Tiga hari sebelum keberangkatan, Karina berhenti menerima tambahan pekerjaan yang tidak mendesak di luar jadwal yang sudah disepakati.
Keputusan itu terasa lebih sulit daripada yang dibayangkannya.
Namun, setelah seluruh pengaturan dibicarakan bersama, ia tidak ingin merusaknya sendiri karena tidak enak menolak.
Ia menyelesaikan catatan.
Memastikan keperluan yang harus diketahui Reina sudah tertulis.
Memeriksa pembagian dengan staf.
Len beberapa kali membantu menemukan benda yang dimasukkan Karina ke tempat yang salah karena pikirannya terlalu penuh.
"Dok, ini bukan untuk koper."
Karina menatap barang di tangannya.
"Benar."
Len tersenyum.
Gadis itu tertawa malu.
Persiapan membuatnya sedikit lebih ceroboh pada hal sederhana.
Karena itu ia memeriksa lagi.
Tidak dengan panik.
Hanya cukup teliti agar keberangkatan tidak meninggalkan kekacauan yang dapat dicegah.
Ketika daftar hari itu selesai, Karina memberi tanda terakhir dan mengembuskan napas.
Satu beban kecil berkurang.
***
Di rumah, bi Murni akhirnya menerima bahwa sebagian makanan tidak akan ikut berangkat.
Mereka memeriksa bersama apa yang sesuai dengan pengaturan perjalanan dan kebutuhan Karina.
Bungkusan yang tidak dibawa dipisahkan.
Sebagian dimakan malam itu.
Sebagian disimpan.
Bi Murni tetap tampak sedikit kecewa.
Karina memeluknya dari belakang.
"Nanti aku pulang makan masakan Bibi lagi."
"Harus."
"Iya."
"Jangan pulang lalu bilang lebih suka makanan sana."
Karina tertawa.
"Kalau memang ada yang enak?"
Bi Murni menoleh dengan wajah tersinggung.
Gadis itu langsung menggeleng.
"Aku tetap suka masakan Bibi."
Perempuan tersebut kembali menata barang dengan lebih tenang.
Mereka juga memeriksa kebutuhan rumah.
Nomor yang dapat dihubungi.
Pembayaran yang sudah diatur.
Hal-hal yang perlu dibicarakan sebelum Karina pergi.
Tidak semuanya selesai melalui pelukan.
Sebagian kasih sayang memang berbentuk catatan yang jelas.
***
Agus menemui Jo setelah menyelesaikan pekerjaan.
Mereka berbicara sebentar mengenai Ica, lalu duduk ketika memiliki waktu.
Jo menanyakan kapan Karina berangkat.
"Lusa setelah besok," jawab Agus.
Jo mengangguk.
"Kamu terlihat sedang menghitung."
"Memang."
Agus tersenyum lelah.
Ia mengakui bahwa dirinya mulai merasa aneh setiap kali memikirkan kebiasaan yang baru terbentuk akan berubah.
Makan singkat.
Panggilan setelah bekerja.
Kesempatan bertemu ketika jadwal cocok.
Jo mendengarkan.
"Perubahan tidak selalu berarti sesuatu diambil," katanya.
Agus memandangnya.
Laki-laki itu melihat cincin di jarinya sendiri sebentar.
"Ada hal yang dulu kupikir masih punya banyak waktu. Sekarang aku lebih suka mengatakan yang penting ketika ada kesempatan, tanpa membuat orang lain harus menanggung semua ketakutanku."
Agus terdiam.
Ia tidak menanyakan rincian yang belum ditawarkan.
Namun, kalimat tersebut tinggal lama di kepalanya.
***
Jo tersenyum tipis setelah melihat wajah sahabatnya.
"Jangan sekarang membuat pidato panjang setiap kali menelepon Karina."
Agus tertawa.
"Aku belum punya naskah."
"Bagus."
Mereka membicarakan pekerjaan lagi setelahnya.
Agus tidak mencoba menghibur Jo dengan mengatakan bahwa suatu hari pasti akan ada pengganti.
Ia sudah mulai memahami betapa tidak sederhananya kehilangan.
Kadang yang dapat dilakukan hanya menemani percakapan tanpa buru-buru menutup bagian sedih.
Sebelum berpisah, Agus mengucapkan terima kasih.
Jo mengangkat alis.
"Untuk nasihat?"
"Untuk banyak hal."
Laki-laki itu mengangguk.
Tidak ada pelukan dramatis.
Namun, ketika Agus berjalan pergi, ia merasa ingin menemui Karina dengan pikiran yang sedikit lebih tenang.
Ia tidak dapat menghentikan waktu.
Tetapi masih dapat menggunakan waktu yang ada tanpa mengubahnya menjadi hitungan mundur yang menakutkan.
***
Karina berpamitan kepada Ica pada sore sebelum hari keberangkatan.
Kunjungan sudah dibicarakan dengan Bagas dan tidak dibuat terlalu ramai.
Anak itu menunggu dengan sebuah map kecil.
Ketika Karina duduk, Ica langsung menyerahkannya.
"Untuk bu dokter."
Karina membuka.
Ada gambar dirinya, beberapa hewan, dan dua tempat yang dipisahkan garis panjang.
"Ini apa?"
"Rumah. Sama tempat bu dokter belajar."
Karina memandangi gambar tersebut.
Di tengah garis ada bentuk yang mungkin pesawat.
Sayapnya tidak sama panjang.
Agus yang duduk di dekat mereka langsung berkata.
"Yang itu bukan gambarku."
Ica menoleh.
"Itu Ica."
Agus mengangguk cepat.
"Bagus sekali."
Karina tertawa dengan mata mulai panas.
Ia tidak mengoreksi bentuk apa pun.
Gambar itu akan memiliki tempat dalam tasnya.
Bukan karena rapi.
Karena seorang anak telah mencoba membuat jarak menjadi sesuatu yang dapat dilihat.
***
"Bu dokter pulang lagi?" tanya Ica.
Karina mengangguk.
"Iya. Setelah kegiatannya selesai."
"Bukunya dibawa?"
"Buku catatan saya dibawa. Buku hewan Ica tetap di sini."
Anak itu tampak puas.
Ia kemudian menanyakan apakah Karina dapat mengirim cerita tentang hewan yang ditemuinya.
"Kalau ada yang boleh diceritakan dan waktunya cocok, saya kirim lewat Papa."
Ica mengangguk.
Karina tidak menjanjikan gambar setiap hari.
Tidak ingin membuat anak itu menunggu sesuatu yang mungkin tidak dapat dipenuhi.
Mereka berbicara sebentar, lalu Karina berpamitan ketika Ica mulai lelah.
Bagas mengucapkan terima kasih atas perhatian yang terus diberikan kepada putrinya.
Karina menggeleng pelan.
"Saya senang mengenalnya."
Jawaban itu membuat Bagas tersenyum.
Kadang kasih sayang tidak perlu dijelaskan sebagai jasa.
Ia cukup hadir sebagai sesuatu yang memang ingin diberikan.
***
Andre menunggu di ruang depan dengan satu bungkusan.
Karina langsung memandang Agus.
Laki-laki itu mengangkat kedua tangan.
"Aku belum tahu isinya."
Andre mendengus.
"Ini bukan kambing."
Karina tertawa.
Ternyata isinya hanya makanan kecil untuk dinikmati sebelum berangkat dan sebuah pesan agar ia menjaga diri.
Tidak ada cincin.
Tidak ada rencana keluarga yang diselipkan di antara bungkusan.
Karina menerimanya dengan ucapan terima kasih.
Andre memandangnya lebih lembut.
"Belajar yang baik. Pulang bawa cerita."
Gadis itu mengangguk.
"Iya, Pak."
"Kalau Agus menyebalkan, bilang."
Agus menutup mata.
"Ayah."
Andre tersenyum.
"Kami berhak tahu perkembangan pasien sulit."
Karina tertawa sampai harus menunduk.
Untuk pertama kalinya, candaan mengenai dirinya dan Agus tidak terasa seperti tekanan menuju sesuatu yang belum dipilih.
Hanya penerimaan yang disampaikan dengan cara keluarga itu sendiri.
***
Setelah keluar, Agus dan Karina berjalan sebentar di halaman.
Waktu tidak panjang karena gadis itu masih perlu pulang menyelesaikan persiapan.
Agus menanyakan apakah semua barang sudah siap.
"Hampir."
"Dokumen?"
"Sudah."
"Keperluan rumah?"
"Sudah dibicarakan."
Ia mengangguk.
Karina memandangnya sambil tersenyum.
"Kamu sedang memeriksa daftar atau menghindari mengatakan sedih?"
Agus tertawa pelan.
"Keduanya mungkin."
Gadis itu berhenti.
Laki-laki tersebut menatapnya.
"Aku akan merindukanmu," katanya.
Karina mengangguk.
"Aku juga."
Tidak ada usaha membuat kalimat tersebut lebih besar.
Mereka berpelukan sebentar.
Karina merasakan bahu Agus yang hangat dan napasnya yang perlahan lebih tenang.
Pelukan itu tidak menahan.
Ketika ia bergerak mundur, Agus melepaskannya.
Masih ada malam terakhir untuk tidur dan hari keberangkatan yang harus dijalani.
Mereka tidak perlu menghabiskan seluruh tenaga untuk bersedih sebelum waktunya tiba.
***
Di rumah, Karina memasukkan gambar Ica ke tempat yang aman di dalam tas.
Buku catatan Agus berada tidak jauh darinya.
Ada pesan kecil dari bi Murni yang diselipkan tanpa pemberitahuan.
Dan daftar yang dikirim Ditya dengan beberapa komentar menyebalkan di bagian bawah.
Koper itu mulai terasa penuh oleh hal-hal yang tidak tercatat dalam berat barang.
Perhatian.
Kekhawatiran.
Kepercayaan.
Karina duduk di lantai sebentar.
Ia sedang pergi karena ingin belajar.
Namun, ia tidak pergi sebagai orang yang tidak memiliki tempat kembali.
Ponselnya berbunyi.
Pesan Agus.
"Aku jemput sesuai waktu yang kita sepakati. Tidur dulu kalau persiapan sudah selesai."
Karina membalas singkat.
Tidak ada percakapan panjang malam itu.
Mereka sama-sama memilih menjaga tenaga.
Besok, rasa sayang juga akan membutuhkan pekerjaan yang sangat biasa.
Datang tepat waktu.
Membawa tas.
Dan tidak membuat orang yang akan berangkat semakin panik.