Karina melihat Agus sebelum laki-laki itu melihatnya.
Ia berdiri beberapa langkah dari kerumunan, memegang ponsel dengan wajah yang terlalu serius untuk seseorang yang hanya sedang menunggu.
Sesekali kepalanya terangkat.
Kemudian kembali melihat layar.
Karina berhenti sebentar sambil memegang pegangan koper.
Enam minggu.
Selama itu, wajah Agus berada di dalam layar dengan suara yang kadang terlambat dan gambar yang sesekali membeku.
Sekarang ia benar-benar ada.
Tinggi.
Lelah sedikit.
Dan tampak kehilangan ketenangan yang biasanya dibawa ketika muncul di televisi.
Karina hampir mengirim pesan bahwa dirinya sudah melihat.
Namun, ia memilih berjalan mendekat.
Agus mengangkat kepala pada saat yang sama.
Beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.
Lalu wajah laki-laki itu berubah.
Karina tersenyum.
"Aku tidak tersesat."
Agus tertawa sambil mengembuskan napas panjang.
"Syukurlah. Aku sudah menyiapkan kemungkinan."
***
Agus mengambil koper setelah Karina mengangguk.
Tas kecil tetap dipegangnya sendiri.
Mereka berdiri dengan jarak yang terasa aneh.
Terlalu dekat untuk hanya melambaikan tangan.
Terlalu banyak perasaan untuk langsung berbicara tentang perjalanan.
Karina akhirnya maju dan memeluknya.
Agus meletakkan satu tangan di punggungnya, membalas dengan hati-hati sebelum pelukannya mengerat.
Tidak ada kalimat yang langsung keluar.
Karina memejamkan mata.
Bau pakaian Agus terasa akrab dengan cara yang tidak dapat dibawa oleh panggilan video.
Laki-laki itu menunduk sedikit.
"Selamat pulang."
Karina mengangguk di bahunya.
"Terima kasih sudah menunggu."
Agus tidak menjawab dengan mengatakan bahwa dirinya selalu ada.
Ia pernah gagal mengatakan yang perlu dikatakan.
Mereka sama-sama mengetahui itu.
Namun, hari ini ia datang pada waktu yang dijanjikan.
Karina berada di pelukannya.
Untuk beberapa detik, mereka membiarkan kenyataan tersebut cukup.
***
Ketika berpisah dari pelukan, Agus memandang wajahnya lebih teliti.
"Capek?"
"Sangat."
"Lapar?"
"Pertanyaan itu pasti titipan bi Murni."
Agus tersenyum.
"Sebagian."
Karina tertawa kecil.
Mereka berjalan menuju kendaraan dengan koper yang ternyata lebih berat daripada ketika berangkat.
Agus mencoba menariknya, lalu menoleh.
"Kamu membawa seluruh tempat pelatihan?"
"Hanya sebagian."
"Terlihat."
Karina memukul lengannya pelan.
Ia tidak menjelaskan semua isi koper.
Sebagian dokumen.
Buku.
Pakaian.
Barang kecil untuk orang-orang di rumah.
Dan beberapa benda yang mungkin sebenarnya tidak perlu dibeli, tetapi terasa penting ketika dirinya berada jauh.
Agus tidak mengeluh.
Ia hanya menata barang dengan lebih hati-hati.
Setelah Karina duduk, laki-laki itu memastikan dirinya nyaman, lalu mulai mengemudi.
Tidak ada rencana mampir ke tempat lain tanpa dibicarakan.
Hari pertama pulang tidak perlu dijadikan perjalanan tambahan.
***
Karina memandangi jalan.
Jakarta terasa bising dengan cara yang dirindukannya dan sekaligus membuat kepala semakin lelah.
Agus menanyakan apakah ia ingin bercerita atau beristirahat.
"Sedikit cerita," jawabnya.
Ternyata sedikit berubah menjadi cukup banyak.
Karina menceritakan perjalanan, barang yang hampir tertinggal di kamar, dan seorang peserta yang harus membuka koper lagi karena salah menyimpan sesuatu.
Agus mendengarkan sambil sesekali tertawa.
Tidak lama kemudian, suara Karina mulai melambat.
Kalimatnya berhenti di tengah.
Agus melirik sekilas.
Matanya sudah setengah tertutup.
Ia tidak membangunkannya untuk menyelesaikan cerita.
Hanya mengecilkan suara yang ada dan membiarkan perjalanan berlanjut.
Karina tertidur dengan kepala sedikit miring.
Agus kembali memandang jalan.
Selama beberapa minggu, ia merindukan percakapan panjang.
Kini ketika kesempatan itu ada, hal yang paling ingin dilakukannya justru membiarkan gadis itu tidur.
***
Bi Murni sudah menunggu ketika mereka tiba.
Karina terbangun sepenuhnya saat kendaraan berhenti.
Ia turun sebelum Agus selesai mengambil koper.
"Bi!"
Perempuan itu membuka tangan dan memeluknya.
Tidak ada pertanyaan pertama mengenai berat badan atau makanan.
Hanya pelukan yang cukup erat untuk membuat Karina kembali merasa benar-benar sampai.
Beberapa saat kemudian, bi Murni menjauh sedikit dan memandang wajahnya.
"Kurus?"
Karina tertawa.
Akhirnya pertanyaan itu datang juga.
"Tidak, Bi."
"Sepertinya."
Agus yang membawa koper memilih tidak ikut menjawab.
Ia telah belajar mengenali percakapan yang tidak membutuhkan pendapatnya.
Di dalam rumah, aroma makanan membuat Karina langsung tersenyum.
Bi Murni terlihat puas.
Perjalanan panjang, pelatihan, dan ribuan kilometer rupanya tetap dapat ditutup oleh sepiring makanan yang dikenal.
Karina duduk.
Agus membantu meletakkan barang, lalu meminta izin pulang agar dirinya dapat beristirahat.
***
Karina menoleh.
"Kamu tidak makan dulu?"
Agus tampak ingin menerima, tetapi melihat wajah lelahnya.
"Kalau tidak mengganggu."
Bi Murni langsung mendengus.
"Piring sudah disiapkan."
Keputusan selesai.
Mereka makan bersama tanpa membuat Karina harus menceritakan seluruh enam minggu pada satu kesempatan.
Bi Murni lebih banyak memperhatikan apakah piringnya terisi.
Agus menjawab beberapa pertanyaan mengenai perjalanan dari bandara.
Karina sesekali bercerita, lalu berhenti untuk menikmati makanan.
Rasa rumah datang melalui banyak hal kecil.
Kursi yang sama.
Suara sendok.
Bi Murni yang mengeluh karena ia minum terlalu cepat.
Setelah selesai, Karina berdiri untuk mengambil sesuatu dari tas.
Agus langsung mengingatkan bahwa oleh-oleh tidak perlu dibagikan saat itu juga.
Gadis itu tersenyum.
"Bukan oleh-oleh."
Ia mengeluarkan buku catatan pemberiannya.
"Ini sudah hampir penuh."
Agus memandang buku itu dengan wajah yang perlahan melunak.
***
Ia tidak meminta membaca seluruhnya.
Karina tidak langsung menyerahkan.
Buku tersebut berisi pekerjaan, pikiran, dan hal-hal yang mungkin hanya ingin disimpan sendiri.
Namun, ia membuka satu halaman yang telah ditandai.
Catatan mengenai alur komunikasi dalam perawatan.
Ada panah dan beberapa kalimat yang dicoret.
"Aku ingin membicarakan ini dengan Reina," katanya.
Agus mendengarkan penjelasan singkat.
Ia tidak memahami semua rincian, tetapi dapat melihat kegembiraan yang sama seperti ketika Karina pertama bercerita mengenai program.
Perjalanan itu tidak hanya membuatnya rindu.
Perjalanan itu juga memberinya sesuatu.
Agus senang melihatnya.
Setelah beberapa menit, ia menutup percakapan dengan lembut.
"Kamu perlu tidur."
Karina mengangguk.
Kali ini tidak membantah.
Agus berpamitan kepada bi Murni, lalu berjalan bersama Karina sampai pintu.
Tidak ada permintaan agar mereka langsung bertemu lagi besok.
Mereka masih memiliki banyak waktu untuk menyusun kehidupan yang kembali berdekatan.
***
Di depan pintu, Karina menyentuh lengan Agus.
"Aku senang pulang."
Laki-laki itu mengangguk.
"Aku senang kamu pulang."
Gadis itu tersenyum, lalu wajahnya sedikit lebih serius.
"Ada hal yang nanti tetap perlu kita bicarakan."
Agus memahami.
"Iya."
"Besok atau setelah aku lebih segar."
"Kapan kamu siap."
Karina mengangguk.
Kepulangan tidak menghapus persoalan yang pernah terjadi.
Namun, ia juga tidak ingin sambutan pertama hanya diisi pemeriksaan terhadap hubungan mereka.
Ada rindu yang layak diterima.
Ada kegembiraan yang tidak harus ditahan sampai seluruh hal sulit selesai.
Agus mencium keningnya singkat setelah Karina mendekat.
Kemudian ia pergi.
Gadis itu berdiri beberapa detik sebelum menutup pintu.
Di dalam, bi Murni sudah memanggil agar ia berhenti berdiri dan beristirahat.
Karina tertawa pelan.
Ia benar-benar sudah pulang.
***
Sore berikutnya, setelah tidur cukup panjang dan memberi kabar kepada keluarga, Karina membuka koper.
Barang-barang dikeluarkan perlahan.
Dokumen dipisahkan.
Pakaian disusun untuk dicuci.
Oleh-oleh diberi tempat.
Di sela semuanya, gambar Ica ditemukan masih utuh.
Karina memandang dua tempat dan garis panjang di tengahnya.
Ia mengambil foto dan mengirim kepada Bagas.
Gambarnya sudah sampai rumah lagi.
Balasan datang beberapa waktu kemudian bersama pesan suara Ica.
"Bu dokter pulang!"
Karina tertawa.
Ia membalas bahwa dirinya sudah pulang dan akan berkunjung ketika waktunya sesuai.
Tidak menjanjikan hari itu juga.
Bagas menyampaikan bahwa Ica sedang menjalani kegiatan dengan pengaturan yang terus diikuti setelah kepulangan terakhir dari rumah sakit.
Karina membaca dengan tenang.
Kabar yang jelas tetap terasa penting.
Lebih penting daripada kabar yang hanya dibuat menyenangkan.
***
Malamnya, Karina menulis satu catatan terakhir mengenai perjalanan.
Bukan penutup seluruh cerita.
Hanya bagian kepulangan.
Ia menulis tentang Agus yang membiarkannya tidur di kendaraan.
Tentang bi Murni yang baru menanyakan makan setelah memeluk.
Tentang rumah yang tetap dikenalnya, meskipun dirinya merasa membawa cara pandang yang sedikit berbeda.
Ia tidak ingin segera kembali menjadi orang yang sama persis seperti sebelum berangkat.
Kalau enam minggu itu berarti sesuatu, akan ada hal yang berubah.
Cara bekerja.
Cara mendengar.
Cara mempercayai orang lain.
Karina menutup buku dan meletakkannya di meja.
Esok ia akan kembali ke klinik.
Kepada pasien.
Kepada rekan kerja.
Kepada kehidupan yang tidak berhenti selama dirinya jauh.
Ia ingin datang dengan rasa ingin tahu, bukan dengan anggapan bahwa semua harus kembali berputar di sekelilingnya.