Minggu keempat dan kelima berlalu melalui kegiatan yang semakin menuntut perhatian.
Karina tidak lagi sibuk menghafal arah.
Ia mulai sibuk memastikan pertanyaan yang diajukannya benar-benar membantu memahami persoalan.
Ada tugas kelompok yang berjalan lancar.
Ada pembahasan yang harus diulang karena mereka terlalu cepat menyimpulkan.
Ada hari ketika ia pulang dengan perasaan mampu.
Ada pula hari ketika ia menyadari betapa banyak yang belum diketahuinya.
Ia menulis semuanya.
Bukan hanya keberhasilan.
Kesalahan kecil juga.
Bagian yang membuatnya malu karena terlalu yakin.
Cara orang lain melihat masalah yang tidak terpikir olehnya.
Buku pemberian Agus semakin penuh.
Pada beberapa halaman, tulisannya rapi.
Pada halaman lain, kalimat miring dan panah memenuhi ruang.
Karina menyukai perbedaan itu.
Enam minggu tersebut tidak akan menjadi cerita sempurna.
Namun, ia ingin pulang membawa sesuatu yang benar-benar telah dikerjakan, bukan hanya kenangan tempat yang jauh.
***
Tugas akhir kelompok meminta mereka menyusun pembahasan mengenai perbaikan proses kerja berdasarkan pengamatan selama kegiatan.
Karina mengambil bagian yang berkaitan dengan alur komunikasi dan pencatatan dalam perawatan.
Ia teringat klinik.
Pemilik yang datang dengan cerita setengah lengkap.
Staf yang harus mencari informasi.
Dokter yang bergantian menangani.
Hal-hal yang dapat tampak kecil sampai sebuah keterangan penting tidak sampai kepada orang berikutnya.
Kelompoknya mendiskusikan banyak pilihan.
Tidak semua usulan Karina dipakai.
Ia belajar menerima.
Ada gagasan orang lain yang lebih sesuai.
Ada bagian miliknya yang diperbaiki setelah memperoleh masukan.
Pada akhirnya, hasil tersebut terasa lebih kuat daripada jika masing-masing hanya mempertahankan cara sendiri.
Karina menuliskan satu pengingat di pinggir catatan.
Keahlian bukan alasan untuk berhenti mendengar.
Kalimat itu akan dibawanya pulang ke klinik.
Dan mungkin ke beberapa bagian hidup yang lain.
***
Hubungannya dengan Agus perlahan menemukan kehangatan lagi.
Tidak melalui satu percakapan besar.
Melainkan kabar-kabar yang datang dengan lebih jelas.
Jika pekerjaannya berubah, Agus mengatakan.
Jika keluarga sedang memiliki urusan penting, ia tidak menyamarkannya sebagai keadaan biasa.
Jika belum tahu sesuatu, ia mengaku belum tahu.
Karina juga belajar menyampaikan ketika dirinya lelah dan belum dapat berbicara, tanpa membiarkan Agus menunggu janji yang sebenarnya tidak mungkin dipenuhi.
Pada suatu malam, mereka berhasil tertawa cukup lama mengenai pesan Andre.
Laki-laki itu masih menanyakan apakah Karina telah melihat kambing yang dapat dibandingkan dengan Rambo.
Karina mengirim jawaban.
"Rambo tetap juara di rumah sendiri."
Agus membacakan kepada ayahnya.
Andre tampak sangat puas.
Karina tertawa ketika mendengar cerita itu.
Tawa tersebut tidak menghapus kejadian yang menyakitkan.
Namun, ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi selalu menahan napas setiap kali nama Agus muncul di layar.
***
Suatu kali, Agus bertanya dengan hati-hati apakah Karina merasa hubungan mereka masih terlalu berat.
Gadis itu mengambil waktu sebelum menjawab.
"Ada bagian yang masih membuatku waspada."
Agus mengangguk.
"Tapi aku juga melihat kamu tidak menghindari pembicaraan setelah itu."
Laki-laki tersebut terdiam.
Karina melanjutkan.
"Aku belum bisa menjanjikan rasa percaya langsung kembali seperti sebelum kejadian. Namun, aku masih ingin menjalani ini."
Agus mengembuskan napas pelan.
"Terima kasih sudah mengatakan dengan jelas."
Gadis itu tersenyum kecil.
"Kita sedang belajar kalimat itu terus."
"Iya."
Mereka tidak memaksa percakapan menjadi manis.
Namun, setelahnya Karina bercerita mengenai tugas akhir dan Agus mendengarkan seperti biasa.
Ada pekerjaan yang tetap dapat dilakukan bersama meskipun satu bagian hubungan belum sepenuhnya pulih.
Keduanya memilih melanjutkan tanpa berpura-pura tidak pernah terluka.
***
Memasuki minggu keenam, jadwal terasa bergerak lebih cepat.
Kegiatan penutup semakin dekat.
Karina mulai memeriksa barang yang harus dibawa pulang, dokumen yang perlu disimpan, dan catatan yang ingin dirapikan sebelum semuanya tercampur dalam koper.
Ia juga mulai merindukan hal-hal kecil dengan lebih jelas.
Suara bi Murni dari dapur.
Keributan Len mencari benda yang ternyata sedang dipegangnya sendiri.
Cara Reina menandai kalimat yang terlalu umum.
Dan Agus yang duduk di seberang meja sambil berusaha tidak terlihat terlalu senang ketika dirinya datang.
Karina tersenyum saat memikirkan bagian terakhir.
Rindu itu kini memiliki pengalaman yang lebih rumit di belakangnya.
Mereka tidak lagi hanya pasangan baru yang sedang menikmati awal.
Jarak telah memperlihatkan kebiasaan yang masih perlu diperbaiki.
Namun, ia tidak merasa seluruh perjalanan kehilangan makna karena satu persoalan.
Justru sekarang ia lebih mengetahui apa yang ingin dibangun.
***
Pembahasan akhir berlangsung pada hari yang telah dijadwalkan.
Karina tetap gugup.
Ia tidak lagi menganggap pengalaman beberapa minggu otomatis membuatnya kebal terhadap rasa itu.
Namun, ketika mulai menjelaskan, ia dapat menemukan pijakan lebih cepat.
Ia mengetahui bagian yang dikerjakan.
Mengetahui alasan di balik pilihan.
Dan mengetahui keterbatasan hasilnya.
Pertanyaan datang.
Sebagian dapat dijawab langsung.
Sebagian memerlukan diskusi lebih lanjut.
Karina tidak berusaha menyembunyikan hal yang belum pasti.
Kelompoknya saling membantu.
Ketika selesai, ia duduk dengan napas yang lebih panjang.
Ada rasa lega.
Ada bangga.
Bukan karena dirinya tampil paling menonjol.
Melainkan karena ia mampu menyumbangkan pekerjaan dengan sungguh-sungguh.
Pada kegiatan penutup, Karina menerima dokumen penyelesaian program sesuai proses yang dijalani.
Ia memegangnya beberapa detik.
Kertas itu penting.
Namun, ia mengetahui bahwa bagian terbesar yang dibawanya pulang tidak akan terlihat dari satu lembar.
***
Foto kelompok terakhir diambil setelah kegiatan selesai dan sesuai pengaturan.
Karina berdiri bersama orang-orang yang beberapa minggu sebelumnya masih terasa asing.
Sekarang ada cerita di balik wajah-wajah itu.
Diskusi yang melelahkan.
Kesalahan yang ditertawakan bersama.
Pendapat yang berbeda.
Makanan yang dipertanyakan.
Perpisahan tidak menjadi mudah hanya karena waktunya singkat.
Mereka bertukar ucapan dan berencana tetap berhubungan melalui jalur yang sesuai.
Karina tidak menjanjikan akan membalas setiap pesan seketika.
Namun, ia ingin menjaga hubungan profesional yang telah terbentuk.
Ketika kembali ke kamar, ia mengirim foto kepada keluarga.
Mama membalas dengan banyak tanda seru.
Papa menulis bahwa dirinya senang Karina telah menyelesaikan kegiatan dengan baik.
Ditya langsung bertanya apakah koper sekarang lebih penuh daripada saat berangkat.
Karina memandang beberapa barang di atas tempat tidur.
Sayangnya, kakaknya mungkin benar.
***
Agus menerima foto dan kabar penyelesaian setelah bekerja.
Ia menelepon pada waktu yang telah mereka sepakati.
Karina mengangkat dengan wajah lelah, tetapi senyumnya lebar.
"Sudah selesai."
"Selamat."
"Benar-benar selesai."
Agus tertawa.
"Aku dengar."
Gadis itu memperlihatkan dokumen sebentar, kemudian meletakkannya.
Laki-laki tersebut tidak hanya memuji.
Ia menanyakan bagian yang paling ingin dibawa pulang.
Karina langsung mulai bercerita.
Tentang cara menyusun catatan.
Tentang pertanyaan yang ingin dibahas bersama Reina.
Tentang kegiatan yang membuatnya melihat pekerjaan sehari-hari dengan cara berbeda.
Agus mendengarkan sampai selesai.
Karina berhenti dan tersenyum malu.
"Aku banyak bicara lagi."
"Aku sudah merindukan itu."
Gadis itu terdiam.
Lalu suaranya melunak.
"Aku juga merindukanmu."
Tidak ada gurauan setelahnya.
Untuk beberapa detik, keduanya membiarkan kalimat tersebut tetap sederhana.
***
Mereka membicarakan kepulangan dengan jelas.
Waktu perjalanan.
Perkiraan kedatangan.
Pengaturan penjemputan.
Agus bertanya apakah Karina ingin dijemput olehnya atau memiliki rencana lain bersama keluarga.
Gadis itu tersenyum.
"Aku ingin kamu menjemput."
Wajah laki-laki itu berubah.
"Baik."
"Jangan membawa satu keluarga."
"Ayah mungkin kecewa."
"Terutama jangan membawa Rambo."
Agus tertawa.
Karina ikut tertawa.
Kali ini rencana tersebut tidak dibuat untuk menutupi persoalan yang belum selesai.
Mereka akan bertemu.
Berbicara lagi jika perlu.
Membiarkan kedekatan kembali menemukan bentuk di tempat yang sama.
Namun, malam itu mereka boleh senang terlebih dahulu.
Setelah panggilan berakhir, Karina memeriksa daftar kepulangan.
Ia menulis satu hal yang sebenarnya tidak perlu dicatat.
Agus menjemput.
Kemudian tersenyum kepada tulisannya sendiri.
***
Malam terakhir, Karina duduk di antara koper dan tas.
Kamar sudah hampir kembali kosong.
Ia mengambil gambar Ica, menyimpannya dengan hati-hati, lalu membuka buku catatan untuk satu tulisan lagi.
Enam minggu.
Pada awalnya terasa seperti waktu yang terlalu panjang untuk ditinggalkan dan terlalu singkat untuk mempelajari banyak hal.
Sekarang keduanya benar.
Ia belajar.
Rindu.
Marah.
Tertawa.
Meragukan diri.
Mencoba lagi.
Hubungannya dengan Agus tidak kembali persis seperti saat ia berangkat.
Ada retak kecil yang masih harus dijaga agar tidak melebar.
Ada pula pemahaman yang sebelumnya belum mereka miliki.
Karina tidak menulis bahwa semuanya menjadi lebih baik secara otomatis.
Ia hanya menulis bahwa dirinya pulang dengan mata yang lebih terbuka.
Kepada pekerjaan.
Kepada orang-orang yang disayangi.
Dan kepada dirinya sendiri.
Pagi berikutnya, ketika perjalanan pulang dimulai, ia memegang tas dengan hati yang penuh.
Di ujung perjalanan ada rumah.
Kali ini, ia ingin melihat sendiri bagaimana rasanya kembali.