Hal pertama yang dicari Karina setelah tiba bukan pemandangan.
Ia mencari tempat untuk duduk.
Perjalanan panjang membuat tubuhnya terasa seperti telah dilipat bersama pakaian di dalam koper. Bahunya pegal, matanya panas, dan rambut yang semula diikat rapi sudah menyerah sejak beberapa jam sebelumnya.
Karina mengikuti pengaturan kedatangan yang telah diterima.
Dokumen diperiksa.
Barang ditemukan.
Petunjuk menuju tempat tujuan dibaca sekali lagi sebelum ia bergerak.
Ia tidak ingin memulai enam minggu pelatihan dengan tersesat karena terlalu percaya diri.
Setelah memperoleh kesempatan duduk sebentar, Karina mengirim pesan.
Sudah tiba. Masih menyelesaikan perjalanan ke tempat tinggal. Nanti kabari lagi.
Pesan yang sama dikirim kepada keluarga, bi Murni, dan Agus.
Ia tidak langsung menelepon.
Suaranya mungkin akan terdengar seperti orang yang baru bangun setelah bertengkar dengan bantal.
Karina menyimpan ponsel, merapikan tas, lalu kembali berdiri.
Ia sudah sampai.
Sekarang tubuhnya perlu diberi waktu untuk menyusul.
***
Tempat tinggal sementara itu lebih sederhana daripada yang dibayangkan bi Murni melalui berbagai pertanyaannya.
Namun, Karina sudah mengetahui pengaturannya sejak sebelum berangkat.
Ada tempat tidur.
Meja.
Lemari.
Dan jendela yang memperlihatkan cahaya berbeda dari kamar di rumah.
Ia meletakkan koper, memeriksa keperluan dasar, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Sunyi.
Tidak ada bi Murni yang memanggil makan.
Tidak ada suara Ditya mencari makanan yang telah disembunyikan.
Tidak ada Len mengirim pertanyaan mengenai letak barang di klinik.
Karina menatap koper beberapa saat.
Rasa sedih datang tanpa permisi, justru ketika semua urusan berjalan lancar.
Ia baru benar-benar berada jauh.
Namun, sebelum perasaan itu membesar, perutnya berbunyi.
Karina tertawa kecil.
Bi Murni pasti akan senang mengetahui bahwa tubuhnya masih memiliki cara sendiri untuk mengingatkan hal penting.
Ia mengambil makanan yang dapat diperoleh sesuai pengaturan tempat, lalu mengirim kabar bahwa dirinya sudah sampai dengan baik.
***
Balasan datang pada waktu yang berbeda.
Mama mengirim pertanyaan mengenai kamar.
Papa mengingatkan agar Karina beristirahat sebelum membaca seluruh bahan kegiatan.
Ditya meminta foto koper untuk memastikan masih dapat dibuka tanpa meledak.
Bi Murni hanya menanyakan makan.
Karina memotret makanannya.
Lalu kamar.
Kemudian mengirim keduanya sambil tersenyum.
Agus membalas setelah beberapa waktu.
Syukurlah sudah sampai. Istirahat dulu. Tidak perlu memaksakan telepon.
Karina membaca kalimat itu lebih lama daripada yang diperlukan.
Ia memang rindu.
Namun, matanya hampir tidak sanggup melihat layar.
Ia membalas singkat.
Aku sangat mengantuk. Besok kalau waktunya cocok, kita bicara.
Agus menyetujui.
Tidak ada pertanyaan mengapa dirinya tidak menelepon dari perjalanan.
Tidak ada nada kecewa yang harus ditenangkan.
Karina meletakkan ponsel.
Untuk malam pertama, rasa sayang terasa seperti izin beristirahat tanpa merasa bersalah.
***
Pagi berikutnya datang dengan tubuh yang belum sepenuhnya memahami waktu.
Karina terbangun, memandang langit di luar, lalu memeriksa jam dua kali.
Ia hampir mengirim pesan kepada Agus sebelum ingat bahwa waktu mereka berbeda.
Gadis itu duduk dan tertawa kepada dirinya sendiri.
Ternyata mengetahui perbedaan waktu di atas kertas tidak sama dengan mengalaminya.
Ia membuka jadwal kegiatan.
Hari pertama diisi pengenalan tempat, penjelasan program, dan kesempatan mengenal peserta lain.
Karina menyiapkan diri dengan lebih lambat daripada kebiasaannya di rumah.
Ada bagian yang terasa akrab.
Ada bagian yang membuatnya merasa kembali menjadi murid baru.
Ia merapikan rambut di depan cermin.
Kemudian berhenti.
Tidak perlu terlihat seolah sudah memahami semuanya.
Ia datang untuk belajar.
Kalimat itu diulang dalam hati sebelum keluar.
Di lorong, beberapa peserta lain juga tampak sedang mencari arah.
Karina merasa sedikit lebih tenang.
Rupanya bukan hanya dirinya yang membawa wajah penuh pertanyaan.
***
Pengenalan berlangsung lebih padat daripada perkiraan.
Ada jadwal yang harus dipahami.
Aturan tempat kerja.
Pembagian kegiatan.
Penjelasan mengenai apa yang dapat diamati, dilakukan, dan didokumentasikan sesuai izin.
Karina mencatat dengan teliti.
Ia tidak ingin terlalu sibuk membayangkan pengalaman menarik sampai melupakan tanggung jawab sebagai peserta.
Ketika diminta memperkenalkan diri, ia sempat gugup.
Namun, setelah menyebut pekerjaan dan kegiatan yang biasa dilakukan, beberapa orang mengajukan pertanyaan dengan minat yang membuat percakapan lebih mudah.
Tidak semua orang mengetahui Indonesia dengan cara yang sama.
Karina menjelaskan secukupnya tanpa merasa harus menjadi wakil seluruh negeri dalam satu jawaban.
Saat waktu istirahat, ia duduk bersama beberapa peserta.
Percakapan berpindah dari pekerjaan kepada perjalanan dan makanan.
Seseorang mengeluh belum dapat menyesuaikan tidur.
Karina langsung tertawa.
Akhirnya ada topik yang benar-benar dikuasainya hari itu.
***
Kegiatan berikutnya membuat Karina menyadari bahwa pengalaman kerjanya berguna, tetapi tidak membuatnya otomatis memahami semua hal.
Ada pendekatan yang berbeda.
Ada istilah yang perlu ditanyakan.
Ada alasan di balik pengaturan yang tidak langsung terlihat dari luar.
Pada suatu penjelasan, ia kehilangan satu bagian karena terlalu sibuk mencatat kalimat sebelumnya.
Karina hampir membiarkannya.
Lalu teringat Len yang pernah mengatakan lebih capek pura-pura mengerti.
Ia mengangkat tangan dan meminta penjelasan diulang.
Tidak terjadi sesuatu yang memalukan.
Pertanyaan dijawab.
Peserta lain ikut menambahkan pertanyaan.
Karina menulis dengan lebih tenang.
Ia sudah jauh-jauh datang.
Tidak ada gunanya membayar perjalanan dengan enam minggu berpura-pura paham.
Sore itu, ketika kembali ke kamar, buku catatannya telah terisi beberapa halaman.
Sebagian rapi.
Sebagian penuh panah.
Semuanya membuatnya senang.
***
Agus menjalani hari pertama Karina di luar negeri dengan lebih banyak memeriksa jam daripada biasanya.
Ia beberapa kali hampir mengirim pesan ketika teringat sesuatu yang lucu.
Lalu berhenti untuk memperkirakan apakah gadis itu sedang tidur atau mengikuti kegiatan.
Pada akhirnya, ia menulis pesan tanpa menuntut jawaban segera.
Hari ini Rambo kembali lebih terkenal daripada aku. Ayah bertanya apakah kamu sudah melihat kambing di sana.
Karina membaca ketika memiliki waktu istirahat.
Ia tertawa sendirian.
Belum. Tolong sampaikan kepada Pak Andre bahwa program ini tidak dibuat khusus untuk membandingkan kambing.
Agus mengirim tawa.
Percakapan hanya berlangsung beberapa pesan.
Namun, cukup membuat keduanya merasa hari masing-masing memiliki celah kecil untuk yang lain.
Agus menyimpan ponsel dan kembali bekerja.
Karina kembali kepada catatan.
Jarak tidak langsung terasa mudah.
Tetapi mereka mulai menemukan cara untuk tidak mengubahnya menjadi tuntutan yang terus berbunyi.
***
Panggilan video pertama berhasil dilakukan pada waktu yang sesuai dua hari setelah kedatangan.
Karina duduk di dekat meja dengan wajah lelah, tetapi matanya cerah.
Agus tersenyum ketika layar memperlihatkannya.
"Halo."
Karina tertawa.
"Halo juga."
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Aneh sekali melihat wajah yang biasanya dapat disentuh kini berada di balik layar.
Agus akhirnya bertanya bagaimana kegiatan dimulai.
Karina langsung bercerita.
Tentang jadwal.
Tentang catatan yang terlalu banyak.
Tentang dirinya yang sempat mengikuti arah orang lain lalu menyadari mereka menuju tempat berbeda.
Agus tertawa.
"Kamu dan lorong ternyata masih belum berdamai."
"Ini bukan rumah sakit."
"Berarti masalahnya memang bukan gedung."
Karina menunjuk layar.
"Jangan membuatku menutup telepon."
Laki-laki itu mengangkat tangan sambil tersenyum.
Tawa mereka membuat jarak terasa sedikit kurang resmi.
***
Agus menceritakan rumah.
Ica sedang menjalani hari-harinya dengan kegiatan pendek yang tetap disesuaikan.
Bagas kembali mengurus sebagian pekerjaan.
Andre masih memiliki komentar mengenai makanan dan kambing.
Tidak ada kabar besar.
Karina justru senang mendengarnya.
Rumah tidak harus mengalami peristiwa dramatis setiap kali dirinya pergi.
Ia kemudian menanyakan klinik, tetapi Agus menggeleng sambil tertawa.
"Bagian itu kamu harus bertanya kepada Reina atau Len. Aku tidak mengawasi tempat kerjamu."
Karina tersenyum.
"Bagus."
Ia sudah menerima kabar pekerjaan melalui jalur yang disepakati.
Mendengar Agus tidak mencoba menjadi pusat seluruh informasi membuatnya lebih tenang.
Menjelang akhir panggilan, gadis itu menguap.
Agus langsung menyadari.
"Tidur."
"Sebentar lagi."
"Kalimat itu biasanya berbahaya."
Karina tertawa.
Ia ingin terus berbicara.
Namun, esok ada kegiatan lagi.
Mereka berpamitan tanpa membuat perpisahan kecil itu menjadi kesedihan baru.
***
Sebelum tidur, Karina membuka buku pemberian Agus.
Ia menulis beberapa hal yang ingin diingat.
Pertanyaan yang diajukan.
Satu kesalahan arah.
Nama-nama yang masih perlu dihafal.
Dan perasaan lega setelah berani mengatakan belum memahami sesuatu.
Di halaman berikutnya, ia menempelkan catatan kecil mengenai hal yang ingin dibawa pulang untuk dibicarakan bersama tim klinik.
Bukan rencana besar yang langsung mengubah semuanya.
Hanya kemungkinan perbaikan yang layak dipelajari.
Karina menutup buku.
Di dekatnya, gambar Ica diletakkan di tempat yang aman.
Dua rumah.
Sebuah pesawat.
Garis panjang di antaranya.
Gadis itu tersenyum.
Jarak yang digambar anak itu ternyata tidak sepenuhnya salah.
Memang ada garis panjang yang harus mereka jalani.
Namun, sekarang Karina mengetahui bahwa di kedua ujungnya masih ada kehidupan yang terus bergerak.
Dan dirinya boleh hadir dengan sungguh-sungguh di tempat ia sedang berada.