Rumah itu tidak terlalu besar.
Karina menyadarinya sejak pertama masuk.
Ada ruang yang cukup untuk duduk bersama.
Dapur yang dapat digunakan tanpa harus berteriak dari ujung ke ujung.
Dua kamar.
Dan bagian kecil yang mungkin dapat diubah menjadi tempat bekerja atau membaca.
Agus berdiri di dekat pintu, menunggu reaksinya.
Karina berjalan perlahan.
Ia tidak sedang mencari rumah yang dapat membuat orang lain kagum.
Ia membayangkan pulang setelah bekerja.
Meletakkan tas.
Mencuci tangan.
Duduk tanpa harus langsung menerima tamu.
Agus menjelaskan bahwa pilihan tersebut sesuai dengan perhitungan yang telah mereka bicarakan.
Bukan rumah yang harus dibeli demi membuktikan sesuatu sebelum menikah.
Mereka dapat memulai dengan pengaturan yang masuk akal dan memikirkan langkah berikutnya setelah kehidupan bersama benar-benar berjalan.
Karina mengangguk.
"Aku suka cahayanya."
Agus tersenyum.
Itu jawaban pertama yang membuat tempat tersebut terasa mulai menjadi milik mereka.
***
Mereka tidak langsung memutuskan hanya karena sama-sama senang.
Ada hal praktis yang perlu diperiksa.
Jarak dari pekerjaan.
Kebutuhan sehari-hari.
Biaya rutin.
Keadaan tempat.
Karina mencatat.
Agus ikut memeriksa tanpa menyerahkan seluruh rincian kepada perempuan yang akan menjadi istrinya.
Pada akhirnya, mereka sepakat memilih rumah tersebut setelah seluruh hal penting cukup jelas.
Tidak ada pengumuman besar.
Hanya dua orang yang duduk dengan catatan dan rasa senang yang perlahan tumbuh.
Agus memandang sudut ruang.
"Bukumu bisa di sana."
Karina mengikuti arah pandangnya.
"Kalau koleksinya bertambah?"
"Kita pikirkan rak berikutnya."
"Jawaban yang berbahaya. Aku akan mengingat."
Agus tertawa.
Di dapur, Karina berdiri cukup lama.
Ia tidak pandai membayangkan semua hal sekaligus.
Namun, dapat melihat bi Murni datang suatu hari dan mengomentari letak piring.
Bayangan itu membuatnya tersenyum.
***
Pembicaraan pertama yang cukup membuat mereka kesal justru mengenai barang.
Agus menginginkan beberapa benda dibeli sekaligus agar semuanya terlihat selesai sebelum pernikahan.
Karina merasa sebagian belum perlu.
Mereka mulai berbicara terlalu cepat.
Satu orang menyebut kemudahan.
Yang lain menyebut pengeluaran yang dapat ditunda.
Agus sempat mengatakan bahwa dirinya sanggup membayar.
Karina langsung diam.
Keheningan itu membuatnya berhenti.
"Aku tidak sedang mengatakan pendapatku tidak perlu didengar karena kamu mampu membayar," kata gadis itu.
Agus mengusap wajah.
Ia mendengar bagaimana kalimat sebelumnya dapat terdengar.
"Bukan itu maksudku."
"Aku tahu. Tapi itu yang keluar."
Mereka berhenti sebentar.
Tidak meninggalkan persoalan.
Hanya memberi waktu agar pembicaraan tidak berubah menjadi pertarungan mengenai siapa yang paling berhak memutuskan.
Setelah lebih tenang, mereka kembali memeriksa daftar.
Ada barang yang memang diperlukan.
Ada yang dapat menunggu.
Keputusan akhirnya tidak persis milik salah satu.
Justru karena itu, keduanya dapat menerimanya.
***
Karina kemudian membawa bi Murni melihat rumah.
Perempuan itu masuk dengan ekspresi sangat serius.
Ia memeriksa dapur.
Jendela.
Tempat menyimpan barang.
Lalu menoleh kepada Karina.
"Bagus."
Gadis itu mengembuskan napas lega.
"Seperti diperiksa."
"Memang."
Agus yang berdiri di belakang langsung tertawa.
Bi Murni menunjuk satu bagian dapur dan menyarankan pengaturan yang lebih mudah.
Mereka mendengarkan.
Namun, ketika perempuan itu mulai membicarakan semua hal yang akan dikerjakannya nanti, Karina mendekat.
"Bi, ini bukan berarti Bibi harus mengurus dua rumah."
Bi Murni berhenti.
Karina memegang lengannya.
"Bibi boleh datang. Aku senang. Tapi kami harus belajar mengurus rumah sendiri juga."
Agus mengangguk.
Perempuan itu memandang mereka bergantian.
Ada rasa lega dan sedikit kehilangan yang terlihat bersamaan.
Kemudian ia mendengus.
"Baik. Tapi kalau dapurnya berantakan, bibi tetap komentar."
Karina tertawa.
"Itu pasti."
***
Karina juga memastikan kebutuhan bi Murni setelah dirinya menikah dibicarakan dengan baik.
Rumah keluarga tetap menjadi tempat yang dikenal perempuan itu.
Orang tua Karina dan Ditya tetap terlibat dalam pengaturan sesuai keadaan.
Tito juga mengetahui perubahan yang akan terjadi dan ikut memberi kabar mengenai waktu yang dapat digunakannya untuk menemani ibunya.
Tidak ada keputusan sepihak bahwa bi Murni harus mengikuti Karina sebagai pengurus rumah baru.
Tidak pula dibiarkan merasa ditinggalkan.
Mereka berbicara beberapa kali.
Kadang diselingi gurauan.
Kadang dengan mata yang basah.
Pada akhirnya, bi Murni mengatakan bahwa dirinya senang melihat Karina memiliki kehidupan sendiri.
"Walaupun bibi tetap akan merasa rumah lebih sepi."
Karina memeluknya.
"Aku tidak hilang, Bi."
Perempuan itu mengangguk.
Dulu kalimat itu diucapkan sebelum enam minggu perjalanan.
Sekarang maknanya berbeda.
Namun, mereka sudah mengetahui bahwa kasih sayang dapat tetap berjalan meskipun bentuk hari berubah.
***
Di keluarga Agus, pembicaraan serupa dilakukan.
Andre sempat bertanya apakah putranya benar-benar perlu tinggal terpisah.
Agus menjelaskan bahwa rumah yang dipilih tidak dibuat untuk menjauh dari keluarga.
Ia tetap akan membantu sesuai bagian yang telah dibicarakan.
Bagas juga tidak harus kehilangan dukungan.
Namun, dirinya dan Karina perlu memulai rumah tangga dengan ruang yang jelas.
Andre mendengarkan dengan wajah kurang senang.
Mommy yang sedang berada di rumah menyentuh lengannya.
"Anak-anak tidak harus tetap di satu rumah supaya masih menjadi keluarga."
Andre mendesah.
Bagas mengangguk.
"Aku juga ingin mereka punya tempat sendiri."
Agus memandang kakaknya dengan rasa terima kasih.
Setelah beberapa saat, Andre akhirnya bertanya apakah masih boleh datang.
"Tentu, Yah."
"Bunga?"
"Kita bicarakan kalau memang dibawa."
"Rambo?"
Agus menutup mata.
Bagas tertawa.
Beberapa perundingan tampaknya akan tetap berlangsung seumur hidup.
***
Persiapan acara berjalan bersama pekerjaan sehari-hari.
Karina tetap memeriksa pasien.
Agus tetap menjalani jadwalnya.
Mereka mengambil waktu khusus untuk keputusan yang perlu dibuat dan tidak membiarkan semua orang menghubungi setiap saat dengan pertanyaan yang sama.
Tidak selalu berhasil.
Ada hari ketika Karina terlalu lelah dan hampir menangis karena pilihan yang tampak kecil terasa menumpuk.
Agus menemuinya setelah bekerja dan menemukan gadis itu memandangi beberapa contoh dengan wajah kesal.
"Aku tidak tahu bedanya lagi."
Laki-laki itu duduk.
"Kalau bedanya sudah tidak penting, kita pilih yang sesuai anggaran dan kebutuhan."
Karina menatapnya.
Ia ingin tertawa dan marah sekaligus karena jawaban itu sangat masuk akal.
Agus tidak mengambil keputusan tanpa dirinya.
Ia membantu memperkecil persoalan kembali ke ukurannya.
Mereka memilih.
Selesai.
Karina menyandarkan kepala ke bahunya beberapa saat.
Kadang perhatian paling berguna bukan menambah pilihan.
Melainkan membantu berhenti ketika sudah cukup.
***
Len menerima kabar mengenai hari pernikahan dengan gembira.
Namun, ia tampak gugup ketika membicarakan pakaian yang akan dikenakan.
Karina mengangkat alis.
"Datang yang rapi dan nyaman."
"Saya takut salah."
"Ini bukan ujian."
Len tersenyum malu.
Ririn langsung menyahut bahwa dirinya akan membantu memastikan pemuda itu tidak datang seperti hendak mengangkat ember.
Karina tertawa.
Len menghela napas.
Reputasi ember ternyata lebih sulit dihapus daripada noda pakaian.
Dari Kalimantan, Cinta mengirim pesan suara penuh kegembiraan setelah menerima kabar.
Di belakangnya terdengar Bima menanyakan sesuatu dengan suara keras.
Cinta berhenti merekam sebentar, lalu melanjutkan sambil mengeluh.
Karina tertawa mendengarnya.
Ada banyak orang yang tidak dapat hadir langsung karena pekerjaan.
Ucapan mereka tetap sampai.
Pernikahan itu tidak perlu menjadi alasan seluruh kehidupan berhenti pada hari yang sama.
***
Menjelang akhir persiapan, Karina dan Agus kembali duduk di rumah yang mulai terisi.
Belum semuanya lengkap.
Namun, sudah ada meja, tempat duduk, dan beberapa rak yang tidak lagi kosong.
Karina membuka jendela.
Udara masuk perlahan.
Agus berdiri di sampingnya.
"Bagaimana?"
Gadis itu memandang ruangan.
"Masih terasa baru."
"Iya."
"Aku mungkin akan salah menyimpan barang."
"Aku juga."
"Kalau kita sama-sama salah, barangnya hilang."
Agus tertawa.
Karina ikut tersenyum.
Mereka kemudian duduk di lantai karena beberapa benda masih sedang ditata.
Tidak terlihat seperti pasangan dalam foto rumah impian.
Namun, Karina merasa senang.
Tempat ini tidak datang sebagai hadiah yang harus diterima dengan rasa berutang.
Mereka memilihnya bersama.
Menghitung.
Berbeda pendapat.
Menyesuaikan.
Dan mulai mengisinya.
***
Malam itu, sebelum pulang ke rumah masing-masing, Agus berdiri di dekat pintu.
Ia memandang ruang yang masih sederhana.
"Aku ingin tempat ini tenang," katanya.
Karina menoleh.
"Tenang bukan berarti kita tidak boleh bertengkar."
"Aku tahu."
"Atau tidak boleh sedih."
Agus mengangguk.
"Aku ingin kita tidak perlu takut pulang hanya karena ada hal yang harus dibicarakan."
Karina memandangnya cukup lama.
Kemudian tersenyum.
"Itu rumah yang kuinginkan juga."
Mereka mematikan lampu setelah memastikan semuanya aman dan tertata.
Pintu ditutup.
Kunci berada di tangan mereka.
Belum menjadi tempat tinggal bersama malam itu.
Namun, untuk pertama kalinya, Karina dapat membayangkan dengan jelas bahwa setelah acara selesai dan semua orang pulang, dirinya tidak hanya akan menjadi istri seseorang.
Ia akan pulang ke rumah yang ikut dipilihnya sendiri.