Karina tidak langsung menghubungi siapa pun setelah panggilan berakhir.
Ia duduk di tepi tempat tidur, mencoba memisahkan kekhawatiran mengenai Ica dari kemarahan kepada Agus.
Keduanya berhubungan.
Namun, bukan hal yang sama.
Ica sedang membutuhkan penanganan.
Agus telah memilih menahan kabar.
Karina tidak ingin membuat keadaan anak itu menjadi alat untuk membuktikan bahwa dirinya terluka.
Ia membuka percakapan Bagas dan mengirim pesan singkat.
Ia sudah mengetahui Ica sedang dirawat, mendoakan perkembangan yang baik, dan tidak meminta balasan segera.
Bagas menjawab setelah beberapa waktu.
Ia menyampaikan keadaan terbaru dengan tenang.
Karina membaca sampai selesai.
Setidaknya sekarang ia dapat memahami apa yang sedang terjadi.
Tidak seluruh ketakutan hilang.
Namun, mengetahui kenyataan terasa lebih baik daripada ditenangkan melalui gambaran yang tidak utuh.
Ia meletakkan ponsel dan mencoba tidur.
Malam itu tidak mudah.
Tetapi esok kegiatan tetap menunggu.
***
Agus menghabiskan sisa malam dengan lebih banyak diam.
Ia membantu keluarga seperti biasa.
Mengambil barang.
Memastikan makanan.
Mendengarkan penjelasan berikutnya.
Tidak ada tindakan besar yang dapat dilakukan untuk memperbaiki percakapannya dengan Karina saat itu juga.
Gadis itu telah meminta waktu.
Ia harus menghormatinya.
Bagas tidak terus mengulang teguran.
Kakaknya sudah mengatakan yang perlu.
Namun, sebelum Agus bergantian pulang untuk beristirahat, Bagas menatapnya.
"Jangan gunakan keadaan Ica supaya Karina merasa harus segera memaafkan."
Agus mengangguk.
"Aku tidak akan."
"Dan jangan membuat permintaan maafmu jadi lebih panjang daripada pengakuan kesalahannya."
Agus menarik napas.
Ia tahu dirinya memiliki kebiasaan menjelaskan maksud sampai maksud itu terdengar lebih penting daripada akibat.
Kali ini ia ingin berhenti.
Bukan karena berharap kalimat yang tepat akan segera mengembalikan kehangatan.
Melainkan karena memang itulah yang seharusnya dilakukan.
***
Keesokan paginya, Karina mengikuti kegiatan dengan perhatian yang harus dikumpulkan sedikit lebih keras.
Ia tidak berpura-pura semalam tidak terjadi.
Namun, ia juga tidak membiarkan pikirannya terus berada di Jakarta.
Saat jeda, ia menerima pembaruan dari Bagas bahwa keadaan Ica menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Tim masih melakukan pengawasan dan akan menilai langkah berikutnya.
Karina mengembuskan napas.
Ia membalas dengan ucapan syukur.
Setelah itu, ia kembali kepada tugas.
Seorang peserta menanyakan pendapatnya mengenai bagian yang sedang dikerjakan.
Karina membaca, bertanya, lalu menjawab.
Pekerjaan membantu mengingatkannya bahwa dirinya masih memiliki tempat dan tanggung jawab di sana.
Ia tidak harus segera pulang hanya karena merasa khawatir.
Keputusan semacam itu perlu berdasarkan keadaan nyata, bukan kepanikan atau rasa bersalah karena jauh.
Untuk saat ini, keluarga sedang mendampingi dan Ica memperoleh penanganan.
Karina memegang kenyataan tersebut.
***
Pesan Agus masuk menjelang waktu istirahat berikutnya.
Isinya tidak panjang.
"Aku menahan kabar ketika sebenarnya sudah punya kesempatan untuk mengatakan keadaan yang benar. Aku membuatmu membayangkan Ica di rumah, padahal aku tahu dia dirawat. Itu pilihanku dan itu salah. Aku minta maaf."
Karina membaca perlahan.
Tidak ada kalimat bahwa dirinya pasti terlalu cemas.
Tidak ada penjelasan panjang mengenai niat baik.
Ia menghargainya.
Namun, rasa kecewa belum hilang.
Karina membalas bahwa dirinya sudah membaca dan akan berbicara setelah memiliki waktu serta pikiran yang lebih tenang.
Agus menjawab singkat.
"Baik."
Percakapan berhenti.
Tidak ada bunga yang datang.
Tidak ada panggilan berulang.
Tidak ada pesan dari anggota keluarga yang membujuknya.
Karina menyadari bagian itu.
Agus telah membuat kesalahan.
Setidaknya ia tidak sedang menambah pekerjaan lain untuk menyelamatkan perasaannya sendiri.
***
Mereka berbicara kembali pada malam berikutnya.
Karina memilih waktu ketika kegiatan selesai dan dirinya tidak terlalu lelah.
Agus memastikan berada di tempat yang cukup tenang setelah pembagian keluarga tertata.
Wajah keduanya muncul di layar.
Tidak ada senyum pembuka yang dipaksakan.
Karina lebih dahulu menanyakan kabar Ica.
Setelah itu, ia meletakkan tangannya di meja.
"Aku ingin menjelaskan kenapa aku marah."
Agus mengangguk.
"Aku mendengarkan."
"Aku tidak menuntut tahu setiap hal saat itu juga. Aku tahu ada keadaan ketika orang harus bekerja dulu, menangani dulu, atau menunggu penjelasan."
Laki-laki itu diam.
"Tapi setelah kita bicara, kamu masih membiarkan aku menerima gambaran yang salah. Kamu memilihkan kenyataan supaya aku tetap tenang."
Agus menunduk sedikit.
"Iya."
"Aku tidak ingin hubungan kita bekerja seperti itu."
Kalimat tersebut tidak keras.
Namun, membuat Agus merasa lebih berat daripada jika Karina berteriak.
***
"Aku jauh," lanjut Karina. "Memang ada hal yang tidak bisa kubantu langsung. Tapi jauh bukan berarti aku harus diperlakukan seperti orang yang tidak sanggup mengetahui keadaan."
Agus mengangguk.
"Aku mengerti."
Karina menatapnya.
Laki-laki itu membetulkan sendiri.
"Aku mendengar. Dan aku melihat bahwa aku mengambil keputusan untukmu."
Gadis itu mengembuskan napas.
Ia tidak ingin menguji apakah Agus menghafal kalimat yang tepat.
Yang dibutuhkan adalah pemahaman yang dapat terlihat setelah percakapan selesai.
"Aku bisa khawatir dan tetap mengikuti kegiatan," katanya. "Aku bisa sedih tanpa langsung membuat keputusan pulang. Kamu tidak perlu menjaga jadwalku dengan menyembunyikan sesuatu."
Agus mengusap wajah.
"Aku takut mengganggu hal yang penting untukmu."
"Kalau begitu tanyakan kapan aku bisa bicara. Bukan mengganti isinya."
Keheningan muncul.
Agus menerima kalimat itu tanpa mencari celah.
Solusinya sebenarnya tidak rumit.
Yang sulit adalah berhenti merasa bahwa dirinya paling tahu bentuk pertolongan yang diperlukan.
***
Karina kemudian mengatakan hal yang paling berat.
"Kejadian ini membuatku ingat pengakuanmu tentang hubungan dahulu."
Agus mengangkat wajah.
Ia sudah menduga.
Tetap saja, mendengarnya langsung terasa menyakitkan.
"Aku tidak mengatakan semua sama," lanjut Karina. "Tapi aku perlu melihat bahwa ketika kenyataan tidak nyaman, kamu tidak kembali memilih bagian yang membuatmu lebih mudah menghadapi percakapan."
Agus mengangguk perlahan.
"Itu yang kulakukan. Aku bukan hanya melindungimu dari cemas. Aku juga menghindari percakapan yang sulit."
Pengakuan tersebut membuat Karina diam.
Untuk pertama kalinya malam itu, Agus terdengar menemukan bagian yang sebelumnya belum diucapkan.
Ia tidak hanya mengkhawatirkan tugas Karina.
Ia juga tidak ingin mendengar kepanikan, pertanyaan, atau kesedihan yang harus ditanggapi dari jauh.
Lebih mudah mengatakan Ica sedang beristirahat.
Lebih mudah menunda.
Karina memandangnya cukup lama.
"Terima kasih sudah mengakui bagian itu."
***
Mereka tidak menyelesaikan semuanya dengan satu janji bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi lagi.
Agus mengatakan akan memberi kabar penting dengan jelas, meskipun belum semua jawaban tersedia.
Jika belum dapat bicara panjang, ia dapat mengatakan keadaan singkat dan kapan mungkin ada kesempatan berikutnya.
Karina menyetujui cara itu.
Ia juga menjelaskan bahwa dirinya tidak akan meminta rincian yang belum boleh dibagikan atau memaksa keluarga menjawab saat sedang menangani sesuatu.
Mereka sedang membangun komunikasi.
Bukan sistem laporan yang membuat semua orang semakin lelah.
Setelah pembicaraan tersebut, Karina masih tidak terdengar sepenuhnya hangat.
Agus tidak meminta kepastian apakah dirinya sudah dimaafkan.
Ia hanya mengucapkan terima kasih karena Karina bersedia menjelaskan.
Gadis itu mengangguk.
"Aku masih butuh waktu."
"Iya."
Panggilan berakhir lebih tenang, tetapi tidak kembali seperti sebelumnya.
Keduanya memahami bahwa perbaikan berikutnya tidak akan terjadi melalui tambahan kalimat malam itu.
***
Ica akhirnya dapat pulang setelah tim menilai perkembangannya dan memberikan pengaturan lanjutan kepada keluarga.
Bagas menerima penjelasan dengan lebih tenang daripada saat pertama kali.
Ia tetap khawatir.
Namun, kini mengetahui bahwa kemajuan dapat diselingi hari yang sulit tanpa berarti seluruh proses gagal.
Agus mengabari Karina dengan jelas setelah urusan utama tertata.
Gadis itu membalas dengan ucapan syukur dan meminta salam disampaikan kepada Ica.
Tidak ada percakapan pribadi panjang.
Agus menerima.
Ia tidak mengubah kabar pulang menjadi kesempatan berkata bahwa semuanya ternyata baik sehingga Karina tidak perlu terlalu marah.
Kesalahannya tidak hilang hanya karena hasil akhirnya lebih melegakan.
Di rumah, Andre kembali menahan diri agar tidak membuat penyambutan ramai.
Boneka kambing sudah tersedia.
Ica memegangnya setelah beristirahat.
Keluarga kembali menata hari.
Tidak sempurna.
Namun, bersama.
***
Pada hari-hari berikutnya, hubungan Karina dan Agus bergerak lebih pelan.
Mereka masih saling berkabar.
Masih berbicara ketika waktunya cocok.
Namun, percakapan tidak selalu dipenuhi gurauan.
Agus tidak memaksa.
Ia terus menjalani pekerjaan, keluarga, dan bagian belajar yang telah direncanakan.
Karina melihat konsistensi tersebut melalui hal yang memang sampai kepadanya.
Bukan karena meminta bukti.
Kadang ia merasa ingin kembali bercanda.
Kadang masih ada kecewa yang muncul tiba-tiba.
Ia membiarkan kedua perasaan itu ada tanpa segera mengambil keputusan besar.
Jarak telah memperlihatkan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Namun, juga memberi kesempatan melihat bagaimana Agus menghadapi akibat ketika dirinya tidak dapat langsung datang, tersenyum, dan berharap suasana membaik.
Kali ini ia harus bertahan dalam pekerjaan yang lebih sunyi.
Mengatakan yang benar.
Menunggu.
Dan membiarkan kepercayaan tumbuh kembali sesuai waktunya sendiri.