Selama pekan berikutnya, kesempatan itu perlahan berubah menjadi rencana yang dapat disentuh.
Karina menyelesaikan dokumen tambahan, mengirim konfirmasi yang diminta, dan membaca setiap penjelasan dengan lebih teliti daripada ketika pertama menerima informasi.
Ada bagian yang harus ditanyakan kembali.
Ada dokumen yang perlu diperbaiki penulisannya.
Ada waktu ketika ia merasa semua urusan hanya berputar antara membuka berkas, memeriksa, lalu mengirim.
Namun, pada suatu sore, jawaban terakhir yang ditunggu akhirnya datang.
Keikutsertaannya telah dikonfirmasi.
Namanya tercantum dalam daftar peserta.
Karina membaca kalimat tersebut sambil berdiri di dekat meja klinik.
Kali ini ia tidak menangis.
Ia justru terdiam cukup lama sampai Len bertanya apakah ada masalah.
Karina menggeleng.
"Sudah pasti."
Pemuda itu mendekat.
"Jadinya berangkat?"
"Iya."
Len tersenyum, lalu memandang kalender di dinding.
Karina mengikuti pandangannya.
Waktu yang tersisa masih cukup untuk bersiap.
Tetapi mendadak terasa jauh lebih pendek.
***
Reina menerima kabar itu dengan mengangguk, kemudian langsung membuka jadwal yang sudah mereka bahas.
Kegembiraan diberi tempat.
Pekerjaan juga.
Mereka memeriksa pembagian pasien, kunjungan, dan hal-hal yang perlu diberitahukan kepada pemilik hewan yang biasanya memilih jadwal Karina.
Tidak semuanya dapat dipindahkan begitu saja.
Ada yang perlu diberi penjelasan.
Ada yang tetap dapat dilanjutkan oleh dokter lain sesuai pengaturan.
Karina mengambil bagian komunikasi yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia tidak ingin meninggalkan Reina menghadapi semua pertanyaan setelah dirinya berada di bandara.
Restu ikut membantu menata beberapa catatan agar lebih mudah ditemukan.
Karina memandang staf yang bergerak di sekitarnya.
Selama ini ia mengetahui bahwa klinik berjalan karena banyak orang.
Namun, persiapan keberangkatan membuat kenyataan tersebut terasa lebih jelas.
Kepergiannya perlu diatur.
Bukan berarti seluruh tempat akan berhenti bernapas saat dirinya tidak ada.
***
Lilis dan Nana juga datang untuk membahas kegiatan program.
Beberapa pengambilan gambar dapat dilakukan sebelum Karina berangkat. Bagian lain akan diatur sesuai rencana yang disepakati bersama.
Tidak ada permintaan agar ia merekam setiap kegiatan selama pelatihan seolah seluruh perjalanan otomatis menjadi milik acara.
Karina lega mendengarnya.
"Kalau nanti ada hal yang boleh dibagikan dan memang cocok, kita bicarakan terpisah," kata Lilis.
Karina mengangguk.
Ia ingin datang sebagai peserta yang benar-benar belajar.
Bukan orang yang terus memikirkan sudut kamera.
Len tampak lebih tenang ketika mengetahui dirinya tidak mendadak diminta menggantikan Karina menjadi pembawa acara.
Nana tertawa melihat reaksinya.
"Kamu masih bisa membantu beberapa bagian yang sesuai."
Len langsung melirik Karina.
Gadis itu tersenyum.
"Tenang. Embermu belum diambil."
Pemuda itu menghela napas.
Tampaknya benda itu akan mengikuti namanya lebih lama daripada yang direncanakan.
***
Di rumah, bi Murni mulai menghitung waktu dengan cara yang berbeda.
Bukan berdasarkan hari.
Melainkan makanan.
Sebelum Non pergi, harus sempat makan ini.
Sebelum Non berangkat, bibi mau masak itu.
Karina memandang daftar yang ditempel di dekat lemari dapur.
"Bi, aku pergi enam minggu."
"Iya."
"Bukan pindah selamanya."
"Bibi tahu."
"Tapi ini seperti persiapan memberi makan satu kampung."
Bi Murni menatapnya dengan wajah tidak terima.
"Kalau tidak mau, bilang."
Karina langsung menggeleng.
Ia masih memiliki naluri bertahan hidup.
Perempuan itu kembali menulis sesuatu.
Karina memperhatikan punggungnya, lalu mendekat dan memeluk dari samping.
Bi Murni berhenti.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
"Kalau mau lauk tambahan, tidak perlu begini."
Karina tertawa di bahunya.
Bi Murni ikut tersenyum, tetapi tangannya menepuk lengan gadis itu sedikit lebih lama.
***
Agus menerima kabar konfirmasi setelah pekerjaannya selesai.
Ia menelepon dan mendengar Karina berbicara cepat mengenai pengaturan berikutnya.
Tempat tinggal.
Perjalanan.
Jadwal kegiatan.
Dokumen yang perlu dibawa.
Laki-laki itu mendengarkan tanpa langsung menawarkan mengambil alih semuanya.
Ketika Karina berhenti untuk menarik napas, ia bertanya bagian mana yang ingin diperiksa bersama.
Gadis itu menyebut beberapa pilihan perjalanan yang sudah ditemukan.
Mereka membandingkan dengan tenang.
Agus mengajukan pertanyaan praktis mengenai waktu dan kelelahan, bukan memilih berdasarkan apa yang paling mudah baginya.
Karina akhirnya menentukan salah satu pilihan yang sesuai dengan rencana serta anggarannya.
"Yang ini," katanya.
Agus mengangguk.
"Menurutku juga masuk akal."
Ia tidak merasa perlu menjadi orang yang menekan tombol terakhir.
Karina dapat melakukannya sendiri.
Anehnya, membantu tanpa mengambil alih justru membuatnya merasa lebih dekat dengan keputusan tersebut.
***
Beberapa hari kemudian, Agus mendapat undangan yang membuatnya jauh lebih gugup daripada siaran televisi.
Papa dan mama Karina ingin menyapa melalui panggilan video pada waktu yang sesuai.
Karina menyampaikan kabar itu sambil berusaha terlihat biasa.
Agus menatapnya.
"Ini percakapan atau pemeriksaan?"
Karina tertawa.
"Tergantung jawabanmu."
Ia mengusap wajah.
Gadis itu akhirnya menggeleng.
"Papa cuma ingin mengenal. Kamu tidak perlu membawa riwayat hidup."
Agus memandang pakaian yang dikenakannya.
Karina mengikuti pandangannya.
"Itu sudah cukup."
"Yakin?"
"Kalau terlalu rapi, Papa bisa mengira kamu sedang menjual asuransi."
Agus tertawa meskipun kegugupannya belum hilang.
Mereka mengatur waktu ketika Karina berada di rumah dan Agus dapat datang sebentar setelah bekerja.
Bi Murni menyambut dengan minuman, lalu memandangnya dari atas sampai bawah.
Agus berdiri lebih tegak.
Karina menutup mulut.
Ia belum sampai berbicara dengan papa, tetapi pemeriksaan pertama rupanya sudah dimulai.
***
Panggilan video tersambung setelah beberapa percobaan kecil.
Wajah papa muncul terlalu dekat.
Karina langsung memberi pengarahan.
"Papa, mundur sedikit."
Agus menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Dari belakang terdengar suara mama.
"Sudah Mama bilang tadi."
Papa berdeham, lalu membetulkan posisi.
Perkenalan dimulai.
Agus menyapa dengan sopan dan memperkenalkan dirinya tanpa memanjangkan gelar atau pekerjaan.
Papa menanyakan keluarga dan kesibukan sehari-hari.
Mama bertanya mengenai Ica setelah Karina pernah menceritakan sebagian kabarnya.
Percakapan berjalan lebih ringan daripada dugaan Agus.
Sampai Ditya muncul di belakang dan melambaikan tangan.
"Halo, Dokter."
Agus langsung tersenyum kaku.
Karina menoleh kepada layar.
"Mas jangan membuat wajah begitu."
Ditya mengangkat alis.
"Wajahku memang begini."
Mama menyuruhnya duduk atau pergi.
Agus baru menyadari bahwa di keluarga Karina, orang yang paling sulit dihentikan kadang bukan papa.
***
Papa tidak menanyakan kapan mereka akan menikah.
Ia justru bertanya bagaimana Agus memandang rencana pelatihan Karina.
Laki-laki itu mengambil waktu sebelum menjawab.
"Saya senang dia mendapat kesempatan yang memang diinginkannya. Kami sedang membicarakan cara menjaga hubungan selama dia pergi."
Papa mengangguk.
"Jarak tidak selalu mudah."
"Iya, Pak."
"Kalian belum lama bersama."
"Betul."
Agus tidak menambahkan janji bahwa semuanya pasti lancar.
Ia mengatakan mereka akan berusaha berbicara dengan jelas dan tetap menjaga tanggung jawab masing-masing.
Karina mendengarkan dari samping.
Papa tampak cukup puas dengan jawaban tersebut.
Ia tidak membutuhkan Agus mengaku lebih siap daripada kenyataannya.
Mereka kemudian kembali membicarakan pekerjaan.
Pada akhir percakapan, mama meminta Agus menjaga kesehatan sendiri juga, bukan hanya mengingatkan Karina makan.
Agus tersenyum.
Sepertinya urusan perut memang menjadi bahasa keluarga yang melintasi benua.
***
Setelah panggilan selesai, Agus bersandar dan mengembuskan napas panjang.
Karina tertawa.
"Kenapa? Tidak ada yang menggigit."
"Aku merasa Ditya menyiapkan komentar di belakang."
"Memang mungkin."
Agus memandangnya.
Gadis itu tertawa lebih keras.
Bi Murni datang membawa makanan ringan dan bertanya apakah pembicaraan lancar.
Agus mengangguk.
"Alhamdulillah."
Perempuan itu mempersilakan mengambil makanan.
Karina melihat laki-laki tersebut mulai lebih santai.
Untuk pertama kalinya, Agus duduk di rumahnya bukan sebagai sumber masalah atau orang yang perlu diawasi.
Ia datang karena diundang.
Dikenalkan.
Dan diberi kesempatan menjadi bagian dari percakapan keluarga tanpa harus segera diberi kedudukan yang terlalu besar.
Hal itu membuat dada Karina hangat.
Namun, sebelum suasana menjadi terlalu lembut, bi Murni menatap Agus.
"Dokter tahu Non kalau capek suka lupa makan?"
Karina langsung mengeluh.
"Bi!"
Agus tertawa.
Ia rupanya baru saja menerima tugas tambahan.
***
Malam itu, setelah Agus pulang, Karina membuka daftar persiapan.
Beberapa bagian sudah diberi tanda selesai.
Masih banyak yang menunggu.
Namun, ia tidak lagi melihatnya sebagai bukti bahwa pergi merupakan keputusan yang terlalu merepotkan.
Inilah pekerjaan yang perlu dilakukan jika dirinya ingin berangkat dengan tenang.
Ia menulis satu catatan baru di bagian atas.
Enam minggu untuk belajar. Pulang membawa sesuatu yang berguna.
Kalimat tersebut membuatnya tersenyum.
Di ponsel, pesan Agus masuk.
"Terima kasih sudah memperkenalkanku."
Karina membalas.
"Terima kasih sudah tidak menawarkan mengurus hidupku di depan Papa."
Agus mengirim tawa.
"Nilai berapa?"
Karina berpikir sebentar.
"Lumayan. Masih harus tahan menghadapi Ditya."
"Berarti ujiannya panjang."
Karina meletakkan ponsel dengan senyum yang belum hilang.
Perjalanan itu kini benar-benar memiliki bentuk.
Dan hubungan mereka sedang belajar tumbuh di sampingnya.