Kedamaian di pondok itu hancur berkeping-keping tepat di sepertiga malam. Di sudut ruangan yang remang, Amina sedang tenggelam dalam sujud terakhir sholat malamnya, sementara Lorenzo baru saja terlelap dengan sisa senyum setelah menggoda dokter mungil itu.
BRAKKK!
Pintu kayu tua itu terbanting hingga menghantam dinding. Amina tersentak dalam sholatnya, namun ia tetap diam dalam posisinya, membiarkan dadanya bergemuruh oleh rasa takut yang luar biasa, sementara telinganya menangkap suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Tidak ada suara rentetan senjata, hanya lengkingan suara wanita yang memecah kesunyian.
"Lorenzo!"
Seorang wanita cantik bergaun mahal merangsek masuk ke kegelapan pondok, diikuti seorang pria yang melangkah dengan tatapan sinis. Wanita itu langsung menghambur ke arah ranjang, sama sekali tidak menyadari keberadaan Amina yang sedang bersujud di pojok ruangan.
"Bianca?" Lorenzo terjaga dengan napas memburu, kaget karena wanita itu langsung memeluknya tanpa peringatan. "Aakh—pelan-pelan, Bianca! Ada selang di dadaku!"
"Lorenzo, aku mencarimu ke mana-mana! Dante sudah mengubek seluruh Puglia untuk menemukanmu," isak Bianca, suaranya penuh drama. "Ayo, kita pulang sekarang. Ayahmu cemas. Kau butuh perawatan medis yang layak, bukan di gubuk kumuh seperti ini."
Dante melangkah maju. Sebuah senyum tersungging di wajahnya, namun matanya tetap sedingin es. "Benar, Lorenzo. Kami sudah mencari ke seluruh penjuru, tidak menyangka kau malah 'bersembunyi' di sini. Siapa yang menolongmu?"
Lorenzo menatap lurus ke mata sepupunya. Tatapan mereka bertemu seperti dua bilah pedang yang beradu. "Aku tidak bersembunyi, Dante. Aku sedang diselamatkan," ucap Lorenzo dengan nada rendah yang mengancam. "Bukankah kau seharusnya tahu persis betapa parahnya luka di dadaku?"
Wajah Dante mendadak pucat. Ia berdeham, mencoba mengembalikan ketenangannya. "Aku tidak mengerti maksudmu, tapi syukurlah kau selamat," sahutnya dengan nada kepura-puraan yang kentara.
Bianca baru menyadari keberadaan botol dan selang yang keluar dari tubuh Lorenzo. "Siapa yang memasang benda mengerikan ini? Siapa yang membantumu?"
Lorenzo tidak menjawab. Matanya dengan panik mencari sosok Amina, takut jika Dante sudah menghabisinya dalam diam. Namun, di sudut yang nyaris tak terjangkau cahaya, ia melihat bayangan putih yang perlahan bergerak mengakhiri ritual ibadahnya. Lorenzo menghembuskan napas lega yang panjang.
Saat Bianca mencoba menarik lengan Lorenzo untuk bangun, Lorenzo menepisnya dengan kasar. "Tidak tanpa Dokter Amina!"
"Ooo... jadi namanya Amina," Dante menyahut keras, suaranya penuh nada mengejek.
Tepat saat itu, Amina bangkit dan berjalan tergesa menuju ranjang dengan wajah pucat. "Lorenzo, siapa mereka?"
"Aku tunangannya," potong Bianca dengan penekanan tajam pada kata 'tunangan', matanya menatap Amina dari ujung kaki hingga ujung jilbab dengan penuh kecemburuan.
Lorenzo tidak memedulikan Bianca yang memegangi lengannya erat-erat seolah takut ia akan lenyap. Ia menatap Amina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Amina, kemasi barang-barangmu. Kau ikut denganku."
Jantung Amina serasa berhenti berdetak. "Tidak bisa, Lorenzo. Tugasku selesai di sini. Keluargamu sudah menjemputmu."
Ada rasa sesak yang aneh di d**a Amina. Hanya dalam dua hari, pria ini telah memberikan warna baru dalam hidupnya yang getir. Menyelamatkan Lorenzo telah mengembalikan jati dirinya sebagai penyembuh sejati, tanpa suap dan tanpa sogokan.
"Amina," suara Lorenzo melunak namun penuh penekanan. "Hidupmu tidak akan pernah sama lagi. Sejak kau menusukkan selang ini ke dadaku, dunia di luar sana menjadi sangat berbahaya bagimu. Kau adalah orang yang telah menyelamatkanku, dan itu membuatmu menjadi target."
"Untuk apa membawa perempuan ini?" tanya Bianca sinis. "Aku bisa menyewa sepuluh perawat terbaik untukmu."
"Tidak, Bianca. Amina adalah jaminan keselamatanku. Dia ikut denganku, suka atau tidak. Dan dia satu mobil denganku!" perintah Lorenzo tak terbantahkan.
Di sudut ruangan, Dante menyilangkan tangan dengan senyum licik. Di kepalanya, sebuah rencana buruk mulai tersusun—ia akan menggunakan keberadaan Amina untuk memfitnah Lorenzo dan menghancurkan reputasinya di depan keluarga besar mereka.
Amina tetap bergeming, kakinya seolah berakar pada lantai kayu pondok itu. Ia tahu benar bahwa melangkah masuk ke mobil Lorenzo berarti menyerahkan diri pada pusaran hidup yang penuh dengan mesiu dan genangan darah serta intrik-intrik busuk —dunia yang selama ini ia hindari.
Namun, jauh di lubuk hatinya, Amina tersenyum getir. Bukankah karena alasan ini ia memilih Italia? Ia sengaja menjauh dari kesucian Mekkah dan memilih negeri yang "berdebu" ini untuk menguji dirinya sendiri. Baginya, Italia adalah kawah candradimuka bagi jiwanya.
Jika kau ingin melihat kekuatan sebatang lilin, jangan letakkan ia di bawah terik matahari Mekkah yang benderang, batin Amina sambil meremas jemarinya. Di sana, cahaya lilin itu akan kalah, tak terlihat, dan tak berarti.
Amina ingin menantang dirinya sendiri. Ia sengaja menceburkan diri ke tengah kegelapan yang pekat untuk membuktikan satu hal: apakah sinar iman di dadanya masih cukup kuat untuk berpijar? Ia ingin tahu, jika ia berdiri di titik paling gelap dalam hidupnya, apakah cahaya itu masih sanggup menuntun langkahnya?
Hanya dengan cara inilah ia bisa yakin. Jika di tengah kegelapan dunia Lorenzo ia tetap bisa menjaga hatinya, maka ia akan cukup kuat untuk pulang dan menghadapi segala luka yang menunggunya di negeri asalnya.
"Amina! Amina!"
Suara Lorenzo yang mengeras memecah lamunan Amina, menyentaknya dari keheningan doa yang baru saja ia selesaikan. Amina mematung, menatap pemandangan ganjil di depannya: dua orang asing yang tampak berbahaya kini menguasai ruangannya.
"Kemari, Amina. Mendekatlah," panggil Lorenzo. Kali ini suaranya melunak, namun ada ketegasan yang tak terbantahkan di sana.
Dengan langkah ragu, Amina berjalan mendekat, mengambil posisi di sisi ranjang yang tidak dikuasai oleh Bianca. Begitu Amina cukup dekat, Lorenzo segera meraih lengan wanita itu—sebuah gerakan protektif yang membuat Bianca membelalakkan mata.
Lorenzo kemudian mengalihkan tatapan tajamnya pada Bianca dan Dante. "Keluar. Biarkan aku bicara berdua dengannya."
"Huh!" Dante menggerutu pelan. Banyak bicara sekali pria ini, batinnya bergejolak. Sial! Kenapa kau tidak mati saja di pelabuhan Brindisi? Meski begitu, Dante tetap memaksakan senyum sinisnya. Ia butuh Lorenzo tetap hidup untuk saat ini, sekadar untuk menjaga citra "bersihnya" di depan keluarga besar. Namun di dalam kepalanya, skenario busuk sudah tersusun: kepulangan Lorenzo akan menjadi neraka bagi wanita berhijab ini, dan Lorenzo akan hancur menyaksikannya.
"Cepatlah, Lorenzo," ucap Dante dingin. "Ayahmu menunggu pertanggung jawabanmu atas kegagalan memalukan di Brindisi."
"Tutup mulutmu, Dante!" potong Lorenzo tajam. Matanya berkilat, menusuk tepat ke arah sepupunya itu. "Kurasa kau lebih tahu daripada siapa pun tentang apa yang sebenarnya terjadi di Brindisi. Sekarang, keluar. Dan kau Bianca, lepaskan lenganku."
Bianca tersentak. Dengan wajah merah padam karena murka, ia melepaskan cengkeraman tangannya yang sedari tadi mengunci lengan Lorenzo.
"Lorenzo! Aku ini tunanganmu! Bukan perempuan ini!" teriak Bianca, suaranya melengking penuh kecemburuan yang tak lagi bisa ditutupi.
"Aku tahu siapa kau, Bianca," sahut Lorenzo datar, suaranya sangat tenang namun mematikan. "Tapi sekarang, aku mau bicara dengan Amina."
Lorenzo sengaja membuang sebutan 'Dokter' di depan nama Amina. Ia ingin menekankan pada Bianca—dan terutama pada Dante—bahwa hubungan mereka sudah melampaui batas pasien dan tabib. Ia sedang menandai wilayahnya, menyatakan bahwa Amina adalah orangnya.
Dante dan Bianca akhirnya melangkah keluar dengan langkah berat yang penuh kebencian. Begitu pintu tertutup, Lorenzo langsung menarik lengan Amina, memaksanya mendekat hingga jarak di antara mereka terpangkas habis. Napas Lorenzo yang hangat terasa di kening Amina saat ia berbisik.
"Amina, kau harus ikut denganku. Jika tidak, semua usahamu menyelamatkanku akan sia-sia. Aku tidak bisa mempercayai siapapun di luar sana."
"Tapi Bianca... dia tunanganmu, Lorenzo," sela Amina, suaranya bergetar karena bingung dan cemas.
"Aku juga tidak mempercayainya," sahut Lorenzo dingin. "Pertunangan itu tak lebih dari aliansi bisnis yang kotor. Dia hanya mencari keuntungan dari nama keluargaku."
Amina menatapnya tak percaya. "Lantas, kenapa kau mempercayaiku? Kita baru bertemu dua hari."
"Karena kau punya seribu alasan untuk membiarkanku mati, tapi kau tidak melakukannya," tangan Lorenzo bergerak mantap menggenggam jemari Amina. "Di pondok ini, tanpa alat medis yang layak, kau melakukan keajaiban dengan kecerdasanmu, tanganmu..." Lorenzo terhenti sejenak, tatapannya mengunci mata Amina dengan intensitas yang menyesakkan. "...dan hatimu. Hatimu murni hanya ingin menolongku. Sekarang, aku memohon padamu... dampingi aku masuk ke Masseria."
Amina tertegun. Ia perlahan menarik tangannya, mencoba mencari ruang untuk bernapas di tengah tatapan intens pria itu. Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap mata Lorenzo—mencari kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kejujuran yang telanjang.
"Baiklah," ucap Amina akhirnya. "Aku akan ikut. Tapi dengar, Lorenzo: hanya sampai kau sembuh. Saat selang itu lepas dari dadamu, itulah hari kebebasanku. Lagipula, visaku hanya tersisa mungkin satu minggu."
Mata Lorenzo berbinar—kemenangan kecil yang sangat berharga. Masalah visa adalah urusan kecil baginya, ia bisa memperpanjangnya seumur hidup jika ia mau. Namun, ada mendung tipis yang menggelayuti hatinya. Segitunya kah kau ingin pergi dariku?
Amina berbalik untuk mengemasi barang-barangnya dengan tergesa.
"Bawa semuanya, Amina. Jangan tinggalkan satu pun barangmu di sini," titah Lorenzo dengan nada otoritas yang kembali muncul. "Kau tidak akan pernah kembali ke gubuk ini lagi, kecuali bersamaku."
"Sudah selesai, Lorenzo?!" teriak Dante dari luar, suaranya terdengar tidak sabar dan penuh curiga.
"Lorenzo! Aku masuk! Kau terlalu lama di dalam dengannya!" Bianca berteriak lebih nyaring, dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung menyentak pintu hingga terbuka lebar.
Bianca menyerbu masuk, derap sepatu bot mahalnya menghantam lantai kayu dengan nada menuntut. Ia langsung menghambur ke sisi ranjang, mencoba mengambil alih posisi di samping Lorenzo yang masih terbaring menunggu Amina.
"Andiamo, Lorenzo. Ti ajuto io a scendere. Verrai in macchina con me," (Ayo Lorenzo, biar aku yang membantumu turun. Kau akan naik mobil bersamaku), ucap Bianca dengan nada posesif yang kental. Tangannya sudah terulur, siap merenggut lengan Lorenzo dari sprei.
"Tidak, Bianca. Biarkan Amina yang membantuku," jawab Lorenzo dalam bahasa Inggris yang dingin dan tajam. Ia menepis tangan tunangannya tanpa ragu sedikit pun. Baginya, hanya tangan Amina yang ia percayai untuk menyentuh luka dan menjaga botol WSD-nya.
Wajah Bianca memerah padam, merasa terhina karena ditolak di depan "perempuan asing" itu. Ia beralih ke bahasa Italia yang lebih kasar, suaranya naik satu oktav. "Cosa? Ti fidi di questa straniera più di me? Lorenzo, sono anni che sto con te! Lei... la conosci solo da due giorni, potrebbe essere una spia!" (Apa? Kau lebih memercayai orang asing ini daripada aku? Lorenzo, aku sudah bertahun-tahun bersamamu! Dia... kau baru mengenalnya dua hari, bisa saja dia mata-mata!)
"Cukup, Bianca! Hentikan khayalan konyolmu," potong Lorenzo, tetap menggunakan bahasa Inggris agar Amina mengerti pembelaannya. "Kalau dia mata-mata, dia hanya perlu membiarkanku mati kehabisan napas dua malam yang lalu."
"Proprio perché è una spia! Ti tiene in vita per approfittarsi di te!" (Justru karena dia mata-mata! Dia membuatmu tetap hidup hanya untuk memanfaatkanmu!) teriak Bianca frustrasi. Kata-katanya menyambar-nyambar seperti petir di ruangan sempit itu. Amina hanya bisa berdiri mematung di samping koper pakaiannya; ia tidak paham arti kata-katanya, tapi ia tahu setiap suku kata itu adalah racun yang ditujukan padanya.
Lorenzo tidak memedulikan histeria itu lagi. Ia menatap Amina, dan suaranya seketika berubah lembut. "Biarkan kopermu dibawakan pengawal Dante, Amina. Sekarang... tolong papah aku."
Amina melangkah maju dengan ragu, namun ia melaksanakan tugasnya dengan sangat teliti. Ia melingkarkan lengan kekar Lorenzo ke bahunya, merasakan panas tubuh pria itu sementara tangannya yang lain memastikan botol WSD tetap berada di posisi aman.
"Kau duduk di sampingku di kursi belakang, ya," bisik Lorenzo pelan, hampir menempel di telinga Amina, sebuah gestur intim yang sengaja ia tunjukkan untuk membungkam Bianca.
Di ambang pintu, Dante berdiri bersedekap, mengamati drama itu dengan mata licik. Ia merekam setiap cacian Bianca dalam bahasa Italia tadi. Bianca benar, pikir Dante dengan senyum iblis yang tersimpan rapi. Wanita berhijab ini adalah pion yang sempurna. Aku tidak perlu mengotori tanganku dengan darahmu, Lorenzo... aku hanya perlu memfitnahmu melalui keberadaan perempuan ini, dan keluarga besar akan menghabisimu sendiri.