Suara debum keras menghantam lantai, merobek keheningan malam dan menyentak Amina dari tidurnya di sofa. Matanya membelalak saat melihat Lorenzo sudah terjerembab di depan pintu kamar mandi. Pria itu meringis, tangannya masih memeluk erat botol WSD seolah itu adalah nyawanya. Beruntung, botol kaca itu tidak pecah.
"Lorenzo! Apa yang kau lakukan?" Amina menghambur panik. "Kalau ingin ke kamar mandi, panggil aku! Jika botol ini pecah sebelum paru-parumu mengembang sempurna, aku harus merakit ulang semuanya dari awal. Kau bisa dalam bahaya!"
Amina mencoba memapah tubuh Lorenzo, namun ia segera menyadari betapa kontrasnya fisik mereka. Perawakan Amina yang mungil khas perempuan Indonesia tampak kewalahan menopang berat tubuh pria Italia itu.
"Kenapa harus ke kamar mandi? Bukankah bisa di atas tempat tidur saja?" tanya Amina terengah.
"Perutku sakit, Amina," sahut Lorenzo dengan nada kesal dan malu yang bercampur jadi satu. "Aku tidak mungkin melakukannya di atas ranjang."
Amina menghela napas, mencoba memahami harga diri pria itu. "Baiklah, pelan-pelan. Aku bantu."
Dengan susah payah, Amina menuntun Lorenzo masuk ke toilet yang terasa sangat sempit bagi mereka berdua. Saat posisi Lorenzo sudah stabil, mata Amina tertuju pada celana panjang pria itu yang masih ternoda bercak darah kering dari malam kejadian.
"Lorenzo, celanamu ini sudah tidak layak. Kau memakainya sejak malam itu," ucap Amina tenang, sisi profesionalnya sebagai dokter mengalahkan rasa canggungnya. "Kita harus menggantinya agar lukamu tetap bersih. Ini pondokmu, pasti ada pakaian ganti di sini. Biar nanti kucari, tapi sekarang... selesaikan dulu urusanmu.”
Amina berdiri mematung sejenak, menatap Lorenzo lalu beralih ke botol WSD di tangannya. "Begini saja..." ucapnya dengan nada medis yang sangat datar. "Pilihannya dua: Aku yang memegang botol ini dan kau melepas celanamu sendiri, atau... kau yang memegang botol ini dan aku yang melepas celanamu?"
Lorenzo terdiam sedetik, lalu sebuah seringai nakal muncul di sudut bibirnya. "Hehe... kalau boleh jujur, aku lebih suka pilihan kedua. Silakan, Dok."
Wajah Amina seketika menekuk. "Kalau begitu, kerjakan saja semuanya sendiri!" ketusnya.
"Hei!" protes Lorenzo sambil tertawa kecil, meski wajahnya masih agak pucat. "Kau sendiri yang menawarkan pilihan, dan aku hanya memilih. Kenapa kau yang marah?"
Salah bicara! Amina merutuki kecerobohannya dalam hati. Mengapa dia harus memberi pilihan sekonyol itu?
"Pokoknya, aku tetap pegang botol ini. Buka sendiri celanamu!" tegas Amina sambil memutar tubuhnya membelakangi Lorenzo. Ia tidak ingin melihat satu senti pun proses pria itu bergumul dengan pakaiannya sendiri.
Tawa Lorenzo kembali pecah di belakangnya. "Tadi katanya mau memandikanku juga? Aku tagih janji itu nanti, ya."
Amina hanya bisa cemberut, membisu seribu bahasa. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya ia digoda oleh pasien pria, tapi entah mengapa kali ini rasanya jauh lebih canggung—dan sedikit terlalu dekat. Lagipula, sebagai dokter, tugas memandikan pasien biasanya adalah bagian perawat. Kenapa juga aku harus menawarkan hal itu tadi? batinnya kesal pada diri sendiri.
"Sudah aku lepas, Amina. Sekarang bantu aku duduk," suara Lorenzo terdengar berat, namun ada nada geli yang tertahan. Ia masih melihat punggung Amina yang kaku seperti papan kayu. "Menekukkan badan seperti ini membuat dadaku nyeri. Come on, Amina... sebagai dokter, tubuh pria pasti sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagimu, bukan?"
Sial! Amina memaki dalam hati. Lorenzo benar, secara medis ia sudah melihat segalanya. Tapi kenapa di depan pria Italia ini, otaknya mendadak macet? Ayolah, Amina, dia cuma pasien, bukan model majalah!
Dengan mata yang menyipit—berusaha membatasi pandangan seminimal mungkin—Amina berbalik. Ia melihat celana Lorenzo sudah melorot di lantai. Sambil memalingkan wajah ke arah dinding yang sebenarnya tidak ada apa-apanya, ia meraih lengan Lorenzo untuk membantunya duduk.
"Ouch!" Lorenzo memekik kecil.
Refleks, Amina menoleh sepenuhnya karena panik. Ia melihat Lorenzo meringis dengan bibir terkatup rapat, menahan sakit yang nyata di dadanya.
"Sakit?" tanya Amina, suaranya berubah tinggi karena khawatir. Rasa canggungnya menguap seketika digantikan insting dokter.
"I’m fine..." jawab Lorenzo, meski keringat dingin mulai tampak di dahinya. Ia menyeringai tipis melihat wajah Amina yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Amina segera memeriksa ujung selang WSD di d**a Lorenzo, lalu memastikan botol di lantai berada di posisi yang tepat. "Dengar, Lorenzo. Botol ini harus selalu lebih rendah dari dadamu agar cairannya tidak masuk lagi ke paru-paru. Kau paham? Jadi, kalau mau bangun, panggil aku! Jangan sok jagoan."
Lorenzo bersandar di dinding toilet yang dingin, lalu menatap Amina dengan tatapan paling polos yang bisa ia buat. "Omong-omong... jadi memandikanku, kan?"
"TIDAK!" jawab Amina ketus. Ia berbalik secepat kilat dan keluar dari kamar mandi, hampir saja menabrak pintu.
Amina bisa mendengar suara tawa tertahan Lorenzo bergema di dalam toilet kecil itu. Sambil bersandar di pintu yang tertutup, Amina mengusap wajahnya yang terasa panas. Ia sadar, merawat mafia yang sedang sakit ternyata jauh lebih melelahkan daripada jaga malam di rumah sakit tersibuk sekalipun.
Tak lama kemudian, Amina kembali. Ia tidak masuk, hanya membuka sedikit celah pintu kamar mandi—seolah-olah ada monster di dalamnya—dan melemparkan sebuah handuk besar ke arah Lorenzo.
"Tutup tubuhmu dengan itu!" seru Amina dari balik pintu. "Sangat tidak etis melihatmu seperti itu. Perawat profesional pun memandikan pasien tidak dalam kondisi telanjang bulat. Dan aku juga tidak mau mataku ternoda!"
Pluk! Handuk itu mendarat tepat di wajah Lorenzo, membuatnya nyaris terjengkang dari kloset. Amina segera membanting pintu kembali, berdiri di luar sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang karena malu.
Sepuluh menit berlalu dengan kesunyian yang mencurigakan, sampai akhirnya terdengar teriakan dari dalam. "Sudah, Amina! Aku mau berdiri, tapi aku takut botol ini tertarik. Kau tidak mau merakit botol baru lagi, kan?"
Amina mengembuskan napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu masuk. Ia lega melihat Lorenzo sudah melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya, meski pria itu masih terduduk lemas di atas kloset.
"Pastikan handuk itu terikat kuat!" perintah Amina dengan nada ketus, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Jangan sampai lepas. Aku tidak mau melihat 'pemandangan' yang tidak seharusnya kulihat!"
Lorenzo menyeringai lebar, matanya berkilat jahil. "Tenang, Dokter. Ini aman, tidak akan melorot... kecuali kalau kau sendiri yang menariknya."
"Apa?! Jangan menggodaku terus, Lorenzo!" pekik Amina dengan wajah merah padam.
Meski mulutnya mengomel, tangan Amina tetap bergerak sigap. Ia memegang botol WSD dengan satu tangan sementara tangan lainnya menyangga lengan Lorenzo, membantu pria itu berdiri dengan sangat hati-hati. Amina berusaha keras menjaga jarak aman, seolah-olah menyentuh kulit Lorenzo bisa membuatnya tersengat listrik.
"Kita mandi di atas tempat tidur saja," cetus Amina. Bibirnya mengerucut maju dua senti, tanda bahwa ia sudah mencapai batas kesabarannya menghadapi tingkah pasien di depannya.
Lorenzo menaikkan sebelah alisnya, seringai nakal masih betah bertengger di bibirnya. "Lho, tidak jadi di kamar mandi, Dok? Padahal di sini suasananya lebih... mendukung."
"Tidak. Terlalu riskan buatmu," jawab Amina tanpa menoleh, "Lebih aman di tempat tidur. Titik."
"Tapi aku sudah cukup kuat untuk berdiri, Amina. Lihat ini," Lorenzo mencoba pamer. Ia menegakkan punggungnya, sedikit membusungkan d**a—meski selang WSD di sisi kanannya sempat bergetar—hanya untuk membuktikan bahwa ia layak mendapatkan sesi mandi yang lebih "proper" di kamar mandi.
Amina tidak terkesan. Ia justru memutar tubuh Lorenzo dan mengarahkannya keluar dari kamar mandi dengan dorongan lembut namun tegas di bahunya. "Aku tidak mau mengambil risiko harus merakit ulang botol itu dari awal hanya karena kau jatuh lagi," tegas Amina, menjadikan alasan medis sebagai tameng utamanya.
Lorenzo terpaksa melangkah kembali menuju tempat tidur, membiarkan Amina memandunya. Ada sedikit rasa kecewa yang merayap di hatinya; ia sebenarnya ingin berlama-lama menikmati momen itu di kamar mandi. Namun, saat ia merebahkan punggungnya di ranjang, sebuah pikiran melintas di kepalanya.
Selama hidup sebagai pemimpin yang disegani di dunia hitam, ia selalu waspada, tegang, dan penuh curiga. Kini, di sebuah pondok terpencil, dalam kondisi terluka dan hanya mengenakan handuk, ia justru merasakan sesuatu yang asing: ia merasa santai. Untuk pertama kalinya, Lorenzo menyadari bahwa ia menikmati setiap detik perhatian dari wanita yang sedang mengomelinya ini.
Amina menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya sebelum memulai "tugas medis", yang sebenarnya adalah tugas paramedik, tapi karena hanya dia sendiri maka itu berarti tugasnya rangkap. Di tangannya sudah ada handuk kecil dan baskom berisi air hangat yang mengepulkan uap tipis.
Ia bekerja dengan sangat hati-hati, menutupi d**a hingga lutut Lorenzo dengan handuk lebar sebagai pembatas privasi. "Lepaskan handuk di pinggangmu," perintahnya tanpa berani menatap mata pria itu.
Dimulai dari wajah, Amina menyeka dahi dan rahang Lorenzo dengan gerakan lembut yang hampir menyerupai belaian. Lorenzo memejamkan mata, membiarkan kehangatan air dan sentuhan Amina meresap ke pori-porinya. Ia tak pernah menyangka, rasa sakit bisa terasa senikmat ini.
"Miring sedikit ke kiri. Jaga selangnya," gumam Amina saat ia beralih ke bagian d**a dan punggung.
Amina bergerak seprofesional mungkin, namun saat ia harus menyeka kaki hingga setengah paha Lorenzo, ia merasa udara di pondok itu mendadak jadi sangat panas. Begitu sampai di batas handuk pembatas, Amina langsung menarik tangannya seolah tersengat listrik.
"Selesaikan sendiri bagian sisanya," ucap Amina cepat, telunjuknya menunjuk ke arah "zona terlarang" di bawah handuk.
Lorenzo membuka matanya, sebuah senyum simpul menghiasi wajah maskulinnya. "Wow, bagian ini juga butuh mandi, Cantik. Dia juga punya hak untuk merasa segar," godanya dengan suara berat yang serak.
Wajah Amina seketika memerah padam, bahkan mungkin lebih merah dari saus pasta Italia. "Tidak untuk yang itu!"
"Katanya profesional..."
"Ayolah, Lorenzo! Aku ini dokter, bukan perawat. Tugasku menyembuhkanmu, bukan... ah, lupakan!" Amina membuang muka, mencoba menyembunyikan rasa malunya yang sudah di ubun-ubun.
Lorenzo terkekeh, suara tawanya terdengar sangat puas. "Baik, baik... aku tidak akan memaksa. Tapi simpan tenagamu, karena suatu hari nanti, kau sendiri yang akan memohon untuk membasuhnya," ucap Lorenzo dengan nada santai, namun ada kilat janji yang serius di matanya.
Amina hanya bisa mendengus sebal sambil menyiapkan pakaian ganti yang ia temukan di lemari. Beruntung, Lorenzo menyimpan beberapa kemeja linen dan celana santai selutut di sana. Saat membantu Lorenzo mengenakan kemeja, tangan Amina sempat bersentuhan dengan kulit d**a Lorenzo yang hangat, membuat jantungnya kembali berpacu liar.
Malam itu, di tengah hutan Zaitun Italia, Amina sadar bahwa ia tidak hanya sedang merawat luka di tubuh Lorenzo, tapi juga sedang mempertaruhkan keamanan hatinya sendiri.