Karina memeriksa dokumen untuk terakhir kali ketika suara kendaraan terdengar di depan rumah.
Agus datang sesuai waktu yang disepakati.
Tidak terlalu awal sampai membuat semua orang merasa harus berlari.
Tidak terlambat sehingga keberangkatan dimulai dengan kecemasan.
Bi Murni membuka pintu.
Laki-laki itu memberi salam, kemudian membantu membawa barang setelah Karina memastikan mana yang perlu diletakkan di bagian berbeda.
Tidak ada percakapan panjang.
Pagi masih terasa setengah mengantuk, meskipun Karina yakin dirinya sudah terjaga sejak jauh sebelum alarm.
Bi Murni berdiri dekat koper dengan wajah yang berusaha biasa.
"Semua sudah?"
Karina mengangguk.
"Sudah, Bi."
"Ponsel?"
"Ada."
"Dokumen?"
"Ada."
"Uang?"
Karina tersenyum.
"Ada."
Perempuan itu menarik napas.
Daftar pertanyaan telah habis.
Bagian yang tersisa tidak dapat diperiksa dengan membuka tas.
Karina mendekat dan memeluknya.
***
Bi Murni membalas pelukan dengan erat.
Beberapa detik pertama, tidak ada yang bicara.
Lalu perempuan itu mengusap punggung Karina.
"Kalau capek, istirahat. Jangan merasa harus menunjukkan kuat setiap saat."
Karina mengangguk di bahunya.
"Iya."
"Kalau ada apa-apa, bilang."
"Iya, Bi."
"Kalau makanan tidak cocok—"
"Bibi, jangan kirim satu dapur."
Bi Murni tertawa sambil mengusap mata.
Karina ikut tertawa meskipun air matanya mulai jatuh.
Agus menunggu beberapa langkah dari mereka.
Ia tidak mempercepat perpisahan hanya karena mengetahui waktu.
Masih ada ruang.
Len tidak datang ke rumah karena telah berpamitan pada hari sebelumnya sebelum kegiatan belajarnya. Ia mengirim pesan pagi itu, mengingatkan Karina agar tidak lupa bahwa sekarang dirinya juga mempunyai tugas.
Karina membaca sekilas dan tersenyum.
Rumah serta klinik melepasnya dengan cara masing-masing.
***
Perjalanan menuju bandara berlangsung lebih tenang daripada dugaan Karina.
Agus mengemudi sambil sesekali bertanya apakah suhu di kendaraan sudah nyaman.
Karina memandang jalan yang perlahan menjadi lebih ramai.
Tempat-tempat yang biasa dilewati terlihat sedikit berbeda ketika diketahui akan ditinggalkan untuk sementara.
Ia tidak ingin membuat setiap bangunan menjadi kenangan besar.
Namun, pikirannya tetap menandai.
Jalan pulang.
Tempat membeli makan.
Belokan menuju klinik.
Agus membiarkannya diam.
Beberapa waktu kemudian, Karina berkata.
"Aku baru benar-benar merasa akan pergi."
Laki-laki itu mengangguk.
"Karena kopernya sudah tidak bisa dibuka untuk menambah barang?"
Karina tertawa.
"Itu juga."
Agus tersenyum.
Ia senang dapat membuat gadis itu tertawa tanpa mengubah percakapan menjadi cara menutupi rasa sedih.
Karina kemudian bertanya apakah dirinya sudah sarapan.
Agus mengangguk.
"Bi Murni memeriksa sebelum aku membawa koper."
Tentu saja.
***
Di bandara, urusan keberangkatan mengambil sebagian perhatian.
Karina mengikuti pengaturan yang sudah dipersiapkan.
Agus membantu membawa barang, lalu mundur ketika bagian yang harus dikerjakan sendiri tiba.
Ia tidak merebut dokumen dari tangan Karina seolah gadis itu tidak dapat mengurusnya.
Sesekali ia bertanya apakah ada yang perlu dibantu.
Jawaban tidak selalu iya.
Ia menerimanya.
Setelah proses awal selesai dan masih ada waktu, mereka duduk sebentar.
Karina meletakkan tas di dekat kaki.
Agus membeli air setelah memastikan dirinya menginginkannya.
Perhatian kecil yang kini terasa akrab.
Mereka duduk berdampingan.
Tidak berhadapan seperti pertemuan kopi pertama.
Karina memperhatikan perubahan itu dalam diam.
Hubungan mereka belum lama.
Namun, ada beberapa gerakan yang mulai terasa seperti bagian dari hari.
Membaginya dengan jarak akan membutuhkan penyesuaian.
Ia mengetahui itu.
***
Agus melihat Karina memandang layar informasi.
"Masih cukup waktu."
Gadis itu mengangguk.
"Aku tahu."
"Takut terlambat?"
"Takut waktu terlalu cepat."
Agus menatapnya.
Karina tersenyum sedikit.
"Padahal beberapa minggu lalu aku ingin persiapannya segera selesai."
"Aku juga sering begitu."
Mereka diam sebentar.
Kemudian Karina membuka tas dan memperlihatkan ujung buku catatan.
"Dibawa."
Agus tersenyum.
"Bagus."
"Gambar Ica juga."
"Nanti dia senang kalau tahu."
"Aku akan kabari lewat Bagas."
Laki-laki itu mengangguk.
Tidak ada pertanyaan apakah dirinya akan memperoleh pesan pertama atau lebih banyak daripada orang lain.
Karina memiliki banyak hubungan yang tetap perlu dijaga.
Agus tidak sedang bersaing dengan keluarga, pekerjaan, atau seorang anak kecil.
Ia hanya ingin memiliki tempat yang mereka pilih bersama.
***
Ponsel Karina menerima panggilan dari orang tuanya.
Mereka sudah menyesuaikan waktu agar dapat menyapa sebelum keberangkatan.
Karina menjawab sebentar.
Papa menanyakan apakah semua urusan berjalan lancar.
Mama mengingatkan makan dan istirahat.
Ditya muncul hanya untuk mengatakan bahwa dirinya berharap koper Karina lebih masuk akal daripada koper saat ia berangkat.
Karina langsung memprotes.
Agus mendengar dari samping dan menahan tawa.
Mama kemudian menyapa laki-laki itu, mengucapkan terima kasih karena membantu mengantar.
Agus membalas dengan sopan.
Percakapan tidak lama.
Mereka mengetahui Karina masih harus melanjutkan proses keberangkatan.
Setelah panggilan ditutup, gadis itu mengembuskan napas.
"Semua orang sudah memeriksa."
"Belum aku," kata Agus.
Karina menoleh.
Laki-laki itu tersenyum.
"Kamu siap?"
Gadis itu memikirkan jawabannya.
"Siap sambil gugup."
Agus mengangguk.
Jawaban tersebut terdengar paling masuk akal.
***
Mereka membicarakan kabar pertama setelah tiba.
Karina akan mengirim pesan ketika sudah memiliki kesempatan dan keadaan memungkinkan.
Tidak ada janji harus menelepon dari setiap tahap perjalanan.
Agus mengatakan dirinya akan tetap menjalani pekerjaan dan memberi kabar sesuai waktu.
Jika ada urusan penting, mereka menyampaikannya dengan jelas.
Percakapan praktis itu membantu.
Bukan karena hubungan dapat dijamin melalui jadwal.
Namun, karena ketidakpastian tidak perlu ditambah dengan harapan yang tidak pernah diucapkan.
Karina menyentuh tangan Agus.
"Aku mungkin akan sangat lelah saat sampai."
"Aku tahu."
"Jangan menganggap pesan pendek berarti aku berubah pikiran di pesawat."
Agus tertawa kecil.
"Aku akan mencoba tidak membuat cerita sendiri."
Gadis itu memandangnya dengan lebih serius.
"Itu penting."
Agus mengangguk.
"Iya."
Ia mengetahui betapa jauh kalimat tersebut membawa mereka kembali ke awal.
Ke masa ketika dirinya benar-benar datang dengan cerita yang dibuat sendiri.
***
Ketika waktu untuk bergerak tiba, keduanya berdiri.
Agus mengambil tas kecil yang sempat dibantunya membawa, lalu menyerahkannya kepada Karina.
Gerakan itu sederhana.
Namun, membuat perpisahan terasa lebih dekat daripada pengumuman apa pun.
Mereka berjalan sampai bagian tempat pengantar harus berhenti.
Karina memandang arah yang akan dilaluinya.
Kemudian kembali kepada Agus.
Laki-laki itu berusaha tersenyum.
Tidak sepenuhnya berhasil.
Karina mendekat dan memeluknya.
Agus membalas.
Kali ini sedikit lebih lama daripada pelukan di rumah.
Tidak ada kalimat yang dapat membuat enam minggu menghilang.
Mereka tidak mencoba.
Karina hanya memejamkan mata beberapa detik, merasakan kehangatan yang akan dirindukannya.
Lalu ia bergerak mundur secukupnya untuk melihat wajah Agus.
"Aku pergi dulu."
Agus mengangguk.
"Belajar yang baik."
"Jangan seperti Papa."
Laki-laki itu tertawa pelan.
***
Karina masih memegang lengannya ketika Agus menatap wajahnya.
Ada jeda kecil.
Bukan keraguan tentang apakah mereka saling menginginkan kedekatan.
Lebih seperti dua orang yang ingin memastikan momen itu benar-benar milik keduanya.
Karina mendekat lebih dahulu.
Agus menyambutnya.
Ciuman itu singkat dan lembut.
Tidak menghapus rasa sedih.
Tidak menjadikan bandara tempat mereka harus melupakan seluruh orang lain.
Hanya sesuatu yang akhirnya terjadi setelah banyak percakapan, kesalahan, dan langkah kecil.
Ketika mereka menjauh, pipi Karina terasa panas.
Agus tersenyum dengan wajah yang sama sekali tidak pandai menyembunyikan kebahagiaan.
Gadis itu menatapnya sambil menahan senyum.
"Jangan terlihat seperti baru menang lomba."
"Aku sedang berusaha."
"Kurang berhasil."
Mereka tertawa pelan.
Untuk beberapa detik, perpisahan tidak terasa seberat sebelumnya.
***
Karina membetulkan tas dan melangkah mundur.
Agus tetap di tempat.
Gadis itu menunjuk dengan ekspresi serius yang terlalu dibuat-buat.
"Jangan mengikuti pesawat."
Agus menutup mata sambil tertawa.
"Kalimat itu akan mengikuti aku seumur hidup, ya?"
"Mungkin."
Ia mengangguk, masih tersenyum.
"Baik. Aku tunggu kabarmu."
Karina memandangnya.
Ada perbedaan besar antara diikuti dan ditunggu.
Dahulu kehadiran laki-laki itu pernah membuatnya ingin menunjuk pintu.
Sekarang ia dapat berjalan melewati pintu dengan mengetahui bahwa seseorang tetap menyayanginya tanpa harus ikut menentukan arah.
Karina mengangkat tangan.
Agus membalas.
Kemudian gadis itu berbalik dan melanjutkan langkah.
Ia tidak menoleh setiap beberapa detik.
Namun, sekali ketika masih memungkinkan, ia melihat ke belakang.
Agus masih berada di sana.
Tidak bergerak mengejar.
Hanya tersenyum dan melambaikan tangan.
***
Setelah Karina tidak terlihat lagi, Agus berdiri beberapa saat sebelum akhirnya berbalik.
Tangannya terasa kosong.
Perasaan itu lebih nyata daripada yang dibayangkannya selama persiapan.
Ia berjalan menuju tempat keluar, lalu mengirim kabar kepada bi Murni bahwa Karina sudah melanjutkan proses keberangkatan dengan lancar.
Setelah itu kepada Bagas.
Tidak ada pesan tambahan kepada Karina.
Gadis itu sedang menjalani bagiannya.
Agus masih memiliki hari yang harus diteruskan.
Di sisi lain, Karina duduk menunggu panggilan berikutnya sambil memegang buku catatan.
Ia membuka halaman baru.
Menulis tanggal.
Lalu satu kalimat.
Hari ini aku berangkat, dan tidak merasa harus meninggalkan diriku sendiri.
Karina menutup buku.
Ketika waktunya tiba, ia berdiri bersama penumpang lain dan melangkah menuju perjalanan yang selama ini hanya dibaca dari layar.
Di dalam tasnya ada dokumen, pakaian, gambar Ica, dan buku dari Agus.
Di dalam dirinya ada rasa takut.
Ada rindu yang bahkan sudah dimulai.
Namun, ada juga kegembiraan yang tidak lagi ingin diperkecil.
Karina terus berjalan.