Cahaya matahari yang terik menembus di sela-sela dinding kayu gubuk itu, membakar kelopak mata Lorenzo sehingga ia terpaksa terjaga dari mimpi buruk, tentang pelabuhan Brindisi. Ia mengerang pelan, tubuhnya terasa berat, rasa kantuk yang dipenuhi mimpi buruk tentang Dante kini berganti dengan ketenangan yang asing.
Aroma tumisan bawang dan rempah Italia yang sudah akrab dengan indera penciumannya, kini merayap masuk hidungnya, memicu rasa lapar yang sudah lama tak ia rasakan. Di dapur yang menjadi satu dengan semua ruang yang ada di pondok itu, ia melihatnya–perempuan itu. Sosoknya dibalik kerudung yang tak pernah tanggal, bergerak tanpa suara seolah kakinya tak menyentuh lantai batu yang dingin. Di mata Lorenzo yang biasa melihat darah dan debu jalanan, gerakannya tampak anggun, bagaikan siluet dewi di tengah kepulan uap dapur.
Lorenzo menyentuh d**a kanannya, selang WSD masih di situ. Jantungnya masih berdetak–sebuah ritme yang seharusnya sudah berhenti jika bukan karena tangan perempuan itu. Baginya, prinsip seorang mafia sangat kaku: hutang nyawa hanya bisa lunas jika dibayar dengan nyawa. Saat ia memperhatikan ujung kerudung Amina yang berkibar lembut di tiup angin siang, Lorenzo mengukuhkan sumpah dalam diamnya–bahwa mulai detik ini, darahnya bukan lagi miliknya, melainkan perisai bagi nyawa yang telah menyelamatkannya.
“Kamu sudah bangun Lorenzo?” suara Amina membelah keheningan, seringan angin yang masuk melalui celah jendela. “Aku memasak Branzino dengan tumisan bawang dan sedikit rempah italia, aku harap aromanya tidak terlalu kuat untukmu.”
Lorenzo bergeming, dadanya bergetar mendengar namanya disebut dengan nada selembut itu. Di matanya pemandangan itu surreal–seolah ia baru saja terbangun di negeri Kayangan yang mustahil. Perempuan itu, dengan kerudung yang membingkai wajahnya bak dewi, berdiri di sana hanya untuk menyajikan makanan untuknya.
Ada kedamaian yang belum pernah ia kenali sebelumnya. Di sini, di dalam gubuk sunyi ini, tidak ada bau amis tembaga dari darah atau panasnya mesiu dari moncong senjata. Hanya ada aroma minyak zaitun yang gurih dan sosok Amina yang meneduhkan. Untuk pertama kalinya Lorenzo merasakan dunianya yang bising mendadak senyap, menyisakan ruang hanya untuk mereka berdua.
Amina mendekat membawakan Branzino yang aromanya memenuhi sudut gubuk. Ia meletakkannya dengan hati-hati di tepi dipan, tepat di samping tubuh Lorenzo yang masih kaku.
“Biar kubantu kau duduk ” bisik Amina.
Tangannya yang kecil namun kokoh perlahan menyusup di balik bahu Lorenzo yang kokoh. Saat jemari Amina menyentuh kulitnya, Lorenzo menahan napas; ada sengatan listrik yang lebih tajam dari rasa perih luka-lukanya. Ia meringis kecil saat luka di dadanya tertarik dengan selang WSD, namun Amina dengan sigap menyangga punggungnya, menumpuk bantal-bantal lusuh agar Lorenzo bisa bersandar dengan nyaman.
“Kau harus mengisi perutmu,” ucap Amina lagi. Suaranya terdengar seperti perintah yang tak kuasa ia bantah.
Lorenzo hanya bisa pasrah, membiarkan dirinya dituntun perempuan itu–sesuatu yang biasanya ia anggap sebagai kelemahan, namun kini terasa seperti perlindungan. Amina kemudian menaruh bantal di atas pangkuan Lorenzo sebagai alas dan meletakkan piring hangat itu di atasnya.
“Sekarang makanlah,” ujar Amina lembut. Matanya menatap Lorenzo membuat pertahanan pria itu runtuh seketika
Lorenzo menunduk menatap ikan yang tersaji di depannya, Di bawah aroma bawang putih yang gurih, Lorenzo merasakan kehangatan tangan Amina yang masih membekas di bahunya. Sekarang Lorenzo merasakan gubuk kecil ini bukan hanya menjadi tempat persembunyiannya tapi juga tempat ia belajar kembali menjadi manusia.
Lorenzo menyuapkan potongan ikan itu. Teksturnya lembut, bumbunya pas, aroma bawang putih yang gurih. Ia tertegun sejenak, rasa sederhana ini terasa lebih nikmat dari sajian mewah koki di Masseria tempatnya tinggal bersama keluarga besarnya.
Pikirannya melayang pada meja makan panjang keluarganya tempat ia makan bersama ayahnya Don Salvatore dan sepupunya Dante, makanan di sana meskipun disajikan mewah tapi terasa dingin, hambar dan menekan.
Di Gubuk ini, hanya ikan dengan bumbu dan penyajian sederhana, tapi Amina memberikan sesuatu yang tidak pernah ia temukan di rumahnya sendiri: rasa tenang. Lorenzo mengunyah perlahan, merasakan hangatnya masakan itu turun ke perutnya, menghapuskan sedikit demi sedikit rasa pahit yang ia bawa dari dunianya yang keras.
Namun, kedamaian itu sekejap luruh saat Amina berkata pelan, “Lorenzo bukankah sebaiknya kau kubawa ke rumah sakit? Pietro bisa membantu kita, dia punya truk pengangkut zaitun yang biasa ke kota,” suaranya bergetar, penuh permohonan yang tulus.
Lorenzo menarik napas panjang, lalu menghembuskan dengan berat. Ada sesak yang tertahan di tenggorokannya, bukan karena luka, tapi kenyataan pahit yang harus ia hadapi.
“Tidak bisa Amina,” jawabnya dengan suara rendah namun tegas. “Rumah sakit adalah tempat pertama yang mereka awasi. Mereka akan menghabisiku di sana sebelum aku sempat menginjakkan kaki di lobby.”
Ia terdiam sejenak, memandang dinding gubuk yang rapuh namun terasa lebih melindungi dari tembok beton manapun, “Untuk sementara waktu, hanya disini aku bisa bernapas. Sejujurnya aku hanya akan benar-benar aman jika sudah kembali ke Masseria–rumah keluargaku.”
“Siapa mereka?” tanya Amina penasaran, “apakah komplotan Dante? Kau sering menyebut-nyebutnya saat mengigau.”
Amina menatap Lorenzo lekat-lekat, “Siapa sebenarnya mereka?” tanyanya penasaran, “apa ini ada hubungannya dengan Dante? Kau terus menyebut namanya saat meracau ketika demam.”
Lorenzo terdiam sejenak, “Itu dugaanku.” jawabnya pendek. Gerak-geriknya di pelabuhan sangat mencurigakan. Teriakannya terdengar aneh, meski aku tak bisa menangkap dengan jelas apa yang ia katakan di tengah kekacauan itu.”
Ia mengepalkan tangannya yang tidak terluka., merasakan ototnya menegang. “Dia tidak melindungiku, dia justru membiarkanku pergi sendiri saat situasi memanas. Dalam duniaku, Amina, tidak ada kebetulan seperti itu. Jika seorang kawan membiarkanmu berjalan ke arah peluru, itu berarti ia sedang menunggu kematianmu. Itu pengkhianatan, Amina.”
Amina mengembuskan napas panjang. Bayangan tentang pengkhianatan dan peluru membuat dadanya sesak; ia tidak menyangka dunia yang dijalani Lorenzo sebrutal itu.
“Jika kau mencurigainya, pasti Dante mencarimu.” ujar Amina dengan nada cemas. “Apa dia tahu tempat ini? Siapa pemilik tempat ini? Apakah Pietro bisa dipercaya?”
Lorenzo menatap pintu kayu yang tertutup rapat, seakan musuh bisa muncul dari sana kapan saja. “Pietro bisa dipercaya, tapi lebih baik dia tidak tahu aku ada disini untuk sementara,” jawabnya dingin. “Dalam posisiku sekarang, semakin sedikit orang yang tahu aku masih bernapas, semakin aman untuk kita berdua.”
“Kau mengenal Pietro? Kau pasti pemilik pondok ini!” tebak Amina dengan cerdas.
“Kau memang cerdas Amina. Ternyata tidak hanya tanganmu yang terampil tapi otakmu pun cekatan.” Puji Lorenzo.
“Kalau kamu pemilik pondok ini, berarti kamu pun sudah mengetahui aku yang menyewa pondok ini. Kamu pasti sudah tahu identitasku. Pantesan malam itu kau muncul di depan pintu itu.” suara Amina gusar mengetahui keberadaannya sudah dipantau Lorenzo sejak pertama kali ia datang di pondok ini.
“Hahaha..” tawanya yang membuatnya meringis,
“Huh, makanya jangan tertawa dulu.”
“Maaf. .. tapi benar Amina, Tidak heran kamu menjadi dokter, kamu tidak hanya cantik tapi juga cerdas“.
“Aku tidak bercanda Lorenzo.” Kau menakutkanku.
“Pondok ini adalah tempat persembunyianku, Amina. Aku tidak akan membiarkan siapapun tinggal disini tanpa aku mengetahui ukuran sepatunya.” ujar Lorenzo tenang. “Saat Pietro mengatakan ada seorang perempuan yang ingin menyewa tempat terpencil ini, aku harus memastikan kau bukan orang kiriman musuhku–atau lebih buruk lagi seorang informan polisi.”
Ia menyandarkan kepalanya sedikit ke bantal, ia sedikit meringis, “Aku sudah menyelidiki mu sebelum engkau menginjakkan kaki di pondok ini. Seorang yang mengasingkan diri di desa terpencil di Italia di kebun Zaitun?, pemikiran yang aneh dan itu mencurigakan. Aku memantau setiap gerak gerikmu. Tapi setelah melihat gerak gerikmu, sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, setidaknya itu yang dilaporkan Pietro padaku.”
Lorenzo menatap tangan Amina yang gemetar, “Aku memantaumu bukan untuk menyakitimu, tapi memastikan bahwa kau bukan ancaman bagiku. Dan tadi malam, saat aku terluka, satu-satunya tempat yang kutahu mungkin dapat menyelamatkanku adalah pondok ini.”.
Amina terdiam. Ia bergeming dengan sepasang mata yang menatap Lorenzo tanpa kedip, seolah sedang menghujam langsung ke dalam isi kepala pria itu. Pria ini gila, batin Amina ketus. Siapa pun orangnya yang menguntit dan memantau orang asing sedetail itu, pasti memiliki paranoia kronis yang sudah merusak kewarasannya. Di mata Amina saat ini, Lorenzo tak lebih dari seorang pria pesakitan yang sakit jiwa.
Seolah mampu membaca gejolak di benak Amina, Lorenzo menyeringai tipis. Sengatan parau dalam suaranya terdengar dingin.
“Kau pasti berpikir aku sudah gila,” ucap Lorenzo, menjeda kalimatnya untuk menatap Amina lekat-lekat. “Tapi untuk bertahan hidup sebagai seorang Salvatore, kau memang harus memelihara sedikit kegilaan.” Lorenzo mencondongkan tubuhnya, menantang netra Amina. “Apakah kau takut, Amina? Seseorang yang waras seharusnya gemetar di hadapanku sekarang.”
Amina tidak mundur setapak pun. Ia justru menyunggingkan senyum getir yang sengaja dilempar untuk meruntuhkan keangkuhan pria di depannya.
“Aku tidak takut,” sahut Amina, suaranya tenang namun menancap kuat. “Dan nyawamu itu bukan berada di tanganku, Lorenzo. Nyawamu ada di tangan Allah Subhaanahu Wa Ta'ala. Jika Dia menghendaki, Dia bisa mengambil napasmu besok pagi tanpa permisi.” Amina sengaja menekankan kalimatnya, menikmati kilat tipis keterkejutan di mata Lorenzo. “Kau hanya sedang diberi perpanjangan waktu untuk hidup sedikit lebih lama. Sama sepertiku.”
Lorenzo tertegun sejenak, sebelum akhirnya mengembuskan napas pendek. “Baiklah, Amina. Jika kau tidak takut, lalu apa yang membawamu sejauh ini? Untuk apa kau datang dan menyewa trullo-ku?” (Buat Lorenzo gubuk ini bukan pajaro tapi Trullo karena ia bisa menempatinya seperti rumah, saat-saat ia butuh menyendiri).
Pertanyaan itu menghantam Amina tepat di dadanya. Seketika, keteguhan di wajahnya luruh, digantikan oleh tatapan kosong yang terlempar jauh menembus dinding batu pondok. Ada luka lama yang mendadak menganga kembali.
Melihat perubahan drastis itu, mata Lorenzo menyipit, mengamati cincin yang absen dari jemari wanita itu. “Di mana suamimu?”
Lorenzo sengaja melempar umpan. Sisi protektif dan rasa ingin tahunya mendadak bangkit, ia butuh kepastian tentang status wanita di hadapannya.
“Aku tidak punya suami,” jawab Amina singkat. Nada suaranya mendatar, berusaha keras menyembunyikan getar rapuh.
Jawaban itu entah bagaimana membuat d**a Lorenzo yang kaku mendadak terasa lowong. Ada binar samar yang terbit di sepasang matanya, diikuti sudut bibirnya yang berkedut membentuk senyuman kecil yang tak mampu ia tahan. Sesuatu di dalam dirinya merasa lega, sebuah perasaan asing yang egois.
“Kenapa?” Lorenzo menaikkan sebelah alisnya, suaranya melunak. “Perempuan seindah kamu... seharusnya ada belasan laki-laki yang rela saling bunuh untuk memperebutkanmu.”
“Dia berselingkuh.” Amina memotong cepat. Dua kata yang ringkas, namun cukup untuk menjelaskan badai yang telah menghancurkan hidupnya.
Lorenzo terdiam sejenak, lalu mendengus sinis, seolah mengutuk kebodohan pria yang beralih dari Amina. “Maka dia pria paling bodoh yang pernah ada. Dia tidak pantas untukmu. Itu artinya, dia bukan jodoh yang semesta siapkan untukmu.”
Amina menarik napas dalam-dalam. Keheningan malam Puglia seolah meresap ke dalam suaranya saat ia menatap Lorenzo dengan binar mata yang kembali teduh, namun sarat akan keyakinan spiritual yang mendalam.
“Dulu, aku berpikir dia adalah cinta sejatiku,” kata Amina pelan. Setiap katanya dieja dengan perlahan, namun bergema begitu magis di dalam ruangan. “Tapi pengkhianatan itu menyadarkanku... bahwa cinta sejati adalah kompas, Lorenzo. Ia tidak hanya bertugas menyatukan dua hati manusia, tetapi juga menuntun jiwa yang tersesat untuk berjalan pulang... kembali kepada Sang Maha Pemilik Cinta.”
Amina tersenyum tipis, menatap langit-langit pondok dengan perasaan pasrah yang damai. “Dan aku baru benar-benar menyadari hakikat itu di sini—di pondokmu ini, Lorenzo.”
Kata-kata itu runtuh di antara mereka, meninggalkan keheningan yang mendadak terasa sakral.
Lorenzo terpaku. Lidahnya mendadak kelu. Sepanjang hidupnya di dunianya yang hitam, cinta sejati adalah mitos urban yang sudah lama mati. Baginya, persatuan antara pria dan wanita hanyalah transaksi bisnis, aliansi kekuasaan, dan perputaran uang semata. Sejak kematian Sofia, istrinya, Lorenzo telah mengunci rapat gerbang hatinya dari segala bentuk rasa. Ia telah bersumpah untuk menua sendirian di dalam kegelapan Masseria.
Namun malam ini, di hadapan wanita asing berpakaian tertutup ini, Lorenzo merasa "Kompas" yang digambarkan Amina baru saja jarumnya bergetar, menunjuk tepat ke arah dadanya sendiri yang mati rasa.