Keadaan Ica berubah pada pertengahan minggu berikutnya.
Anak itu tampak lebih lesu daripada biasanya dan tidak tertarik pada kegiatan yang sebelumnya disukai.
Bagas tidak menebak-nebak terlalu lama.
Ia menghubungi pihak yang merawat sesuai pengaturan yang telah diberikan, lalu mengikuti arahan untuk membawa Ica mendapatkan pemeriksaan.
Agus sedang bekerja ketika kabar itu masuk.
Ia menyelesaikan pengaturan yang perlu dilakukan dan menyusul setelah memastikan tidak meninggalkan tanggung jawab begitu saja.
Di rumah sakit, Bagas duduk dengan wajah yang langsung mengingatkan Agus pada hari-hari sebelum tindakan.
Jo dan tim menilai keadaan Ica.
Setelah pemeriksaan, keluarga mendapat penjelasan bahwa anak itu perlu tinggal sementara untuk pengawasan dan penanganan lebih lanjut.
Tidak ada keputusan besar yang dapat disimpulkan dari satu kalimat.
Bagas mendengarkan dengan tangan bertaut.
Agus duduk di sebelahnya.
Penantian yang mereka kira telah menjadi bagian masa lalu rupanya masih dapat datang kembali.
***
Andre tiba setelah mendapat kabar.
Ia membawa tas yang disiapkan terburu-buru, lalu berhenti di depan Bagas.
"Bagaimana?"
Bagas menjelaskan sebatas informasi yang telah diberikan.
Agus membantu mengulang bagian yang penting.
Tidak ada yang mengatakan pasti tidak apa-apa.
Namun, mereka juga tidak menambahkan dugaan yang belum diketahui.
Ica sedang ditangani dan diawasi.
Itulah keadaan yang harus dipegang.
Andre duduk.
Beberapa saat kemudian, ia mengusap wajah dengan kedua tangan.
Bagas memandang pintu.
Agus melihat keduanya, lalu mengambil air.
Gerakan yang sudah dikenalnya.
Terlalu dikenalnya.
Ia ingin hari tersebut cepat berubah menjadi kabar bahwa mereka boleh pulang.
Namun, keinginan itu tidak dapat mempercepat penilaian tim.
Mereka kembali menunggu.
Kali ini, rasa takut datang bersama kelelahan karena mengira telah memperoleh waktu yang lebih tenang.
***
Di Afrika Selatan, Karina sedang menyiapkan pembahasan tugas yang harus disampaikan keesokan harinya.
Ia telah mengirim pesan kepada Agus bahwa malamnya mungkin lebih sibuk.
Laki-laki itu membaca di rumah sakit.
Pesan tersebut diikuti foto catatan yang penuh coretan.
Karina menambahkan bahwa dirinya gugup karena harus menjelaskan hasil pengamatan di depan kelompok.
Agus memandang layar.
Ia hendak memberi kabar mengenai Ica.
Lalu berhenti.
Pikirannya mengatakan bahwa Karina sedang jauh, memiliki tugas penting, dan tidak dapat membantu secara langsung.
Mungkin lebih baik menunggu sampai ada kabar yang lebih jelas.
Alasan itu terdengar masuk akal pada saat pertama muncul.
Agus membalas dengan dukungan mengenai tugasnya.
Tidak menyebut rumah sakit.
Setelah pesan terkirim, ia meletakkan ponsel.
Ada rasa tidak nyaman.
Namun, ia menutupnya dengan keyakinan bahwa dirinya sedang berusaha tidak menambah beban.
***
Beberapa jam kemudian, Karina menanyakan kabar rumah.
Agus membaca ketika Bagas sedang berbicara dengan petugas.
Ia kembali memiliki kesempatan untuk mengatakan keadaan sebenarnya.
Namun, kalimat yang diketik hanya menyebut bahwa Ica sedang beristirahat dan Bagas menemaninya.
Keduanya benar.
Bagian yang ditinggalkan membuat keseluruhannya tidak jujur.
Karina membalas bahwa dirinya berharap Ica tidur nyaman.
Agus memandangi pesan itu.
Ia tahu gadis tersebut membayangkan rumah.
Bukan ruangan perawatan.
Untuk sesaat, ia hampir menambahkan penjelasan.
Lalu panggilan dari Bagas membuatnya berdiri.
Ponsel disimpan.
Kesempatan itu lewat.
Masalahnya tidak hilang.
Ia hanya belum menghadapinya.
***
Pembahasan tugas Karina berlangsung keesokan harinya.
Ia cukup gugup pada awalnya, tetapi berhasil menjelaskan bagian yang telah dikerjakan.
Ada pertanyaan yang dapat dijawab.
Ada masukan yang perlu dicatat.
Tidak semuanya berjalan sempurna.
Namun, setelah selesai, ia merasa lega.
Karina mengirim kabar kepada Agus saat istirahat.
Laki-laki itu membalas dengan ucapan selamat setelah beberapa waktu.
Jawabannya lebih pendek daripada biasanya.
Karina menganggap Agus sedang sibuk.
Ia tidak langsung membuat cerita.
Namun, ketika malam datang dan panggilan yang biasa mereka usahakan tidak dapat dilakukan, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Agus mengatakan sedang menemani Bagas.
Karina menatap layar.
Bagas di rumah atau di tempat lain?
Pertanyaan itu muncul.
Ia hampir mengetik, kemudian berhenti ketika kegiatan lain memanggil.
Hari terus bergerak.
Di dua tempat berbeda, satu percakapan yang belum terjadi mulai menjadi beban.
***
Di rumah sakit, penjelasan berikutnya memberi keluarga sedikit ruang bernapas.
Tim terus menangani keadaan Ica dan mengawasi perkembangannya. Ada hal yang mulai lebih baik, tetapi mereka masih perlu menunggu sebelum membicarakan kepulangan.
Bagas mengangguk.
Wajahnya tetap lelah, tetapi tidak sekaku sebelumnya.
Andre menghubungi Mommy untuk memberi kabar.
Agus mendengarkan dari samping.
Ayahnya menyampaikan keadaan dengan jujur meskipun istrinya berada jauh dan tidak dapat datang saat itu juga.
Tidak ada usaha menyembunyikan hanya karena khawatir membuatnya cemas.
Mommy bertanya.
Andre menjawab sebatas yang diketahui.
Percakapan itu membuat Agus merasa semakin tidak nyaman.
Ia telah menggunakan jarak Karina sebagai alasan untuk menentukan informasi yang boleh diterimanya.
Padahal mereka baru saja membicarakan pentingnya berkata jelas.
Agus memandang ponsel.
Pesan Karina mengenai tugas masih terbuka.
Ia mulai memahami bahwa niat menenangkan tidak membuat tindakannya otomatis benar.
***
Bagas memperhatikan adiknya yang lebih diam.
"Ada apa?"
Agus menatapnya.
"Karina belum tahu Ica di sini."
Bagas berhenti.
"Belum sempat?"
Agus menggeleng pelan.
"Aku menunda. Dia sedang punya pembahasan tugas. Aku pikir lebih baik tidak menambah pikiran."
Kakaknya menatapnya cukup lama.
Agus ingin menambahkan bahwa dirinya berniat memberi tahu setelah keadaan lebih jelas.
Namun, kalimat itu kini terdengar seperti usaha membuat keputusan yang salah menjadi lebih enak didengar.
Bagas akhirnya berbicara.
"Kamu boleh memilih waktu bicara ketika kita sedang menangani keadaan mendesak. Tapi setelah ada kesempatan, jangan membuat alasan bahwa kamu lebih tahu berapa banyak kekhawatiran yang boleh dia punya."
Agus menunduk.
Kalimat itu tepat mengenai bagian yang selama ini berusaha dihindarinya.
Ia tidak hanya menunda kabar.
Ia sedang memilihkan kenyataan yang boleh diketahui Karina.
***
Malam itu, Agus mengirim pesan meminta waktu berbicara ketika Karina selesai kegiatan.
Gadis itu membalas bahwa dirinya dapat menelepon sebentar.
Ketika sambungan terhubung, ia langsung melihat wajah Agus yang lelah.
"Kamu di mana?"
"Rumah sakit."
Karina terdiam.
"Siapa yang sakit?"
"Ica."
Ia duduk lebih tegak.
Agus menjelaskan bahwa anak itu telah dibawa untuk diperiksa dan perlu tinggal sementara.
Ia menyampaikan informasi yang diketahui tanpa membesar-besarkan.
Karina mendengarkan dengan perhatian penuh.
Pertanyaan pertama mengenai keadaan Ica sekarang.
Pertanyaan kedua mengenai Bagas dan keluarga.
Baru setelah memperoleh jawaban, ia kembali kepada sesuatu yang sejak tadi mengganggu.
"Sejak kapan?"
Agus mengusap wajah.
"Kemarin."
Keheningan jatuh.
Karina menatap layar.
"Kemarin aku bertanya kabar rumah."
Agus mengangguk.
"Iya."
***
"Dan kamu mengatakan Ica sedang istirahat."
"Iya."
Karina tidak langsung meninggikan suara.
Justru ketenangannya membuat Agus lebih sulit mencari tempat bersembunyi.
"Aku pikir kamu sedang sibuk dengan tugas," katanya.
Gadis itu memejamkan mata sebentar.
"Jadi kamu memilih tidak memberitahuku?"
Agus mengangguk.
"Aku salah."
Karina membuka mata.
Ia ingin segera bertanya lebih banyak mengenai Ica.
Namun, perasaan lain sudah ikut muncul.
Marah.
Kecewa.
Dan sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kabar dari rumah sakit.
Perasaan bahwa kata-kata yang terdengar benar masih dapat menyembunyikan bagian penting.
"Aku tidak meminta kamu mengabari saat sedang mengurus keadaan mendesak," katanya. "Tapi kita bertukar pesan setelah itu."
"Aku tahu."
"Kenapa aku harus membayangkan rumah ketika kamu tahu dia tidak di rumah?"
Agus tidak memiliki jawaban yang dapat membenarkan.
Ia hanya dapat mengakui bahwa dirinya telah sengaja meninggalkan bagian tersebut.
***
Karina menarik napas.
Ia tidak ingin menjadikan malam itu pertengkaran panjang sementara Ica sedang dirawat.
Namun, ia juga tidak ingin menelan kecewa agar semua terlihat tenang.
"Tolong terus kabari keadaan Ica dengan jelas," katanya.
"Iya."
"Untuk soal kita, aku perlu berhenti bicara sebentar. Aku sedang marah dan tidak ingin mengatakan sesuatu hanya karena itu."
Agus mengangguk.
"Baik."
Karina menanyakan satu hal terakhir mengenai siapa yang menemani Bagas malam itu.
Setelah mendapat jawaban, ia mengucapkan semoga keadaan Ica terus membaik.
Panggilan berakhir.
Agus tetap memandangi layar gelap.
Ia pernah mengira perubahan terbesar adalah berhenti berbohong dengan kalimat yang salah.
Malam itu, ia melihat bahwa kebenaran juga dapat dirusak oleh bagian yang sengaja disimpan.
Di kamar yang jauh, Karina duduk tanpa membuka catatan.
Rindu yang selama ini terasa hangat mendadak bercampur dengan keraguan yang sangat dikenalnya.