Pada akhir minggu pertama, Karina mulai mengetahui jalan tanpa harus memeriksa petunjuk setiap beberapa langkah.
Keberhasilan itu tampak kecil.
Namun, baginya cukup layak dirayakan.
Ia mengirim pesan kepada Agus.
Hari ini tidak tersesat.
Balasannya datang beberapa jam kemudian.
Kemajuan yang sangat penting. Tolong pertahankan sampai pulang.
Karina tertawa ketika membacanya.
Kegiatan semakin padat.
Ada pengamatan, pembahasan kelompok, dan tugas yang perlu dikerjakan setelah sesi selesai.
Ia menikmati sebagian besar prosesnya.
Namun, tubuhnya juga mulai merasakan bahwa enam minggu pelatihan bukan perjalanan santai yang diselingi beberapa catatan.
Pada malam tertentu, ia kembali ke kamar hanya ingin mandi dan tidur.
Ponsel kadang baru diperiksa setelah lama.
Karina memberi tahu Agus mengenai perubahan ritme tersebut.
Laki-laki itu mengatakan mengerti.
Mereka belum mengetahui bahwa memahami jadwal dari cerita tetap berbeda dari menerima panggilan yang tidak dijawab.
***
Panggilan itu terlewat pada suatu sore bagi Agus.
Mereka telah sepakat mencoba berbicara jika kegiatan Karina selesai sesuai perkiraan.
Namun, diskusi kelompok berlangsung lebih panjang.
Karina tidak dapat meninggalkan begitu saja karena sedang menyelesaikan bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia baru melihat ponsel setelah keluar.
Ada panggilan dari Agus.
Pesan yang menanyakan apakah kegiatan masih berlangsung.
Karina langsung membalas bahwa dirinya baru selesai dan meminta maaf karena belum sempat memberi kabar.
Agus membaca ketika sedang bersiap untuk pekerjaan berikutnya.
Waktu luang mereka tidak lagi bertemu.
Tidak terjadi pertengkaran.
Namun, keduanya sama-sama kecewa.
Karina merasa tidak enak.
Agus merasa kehilangan kesempatan yang sudah ditunggu sejak pagi.
Mereka menyepakati waktu lain, lalu kembali menjalani urusan masing-masing.
Di atas layar, semuanya tampak rapi.
Di dalam kepala, perasaan membutuhkan waktu lebih lama untuk ikut tenang.
***
Malamnya, Agus hampir mengirim pertanyaan tambahan.
Dengan siapa diskusinya?
Mengapa sampai selama itu?
Apakah tidak sempat melihat ponsel sama sekali?
Ia memandangi kalimat yang belum dikirim.
Kemudian menghapusnya.
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak benar-benar dibutuhkan untuk memahami keadaan.
Ia sedang kecewa dan mencari bentuk untuk rasa tersebut.
Agus meletakkan ponsel.
Bagas yang duduk tidak jauh melihat gerakannya.
"Kesempatan bicara terlewat?"
Agus mengangguk.
"Kamu sudah tahu alasannya?"
"Sudah."
"Lalu?"
"Aku tetap kesal."
Bagas mengangguk seolah jawaban itu wajar.
"Kesal boleh. Tidak harus langsung dijadikan tuduhan."
Agus mendesah.
Kakaknya memang pandai menemukan bagian yang paling tidak ingin didengarnya.
Namun, ia tahu itu benar.
Karina sedang bekerja bersama peserta lain.
Bukan sengaja membuatnya menunggu agar merasa berkuasa.
Agus berdiri dan mengambil air.
Ia perlu memberi waktu kepada dirinya sendiri.
***
Pada panggilan berikutnya, Karina menanyakan apakah Agus masih kecewa.
Laki-laki itu tidak langsung menjawab tidak.
"Sedikit waktu itu. Aku sudah menunggu kesempatan."
Karina mengangguk.
"Aku juga ingin bicara. Diskusinya melewati perkiraan."
"Aku mengerti."
"Kita mungkin tidak selalu bisa membuat janji dengan jam yang terlalu pasti."
Agus memikirkan hal tersebut.
Mereka lalu membicarakan pilihan yang lebih masuk akal.
Ada waktu utama ketika keduanya berusaha tersedia.
Jika kegiatan berubah, mereka memberi kabar begitu memungkinkan.
Jika panggilan tidak jadi, tidak langsung dianggap sebagai tanda bahwa hubungan sedang memburuk.
Percakapan itu tidak romantis seperti adegan film.
Namun, setelah selesai, keduanya merasa lebih tenang.
Karina tersenyum.
"Ternyata pacaran jarak jauh banyak urusan jadwal."
Agus tertawa.
"Aku mulai merasa perlu rapat mingguan."
"Jangan. Aku sudah punya cukup rapat."
Tawa membuat persoalan tersebut kembali berukuran manusia.
***
Memasuki minggu kedua, Karina semakin sering bekerja bersama peserta lain.
Mereka memiliki pengalaman berbeda dan tidak selalu sepakat.
Pada satu tugas, ia sempat terlalu cepat ingin memakai cara yang biasa dilakukannya.
Seorang peserta mempertanyakan apakah cara itu sesuai dengan keadaan yang sedang dibahas.
Karina hampir merasa diserang.
Lalu ia membaca kembali persoalannya.
Ada bagian yang memang berbeda.
Ia menarik napas dan mengubah usulannya.
Percakapan berlanjut tanpa seseorang harus dinyatakan paling hebat.
Sore itu ia menulis cukup panjang di buku catatan.
Belajar ternyata juga berarti melihat kebiasaan sendiri dari jarak yang tidak selalu nyaman.
Karina tersenyum ketika menyadari bahwa kalimat tersebut dapat digunakan untuk pekerjaannya maupun hubungannya dengan Agus.
Ia tidak perlu mengirim semua pemikiran itu.
Sebagian cukup disimpan untuk dirinya sendiri terlebih dahulu.
***
Sebuah foto kelompok dikirim Karina kepada keluarga dan Agus setelah kegiatan yang memang diperbolehkan didokumentasikan.
Ia berdiri bersama beberapa peserta, tersenyum dengan rambut yang kembali tidak terlalu rapi.
Agus melihat foto tersebut setelah bekerja.
Pandangannya sempat berhenti pada seorang peserta laki-laki di dekat Karina.
Tidak ada sesuatu yang aneh.
Hanya orang-orang berdiri bersama.
Namun, pikiran lama bergerak lebih cepat daripada yang disukainya.
Siapa orang itu?
Seberapa dekat mereka?
Apakah Karina lebih sering tertawa bersamanya daripada saat menelepon?
Agus menutup mata sebentar.
Foto yang biasa.
Cerita yang mulai dibuat sendiri.
Ia mengenali jalurnya.
Pengenalan tersebut membuatnya malu, tetapi juga memberinya kesempatan berhenti.
Agus memperbesar foto untuk melihat tulisan kegiatan, kemudian mengembalikannya.
Ia membalas mengenai hal yang benar-benar dikirim Karina.
"Kamu terlihat senang. Tugas kelompoknya sudah selesai?"
***
Karina menjawab dengan cerita pendek mengenai pekerjaan hari itu.
Agus mendengarkan tanpa menyelipkan pemeriksaan terhadap orang-orang di foto.
Beberapa jam kemudian, ketika mereka sempat menelepon, ia mengaku sesuatu.
"Aku sempat cemburu melihat foto."
Karina terdiam.
Agus segera melanjutkan.
"Bukan karena kamu melakukan sesuatu. Aku cuma ingin jujur bahwa pikiranku sempat bergerak ke arah yang tidak baik."
Gadis itu memandang layar.
"Kamu ingin aku melakukan apa?"
"Tidak ada. Aku sedang mengurusnya."
Karina mengangguk perlahan.
Ia tidak ingin hidup dengan tugas meyakinkan seseorang setiap kali berdiri bersama rekan kerja.
Namun, pengakuan Agus kali ini tidak datang bersama tuntutan.
"Aku bisa bercerita tentang teman-teman di sini kalau memang sedang membicarakan kegiatanku," katanya. "Tapi aku tidak ingin harus menjelaskan semua orang sebagai pembelaan."
"Aku tahu."
Agus menatapnya.
"Aku tidak meminta foto lain atau bukti."
Karina mengangguk lagi.
Percakapan itu tidak sepenuhnya nyaman.
Namun, setidaknya mereka tidak berpura-pura perasaan sulit tidak pernah muncul.
***
Di Jakarta, kehidupan tetap berjalan.
Len semakin terbiasa mengatur waktu belajar dan bekerja.
Reina mengirim kabar klinik sesuai hal yang perlu diketahui Karina.
Pasien yang membuat gadis itu sempat ingin menunda keberangkatan terus ditangani sesuai kebutuhan.
Ada perkembangan yang baik.
Ada bagian yang tetap perlu diperhatikan.
Karina membaca kabar tersebut dengan rasa lega yang tidak lagi bercampur keinginan mengatur setiap langkah dari jauh.
Ia mengucapkan terima kasih dan menjawab pertanyaan yang memang memerlukan informasi darinya.
Setelah itu, ia membiarkan tim melanjutkan pekerjaan.
Bukan mudah.
Kadang tangannya tetap ingin mengetik saran tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Namun, ia mengingat percakapan dengan Reina.
Mereka juga dokter di sana.
Kepercayaan perlu terlihat dalam tindakan.
Karina meletakkan ponsel dan kembali kepada kegiatan di hadapannya.
***
Ica memiliki hari-hari yang tidak selalu sama.
Pada suatu sore, ia bersemangat menunjukkan kegiatan belajarnya melalui pesan suara.
Pada hari lain, ia hanya ingin beristirahat.
Bagas terus mengikuti pengaturan dan penilaian yang diperlukan.
Agus membantu sesuai jadwal.
Karina menerima kabar singkat tanpa menuntut foto atau cerita setiap hari.
Ia senang mengetahui anak itu masih membuka buku dan menyimpan gambar.
Dalam salah satu pesan, Ica menanyakan apakah Karina sudah pandai menggambar hewan yang besar.
Gadis itu membalas bahwa dirinya lebih pandai memeriksa daripada menggambar.
Agus kemudian mengirim pesan.
"Akhirnya ada hal yang tidak kamu kuasai."
Karina tertawa.
"Aku tidak pernah bilang bisa semuanya."
"Aku dulu sering begitu."
"Syukurlah sekarang mulai sadar."
Agus tersenyum ketika membaca.
Hubungan mereka tidak hanya berisi kerinduan.
Masih ada ruang untuk menertawakan diri sendiri.
***
Menjelang akhir minggu kedua, Karina duduk di dekat jendela sambil menulis.
Ia mulai mengetahui bahwa rindu memiliki banyak bentuk.
Kadang muncul ketika melihat sesuatu yang ingin langsung diceritakan.
Kadang ketika makanan terasa berbeda.
Kadang saat tubuh terlalu lelah dan ia ingin mendengar bi Murni mengeluh karena dirinya belum makan.
Ia merindukan Agus dengan cara yang juga berubah.
Bukan hanya ingin melihat wajahnya.
Ia merindukan percakapan yang membuat hari biasa terasa lebih ringan.
Namun, ia tidak ingin menjadikan rindu alasan untuk setengah hadir dalam kegiatan.
Karina menutup buku.
Esok ada tugas lain.
Di Jakarta, Agus juga memiliki pagi yang harus dijalani.
Mereka tidak sedang berhenti hidup sambil menunggu enam minggu selesai.
Mereka sedang mencoba membawa hubungan itu berjalan bersama kehidupan yang berbeda.
Dan meskipun tidak selalu mulus, sampai malam itu keduanya masih memilih mencoba.