Andre hampir membuat daftar tamu sebelum tanggal pertemuan keluarga ditentukan.
Agus mengetahuinya ketika menemukan selembar kertas di meja ruang tengah.
Nama-nama memenuhi halaman.
Sebagian dikenalnya.
Sebagian lain membuatnya harus bertanya siapa orang tersebut.
Andre mengambil kertas dengan wajah biasa.
"Teman Ayah."
"Yang ini?"
"Teman juga."
"Yang ini?"
"Kenalan lama."
Agus menarik napas.
"Ayah, kami baru akan mempertemukan keluarga."
"Iya. Ini baru catatan."
Bagas yang sedang lewat berhenti sebentar, membaca jumlah nama, lalu tertawa.
"Kalau ini baru catatan, undangannya nanti perlu truk."
Andre memandang kedua putranya dengan kesal.
Namun, setelah Agus menjelaskan bahwa dirinya dan Karina ingin membicarakan bentuk acara bersama terlebih dahulu, laki-laki itu akhirnya melipat kertas.
"Baik. Ayah simpan dulu."
Agus mengangguk lega.
Setidaknya kertas itu disimpan.
Bukan diam-diam diteruskan ke orang yang membuat undangan.
***
Pertemuan keluarga disiapkan setelah jadwal orang tua Karina dan keluarga Agus dapat disesuaikan.
Tidak semua orang dapat langsung meninggalkan pekerjaan atau kegiatan.
Mereka membicarakan waktu melalui beberapa panggilan.
Ada perubahan.
Ada penyesuaian.
Karina dan Agus ikut mengurus, bukan hanya menunggu seluruh orang dewasa menentukan kehidupan mereka.
Pada akhirnya, kedua pihak menemukan waktu yang memungkinkan.
Orang tua Karina pulang untuk beberapa urusan sekaligus dan menyediakan hari khusus bagi keluarga.
Mommy juga mengatur kepulangannya, sementara Andreas menyesuaikan kesempatan dengan kegiatan belajarnya.
Ditya datang setelah memastikan urusan yang sedang dijalaninya dapat ditinggalkan sementara.
Kabar kepulangan kakaknya membuat Karina senang sekaligus waspada.
Ia langsung menyembunyikan beberapa makanan.
Ditya mengetahui dari pesan bi Murni.
Balasannya singkat.
Mas belum sampai sudah difitnah.
Karina tersenyum.
Beberapa kebiasaan keluarga memang tetap bertahan meskipun hidup sedang bergerak menuju tahap baru.
***
Hari pertemuan tiba dengan ruang tamu yang terasa berbeda.
Bi Murni sudah bergerak sejak pagi.
Karina beberapa kali mencoba membantu, tetapi justru disuruh berhenti memindahkan barang.
"Non duduk dulu."
"Aku belum jadi pengantin hari ini."
"Justru jangan mulai membuat bibi pusing dari sekarang."
Karina menghela napas dan menurut.
Mama membantu memeriksa makanan.
Papa memandang susunan kursi, kemudian mengatakan semuanya sudah cukup.
Ditya duduk dengan pakaian rapi dan wajah yang terlalu menikmati kegugupan adiknya.
"Jangan tegang."
"Aku tidak tegang."
"Kamu membetulkan gelang yang tidak dipakai."
Karina menatap pergelangan tangannya.
Benar.
Ia langsung memukul lengan kakaknya pelan.
Ditya tertawa sebelum mama menyuruhnya berhenti mengganggu.
Beberapa menit kemudian, kendaraan keluarga Agus tiba.
Karina berdiri.
Untuk sesaat, ia merasa seperti kembali menjadi gadis yang harus memperkenalkan sesuatu yang sangat penting kepada papa.
Bedanya, kali ini ia tidak merasa perlu meminta izin untuk memiliki keinginan.
***
Perkenalan berlangsung hangat.
Andre dan papa Karina saling menyapa, kemudian berbicara mengenai keluarga serta pekerjaan.
Mommy memeluk Karina dengan ramah setelah mereka diperkenalkan secara langsung.
Agus berdiri di dekat ayahnya dengan wajah yang jauh lebih tertib daripada ketika muncul di televisi.
Ditya melihatnya dan tersenyum.
Agus membalas dengan senyum yang langsung membuat Karina ingin tertawa.
Kakaknya bahkan belum mengatakan apa-apa.
Bagas datang bersama keluarga, sementara pengaturan Ica dibuat sesuai kebutuhannya. Anak itu tidak diminta mengikuti seluruh pembicaraan orang dewasa.
Ia memiliki tempat untuk beristirahat dan kegiatan kecil yang dapat dilakukan dengan tenang.
Karina menyapanya sebelum duduk.
Ica memandang pakaian Karina.
"Bu dokter cantik."
Ditya langsung menyahut.
"Biasanya juga cantik. Cuma rambutnya sering berkelahi."
Karina menatap kakaknya.
Agus memilih melihat lantai.
Ternyata bertemu dua keluarga sekaligus berarti jumlah orang yang dapat mempermalukan mereka bertambah.
***
Pembicaraan dimulai setelah semua duduk.
Papa Karina meminta Agus dan putrinya menjelaskan lebih dahulu apa yang telah mereka bicarakan.
Permintaan itu membuat Karina merasa lega.
Hari tersebut bukan tempat keputusan dipindahkan dari tangan mereka kepada orang lain.
Agus menyampaikan niatnya dengan jelas.
Ia ingin menikahi Karina.
Mereka telah membicarakan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan rencana hidup setelah menikah.
Belum semua hal memiliki jawaban akhir.
Namun, arah yang diinginkan sudah sama.
Karina menambahkan bahwa dirinya tetap ingin bekerja dan mengembangkan kemampuan.
Agus mengangguk.
Tidak ada kejutan karena hal itu telah dibicarakan.
Papa mendengarkan, lalu mengajukan beberapa pertanyaan.
Bukan untuk membuat Agus tampak tidak siap.
Lebih untuk memastikan keduanya tidak hanya membawa kegembiraan, tetapi juga memahami pekerjaan yang menunggu setelah acara selesai.
Agus menjawab dengan tenang.
Sesekali ia mengatakan bahwa bagian tertentu masih akan mereka putuskan bersama.
Karina menyukai kejujuran itu.
***
Andre akhirnya mendapat kesempatan berbicara.
Ia menyampaikan rasa senang keluarga dan mengatakan bahwa dirinya berharap pernikahan dapat dilaksanakan dengan baik.
Kalimatnya berjalan cukup tenang.
Sampai pembicaraan beralih kepada makanan.
Menurut Andre, keluarga tidak mungkin berkumpul tanpa hidangan yang memadai.
Papa Karina mengangguk.
Mama ikut menambahkan beberapa pilihan.
Lalu Andre menyebut kambing.
Agus langsung menoleh.
"Ayah."
Andre mengangkat tangan.
"Bukan Rambo."
Keheningan sesaat pecah menjadi tawa.
Karina menutup mulut.
Bagas menggeleng sambil tersenyum.
Bahkan papa Karina tertawa cukup lama sebelum kembali membicarakan hal yang perlu diputuskan.
Ketegangan yang tersisa mencair.
Mereka akhirnya menyepakati bahwa rincian acara akan disusun sesuai kemampuan, waktu, dan kebutuhan.
Tidak perlu menjadikan hari bahagia sebagai perlombaan keluarga mana yang paling banyak mengenal orang.
Andre tampak ingin membantah bagian terakhir.
Namun, Mommy sudah lebih dahulu memegang lengannya.
Ia memilih diam.
***
Setelah pembicaraan utama selesai, keluarga beralih kepada makanan.
Suasana menjadi lebih ringan.
Ditya berbicara dengan Bagas mengenai pekerjaan dan perjalanan.
Mama bertanya kepada Mommy tentang kehidupan di Jerman.
Papa dan Andre membicarakan hewan dengan sudut yang sangat berbeda.
Karina duduk di dekat Agus sambil memperhatikan semuanya.
Tidak sempurna.
Ada ucapan yang terlalu panjang.
Ada pertanyaan yang harus diulang.
Ada makanan yang terus ditambahkan ke piring meskipun sudah ditolak sopan.
Namun, ia dapat membayangkan keluarga-keluarga ini belajar saling mengenal.
Agus menoleh pelan.
"Kamu baik?"
Karina mengangguk.
"Kamu?"
"Aku masih hidup."
Ia tertawa kecil.
Laki-laki itu tersenyum.
Di tengah keramaian, mereka memperoleh beberapa detik percakapan sendiri.
Cukup untuk mengingat bahwa semua ini dimulai dari keputusan dua orang.
Dan keduanya masih duduk di sana dengan keinginan yang sama.
***
Setelah keluarga Agus berpamitan, Karina membantu membereskan beberapa barang.
Bi Murni membiarkannya kali ini.
Ditya mendekat sambil membawa gelas kosong.
"Bagaimana rasanya?"
Karina memandangnya.
"Capek."
"Jawaban yang realistis."
Ia tertawa.
Kakaknya kemudian menjadi lebih serius.
"Mas senang kamu tidak diam saja tadi."
Karina mengangguk.
"Aku ingin tetap punya suara."
"Bagus."
Ditya meletakkan gelas.
"Aku juga melihat Agus mendengarkan."
Karina tersenyum tipis.
Komentar itu terasa lebih berarti karena tidak diberikan dengan mudah.
Ditya tidak mengatakan adiknya pasti akan selalu bahagia.
Tidak ada yang dapat menjamin itu.
Namun, ia dapat melihat pilihan yang dibuat Karina sekarang tidak lahir dari rasa ingin mengikuti seseorang ke mana pun.
Ia berdiri sebagai dirinya sendiri.
Dan laki-laki yang dipilihnya tidak meminta dirinya mengecil agar muat di dalam rencana keluarga.
***
Malamnya, Karina dan Agus berbicara singkat.
Keduanya terlalu lelah untuk mengulang seluruh pertemuan.
Agus menceritakan bahwa Andre masih mencoba menambahkan beberapa nama ke daftar.
Karina tertawa.
"Papa juga menerima pesan dari kenalan."
"Berarti kita punya pekerjaan bersama."
"Menjaga daftar tetap masuk akal?"
"Iya."
Mereka tertawa, lalu mulai membicarakan pembagian tugas berikutnya.
Tidak semuanya malam itu.
Hanya yang perlu dicatat agar tidak hilang.
Karina menyadari bahwa persiapan pernikahan akan menjadi latihan baru.
Bukan hanya memilih pakaian atau tempat.
Mereka harus belajar menghadapi harapan orang lain tanpa saling menyalahkan.
Menolak dengan sopan.
Menerima bantuan yang tepat.
Dan mengingat bahwa kelelahan tidak boleh dijadikan alasan untuk berbicara sembarangan.
Sebelum berpamitan, Agus berkata pelan.
"Aku senang hari ini berjalan seperti ini."
Karina mengangguk.
"Aku juga."
***
Beberapa hari kemudian, waktu pernikahan disepakati setelah kebutuhan keluarga dan pekerjaan diperiksa.
Masih ada jeda yang cukup untuk menyiapkan semuanya dengan tenang.
Karina menandai kalender.
Agus melihat melalui foto yang dikirimnya.
Tidak ada gambar hati besar.
Hanya satu lingkaran dan catatan kecil.
Laki-laki itu tersenyum.
Di rumah, Andre mulai memiliki pekerjaan yang benar-benar diberikan kepadanya, sehingga tidak perlu terus menciptakan rencana sendiri.
Bi Murni juga memperoleh bagian yang sesuai dengan keinginannya tanpa diminta menanggung semuanya.
Len memastikan jadwal kerja dan belajarnya tetap berjalan.
Reina membantu menyiapkan pengaturan klinik untuk hari-hari yang akan diambil Karina.
Satu pernikahan ternyata menyentuh banyak kehidupan.
Karina memandangi kalender sebelum menutup buku.
Ia ingin mengingat bantuan tersebut.
Namun, lebih dari itu, ia ingin memastikan bahwa setelah semua orang pulang dari acara nanti, dirinya dan Agus tetap mengetahui alasan mereka memilih tinggal bersama.