Pagi datang bersama suara langkah dan ketukan pelan di pintu.
Karina membuka mata setelah beberapa saat mencoba mengingat hari.
Kemudian semuanya kembali.
Pernikahan.
Ia duduk terlalu cepat, lalu tertawa kepada dirinya sendiri.
Di luar, bi Murni sudah menanyakan apakah dirinya bangun.
Karina menjawab dan mulai bersiap.
Rumah bergerak dengan kesibukan yang telah diatur.
Ada orang yang membantu.
Ada keluarga yang memeriksa keperluan.
Ada waktu-waktu singkat ketika Karina hanya perlu duduk dan membiarkan sesuatu dikerjakan orang lain.
Bagian itu ternyata tidak mudah.
Ia beberapa kali hendak berdiri untuk mengambil benda, tetapi mama memintanya tetap tenang.
Karina menurut.
Untuk satu pagi, ia boleh menerima bantuan tanpa merasa harus membalasnya pada detik yang sama.
Ketika akhirnya melihat wajahnya di cermin, ia terdiam.
Masih dirinya.
Hanya dengan pakaian yang berbeda dan mata yang tampak menyimpan terlalu banyak perasaan.
***
Ditya muncul di pintu setelah meminta izin.
Ia memandang adiknya cukup lama.
Karina langsung mengangkat alis.
"Jangan."
"Mas belum bilang apa-apa."
"Aku tahu wajah itu."
Kakaknya tersenyum.
Namun, kali ini tidak ada ejekan yang keluar.
"Kamu cantik."
Karina terdiam.
Lalu matanya mulai panas.
Ditya langsung mengangkat tangan.
"Jangan menangis. Nanti mas dimarahi."
Gadis itu tertawa sambil mengipas wajah dengan tangan.
Kakaknya mendekat dan menepuk bahunya.
Ia tidak memeluk terlalu lama agar persiapan tetap nyaman.
Namun, sentuhan itu cukup.
Sebelum pergi, Ditya menoleh sekali lagi.
"Kalau Agus lupa bicara, mas bantu ingatkan."
"Jangan membuat dia lebih gugup."
"Baik. Mas hanya menatap."
Karina menggeleng.
Tampaknya memang tidak ada cara membuat kakaknya sepenuhnya berhenti menjadi dirinya sendiri.
Ia bersyukur untuk itu.
***
Agus tiba bersama keluarga pada waktu yang telah disepakati.
Tidak ada keterlambatan yang dibuat seolah pengantin laki-laki memiliki hak khusus untuk membuat semua orang menunggu.
Andre berjalan dengan wajah serius.
Mommy berada di dekatnya.
Bagas membantu memastikan pengaturan keluarga berjalan, termasuk kebutuhan Ica yang telah disiapkan agar anak itu tidak kelelahan.
Agus menyapa orang-orang dengan sopan.
Senyumnya ada, tetapi tangannya dingin.
Bagas melihat dan menyentuh lengannya.
"Bernapas."
"Aku bernapas."
"Kelihatannya sambil menahan."
Agus mengembuskan napas panjang.
Andre menoleh.
"Jangan membuat Ayah ikut gugup."
Mommy langsung menyentuh lengan suaminya.
"Dia sedang berusaha."
Agus tertawa kecil.
Di tengah ketegangan, keluarganya tetap berhasil membuat suasana terasa akrab.
Ia memandang ke arah tempat yang akan ditujunya.
Karina berada di sana.
Sebentar lagi ia akan melihatnya.
***
Ketika akhirnya mata mereka bertemu, Agus berhenti memikirkan seluruh orang lain selama beberapa detik.
Karina tampak berbeda dalam pakaian pengantinnya.
Namun, ia mengenali wajah yang sama.
Mata yang dapat menatap tajam ketika dirinya membuat kesalahan.
Senyum yang sering datang setelah kalimat menyebalkan.
Perempuan yang tidak membiarkannya terus menganggap dirinya baik hanya karena bermaksud baik.
Karina melihat kegugupannya dan tersenyum kecil.
Senyum itu menolong lebih banyak daripada semua nasihat sejak pagi.
Agus duduk pada tempatnya setelah dipersilakan.
Papa Karina berada di hadapannya.
Suasana menjadi lebih tenang.
Kalimat-kalimat yang perlu disampaikan terdengar jelas.
Agus mendengarkan.
Ia tidak lagi mencoba terlihat paling percaya diri.
Ia hanya ingin hadir sepenuhnya pada peristiwa yang sedang dijalani.
Di dekatnya, keluarga menunggu dengan perhatian yang terasa hangat dan berat sekaligus.
***
Akad diucapkan dengan suara yang tegas setelah jeda kecil untuk menarik napas.
Agus mendengar suaranya sendiri.
Mendengar jawaban para saksi.
Mendengar doa yang mengikuti.
Untuk beberapa detik setelahnya, ia seperti belum sepenuhnya memahami bahwa tahap yang sejak semalam membuatnya gugup telah selesai.
Kemudian ia memandang Karina.
Mata gadis itu basah.
Agus tersenyum.
Kali ini tidak dapat menahan kelegaan.
Di sekeliling mereka, orang-orang mengucapkan syukur.
Andre mengusap wajah dengan gerakan yang sama sekali tidak berhasil menyembunyikan air mata.
Mommy menangis tanpa mencoba menutupinya.
Bagas tersenyum sambil menunduk.
Ditya berdiri lebih tegak dari biasanya, lalu akhirnya menghela napas panjang.
Karina menatap suaminya.
Suaminya.
Kata itu terasa baru bahkan sebelum sempat diucapkan.
Ia tersenyum di antara air mata yang terus jatuh.
***
Ketika mereka diberi kesempatan duduk berdekatan, Agus meraih tangan Karina dengan lembut.
Gadis itu memandangnya.
"Sudah," bisiknya.
Agus mengangguk.
"Sudah."
Hanya dua kata yang berulang.
Namun, cukup memuat banyak hal.
Kesalahan yang pernah membuat mereka berdiri di sisi berlawanan.
Permintaan maaf yang tidak langsung diterima.
Percakapan yang membuat keduanya belajar.
Jarak.
Rindu.
Keputusan yang akhirnya dibuat bersama.
Agus menunduk dan mencium kening istrinya singkat.
Karina memejamkan mata.
Ia tidak merasa seluruh ketakutan tentang masa depan hilang.
Namun, tidak lagi menghadapinya sendirian.
Ketika membuka mata, ia berbisik.
"Jangan sekarang merasa paling ganteng."
Agus tertawa pelan.
"Agak sulit."
Karina tersenyum sambil mengusap air mata.
Masih laki-laki yang sama.
Semoga cukup mau belajar untuk terus menjadi lebih baik.
***
Ucapan keluarga datang bergantian.
Papa memeluk Karina dengan mata yang terlihat lebih merah daripada yang ingin diakuinya.
Mama menyentuh wajahnya dan berdoa pelan.
Bi Murni menangis cukup lama sampai Karina ikut menangis lagi.
Perempuan itu akhirnya mengusap pipinya sendiri sambil mengeluh.
"Sudah. Nanti rusak semuanya."
Karina tertawa di antara air mata.
Ditya memeluk adiknya, lalu menepuk bahu Agus dengan sedikit lebih kuat daripada yang diperlukan.
Agus langsung berdiri lebih tegak.
"Jaga satu sama lain," kata Ditya.
Bukan hanya jaga adikku.
Karina mendengarnya.
Ia merasa hangat.
Agus mengangguk.
"Iya."
Andre kemudian mendekat dan memeluk putranya, lalu menyambut Karina sebagai bagian keluarga.
Tidak ada kalimat bahwa dirinya akhirnya mendapatkan menantu sesuai rencana.
Karena perjalanan ini memang tidak terjadi seperti yang pernah dibayangkannya.
Namun, ia tampak sangat bahagia menerima hasil yang dipilih anak-anaknya sendiri.
***
Ica datang pada waktu yang sesuai dengan pengaturannya.
Bagas mendampingi.
Anak itu memandang Karina dengan mata berbinar.
"Bu dokter jadi pengantin."
Karina berjongkok sedikit pada jarak yang nyaman.
"Iya."
"Panggilnya masih bu dokter?"
Gadis itu tersenyum.
"Kalau sedang memeriksa hewan, tentu."
Ica berpikir.
Agus ikut mendekat.
"Kalau di rumah, kamu boleh memanggil yang nyaman."
Anak itu memandang mereka bergantian.
Lalu tersenyum.
"Tante Karina."
Dada Karina terasa penuh.
Ia mengangguk.
"Boleh."
Tidak ada yang memintanya menggunakan panggilan lain.
Tidak ada yang menganggap pernikahan ini menghapus mama yang tidak pernah sempat dikenalnya dengan utuh.
Karina memiliki tempat baru dalam hidup anak itu.
Tempat yang tidak perlu dibangun dengan mengambil nama orang lain.
Bagas melihat mereka dengan mata basah.
Ia mengusap cepat sebelum Ica menoleh.
***
Teman-teman datang sesuai kesempatan.
Reina memberi ucapan dengan senyum hangat.
Len tampak rapi dan sangat berhati-hati agar tidak menjatuhkan apa pun.
Ririn memandang Karina, lalu Agus, dengan ekspresi yang membuat gadis itu langsung tertawa.
"Saya masih ingat waktu di pet shop," katanya pelan.
Agus mengangguk dengan wajah malu.
"Saya juga."
"Bagus. Jangan lupa."
Karina menutup mulut untuk menahan tawa.
Agus menerima teguran itu tanpa membela diri.
Bu Mawar datang membawa ucapan dari orang-orang di shelter.
Tidak ada hewan yang dibawa ke acara.
Lou tetap memiliki hari yang lebih tenang di tempatnya sendiri.
Jo juga menyempatkan hadir.
Ia menjabat tangan Agus, lalu mengucapkan selamat kepada Karina.
Cincin di tangannya masih ada.
Senyumnya tulus.
Beberapa orang dapat ikut bahagia untuk orang lain sambil tetap membawa bagian hidup yang belum selesai dengan cara mereka sendiri.
***
Acara berjalan dengan kelelahan yang tetap manusiawi.
Ada kaki pegal.
Ada jeda ketika Karina ingin duduk tanpa menjawab pertanyaan.
Agus memperhatikan dan membantu mencari waktu untuk beristirahat.
Ia tidak menuntut istrinya terus tersenyum hanya karena hari itu penting.
Karina juga mengingatkan Agus makan ketika laki-laki itu terlalu sibuk menyapa orang.
Di meja keluarga, Andre tampak puas dengan hidangan yang tersedia.
Bagas beberapa kali menggodanya bahwa Rambo pasti lega namanya tidak ikut terlibat dalam menu.
Andre mendengus, lalu ikut tertawa.
Tidak semua hal berjalan persis sesuai rencana.
Namun, persoalan kecil ditangani tanpa menjadikan pasangan pengantin pusat seluruh kepanikan.
Karina memperhatikan orang-orang yang membantu.
Ia ingin mengingat hari itu bukan hanya melalui pakaian dan foto.
Melainkan melalui tangan-tangan yang bekerja agar mereka dapat menikmatinya.
***
Ketika malam akhirnya lebih tenang, Karina dan Agus tiba di rumah yang telah mereka pilih.
Pintu dibuka.
Lampu dinyalakan.
Ruangan yang sebelumnya hanya dikunjungi untuk menata barang kini menunggu mereka tinggal.
Karina berdiri sebentar.
Agus menutup pintu, lalu berada di sampingnya.
"Kita pulang," katanya.
Gadis itu mengangguk.
"Iya."
Beberapa detik kemudian, ia melepaskan alas kaki dengan helaan napas panjang.
Agus tertawa.
"Bagian paling menyenangkan?"
"Salah satunya."
Mereka duduk dengan tubuh yang sangat lelah.
Tidak ada kewajiban membuat malam itu menyerupai adegan yang dibayangkan orang lain.
Agus mengambil air.
Karina menerima, lalu menyandarkan kepala ke bahunya.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam.
Rumah itu belum penuh kenangan.
Namun, malam pertamanya dimulai dengan sesuatu yang sederhana.
Dua orang yang akhirnya boleh mengakui bahwa mereka sangat lelah, tanpa mengurangi kebahagiaan yang dirasakan.
***
Sebelum beristirahat, Agus memandang Karina dengan senyum yang membuatnya salah tingkah.
"Apa?"
"Istriku."
Gadis itu memutar mata, tetapi pipinya menghangat.
"Kamu akan mengulang itu terus?"
"Mungkin."
Karina tertawa.
Ia kemudian mendekat dan mencium suaminya singkat.
Agus menyambut dengan hangat, lalu menempelkan kening mereka sesaat.
Tidak ada kata yang perlu disusun untuk orang lain.
Hanya kedekatan yang akhirnya menjadi bagian rumah mereka sendiri.
Di meja, ponsel Karina berbunyi.
Pesan bi Murni.
Sudah makan?
Karina memperlihatkannya kepada Agus.
Keduanya tertawa sampai rasa tegang hari itu benar-benar turun.
Pernikahan telah berlangsung.
Kehidupan bersama baru dimulai.
Dan rupanya, di mana pun Karina tinggal, masih akan ada seseorang yang memastikan dirinya tidak lupa makan.