-Beberapa Jam sebelumnya di dermaga pelabuhan Brindisi-
Pelabuhan Brindisi tampak seperti monster besi yang tertidur di bawah siraman hujan rintik-rintik. Lorenzo berdiri di dermaga beton, jas panjangnya berkibar tertiup angin laut yang asin. Di belakangnya, Dante berdiri dengan tangan di saku, matanya terus berpindah antar jam tangan dan bayangan di balik kontainer.
“Kenapa mereka lama sekali?” tanya Dante, nadanya tidak sabar.
“Sabar Dante. Transaksi sebesar ini butuh ketenangan,” sahut Lorenzo dingin.
“Kau terlalu tenang, Lorenzo, “ suara Dante memecah deru ombak. “Transaksi ini bisa mengubah peta kekuatan kita di seluruh Mediterania, dan kau terlihat sedang menunggu bus pagi.”
Lorenzo melirik sepupunya tanpa menolehkan kepala. “Kekuatan bukan tentang seberapa keras kau berteriak atau seberapa cepat kau menarik pelatuk, Dante. Kekuatan adalah tentang mengetahui kapan harus diam.”
Dante tertawa, suara tawa yang kering dan tajam. “Itulah masalahmu, kau bicara seperti pendeta, bukan seperti pewaris Masseria. Kau tahu apa yang dibisikkan orang-orang di belakangmu? Mereka bilang kau sudah kehilangan ‘lapar’ itu. Kau terlalu banyak membaca buku, terlalu banyak berpikir tentang ‘kedamaian’ yang mustahil.”
“Aku berpikir tentang kelangsungan klan ini,” balas Lorenzo tenang. “Jika kita terus menggunakan cara-cara lama, kita akan berakhir di penjara atau di bawah tanah. Dunia sedang berubah, Dante. Kamu lupa 41-Bis yang menghabisi Don….”
“Puih..!” Dante meludah, “Kau seperti tikus curut. Pengecut!”
Lorenzo diam, dingin sedingin hembusan angin Brindisi. Ejekan itu hanya seperti udara yang masuk kuping kanan dan keluar dari kuping kiri tanpa diolah lagi. Pikirannya tetap fokus. Transaksi ini adalah hal yang sangat penting dan ia tidak ingin digagalkan oleh ejekan sepupunya itu.
“Dunia tidak pernah berubah bagi orang-orang seperti kita!” Dante melangkah maju, suaranya naik satu oktaf melihat sepupunya setenang itu. “Hanya ada yang memakan dan yang dimakan. Dan kau Lorenzo… kau sudah terlalu lama menjadi kenyang. Kau lupa bagaimana rasanya menjadi serigala.”
Lorenzo memutar badannya, wajahnya tenang di bawah lampu dermaga yang berkedip. Ia menatap Dante dengan mata yang tajam dan dingin. “Jika menjadi serigala berarti harus kehilangan nurani, maka aku lebih memilih menjadi manusia. Ingat itu Dante. Jangan biarkan ambisimu membutakan dari apa yang sebenarnya kita lindungi: Keluarga.”
Dante terdiam sejenak. Sebuah kilat kebencian melintas di matanya saat ia menyadari bahwa Lorenzo tidak akan pernah bisa “dibentuk” sesuai keinginannya.
“Keluarga?” Dante berbisik, suaranya kini mendesis pelan, “Keluarga adalah mereka yang cukup kuat untuk bertahan hidup. Dan malam ini aku akan membuktikan siapa di antara kita yang benar-benar milik klan ini.”
Tepat saat itu, truk kargo yang ditunggu muncul dari kegelapan. Dante mundur selangkah, tangannya masuk ke dalam saku jasnya. ‘Selamat tinggal, Sepupu’, gumam Dante pelan, hampir tenggelam oleh suara mesin truk. Semoga ‘nurani’ yang kau banggakan itu bisa menghentikan peluru.”
Truk kargo itu mendekat tanpa lampu depan. Tiga orang turun, membawa koper perak berisi prototipe senjata yang menjadi sengketa. Saat koper dibuka dan Lorenzo melangkah maju untuk memeriksa isinya, sebuah titik merah lase menari di dadanya.
Lorenzo merasakannya sebelum ia mendengarnya. Instingnya berteriak.
“Tiarap!” teriak Lorenzo.
Dor! Dor!
Dalam sekejap, pelabuhan itu berubah menjadi neraka. Tembak-menembak pecah dari tiga sisi. Lorenzo terjepit. Ia berhasil mencabut Beretta-nya, menumbangkan dua penembak yang mendekat, namun ia kalah jumlah.
Saat Lorenzo mencoba merangsek menuju mobilnya, sebuah peluru kaliber 45 menembus sisi dadanya.
Jleb.
Rasa panas yang luar biasa menghantam paru-parunya. Lorenzo terjerembab, napasnya langsung terasa berat dan berdarah. “Pasti ada yang salah”, bisik Lorenzo, “mengapa Dante tidak melindunginya.?”
Lorenzo tahu ia harus menyingkir kalau tidak dia akan tamat disini, dan dia tidak boleh tamat disini untuk mencari siapa yang telah berkhianat. Dengan sisa tenaganya, ia melemparkan granat asap ke arah tangki bahan bakar di dekat kontainer.
BOOM!
Ledakan itu menciptakan dinding apa dan asap hitam yang pekat, memberikan tabir bagi Lorenzo untuk merangkak menuju sebuah Alfa Romeo tua milik salah satu informannya yang terparkir di dermaga bawah. Dengan tangan gemetar dan pandangan yang mulai kabur, ia menghidupkan mesin.
Ia menginjak pedal gas dalam-dalam, menabrak barikade kayu, dan meluncur keluar area pelabuhan. Di belakangnya, ia bisa mendengar teriakan Dante dan suara mobil yang mengejarnya.
Darah membasahi jok mobil. Lorenzo tahu ia tidak bisa pergi ke rumah sakit, mata-mata ada dimana-mana. Ia mencurigai Dante dibalik semua ini. Sepupunya itu kelihatan sekali tadi sangat bernafsu melemahkannya. Ia teringat laporan Pietro penjaga perkebunan zaitunnya salah satu orang kepercayaannya, tentang seorang “wanita asing” yang menyewa gubuk miliknya, yang biasa digunakannya untuk menyendiri. Gubuk terpencil di perbatasan kebun zaitun dekat tebing pantai. Wanita mungil yang dikatakan Pietro berhati bersih dan sepertinya bertangan malaikat.
“Satu-satunya peluang…” gumam Lorenzo sambil menahan lubang di dadanya yang mulai mengeluarkan suara hissing (udara yang bocor).
Mobil itu melaju liar menembus kegelapan jalan Puglia, meninggalkan jejak darah di aspal, menuju satu-satunya tempat dimana maut mungkin bisa ditunda: pintu gubuk perempuan itu.
***
Hanya dua puluh empat jam yang lalu:
dunia Amina masih berupa rutinitas yang sunyi dan teratur.
Di dalam koper tuanya yang tergeletak di sudut pondok, terselip sebuah tiket pesawat menuju Jakarta—sebuah janji kepulangan yang tinggal menghitung hari. Amina ingat betul bagaimana ia menghabiskan pagi dengan menyesap kopi pahit di balkon, menatap hamparan pohon zaitun yang berbaris rapi seperti prajurit perak di bawah matahari Puglia. Di sana, ia merasa aman. Ia hanyalah seorang pengelana yang mencari obat bagi lelahnya setelah bertahun-tahun mencium aroma antiseptik dan suara melengking mesin EKG di ruang bedah.
Baginya, Italia adalah tempat untuk melupakan, bukan untuk terlibat. Tapi takdir yang telah tertulis di Lauh Mahfuz pasti akan terjadi pelan dan pasti.