Pekan terakhir sebelum pernikahan tidak seindah yang dibayangkan orang dari luar.
Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Pesan yang belum dijawab.
Barang yang perlu diperiksa.
Dan kelelahan yang kadang membuat Karina menatap benda biasa seperti sedang menghadapi persoalan besar.
Reina akhirnya menyuruhnya berhenti mengambil pekerjaan tambahan.
"Jadwalmu sudah cukup."
"Aku masih bisa—"
"Karina."
Gadis itu menutup mulut.
Len menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Ternyata sekarang ada orang lain yang dapat menghentikannya dengan satu panggilan nama.
Karina mengangguk.
Ia menyelesaikan bagian yang memang menjadi tanggung jawabnya, lalu menyerahkan catatan dengan jelas.
Tidak ada pemeriksaan ulang sepuluh kali untuk memastikan semua orang melakukan persis seperti dirinya.
Ia telah belajar percaya.
Meski sesekali tangannya masih ingin membuka map yang sudah ditutup.
Ketika akhirnya pulang, bahunya terasa lebih ringan.
Pekerjaan tidak ditinggalkan.
Pekerjaan telah diatur.
***
Agus juga menyesuaikan jadwalnya.
Ia tidak menganggap semua orang akan memahami jika dirinya tiba-tiba menghilang karena hendak menikah.
Pekerjaan disusun.
Keperluan keluarga dibicarakan.
Bagas mengetahui waktu-waktu ketika adiknya akan lebih sulit tersedia.
Andre ikut menerima pengaturan tersebut, walaupun beberapa kali masih menelepon untuk menanyakan hal kecil mengenai acara.
Agus menjawab pada waktu yang sesuai.
Tidak semua panggilan harus diangkat saat sedang bekerja.
Kebiasaan baru itu kadang masih membuat Andre mengomel.
Namun, ia mulai memahami bahwa kejelasan waktu lebih baik daripada janji selalu tersedia yang tidak pernah benar-benar dapat ditepati.
Di rumah, Ica ikut merasakan perubahan suasana.
Ada pakaian yang disiapkan.
Orang datang dan pergi.
Bagas menjelaskan bahwa hari besar pamannya tidak berarti dirinya harus mengikuti seluruh keramaian.
Akan ada pengaturan agar ia dapat hadir sesuai keadaan dan beristirahat ketika perlu.
Ica mengangguk.
Lalu bertanya apakah boneka kambing juga memiliki pakaian.
***
Malam sebelum pernikahan, rumah Karina penuh suara yang lebih pelan daripada biasanya.
Orang-orang masih bergerak, tetapi pekerjaan utama telah selesai.
Pakaian disiapkan.
Keperluan terakhir diperiksa.
Setelah itu, mama menyuruh Karina berhenti membuka daftar.
Gadis itu menurut dengan sedikit enggan.
Papa mengajaknya duduk.
Ditya berada di dekat jendela, sementara bi Murni masih sesekali masuk untuk memastikan tidak ada yang lapar.
Karina memandang mereka.
Keluarganya terasa begitu dekat malam itu.
Papa lebih dahulu berbicara.
"Besok bukan berarti kamu berhenti menjadi anak Papa."
Karina tersenyum tipis.
"Aku tahu."
"Dan bukan berarti kamu harus selalu terlihat bahagia supaya kami tenang."
Gadis itu terdiam.
Papa melanjutkan bahwa rumah tetap menjadi tempatnya bercerita.
Bukan tempat untuk mengadili setiap persoalan.
Karina mengangguk perlahan.
Kalimat tersebut terasa seperti sesuatu yang dahulu sangat dibutuhkannya, dan akhirnya dapat diterima ketika dirinya sudah mampu mengatakan kebutuhan itu dengan jelas.
***
Karina memandang papa cukup lama sebelum berbicara.
"Aku senang kita sempat membicarakan yang dulu."
Papa mengangguk.
"Papa juga."
"Aku tidak ingin membawa semua kesal lama ke rumah baru."
"Bagus."
Ia tersenyum kecil.
"Tapi mungkin masih ada hari ketika aku ingat."
Papa mengulurkan tangan dan menyentuh kepalanya dengan lembut.
"Ingat tidak berarti kamu gagal memaafkan."
Karina menunduk.
Mama duduk lebih dekat.
Mereka tidak mengulang seluruh cerita mengenai pilihan pendidikan atau Damar.
Bagian itu sudah memperoleh tempatnya.
Malam tersebut lebih banyak diisi hal yang ingin dibawa ke depan.
Keberanian bertanya.
Kemampuan mendengar.
Kesediaan mengakui salah.
Papa tidak memberikan pidato bahwa pernikahan harus dijaga oleh satu pihak.
Mama juga tidak menyuruh Karina menahan semuanya demi membuat rumah tampak baik.
Mereka mengingatkan agar keduanya bekerja bersama.
Karina mendengarkan dengan mata yang semakin panas.
***
Ditya menunggu sampai suasana tidak terlalu berat sebelum berbicara.
"Mas punya satu nasihat."
Karina langsung mengusap mata.
"Apa?"
"Kalau menyembunyikan makanan, jangan terlalu mudah ditemukan."
Mama melempar tatapan.
Ditya mengangkat kedua tangan.
Karina tertawa meskipun air matanya masih tersisa.
Setelah itu, kakaknya mendekat dan duduk di sebelahnya.
"Kamu tahu mas bisa dihubungi."
"Aku tahu."
"Jangan hanya saat marah."
"Iya."
"Kalau senang juga boleh."
Karina menoleh.
Ditya tersenyum.
"Mas ingin mendengar hidupmu. Bukan hanya datang ketika ada yang harus dipukul."
"Mas tidak boleh memukul."
"Karena itu mas sekarang lebih sering bicara."
Karina memeluknya.
Ditya membalas sambil menepuk punggungnya pelan.
Tidak ada candaan untuk beberapa detik.
Kakaknya telah menjadi bagian besar dari hidupnya tanpa pernah perlu disebut demikian.
Malam itu, Karina membiarkan dirinya bersandar seperti adik yang akan selalu memiliki tempat untuk pulang.
***
Bi Murni akhirnya duduk setelah dipanggil beberapa kali.
Perempuan itu membawa kotak kecil berisi benda yang sudah dikenali Karina.
Ikat rambut.
Beberapa perlengkapan sederhana.
Hal-hal yang sering dicari gadis itu ketika terburu-buru.
Karina menatapnya, lalu tertawa pelan.
"Bi."
"Supaya suaminya tidak ikut berputar mencari."
Gadis itu menerima kotak tersebut.
Air matanya langsung jatuh lagi.
Bi Murni mendesah.
"Kalau menangis terus, nanti besok mata bengkak."
Karina tertawa sambil mengusap pipi.
Perempuan itu meraih tangannya.
"Bibi senang Non memilih orang yang mau belajar."
Karina mengangguk.
"Bibi tetap akan menegur kalau dia membuat masalah."
"Aku tahu."
"Non juga."
Gadis itu tertawa.
Bi Murni memeluknya.
Kasih sayang itu tidak pernah hanya membela.
Kadang berupa teguran.
Kadang makanan.
Kadang kotak kecil berisi ikat rambut yang memastikan seseorang tidak merasa sendirian menghadapi pagi.
***
Di rumah keluarga Tjokro, Agus duduk bersama ayah dan kakaknya setelah urusan terakhir selesai.
Mommy sudah beberapa kali mengingatkan agar ia tidur.
Namun, laki-laki itu belum dapat benar-benar tenang.
Andre memperhatikannya.
"Gugup?"
Agus mengangguk.
"Bagus."
Ia menoleh.
"Kenapa bagus?"
"Berarti kamu tahu ini penting."
Bagas tersenyum kecil.
Agus memandang kedua orang itu.
Andre tidak lagi membicarakan jumlah tamu atau makanan.
Ia berkata bahwa menjadi suami bukan alasan untuk merasa telah memperoleh seseorang sepenuhnya.
Karina tetap memiliki pikiran, pekerjaan, dan keluarga.
Agus perlu terus mengenalnya.
Bukan berhenti berusaha setelah akad selesai.
Laki-laki itu mengangguk.
Nasihat tersebut terdengar berbeda ketika datang dari ayah yang juga sedang belajar menahan diri.
Andre tidak mengaku telah selalu benar.
Ia hanya ingin putranya tidak mengulangi semua kesalahan yang pernah dianggap biasa.
***
Bagas kemudian berbicara mengenai hal-hal kecil.
Mengucapkan terima kasih.
Mengingat pekerjaan rumah yang tidak terlihat.
Tidak menunggu pasangan kelelahan sebelum bertanya apa yang dapat dibantu.
Agus mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Mommy masuk dan duduk sebentar bersama mereka.
Ia memandang putra keduanya dengan mata lembut.
"Kamu tidak perlu menjadi suami yang sempurna besok pagi."
Agus tersenyum tipis.
"Syukurlah."
"Tapi perlu menjadi orang yang mau bertanggung jawab setiap hari."
Senyumnya menjadi lebih tenang.
Ia mengangguk.
Percakapan itu tidak menghilangkan seluruh kegugupan.
Namun, membuatnya merasa bahwa pernikahan bukan ujian satu hari yang harus dilalui tanpa kesalahan.
Ia sedang memulai pekerjaan panjang bersama orang yang dicintai.
Dan ia tidak ingin kembali mengandalkan penampilan untuk menutupi bagian yang belum dikerjakan.
***
Ica memanggil ketika Agus hendak menuju kamar.
Anak itu sudah bersiap beristirahat.
Bagas mempersilakan pamannya mendekat sebentar.
Ica memegang gambar yang dibuatnya.
Ada dua orang.
Satu rumah.
Beberapa hewan yang ukurannya tidak seimbang.
"Ini buat Om."
Agus menerima dengan hati-hati.
"Terima kasih."
"Besok bu dokter jadi keluarga?"
Agus mengangguk.
"Iya."
Ica tersenyum.
"Berarti bukan cuma datang kalau hamster diperiksa."
Laki-laki itu tertawa pelan.
"Betul. Tapi dia tetap punya pekerjaan."
Anak itu mengangguk seolah bagian itu sangat jelas.
Ia tidak meminta Karina menjadi mama.
Tidak diberi harapan bahwa pernikahan pamannya akan mengganti seluruh kehilangan.
Karina akan menjadi keluarga dengan tempatnya sendiri.
Agus menyimpan gambar tersebut setelah Ica berpamitan tidur.
Di lorong, ia berhenti sebentar dan memandangnya lagi.
Rumah dalam gambar itu sangat sederhana.
Ia ingin berusaha membuat rumah nyata mereka sama hangatnya.
***
Sebelum tidur, Karina menerima pesan Agus.
"Besok aku datang dengan keluarga. Tidak membawa Rambo."
Gadis itu tertawa cukup keras sampai mama menanyakan ada apa dari luar kamar.
Ia membalas.
"Bagus. Aku sudah cukup gugup tanpa kambing."
Agus mengirim tawa.
Kemudian pesan lain muncul.
"Aku mencintaimu."
Karina memandangi layar.
Kalimat itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus dibuktikan melalui kejutan besar.
Ia telah melihat sebagian buktinya dalam hari-hari yang tidak rapi.
Dan masih akan melihatnya dalam tahun-tahun yang belum datang.
"Aku juga mencintaimu," balasnya.
Mereka saling mengingatkan untuk tidur.
Panggilan tidak dilakukan.
Tidak perlu menghabiskan malam terakhir sebelum pernikahan dengan membuat tubuh semakin lelah.
Karina meletakkan ponsel, mematikan lampu, lalu menarik selimut.
Besok ia akan menjadi istri Agus.
Malam ini, ia membiarkan dirinya menjadi Karina yang gugup, dicintai, dan sedang berusaha tidur.