada Gilang.
"Mobil Pak Ndaru cukup mudah dikenali, Bu."
Shana mengangguk pasrah. Sudah tidak ada lagi yang bisa disembunyikan sekarang. Bahkan mungkin besok pagi akan muncul berita tentang dirinya yang memilih kebaya. Lengkap dengan perkiraan harga yang dikarang-karang oleh netizen.
"Kamu ikut mobil saya," ucap Ndaru sambil memakai jasnya kembali.
"Ke mana, Pak?"
"Saya antar kamu pulang. Mereka butuh foto."
Lagi-lagi tentang foto. Shana menghela napas dan mengangguk. "Oke, Pak."
Ndaru berjalan lebih dulu. Namun saat sampai di depan pintu, langkahnya berhenti. Dia menoleh pada Shana yang masih berada dua langkah di belakangnya.
"Jalan di samping saya."
Shana mengerjap. Lalu buru-buru mensejajarkan langkahnya. Pintu terbuka, dan cahaya kamera langsung menyambut mereka. Tidak ada yang berteriak kali ini. Para wartawan itu cukup tahu diri karena ada tiga pengawal Ndaru yang berdiri di dekat mobil.
Shana tersenyum ke arah kamera. Senyum yang sudah ia latih semalaman di depan cermin. Sementara Ndaru tetap dengan wajah datarnya. Pria itu membukakan pintu mobil untuknya dan menunggu sampai Shana duduk dengan nyaman sebelum memutari mobil.
Manis sekali. Jika saja semua itu bukan sandiwara.
Begitu mobil melaju, keheningan kembali menyelimuti mereka. Shana menatap jendela, Ndaru menatap iPad-nya. Kebiasaan yang mulai terasa akrab.
"Jadi?" tanya Shana tiba-tiba.
Ndaru melirik sekilas. "Apa?"
"Tadi saya bilang Mas Ndaru bakal muji-muji di mobil." Shana menahan senyumnya. "Saya tunggu, loh, Pak."
Gilang yang duduk di depan kembali terbatuk. Kali ini lebih keras.
Ndaru meletakkan iPad-nya di pangkuan. Dia menatap Shana cukup lama. Membuat gadis itu menyesal sudah membuka mulut.
"Kebayanya cocok," ucap Ndaru pada akhirnya. "Kamu tidak perlu khawatir."
"Saya nggak khawatir, Pak."
"Kamu meremas ujung kebaya waktu keluar tadi." Ndaru kembali meraih iPad-nya. "Orang yang tidak khawatir tidak akan melakukan itu."
Shana terdiam. Dia tidak menyangka jika pria itu memperhatikan hal sekecil itu. Wajahnya mendadak terasa panas. Dengan cepat dia kembali menatap jendela.
Sialan. Kenapa dia jadi seperti remaja yang baru pertama kali dipuji?
"Untuk acaranya," lanjut Ndaru tanpa menoleh. "Akad akan dilakukan secara tertutup di Atma Hotel. Hanya keluarga inti. Setelah itu resepsi untuk tamu undangan dan media."
"Di Atma Hotel juga, Pak?"
"Ada masalah?"
Shana menggeleng pelan. Tidak ada masalah. Hanya saja hotel itu adalah tempat semua kekacauan bermula. Tempat Dito mengkhianatinya. Tempat dia mencium pria asing di depan lift.
"Saya pikir... kenapa harus di sana?"
"Karena semua orang tahu cerita kita dimulai di sana." Ndaru menatapnya sebentar. "Lebih baik kita yang menutup ceritanya. Bukan orang lain."
Shana tidak bisa membantah. Logika pria itu selalu masuk akal. Menyebalkan, tetapi masuk akal.
"Kalau saya boleh minta satu hal," ucap Shana pelan.
"Apa?"
"Kakak saya. Saya mau Mbak Erina yang dampingi saya waktu akad."
Ndaru mengangguk tanpa berpikir lama. "Itu hak kamu."
Shana tersenyum tipis. Setidaknya ada satu hal yang bisa ia pilih sendiri dalam pernikahan ini.