Semakin dekat keberangkatan, semakin banyak orang ingin memastikan Karina masih sempat memeriksa pasien mereka.
Sebagian hanya membutuhkan penyesuaian jadwal.
Sebagian lain merasa lebih tenang jika bertemu dokter yang sudah dikenal.
Karina memahami itu.
Namun, ia tidak dapat menjejalkan seluruh pekerjaan ke hari-hari terakhir seolah dirinya tidak memerlukan tidur.
Reina membantu memeriksa jadwal.
Beberapa permintaan dialihkan dengan penjelasan yang jelas.
Tidak semua orang langsung senang.
Ada yang bertanya apakah benar dokter lain mengetahui keadaan hewannya.
Karina menjawab tanpa merasa tersinggung.
Catatan tersedia.
Tim bekerja bersama.
Keberangkatannya bukan berarti pasien dibiarkan tanpa perhatian.
Meskipun begitu, setiap pertanyaan tersebut membuatnya sedikit ragu.
Apakah waktunya tepat?
Apakah ia seharusnya menunda?
Pikiran itu semakin kuat ketika seorang pasien lama datang dengan keadaan yang memerlukan penilaian lebih lanjut.
Karina mengenali hewan dan pemiliknya.
Dadanya langsung terasa berat.
***
Pemeriksaan dilakukan dengan tenang.
Karina tidak menjanjikan hasil sebelum mengetahui cukup banyak.
Reina ikut membantu melihat keadaan dan membicarakan langkah yang diperlukan.
Pemilik pasien tampak khawatir.
Di tengah penjelasan, ia bertanya apakah Karina benar-benar akan pergi dalam waktu dekat.
Gadis itu mengangguk.
Perempuan tersebut menatap hewannya, lalu kembali memandang Karina.
"Kalau bisa, saya ingin tetap dengan dokter."
Karina memahami maksudnya.
Namun, kalimat itu mengenai bagian dirinya yang paling sulit menolak.
Ia ingin menjadi orang yang terus hadir.
Ingin memastikan setiap pasien yang pernah ditangani tetap mendapat perhatian langsung darinya.
Reina melihat perubahan wajah tersebut.
Ia tidak menyela di depan pemilik.
Mereka menyelesaikan penjelasan, mengatur langkah berikutnya, dan memastikan pertanyaan yang penting telah dijawab.
Setelah pasien dibawa ke tempat yang sesuai untuk penanganan berikutnya, Karina tetap berdiri di dekat meja.
Tangannya belum bergerak membereskan catatan.
***
Reina mendekat setelah ruangan lebih tenang.
"Kamu sedang memikirkan apa?"
Karina memandangnya.
"Mungkin aku perlu menunda sedikit."
Reina tidak langsung menjawab.
Ia menarik kursi dan duduk.
"Karena pasien ini?"
Karina mengangguk.
"Keadaannya masih perlu diperhatikan."
"Iya."
"Aku tidak ingin pergi saat—"
"Karina, kita juga dokter di sini."
Gadis itu terdiam.
Kalimat tersebut tidak disampaikan dengan marah.
Namun, cukup tegas untuk membuatnya mendengar bagian yang selama ini terlewat.
Reina melanjutkan bahwa mereka perlu memastikan penanganan dan perpindahan tanggung jawab dilakukan dengan benar.
Bukan menganggap satu orang harus selalu berada di tempat agar pekerjaan dapat berjalan.
Karina menunduk.
Ia tidak pernah bermaksud meragukan kemampuan Reina.
Tetapi keinginannya memegang semuanya dapat terdengar seperti itu.
"Aku tahu," katanya pelan.
Reina mengangguk.
"Kalau tahu, biarkan itu terlihat dalam cara kita bekerja."
***
Mereka memeriksa catatan bersama.
Karina menjelaskan hal yang diketahuinya dari kunjungan sebelumnya.
Reina mengajukan beberapa pertanyaan.
Ada bagian yang sudah tertulis jelas.
Ada yang perlu ditambahkan.
Setelah semuanya lebih rapi, rencana penanganan dan pengawasan dibicarakan sesuai kebutuhan pasien.
Karina mulai merasa tenang.
Bukan karena persoalan hewan itu tiba-tiba selesai.
Melainkan karena dirinya melihat pekerjaan terus berlangsung dengan orang lain yang mampu memegangnya.
Reina menutup catatan.
"Kamu boleh khawatir."
Karina tersenyum lelah.
"Tapi tidak boleh menganggap semua harus ikut berhenti."
"Kurang lebih."
Keduanya tertawa kecil.
Percakapan tersebut tidak selalu nyaman.
Namun, Karina lebih memilih mendengarnya sekarang daripada menyadari setelah jauh bahwa dirinya telah membuat rekan kerja merasa tidak dipercaya.
Ia mengucapkan terima kasih.
Reina hanya mengangguk sebelum kembali bekerja.
***
Malamnya, Karina menceritakan kejadian tersebut kepada Agus.
Mereka berbicara melalui telepon karena jadwal tidak memungkinkan bertemu.
Agus mendengarkan sampai selesai.
"Reina benar," kata Karina sebelum laki-laki itu sempat menanggapi.
Agus tersenyum di seberang.
"Sepertinya kamu sudah punya jawabannya."
"Aku tahu. Tapi perasaanku belum mengikuti."
"Bagas juga pernah begitu ketika Ica pulang."
Karina terdiam.
Agus menceritakan bagaimana kakaknya kesulitan meninggalkan rumah meskipun pengaturan sudah disiapkan dan orang-orang yang membantu dapat dipercaya.
Tidak sama persis.
Namun, ada ketakutan serupa.
Jika tidak terus berada di dekat, sesuatu mungkin terjadi dan dirinya akan merasa seharusnya dapat mencegah.
Karina memandangi meja.
"Aku tidak bisa menjaga semua keadaan."
"Tidak."
Jawaban Agus pendek.
Tidak dibungkus agar lebih enak.
Karina justru merasa lega mendengarnya.
Ia tidak memerlukan janji bahwa semua akan baik selama dirinya cukup berusaha.
Ia perlu menerima bahwa kerja yang baik juga melibatkan orang lain.
***
Pada hari berikutnya, pemilik pasien kembali mendengarkan penjelasan.
Karina dan Reina hadir bersama.
Gadis itu menjelaskan bahwa perawatan akan dilanjutkan oleh tim dengan catatan yang lengkap dan komunikasi sesuai kebutuhan.
Ia tidak mengatakan akan terus memantau setiap menit dari luar negeri.
Janji tersebut tidak akan jujur.
Pemiliknya tampak masih cemas, tetapi mulai memahami setelah mendapat jawaban yang konkret.
Reina berbicara dengan tenang.
Karina membiarkan percakapan bergerak kepadanya.
Awalnya terasa sulit.
Namun, beberapa menit kemudian, ia melihat kepercayaan mulai berpindah melalui penjelasan yang jelas.
Bukan hilang.
Berbagi.
Setelah pertemuan selesai, Karina mengembuskan napas panjang.
Len yang membantu menata barang melihat wajahnya.
"Sudah lebih tenang, Dok?"
Karina mengangguk.
"Sedang belajar tidak menjadi pusat semua hal."
Len berpikir sebentar.
"Berarti dokter juga punya tugas yang sulit."
Ia tertawa.
"Iya. Sulit sekali."
***
Agus datang menemui Karina pada waktu yang sudah disepakati beberapa hari kemudian.
Ia tidak membawa sesuatu yang besar.
Hanya sebuah buku catatan dengan sampul sederhana.
Karina menerimanya dengan heran.
"Apa ini?"
"Buku."
"Aku masih bisa melihat."
Agus tertawa.
"Untuk perjalanan. Kalau kamu ingin mencatat sesuatu di luar dokumen pekerjaan."
Karina membuka halaman pertama.
Tidak ada kalimat panjang.
Hanya namanya dan satu tulisan pendek.
Untuk hal-hal yang ingin kamu ingat.
Karina memandangnya.
Hadiah itu tidak menentukan apa yang harus ditulis.
Tidak meminta laporan setiap hari.
Tidak membuat perjalanan berubah menjadi tugas membuktikan perhatian kepada pemberinya.
Ia menyentuh halaman kosong.
"Terima kasih."
Agus mengangguk.
"Kalau tidak dipakai juga tidak apa-apa."
Karina tersenyum.
"Jangan langsung menyerah. Aku suka."
Wajah laki-laki itu terlihat lega dengan cara yang membuatnya ingin tertawa.
***
Mereka berjalan sebentar setelah membeli minuman.
Karina membawa buku tersebut dalam tas.
Ia menanyakan apakah Agus memiliki rencana sendiri selama dirinya pergi.
Laki-laki itu menjelaskan pekerjaan dan beberapa hal yang ingin diperbaiki dalam rutinitasnya.
Ada kegiatan belajar profesional yang sebelumnya terus ditunda.
Ada pembagian keluarga yang ingin dijaga agar tidak kembali hanya bergantung kepada Bagas.
Karina mendengarkan.
Ia senang Agus tidak menjawab bahwa dirinya hanya akan menunggu.
Menunggu boleh menjadi bagian dari rasa sayang.
Namun, hidup laki-laki itu tetap perlu berjalan.
"Bagus," katanya.
Agus menoleh.
"Kenapa terdengar seperti guru?"
"Karena gambarmu belum lulus."
Ia tertawa.
Mereka melanjutkan berjalan dengan tangan yang sesekali bersentuhan, lalu akhirnya saling menggenggam.
Tidak ada percakapan besar mengenai masa depan malam itu.
Hanya dua orang yang mulai menyukai langkah yang dapat ditempuh bersama tanpa kehilangan arah masing-masing.
***
Di rumah, Andre mulai lebih berhati-hati setelah percakapan mengenai pertunangan.
Ia tidak kembali menanyakannya kepada Karina.
Namun, kadang mulutnya masih hampir bergerak.
Agus dapat melihat.
Pada suatu malam, ketika membicarakan keberangkatan, Andre membuka kalimat dengan, "Kalau nanti pulang..."
Lalu berhenti.
Agus menatapnya.
Andre berdeham.
"...jangan lupa tanyakan kabar pelatihannya."
Bagas yang duduk di dekat mereka tertawa.
Agus mengangguk dengan wajah sangat serius.
"Nasihat yang baik, Yah."
Andre menyipit.
"Kalian berdua jangan kurang ajar."
Tawa membuat ruang keluarga lebih hangat.
Tidak semua kebiasaan dapat berubah sekaligus.
Namun, ayahnya sedang mencoba.
Agus menghargai itu dengan cara yang sama seperti ia berharap Karina melihat usahanya sendiri.
Bukan menghapus semua kesalahan.
Memberi ruang agar perubahan memiliki waktu untuk menjadi kebiasaan.
***
Malam terakhir sebelum pekan keberangkatan, Karina membuka buku pemberian Agus.
Ia menulis satu hal dari pekerjaan hari itu.
Tentang menyerahkan catatan kepada Reina.
Tentang melihat orang lain melanjutkan penjelasan dengan baik.
Tentang rasa lega yang datang setelah dirinya berhenti berusaha berada di semua tempat.
Tulisan tersebut pendek.
Tidak indah.
Namun, terasa benar.
Karina menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas yang akan dibawa.
Di dekat lemari, koper terbuka menunggu isi.
Masih ada pakaian.
Dokumen.
Keperluan pribadi.
Namun, bagian paling berat dari persiapan ternyata tidak dapat dilipat dan dimasukkan ke sana.
Ia sedang belajar pergi tanpa menganggap kepergiannya sebagai pengabaian.
Dan belajar pulang nanti tanpa merasa harus menemukan semua orang tetap persis seperti saat ditinggalkan.