Andre mengundang Karina makan bersama pada sore ketika jadwalnya memungkinkan.
Undangan disampaikan melalui Agus, dengan penjelasan bahwa keluarga ingin mengucapkan selamat atas kesempatan pelatihannya.
Karina menerima setelah memastikan tidak mengganggu pekerjaan.
Len tidak ikut kali ini karena memiliki kegiatan belajar.
Saat mendengar kabar tersebut, pemuda itu tersenyum.
"Berarti tidak ada tas praktik?"
"Tidak."
"Tidak ada ember?"
"Juga tidak."
Len mengangguk puas.
"Dokter akhirnya punya kegiatan tanpa saya dijadikan tokoh cerita."
Karina tertawa.
Ia datang dengan membawa makanan kecil yang dapat dinikmati keluarga sesuai pengaturan masing-masing.
Tidak untuk membuat Ica makan sesuatu yang belum tentu sesuai.
Bagas menerima dengan ucapan terima kasih, lalu menyimpan bagian yang perlu diatur.
Ica senang melihat Karina.
Anak itu sedang duduk dengan buku terbuka dan langsung menunjukkan gambar terbaru.
Agus berdiri di dekatnya.
Kali ini gambar hamsternya sudah jauh lebih masuk akal.
***
"Ini Om yang buat," kata Ica.
Karina mengamati.
"Telinganya sudah berhasil."
Agus menegakkan punggung.
"Terima kasih."
"Tapi kakinya seperti meja."
Bagas tertawa.
Agus kembali menunduk.
"Sepertinya aku tidak akan pernah lulus."
Karina tersenyum dan duduk sebentar bersama Ica.
Anak itu mulai memahami bahwa dokter hewannya akan pergi belajar.
Ia belum benar-benar mengerti jarak Afrika Selatan, tetapi mengetahui bahwa Karina tidak akan datang seperti biasa untuk beberapa waktu.
"Bu dokter naik pesawat?"
"Iya."
"Lama?"
"Beberapa minggu."
Ica berpikir.
"Lebih lama dari tidur?"
Karina menahan senyum.
"Lebih lama."
Anak itu mengangguk dengan wajah serius, seolah baru memperoleh ukuran waktu yang sangat jelas.
Bagas membantu menjelaskan bahwa mereka tetap dapat mengirim kabar jika waktunya sesuai.
Ica tampak lebih tenang setelah mendengarnya.
Ia kemudian meminta Karina mencari tahu apakah di sana ada hamster yang pandai diam saat digambar.
Agus memandang keponakannya.
Masalah gambar rupanya belum selesai.
***
Makan bersama berlangsung setelah Ica beristirahat sesuai kebutuhannya.
Bagas beberapa kali memeriksa keadaan, sementara Andre memastikan Karina tidak duduk dengan piring kosong.
Gadis itu mulai memahami dari mana Agus mendapat sebagian kebiasaan menawarkan sesuatu terlalu cepat.
"Tambah lagi, Nak."
"Masih ada, Pak."
"Itu sedikit."
Agus menatap piring Karina.
"Ayah, nasinya tidak sedikit."
Andre melirik putranya.
"Kamu diam. Tamu harus makan."
Karina tertawa dan mengatakan makanannya enak.
Pujian itu langsung membuat Andre lebih bersemangat menceritakan menu.
Suasana hangat.
Percakapan bergerak dari perjalanan Karina ke kabar orang tuanya, lalu kembali kepada pekerjaan masing-masing.
Bagas tampak lebih santai dibanding masa-masa di rumah sakit.
Agus beberapa kali bertukar pandang dengan Karina ketika Andre mulai bercerita terlalu panjang.
Mereka tidak perlu mengatakan apa-apa untuk sama-sama ingin tertawa.
***
Masalah muncul setelah makanan utama selesai.
Andre meletakkan gelas, kemudian berkata dengan nada seolah sedang membicarakan urusan biasa.
"Kalau memang kalian serius, sebelum Karina pergi sebaiknya ada tanda yang jelas."
Karina berhenti mengambil sendok.
Agus langsung menoleh.
"Ayah."
Andre memandang putranya.
"Apa? Ayah belum bilang menikah besok."
Bagas menutup mata sebentar.
Karina meletakkan sendok dengan hati-hati.
Andre melanjutkan bahwa perjalanan jauh dapat membuat orang lain bertanya. Menurutnya, keluarga sebaiknya mengetahui kedudukan mereka dengan lebih pasti.
Kalimat itu tidak disampaikan dengan niat mempermalukan.
Namun, tetap membuat udara di meja berubah.
Agus berbicara sebelum Karina merasa harus menjawab.
"Kami sudah jelas satu sama lain. Soal langkah berikutnya belum kami bicarakan."
"Justru sekarang dibicarakan."
"Tidak harus di meja makan seperti ini."
Andre mengerutkan kening.
***
Karina memandang keduanya.
Ia tidak ingin Agus bertengkar dengan ayahnya demi terlihat membela.
Namun, ia juga tidak ingin tersenyum dan membiarkan keputusan besar mulai bergerak tanpa suaranya.
"Pak Andre," katanya pelan.
Laki-laki itu menoleh.
"Saya senang Bapak menerima saya dengan baik. Tapi saya belum ingin membicarakan pertunangan atau pernikahan sebagai sesuatu yang harus dilakukan sebelum berangkat."
Andre terdiam.
Karina melanjutkan.
"Saya pergi untuk pelatihan. Hubungan kami tetap kami jalani. Saya tidak ingin keberangkatan itu membuat kami mengambil langkah besar karena takut."
Bagas mengangguk kecil.
Agus memandang Karina, lalu kembali kepada ayahnya.
"Aku juga tidak ingin begitu."
Andre terlihat tidak senang.
Namun, kali ini tidak ada yang berteriak.
Ia menyandarkan punggung dan mengatakan bahwa dirinya hanya memikirkan kebaikan mereka.
Karina mengangguk.
"Saya mengerti niat Bapak."
Ia berhenti di sana.
Mengerti niat tidak harus berarti menyetujui usulan.
***
Bagas membantu mengakhiri bagian percakapan yang mulai berputar.
"Ayah, mereka sedang menyiapkan hal yang sudah jelas dulu. Kita bisa mendukung itu."
Andre memandang putra sulungnya.
Kemudian mengembuskan napas.
"Baik."
Tidak terdengar sangat senang.
Tetapi cukup untuk membuat percakapan bergerak.
Karina mengambil minum.
Agus tidak menggenggam tangannya di bawah meja untuk membuat adegan besar.
Ia hanya memastikan gadis itu tidak harus menjawab pertanyaan lanjutan sendirian.
Bagas mengalihkan pembicaraan kepada keperluan perjalanan yang sudah diatur.
Karina menjelaskan secukupnya.
Beberapa menit kemudian, suasana kembali lebih ringan, meskipun sisa ketegangan masih terasa.
Andre mulai bertanya mengenai makanan yang dirindukan Karina di Afrika Selatan.
Gadis itu menjawab.
Tidak ada yang berpura-pura percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Namun, makan bersama juga tidak harus berakhir dengan semua orang saling menjauh.
***
Saat berpamitan, Andre berdiri di dekat pintu.
Ia memandang Karina dengan wajah lebih tenang.
"Nak, kalau tadi membuat tidak nyaman, saya minta maaf."
Karina terdiam sebentar.
"Terima kasih, Pak."
"Saya kadang terlalu cepat memikirkan langkah berikutnya."
Agus yang berdiri di samping hampir tersenyum.
Andre meliriknya.
"Kamu jangan terlihat senang."
Karina tertawa kecil.
Ketegangan terakhir sedikit mencair.
Ia menjelaskan bahwa dirinya tetap senang datang dan menghargai sambutan keluarga.
Andre mengangguk.
Kemudian mengingatkan agar ia tidak lupa memberi kabar ketika sudah berangkat.
Karina menyetujui.
Mereka berpamitan dengan lebih hangat daripada yang sempat ditakutkannya.
Di luar, Agus mengantar sampai kendaraan.
Laki-laki itu tampak ingin meminta maaf lagi.
Karina lebih dahulu menggeleng.
"Ayahmu sudah bicara."
Agus mengangguk, tetapi wajahnya masih penuh pikiran.
***
"Aku tidak ingin kamu merasa keluargaku sedang memberi batas waktu," katanya.
"Aku tahu."
"Aku juga belum ingin meminta sesuatu hanya karena kamu akan pergi."
Karina memandangnya.
"Kalau suatu hari kamu ingin membicarakan pernikahan, aku ingin alasannya karena kita siap. Bukan karena perlu membuat jarak terasa lebih aman."
Agus mengangguk.
"Itu juga yang kuinginkan."
Gadis itu memperhatikannya beberapa detik.
Ia ingin memastikan jawaban tersebut bukan hanya kelanjutan pembelaan di meja makan.
Agus tampaknya memahami.
"Aku memang serius denganmu," katanya. "Tapi serius tidak harus berarti semua langkah dilakukan secepat mungkin."
Karina tersenyum tipis.
"Bagus."
Mereka berdiri sebentar dalam keheningan yang lebih tenang.
Sore itu tidak berjalan sepenuhnya sesuai harapan.
Namun, mereka telah menghadapi sesuatu bersama tanpa menyerahkan keputusan kepada orang yang paling keras berbicara.
Bagi Karina, itu berarti.
***
Setelah Karina pulang, Agus kembali duduk bersama Andre.
Ia tidak ingin percakapan dibiarkan menjadi rasa kesal yang kemudian muncul dalam bentuk sindiran.
Andre melihat putranya.
"Ayah tahu kamu mau bicara."
"Iya."
"Ayah sudah minta maaf."
"Aku menghargai itu."
Agus duduk.
Ia menjelaskan bahwa dirinya ingin membangun hubungan yang tidak bergantung pada tekanan.
Kalau Karina pergi dengan perasaan sedang diikat karena tidak dipercaya, mereka justru memulai perjalanan dengan beban yang tidak perlu.
Andre mendengarkan.
Wajahnya perlahan melunak.
"Ayah hanya takut kamu terlambat sungguh-sungguh."
Agus terdiam.
Kalimat itu berbeda dari alasan sebelumnya.
Ia dapat memahami kekhawatiran ayahnya setelah melihat cara dirinya menjalani hubungan dahulu.
"Aku sedang berusaha sungguh-sungguh dengan cara yang benar," jawabnya.
Andre mengangguk pelan.
Untuk kali ini, ia membiarkan putranya menunjukkan melalui waktu.
***
Malamnya, Karina menceritakan kejadian tersebut kepada bi Murni.
Perempuan itu langsung mengangkat alis.
"Mau diberi tanda sebelum berangkat?"
Karina mengangguk.
Bi Murni mendengus.
"Non bukan koper."
Karina tertawa sampai harus menutup mulut.
Setelah tawanya selesai, ia menjelaskan bahwa Andre sudah meminta maaf dan Agus juga menyampaikan sikapnya dengan jelas.
Bi Murni mengangguk.
"Bagus kalau akhirnya mendengar."
Karina memandangi gelas.
Ia tidak merasa seluruh keluarga Agus terlalu sulit.
Keluarganya sendiri memiliki banyak kebiasaan yang tidak selalu mudah.
Yang penting, ada ruang untuk membicarakan ketika sesuatu tidak nyaman.
Ia naik ke kamar dengan hati lebih tenang.
Di meja, daftar persiapan masih menunggu.
Karina menambahkan satu hal yang baru dipahaminya.
Menjaga hubungan bukan hanya belajar mengatakan iya.
Kadang juga belajar mengatakan belum, tanpa harus berhenti saling menyayangi.