Lorenzo terbangun dengan sensasi seolah dadanya dihantam oleh kereta kuda. Setiap tarikan napas terasa tajam dan panas. Ia mencoba menggerakkan badannya, tapi terasa lemas luar biasa.
Ingatannya kabur, Dante, Pelabuhan , desing peluru, rasa darah di tenggorokan dan seorang malaikat berkerudung putih.
Ia perlahan membuka matanya, langit di luar jendela gubuk kecil itu masih berwarna biru lembayung, saat fajar menyingsing di atas Puglia. Namun perhatiannya langsung tersita oleh sosok di sudut ruangan.
Di sana, di atas selembar kain sederhana, perempuan itu berdiri dalam keheningan yang absolut. Ia mengenakan kain putih panjang yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajahnya. Gerakannya sangat anggun dan tenang. Perempuan itu membungkuk, lalu bersujud, menyentuh dahinya ke lantai dengan cara yang paling rendah hati yang pernah Lorenzo lihat seumur hidupnya.
Lorenzo tertegun. Di dunianya pria hanya berlutut di hadapan Don atau di bawah moncong senjata. Tapi perempuan ini… bersujud dengan sukarela, seolah sedang berkomunikasi dengan sesuatu yang sangat besar dan sangat damai.
Ruangan itu hanya berbau minyak zaitun dan sedikit aroma oud yang samar, menggantikan bau amis dan darah semalam.
Amina mengakhiri shalatnya, menoleh ke kanan dan kekiri. Lalu duduk diam sambil menengadahkan kedua tangannya, ia berbisik pelan, bahasa yang tidak dimengerti Lorenzo, namun nadanya terdengar seperti air yang mengalir di padang pasir.
“Siapa kamu sebenarnya?” suara Lorenzo pecah, kering dan nyaris tak terdengar. Ia berbicara dalam bahasa Inggris.
Amina tersentak pelan. Ia menurunkan tangannya, lalu perlahan bangkit dan mendekati tempat tidur nya yang sekarang dipakai Lorenzo. Wajahnya yang tanpa riasan tampak begitu jernih di bawah cahaya fajar.
“Jangan banyak bicara dulu,” ucap Amina dengan nada otoritas seorang dokter, namun matanya memancarkan kelembutan. “Paru-parumu baru saja berfungsi kembali. Kau hampir mati semalam.”
Lorenzo menatap selang plastik yang mencuat dari dadanya, yang tersambung ke sebuah botol minyak zaitun di samping tempat tidur. Ia menyeringai tipis, rasa sakit menusuknya lagi. “Kau menyelamatkanku…. dengan botol minyak?”
“Aku menyelamatkanmu dengan apa yang disediakan Allah (God) di dapur ini,” balas Amina tenang. Ia memeriksa denyut nadi Lorenzo. “Aku Amina, dulu… aku seorang dokter bedah thorax di negeriku, tapi di sini aku bukan siapa-siapa. Dan kau berada di tempat yang paling aman sekaligus paling berbahaya di Italia saat ini.”
Lorenzo menatap mata Amina, mencari kebohongan atau rasa takut, namun ia hanya menemukan ketulusan yang murni.
“Semalam kamu panas, menggigil dan meracau, kau menyebutkan satu nama..”
“Dante… mereka akan mencariku.”
“Jika mereka datang, biarkan itu menjadi urusan nanti, “ Amina membetulkan letak selimut Lorenzo. “Di pondok ini, tidak ada senjata. Hanya ada obat dan doa. Sekarang kau butuh mengisi energi di perutmu. Aku mendengarnya itu sudah mulai berbunyi-bunyi. Dan kau butuh kekuatan untuk bertahan hidup dari apa yang aku lakukan pada dadamu semalam” Amina membawakan semangkuk bubur pada Lorenzo. Ia duduk di sisi kanan tempat tidur Lorenzo, mulai menyendokkan bubur itu dan membawanya ke mulut Lorenzo.
Lorenzo menatap perempuan itu, begitu jernih dan damai. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia disuapkan makanan oleh seorang wanita. Ia melahapnya sampai bubur itu tak bersisa lagi di mangkoknya.
“Ternyata kau benar-benar lapar. Ini bagus buat penyembuhanmu.” Amina tersenyum puas, makanan yang ia buatkan habis dimakan Lorenzo.
“Ternyata kamu tak hanya pintar mengobati, tapi masakanmu pun enak. Bubur apa itu?”
“Itu resep dari negeriku, Indonesia, itu hanya beras dan potongan ayam yang diberi sedikit bumbu.”
“Darimana kamu bisa mendapatkan bahan-bahan makanan ini, pasar jauh dari pondok ini.” Lorenzo heran.
“Pietro, penjaga pondok ini yang berbelanja untukku.”
‘Ooo Pietro’ gumam Lorenzo dalam hatinya. Piettra adalah salah satu orang kepercayaan Lorenzo, dan sebenarnya Pondok ini pun milik Lorenzo. Ia sengaja membiarkan Pondok ini untuk tempat pelariannya.
“Sekarang duduklah sedikit lebih tegak, aku perlu menepuk-nepuk punggungmu agar udara di paru-parumu cepat keluar.” Suara Amina tegas tapi lembut bagaikan nyanyian lembut di telinga Lorenzo.
Sambil memejamkan matanya, Lorenzo merasakan tepukan yang bukan hanya menggetarkan relung d**a tapi juga seluruh syaraf yang ada di tubuhnya. Bayangan Amina yang sedang bersujud tadi terus menari-nari di dalam benaknya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh dosa, Lorenzo merasakan sebuah perasaan asing; sebuah rasa keingintahuan tentang kedamaian. Rasa damai yang dihadirkan oleh perempuan aneh dari Timur yang tanpa tujuan jelas baginya, mendarat di Pondok Batu miliknya. Agaknya perempuan ini seperti sengaja dikirim Tuhan untuk menolongnya.
Hari menjelang sore, Amina sudah dua kali bersujud dan ini kali ketiga perempuan itu melakukannya. Hujan turun membasahi kebun Zaitun, menciptakan simfoni rintik di atas atap seng gubuk. Lorenzo bersandar di tumpukan bantal. Matanya sejak tadi memperhatikan Amina yang duduk di kursi kayu dekat jendela, memegang sebuah buku kecil dengan sampul biru terbuat dari kulit sintetis. Suaranya terdengar perlahan hampir tak terdengar, dengan bahasa dan nada yang asing didengar oleh Lorenzo, itu bukan nyanyian, tapi suara itu ritmis memberikan efek sedatif (penenang) yang lebih kuat daripada obat bius mana pun yang pernah ia konsumsi. Dan membuatnya damai bukan seperti obat penenang yang membuatnya tak sadarkan diri. Ia tak tahu artinya. Dan tak ingin mengganggu. Ia menikmati suara ritmis dari bibir sederhana tanpa polesan, hingga Amina menyelesaikannya. Amina meletakkan buku itu di atas meja di sampingnya dan lanjut memegang butiran kayu cendana, wanginya perlahan merayap masuk ke dalam hidung Lorenzo. Amina menggulirkan satu persatu butiran kayu harum itu. Lorenzo tahu, itu pemujaan terhadap Tuhan. Sesuatu hal yang tak pernah ia lakukan.
Rasa penasaran menggelayuti benaknya, “Dokter..” panggil Lorenzo, suaranya lebih bulat, tapi masih ada sisa serak.
Amina menghentikan bacaan nyanyian itu, menoleh pelan, Amina tersenyum. “Kamu butuh air?”
“Tidak, tidak, aku hanya ingin tahu, “ Lorenzo menunjuk ke arah tangan Amina, “Kenapa kau harus menghitungnya? Apakah Tuhanmu tidak tahu kau sedang memuji-Nya ? sampai kau harus punya alat hitung.”
Amina tertegun sejenak, lalu ia bangkit dan mendekati tempat tidur. Ia tidak menarik tangannya saat Lorenzo meraih ujung tasbih itu dengan jemarinya yang penuh luka perkelahian.
“Tuhan tahu, Lorenzo. Sangat tahu,” jawab Amina lembut. “Tasbih ini bukan untuk Tuhan. Ini untukku. Untuk hatiku yang sering lupa, dan untuk pikiranku yang sering liar, ketakutan.”
Lorenzo memutar satu butir kayu cendana yang wangi itu. “Ketakutan akan apa? Kau tinggal di tempat tersembunyi, sepi sendiri, kau menyelamatkan nyawa seorang mafia tanpa berkedip. Aku pikir kau tidak punya rasa takut.”
Amina duduk di kursi samping tempat tidur, menatap mata Lorenzo yang biru tajam. “Aku manusia, Lorenzo. Aku takut akan hari esok. Aku takut akan dosa-dosaku. Aku takut… jika aku tidak bisa pulang ke tempat yang seharusnya.”
Ia melepaskan tasbih itu ke telapak tangan Lorenzo. “Saat aku menghitung butiran ini, aku sedang memaksa otakku untuk fokus. Satu butir untuk rasa syukur, satu butir untuk janji setia, satu butir untuk permohonan ampun, satu butir lagi untuk memohon perlindungan. Sampai akhirnya, hatiku merasa penuh dan tidak ada ruang lagi untuk rasa takut.”
Lorenzo menggenggam tasbih itu erat-erat. Tekstur kayu yang halus terasa begitu kontras dengan senjata yang biasa ia genggam. “Di duniaku, kami menghitung peluru. Jika hitungannya habis, kami mati. Tapi hitunganmu… seolah-olah tidak pernah habis.”
“Karena kasih sayang Allah memang tidak pernah habis.” sahut Amina pendek. Ia mengambil kembali tasbihnya, namun kali ini jemarinya sempat bersentuhan dengan jemari Lorenzo. Ada sengatan listrik aneh yang menjalar, bukan nafsu, melainkan sebuah koneksi yang dalam.
Lorenzo terdiam, menghirup aroma cendana yang tertinggal di tangannya. “Buku biru di atas meja itu… apa isinya juga tentang hitungan?”
“Itu adalah peta.” jawab Amina sambil menatap Al-Quran kecilnya. “Peta untuk orang yang sedang tersesat sepertiku. Dan mungkin… untuk orang yang sedang melarikan diri sepertimu, dan juga peta untuk orang yang tidak ingin tersesat.”
Lorenzo bersandar kembali, matanya tidak lepas dari Amina. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Amina sebagai “dokter asing” atau “wanita muslimah” yang aneh. Ia melihat Amina sebagai mercusuar.
“Amina,” gumam Lorenzo pelan. “Jika peta itu benar… apakah ada jalan bagi orang yang tangannya sudah terlalu banyak noda darah untuk menemukan jalan pulang?”
Amina tidak langsung menjawab. Ia hanya memperbaiki selimut Lorenzo dengan gerakan yang sangat perhatian. “Peta itu bilang, pintu pulang tidak pernah dikunci, Lorenzo. Hanya saja, seringkali kita sendiri yang terlalu malu untuk membukanya.”
“Bolehkah aku membuka peta itu?” suara Lorenzo pelan hampir tak terdengar.
Amina berjalan mengambil Al-Quran biru itu, “Bukalah.. Mungkin sekarang kamu tidak bisa membaca peta itu, tapi suatu hari nanti, jika Penulis buku ini masih memberikan kita waktu, kita bisa membacanya bersama-sama. Karena kita perlu mencari edisi Italianya. “
Lorenzo membalik halaman demi halaman buku biru itu. Ia tahu itu tulisan Arab, dan terjemahan bahasa yang Amina pahami yang tentu saja tidak ia pahami. “Ini bahasa Apa?” sambil Lorenzo terus membolak-balik halaman buku biru itu.
“Itu bahasa Arab dengan terjemahan bahasa Indonesia, negeri tempat aku berasal. Kau tahu Indonesia?” tanya Amina.
“Ya tentu. Bisnisku juga sampai kesana, suatu negeri di timur sana yang kaya raya, tapi….” ia tak melanjutkan, ada perasaan bersalah dari nada bicara Lorenzo, Ia merasa menjadi makhluk yang kotor sekali.
“Ya aku tahu, perbedaan antara si kaya dan si miskin itu jauh.” sambung Amina
“Sebenarnya tidak berbeda dengan negeriku. Kejahatan merajalela dan aku menjadi bagian dari itu..” Suara Lorenzo perlahan
“Lorenzo, tidak penting seberapa banyak dan seberapa besar kesalahan yang kita lakukan, tapi apakah kita punya kesempatan, waktu, untuk memperbaikinya?” Suara Amina lembut, tapi sangat menohok ke dalam jantung Lorenzo. Dia yang baru saja lepas dari lubang maut. Apakah ia masih punya waktu untuk memperbaikinya? Dadanya saja belum beres saat ini, selang WSD masih bergantungan di dadanya dengan botol minyak zaitun itu.
Lorenzo Mengembalikan Al-Quran itu pada Amina, “Kurasa lebih baik aku tidur.” Amina mengambil Al-Quran itu, kemudian ia mengambilkan air dan beberapa pil untuk Lorenzo.
“Tapi sebelum tidur, minumlah obat ini. Meskipun aku tak ingin lagi menjadi dokter, tapi kemanapun aku pergi apalagi perjalanan sejauh ini, aku selalu membekali obat untuk emergensi seandainya aku sakit di negeri orang.” Amina memberikan 2 butir pil ke tangan Lorenzo, dan tangan mereka kembali bersentuhan, sengatan listrik itu kembali terasa. Amina cepat menarik tangannya.
“Tidurlah, Lorenzo.” Amina berbalik menjauh menuju dapur.
“Amina, apakah Pietro akan datang hari ini?”
“Agaknya tidak, ia sudah datang kemarin membawakanku bahan-bahan makanan. Ia tidak datang tiap hari. Biasanya tiap dua hari sekali, atau kalau aku mengontaknya untuk keperluan mendesak.”
“Tolong jika dia datang, jangan biarkan ia tahu aku disini.”
“Baik, sekarang tidurlah, mungkin setelah tidur, fisikmu akan lebih kuat. Kamu tidak bisa seterusnya di sini.”
‘Ya betul’ dalam hati Lorenzo ‘dan kamu pun Amina tidak bisa terus disini, sejak malam itu, Amina tidak akan aman di Italia ini jika tidak bersamaku’ Ia memejamkan matanya.