Agus membeli cincin setelah mereka cukup banyak membicarakan pernikahan.
Bukan untuk membuat keputusan Karina menjadi kejutan yang tidak dapat ditolak.
Ia sudah mengetahui bahwa gadis itu membayangkan arah yang sama.
Namun, tetap ada pertanyaan yang ingin disampaikan secara khusus.
Ia memilih sesuatu yang sederhana, sesuai kemampuan, dan tidak akan menyulitkan Karina dalam pekerjaannya.
Proses memilih ternyata membuatnya lebih gugup daripada yang diperkirakan.
Terlalu besar terasa tidak sesuai.
Terlalu rumit juga.
Ia akhirnya berhenti membayangkan bagaimana benda itu akan terlihat di mata orang lain.
Ia mencoba mengingat tangan Karina.
Tangan yang bekerja.
Menulis.
Memegang buku Ica.
Mengulurkan diri lebih dahulu di luar tempat makan ketika mereka baru sepakat bersama.
Pilihan menjadi lebih mudah setelah itu.
Agus menyimpan kotak kecil tersebut dengan perasaan yang tidak sepenuhnya dapat dinamainya.
Senang.
Takut.
Dan sangat sadar bahwa benda di dalamnya bukan jaminan untuk hidup yang selalu mudah.
***
Bagas mengetahui lebih dahulu.
Agus menunjukkan kotak itu pada malam ketika Ica sudah beristirahat.
Kakaknya memandang, lalu tersenyum.
"Kamu sudah siap bertanya?"
Agus mengangguk.
"Sudah dibicarakan arahnya."
"Bagus."
Tidak ada saran membuat acara besar.
Tidak ada usulan mengundang semua orang agar Karina terharu.
Bagas hanya menanyakan apakah tempat dan waktunya akan membuat gadis itu nyaman.
Agus menjelaskan rencananya.
Mereka akan bertemu setelah pekerjaan pada waktu yang sudah disepakati.
Karina mengetahui mereka ingin membicarakan langkah berikutnya.
Ia tidak mengetahui mengenai cincin.
Bagas mengangguk.
"Jangan lupa mendengarkan jawaban."
Agus tertawa gugup.
"Mas pikir aku akan bicara terus?"
"Riwayatmu mendukung kemungkinan itu."
Laki-laki tersebut mengusap wajah.
Kakaknya memang tidak akan membiarkannya memasuki peristiwa penting dengan harga diri yang terlalu mengembang.
Namun, Agus bersyukur.
Sedikit tawa membantu membuat malam terasa lebih manusiawi.
***
Andre hampir mengetahui dari wajah Agus.
Putranya terlalu sering memeriksa tas kecil dan tampak tidak tenang saat makan.
Laki-laki itu menyipit.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
Andre mengangkat alis.
Agus langsung menghela napas.
"Belum waktunya diceritakan."
Ayahnya terdiam.
Kemudian mengangguk.
Jawaban itu lebih baik daripada kebohongan.
"Baik."
Agus menatapnya, sedikit terkejut.
Andre mengambil minum.
"Ayah bisa menunggu."
Bagas yang berada di dekat mereka tersenyum.
Beberapa detik kemudian, Andre menambahkan.
"Tapi jangan terlalu lama sampai makanan Ayah dingin karena penasaran."
Agus tertawa.
Tentu saja kesabaran ayahnya tetap datang bersama komentar.
Namun, ia tidak memaksa.
Itu sudah cukup.
Malam tersebut, Agus menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang sedang berusaha berubah di dalam keluarga.
Ada banyak langkah kecil yang telah membawa mereka sampai ke sana.
***
Karina datang pada sore yang dijanjikan dengan wajah sedikit lelah.
Hari di klinik cukup padat, tetapi seluruh pekerjaan penting telah diselesaikan.
Ia tidak terburu-buru meninggalkan pasien demi pertemuan.
Agus juga tidak mendesak ketika Karina memberi tahu akan terlambat beberapa menit.
Ketika akhirnya duduk, gadis itu langsung tersenyum.
"Aku sudah makan sedikit. Jadi tidak akan menghabiskan semua pesanan."
Agus tertawa.
"Itu bukan masalah."
Karina memandangnya lebih teliti.
"Kamu gugup?"
"Sedikit."
"Sangat terlihat."
Laki-laki itu mengangguk.
Ia tidak berusaha menyangkal.
Mereka memesan minuman dan makanan ringan.
Tempat tersebut tenang, dengan beberapa meja lain yang cukup jauh untuk memberi ruang percakapan.
Tidak ada musik khusus.
Tidak ada orang yang tiba-tiba berdiri membawa kamera.
Karina merasa nyaman.
Ia tahu mereka akan membicarakan sesuatu yang penting.
Ia hanya belum mengetahui bentuk tepatnya.
***
Agus memulai setelah pelayan pergi.
Ia tidak membuka dengan cerita seluruh kesalahannya dari awal.
Karina sudah mengetahui.
Mereka telah membicarakannya berkali-kali dalam konteks yang memang diperlukan.
Malam ini, ia ingin berbicara mengenai hidup yang sedang mereka pilih.
"Aku senang dengan cara kita mulai membicarakan hal-hal yang dulu mungkin kuanggap tidak penting," katanya.
Karina mendengarkan.
"Rumah. Pekerjaan. Uang. Keluarga. Cara bilang lelah."
Gadis itu tersenyum kecil.
"Itu banyak hal."
"Iya."
Agus mengambil napas.
"Aku tidak membayangkan pernikahan akan membuat semua lebih mudah. Tapi aku ingin menjalaninya denganmu."
Karina menatap wajahnya.
Kegugupan laki-laki itu tidak menghilangkan ketegasan kalimat.
Ia tidak sedang meminta Karina mengisi hidup yang kosong.
Agus memiliki keluarga, pekerjaan, tujuan, dan bagian diri yang terus diperbaiki.
Ia ingin membagikan hidup itu.
Bukan menyerahkan seluruh tanggung jawab kebahagiaan kepada gadis di hadapannya.
***
"Aku ingin pulang ke rumah yang kita bangun bersama," lanjutnya. "Rumah tempat kamu tetap bisa menjadi dokter, belajar, marah kalau memang ada yang salah, dan tidak harus menebak apa yang kusembunyikan."
Mata Karina mulai panas.
Agus tersenyum sedikit, gugup.
"Aku juga ingin bisa mengatakan kalau aku takut atau tidak tahu. Tanpa membuat diriku harus terlihat paling mampu setiap saat."
Karina mengangguk perlahan.
"Dan aku ingin terus belajar mencintaimu dengan cara yang tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri."
Laki-laki itu mengeluarkan kotak kecil.
Karina menarik napas.
Ia sudah membayangkan arah percakapan.
Tetap saja, melihat benda itu membuat jantungnya bergerak lebih cepat.
Agus membuka kotak dan meletakkannya di antara mereka.
Tidak ada yang bertepuk tangan.
Tidak ada orang menoleh serentak.
Momen itu tetap milik keduanya.
"Karina," katanya pelan, "maukah kamu menikah denganku?"
***
Gadis itu memandang cincin.
Kemudian wajah Agus.
Ada begitu banyak versi laki-laki itu dalam ingatannya.
Yang datang dengan prasangka.
Yang harus belajar meminta maaf tanpa memaksa.
Yang duduk menemani keluarganya.
Yang pernah gagal berkata jujur saat jauh.
Yang kembali memilih menghadapi akibatnya.
Yang menunggu di bandara.
Yang mendengarkan rencana kerja tanpa meminta dirinya berhenti.
Karina tidak sedang memilih seseorang yang tidak pernah salah.
Ia sedang memilih orang yang telah dilihatnya berusaha bertanggung jawab atas kesalahan, dan yang masih ingin dijalaninya bersama dalam hari-hari biasa.
Air matanya jatuh sebelum jawabannya keluar.
Agus tetap menunggu.
Tidak mempercepat.
Tidak menambahkan pidato agar jeda terasa kurang menakutkan.
Karina mengusap pipi, lalu tertawa kecil karena dirinya mulai sulit melihat dengan jelas.
"Ya," katanya.
Agus memejamkan mata sesaat.
Lalu tersenyum dengan kelegaan yang hampir membuatnya ikut menangis.
***
"Aku mau," ulang Karina.
Kali ini lebih jelas.
Agus mengulurkan tangan.
Gadis itu menyambut.
Ketika cincin dipasangkan, Karina memandangnya dengan perasaan aneh.
Benda tersebut kecil.
Namun, pertanyaan yang baru dijawabnya besar.
Ia mengangkat wajah.
"Aku tetap akan banyak bertanya."
Agus tertawa.
"Aku sudah memperkirakan."
"Kalau kamu mulai membuat cerita sendiri—"
"Kamu akan menegur."
"Dan kamu harus mendengar."
Agus mengangguk.
"Iya."
Karina tersenyum di antara sisa air mata.
Ia tidak ingin percakapan itu berubah menjadi daftar ancaman.
Namun, gurauan tersebut membantu menjaga mereka tetap menjadi diri sendiri.
Agus menggenggam tangannya.
Tidak ada janji bahwa keduanya tidak akan pernah berselisih.
Ada kesediaan untuk kembali duduk dan berbicara ketika hal sulit datang.
Bagi Karina, kesediaan itu lebih berarti daripada kalimat sempurna yang tidak pernah diuji.
***
Mereka tetap duduk cukup lama setelahnya.
Makanan ringan hampir terlupakan sampai Karina menyadari perutnya mulai meminta perhatian lagi.
Agus tertawa.
"Akhirnya kembali ke kebutuhan utama."
"Aku baru membuat keputusan besar. Perlu tenaga."
Mereka makan sambil membicarakan langkah berikutnya.
Memberi tahu keluarga.
Mengatur pertemuan yang sesuai dengan keadaan orang tua Karina.
Membicarakan waktu tanpa membiarkan semua orang berlari lebih cepat.
Karina memandang cincin sekali lagi.
"Kamu sudah memberi tahu Ayah?"
"Belum."
Gadis itu menutup mulut.
"Berarti kita perlu duduk sebelum mengabari."
Agus tertawa.
Ia dapat membayangkan reaksi Andre dengan sangat jelas.
Namun, kali ini kegembiraan ayahnya tidak perlu dihentikan karena mendahului keputusan mereka.
Keputusan itu telah dibuat.
Sekarang keluarga dapat diundang untuk berjalan bersama.
Bukan mengambil alih arah.
***
Karina memberi tahu bi Murni setelah pulang.
Perempuan itu melihat cincin bahkan sebelum gadis tersebut selesai melepas sepatu.
Ia terdiam.
Lalu memandang wajah Karina.
"Sudah?"
Karina mengangguk dengan mata kembali panas.
"Sudah, Bi."
Bi Murni memeluknya.
Tidak ada gurauan untuk beberapa detik pertama.
Hanya tangan yang mengusap punggung seperti ketika Karina pulang dari jauh.
Setelah itu, perempuan tersebut menjauh sedikit dan memandangi cincin.
"Bagus."
Karina tersenyum.
"Menurut Bibi?"
"Yang penting orangnya terus menjaga."
Gadis itu mengangguk.
"Iya."
Bi Murni mengusap pipinya, kemudian tiba-tiba bertanya apakah mereka sudah makan.
Karina langsung tertawa.
Beberapa hal memang tidak akan berubah meskipun dirinya akan menikah.
Dan ia bersyukur untuk itu.
Di tempat lain, Agus sedang menarik napas sebelum memberi tahu Andre.
Kabar itu akhirnya membuat ayahnya berdiri begitu cepat sampai Bagas harus menyelamatkan gelas di meja.
***
Malam tersebut dipenuhi panggilan dan pesan.
Papa mendengarkan dengan tenang, lalu meminta waktu agar keluarga dapat membicarakan pertemuan dengan baik.
Mama menangis lebih dahulu sebelum selesai bertanya.
Ditya mengucapkan selamat, kemudian memperingatkan bahwa dirinya masih dapat pulang dan membuat Agus gugup secara langsung.
Karina tertawa.
Tidak ada tanggal yang diputuskan dalam kegembiraan malam itu.
Tidak ada daftar acara yang langsung memenuhi hidup mereka.
Hanya kabar bahwa keduanya telah memilih langkah berikutnya.
Setelah semua sedikit tenang, Karina duduk di tepi tempat tidur dan memandang tangannya.
Cincin itu masih terasa baru.
Ia mengambil buku catatan, membuka halaman kosong, lalu menulis satu kalimat.
Hari ini aku menjawab ya karena ingin berjalan bersamanya, bukan karena takut berjalan sendiri.
Ponselnya berbunyi.
Agus mengirim pesan.
"Selamat malam, calon istriku."
Karina menutup wajah sambil tertawa malu.
Beberapa detik kemudian, ia membalas.
"Selamat malam. Jangan mulai merasa paling ganteng."
Jawabannya datang cepat.
"Terlambat."
Karina menggeleng dengan senyum yang tidak juga hilang.
Masih Agus.
Namun, kini laki-laki itu adalah orang yang telah dipilihnya untuk membangun rumah.