Sepiring Branzino kini kosong. Saat Amina hendak mengambil piring tersebut, Lorenzo menatapnya dengan rasa bersalah yang jarang ia tunjukkan. “Kau tidak makan Amina? Aku sampai lupa menanyakannya tadi.”
Amina tersenyum kecil, sebuah lengkungan tulus yang menenangkan. “Jangan khawatir, aku sudah makan sebelum kau bangun tadi.” jawabnya lembut.
Lorenzo mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan pondok yang mungil itu. “Aku mulai bosan berbaring, bisakah aku duduk di sana?” Ia menunjuk sebuah sofa tunggal yang diletakkan di atas karpet bulat di tengah ruangan. Sofa itu tampak seperti jantung dari pondok ini, memberikan sentuhan artistik pada dinding batu yang kasar.
“Tentu, kalau kau sudah tidak merasa sakit lagi jika bergerak. Kau harus mulai bergerak agar paru-parumu cepat mengembang kembali.” sahut Amina. “Tapi sebelum itu, aku harus melakukan fisioterapi ringan pada punggungmu.
“Amina, sepertinya aku juga butuh membasuh badanku, ini terasa lengket sekali.” Kata Lorenzo.
Amina memandang Lorenzo, tentu saja ia butuh mandi, setelah tembak-tembakan itu dan masih banyak tetesan darah di d**a Lorenzo yang sudah tidak mengenakan kemejanya lagi dan juga di celana panjangnya, pikir Amina. “Baiklah, aku akan membantumu membersihkan badanmu.” jawab Amina sambil tersenyum. Ia tidak memikirkan apapun yang akan terjadi nanti. Sebagai dokter, Amina tidak pernah memandikan pasien, itu tugas perawat, tapi ia tahu caranya karena ia pernah melihat para perawat itu memandikan pasiennya. “Tapi sekarang kita lakukan fisioterapi ringan pada paru-parumu dulu.”
Amina bergerak ke belakang tubuh Lorenzo, menarik bantal-bantal yang menyangganya. Ia mulai menepuk-nepuk punggung Lorenzo dengan teknik yang teratur. Di bawah cahaya siang yang tembus di sela atap, perbedaan mereka terlihat begitu nyata. Kulit Lorenzo yang berwarna kecoklatan seperti zaitun khas pria mediterania, tampak sangat kontras dengan kulit kuning langsat Amina yang terang.
Amina gambaran nyata kecantikan perempuan Minangkabau. Wajahnya oval dengan garis rahang yang tegas, membingkai sepasang mata berbentuk almond dengan lipatan tipis yang lancip di ujungnya–memberi kesan misterius sekaligus teduh. Hidungnya kecil lancip dan proporsional, sementara bibirnya penuh terkatup rapat, fokus pada pekerjaannya. Bagi Lorenzo, Amina bukan sekedar cantik; Ia adalah sosok yang sedap dipandang, sesuatu yang menyejukkan di tengah hidupnya yang penuh kekerasan.
Lorenzo memejamkan mata, menikmati setiap tepukan di punggungnya. Sesekali ia terbatuk kecil, merasakan paru-parunya bereaksi.
“Selesai, “ ucap Amina, memecah keheningan. “Sekarang mari kubantu kau ke kursi itu.”
Setelah Lorenzo berhasil duduk di sofa dengan napas yang sedikit teratur, Amina meletakkan botol WSD–satu-satunya benda yang menjaga paru-paru pria itu tetap mengembang–dengan hati-hati di lantai.
“Dia aman disini,” ucap Amina sambil memastikan posisi selangnya tidak tegang. “Jika kau ingin beranjak, panggil aku. Jangan sampai botolnya tertarik.”
Lorenzo mengangguk kecil, matanya mengikuti setiap gerak Amina. Saat Amina hendak berbalik, Lorenzo memanggilnya dengan suara rendah yang menuntut perhatian.
“Amina,... duduklah di depanku.”
Amina sempat ragu sejenak sebelum akhirnya mengambil sebuah dan duduk tepat di depan pria italia itu. “Baiklah, ada apa?”
“Apakah kau harus selalu mengenakan kain itu?” tanya Lorenzo tiba-tiba. Matanya terpaku pada kerudung Amina yang membingkai wajahnya. Menyiratkan rasa ingin tahu yang mendalam dan murni.
Amina menoleh, sebuah senyum tipis dan teduh tersungging di bibirnya. “Kerudung ini adalah simbol, Lorenzo. Simbol identitas dan ketaatanku sebagai wanita muslimah kepada Allah, Sang Pencipta. Perintahnya jelas tertulis dalam Al-Qur’an, kitab suci kami.”
Lorenzo mendengarkan dengan seksama, seolah sedang menyerap informasi dari dunia yang sama sekali asing baginya. Ia terbiasa dengan kemewahan yang dipamerkan, bukan keindahan yang disembunyikan.
“Lalu, kapan kau boleh menanggalkannya,” tanya Lorenzo, suaranya mengandung rasa penasaran yang jujur. “Karena bagiku, kau sedang menutupi anugerah besar yang Tuhan berikan padamu.”
Amina tidak merasa tersinggung, ia justru melihat ketulusan dalam tatapan pria itu. “Hanya di depan mahramku–keluargaku, atau pria yang menjadi suamiku,” jawabnya lembut namun tegas. “Bagi kami keindahan ini bukan untuk konsumsi publik. Ini adalah sesuatu yang amat berharga, yang hanya boleh dilihat oleh mereka yang memiliki hak atas komitmen dan rasa hormat yang tulus.”
Lorenzo terdiam sejenak, meresapi kata-kata itu. Di dunianya, segala sesuatu bisa dibeli, atau direbut. Namun prinsip Amina menawarkan sesuatu yang tidak bisa ia jamah dengan kekuasaan: sebuah kesucian yang dijaga oleh keyakinan.
Keheningan merayap di antara mereka. Lorenzo terdiam cukup lama, membiarkan bait-bait kalimat Amina mengendap di dalam kepalanya—ruang gelap yang biasanya hanya disesaki oleh kalkulasi strategi, dendam, dan ancaman maut. Ia kembali melayangkan tatapannya pada Amina. Kali ini, kilat dingin di matanya meluruh, digantikan oleh sorot yang begitu lembut, seolah ia sedang mengagumi sebuah mahakarya kuno yang tak ternilai harganya.
“Beruntung sekali pria itu,” gumam Lorenzo lirih. Suaranya beralih rendah, mengalun dengan ketulusan yang belum pernah ia perdengarkan pada siapa pun.
Amina sedikit tertegun, gerakannya menyeduh teh terhenti. “Siapa maksudmu?”
“Pria yang kelak menjadi suamimu,” jawab Lorenzo sembari menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa yang kaku. Sepasang matanya meredup, namun intensitasnya tak berkurang. “Dia bukan hanya akan menjadi satu-satunya orang yang berhak melihat apa yang disembunyikan oleh kain itu, tetapi dia juga memegang satu-satunya kunci untuk membuka rahasia yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh kekayaan mana pun di dunia ini.”
Sebuah kekehan parau lolos dari bibir Lorenzo, namun tatapannya tetap terkunci rapat pada seraut wajah di depannya. “Di duniaku, orang-orang saling memamerkan apa yang mereka miliki demi menegaskan kekuasaan. Namun kau... kau menunjukkan kekuasaanmu dengan cara menyembunyikannya. Itu membuatku sadar, Amina... pria yang memilikimu nanti adalah pria paling kaya di atas bumi, bahkan jika ia tidak memiliki satu Euro pun di dalam sakunya.”
Seketika, Amina merasakan seulas panas menjalar hebat di kedua pipinya. Pujian itu datang dari seorang pria yang tangannya barangkali telah berlumuran darah, namun entah bagaimana, untaian kalimatnya terasa begitu jujur, polos, dan menghujam dalam. Kata-kata itu berhasil menyentuh sudut hatinya yang paling sunyi—bagian yang selama ini ia gembok rapat-rapat sejak mengasingkan diri ke Puglia.
Amina menunduk kecil, menyembunyikan rona merah yang kian kentara di kulitnya. Jemarinya mendadak canggung saat merapikan lipatan jilbabnya, sekadar untuk mengalihkan debar yang tiba-tiba berkejaran.
“Kau terlalu berlebihan, Lorenzo,” sahut Amina lembut, berusaha meredam gemuruh di dadanya. “Aku hanya seorang wanita yang sedang mencoba patuh pada perintah Penciptanya. Tidak ada yang istimewa dari hal itu.”
Ia memberanikan diri mengangkat wajah, membalas tatapan Lorenzo dengan binar mata yang jernih dan tulus. “Bagiku, menjaga apa yang berharga adalah bentuk syukur. Dan aku percaya, pria yang tepat kelak tidak akan melihat semua batasan ini sebagai sebuah misteri yang menyulitkan, melainkan sebagai sebuah kehormatan yang sakral.”
Amina mengukir senyum tipis, lalu bergegas bangkit. Atmosfer di dalam trullo itu mulai terasa terlalu intim dan mengikat, dan ia harus segera memutusnya sebelum segalanya berjalan terlalu jauh. “Sudah, jangan terlalu banyak memuji. Kata-kata manis tidak akan membuat jaringan otot di dadamu pulih lebih cepat. Sekarang, mari kubantu kembali ke ranjang. Kau sudah terlalu lama duduk.”
Amina melangkah mendekat. Telapak tangannya yang hangat mendarat di lengan kokoh Lorenzo, bersiap menyangga bobot tubuh pria itu. Namun, tepat sebelum Lorenzo bertumpu pada kakinya, ia berbisik lagi, “Dan betapa bodohnya mantan suamimu itu. Dia buta sampai tidak bisa melihat permata sepertimu.”
Amina mengembus napas pendek, ada senyum getir yang dipaksakan. “Sudahlah, Lorenzo. Dia sudah menjadi masa lalu.”
“Bagus. Aku suka mendengarnya,” sahut Lorenzo tanpa ragu, bahkan tanpa secuil pun rasa malu.
Kalimat lugas itu seketika mengunci lidah Amina. Ia mematung di tempatnya berdiri.
“Dan kau... sudah resmi bercerai darinya?” Lorenzo mengejar, nadanya menuntut.
Amina kembali tenggelam dalam bungkam. Pertanyaan itu seperti menarik paksa dirinya kembali ke realitas yang perih. Faktanya, ketukan palu hakim belum terdengar. Semua berkasnya masih tertahan dalam proses hukum yang rumit di Indonesia. Alasan utama ia menerbangkan diri sejauh ini ke Puglia adalah untuk menyembuhkan luka batinnya; ia terlalu hancur karena ia terlanjur mencintai suaminya dengan seluruh jiwa.
“Belum,” jawab Amina akhirnya, nyaris berupa bisikan lirih yang tenggelam di udara malam.
Jawaban yang ringkas itu seketika memicu letupan panas di d**a Lorenzo. Seleret rasa tidak suka membakar egonya. Raut wajahnya runtuh seketika—rahangnya mengeras, garis-garis mukanya menegang kaku. Jauh di dalam lubuk hatinya, sang Don menolak keras fakta bahwa wanita ini masih terikat oleh benang hukum dengan pria lain.
“Kalau begitu, kau harus segera menyelesaikan perceraian itu,” desis Lorenzo tajam, suaranya kembali mengintimidasi, penuh titah mutlak seorang penguasa. “Pria seperti itu tidak berhak memiliki namamu, walau hanya di atas selembar kertas.”
Amina menarik napas panjang, mencoba mengembalikan profesionalismenya sebagai seorang dokter. “Sudah, urusan itu nanti saja kupikirkan saat aku kembali ke tanah air. Sekarang, yang paling krusial adalah memulihkan kesehatanmu. Seingatku, visaku tidak lama lagi, mungkin hanya tersisa sepuluh hari. Aku tidak mau pulang dengan perasaan gagal karena pasien utamaku belum benar-benar sembuh. Pekerjaanku di sini akan sia-sia jika kau masih pincang.”
Lorenzo tidak mendebat lagi, meski matanya masih berkilat tidak puas. Dengan sisa kekuatan gumpalan emosinya, ia membiarkan Amina memapahnya. Amina membimbing tubuh kekar itu dengan sangat hati-hati, merendahkan posisinya hingga punggung Lorenzo kembali menyentuh kasur dengan aman, menyisakan keheningan baru yang kini dipenuhi oleh ego yang tertahan dan debar yang kian tak karuan.