Len hampir bertepuk tangan terlalu keras.
Ia baru berhenti ketika menyadari masih ada orang di bagian depan klinik.
Karina tertawa melihatnya.
Reina mendekat dan meminta izin melihat surat yang diterima.
Mereka membaca bersama.
Karina telah lolos seleksi.
Masih ada dokumen serta konfirmasi yang harus diselesaikan sesuai petunjuk sebelum seluruh persiapan resmi dinyatakan lengkap.
Tanggal kegiatan tercantum.
Pengaturan yang perlu diperhatikan juga dijelaskan.
Reina mengangguk.
"Selamat."
Karina menutup mulut sebentar.
"Rasanya aneh."
"Karena sekarang bukan kemungkinan jauh lagi."
Gadis itu mengangguk.
Len memandangnya dengan mata berbinar.
"Berarti dokter punya tugas baru."
Karina tertawa sambil mengusap air mata.
"Sepertinya banyak."
"Bagus. Nanti dokter tahu rasanya."
Reina ikut tertawa.
Suasana itu membuat kegembiraan terasa lebih ringan.
Bukan upacara besar.
Hanya orang-orang yang mengetahui seberapa banyak pekerjaan telah dilakukan untuk sampai ke sana.
***
Karina mengabari orang tua terlebih dahulu.
Karena perbedaan waktu dan kegiatan, mereka tidak langsung dapat berbicara panjang.
Namun, balasan mama datang dengan cepat dan penuh tanda seru.
Papa menulis bahwa dirinya bangga karena Karina mengikuti proses sampai selesai.
Ditya mengirim pesan bahwa sekarang ancaman memeriksa surel setiap lima menit sudah resmi berganti menjadi memeriksa koper.
Karina tertawa.
Ia kemudian menelepon bi Murni.
Perempuan itu mengangkat dengan suara terburu-buru.
"Ada apa, Non?"
"Bi, diterima."
Keheningan muncul.
Karina hampir mengulang ketika terdengar helaan napas panjang.
"Alhamdulillah."
Suara bi Murni bergetar sedikit.
Karina memejamkan mata.
"Aku masih harus menyelesaikan beberapa hal."
"Iya. Nanti kita lihat."
Perempuan itu tidak langsung membicarakan rumah yang akan sepi.
Ia memberi tempat kepada kegembiraan Karina terlebih dahulu.
Untuk itu, gadis tersebut merasa semakin ingin menangis.
***
Agus menerima kabar ketika sedang menyelesaikan pekerjaan.
Ia tidak dapat langsung menelepon, tetapi membalas bahwa dirinya senang dan akan menghubungi setelah luang.
Karina mengerti.
Ia juga masih perlu membereskan klinik.
Tidak ada kekecewaan karena laki-laki itu tidak meninggalkan seluruh kegiatan dalam detik yang sama.
Namun, ketika akhirnya panggilan datang, Karina langsung tersenyum.
"Sudah baca?"
"Sudah. Selamat."
"Benar-benar diterima, meskipun masih ada administrasi."
"Aku senang sekali untukmu."
Karina mendengar ketulusan dalam suaranya.
Ia mulai menceritakan surat tersebut dengan cepat sampai Agus tertawa kecil.
"Pelan-pelan. Aku ingin mengikuti."
Karina berhenti untuk menarik napas.
"Maaf."
"Tidak perlu. Aku suka mendengar kamu senang."
Kalimat itu membuatnya terdiam sesaat.
Kemudian ia melanjutkan dengan suara lebih pelan.
Kabar baik terasa berbeda ketika dapat dibagikan kepada seseorang yang tidak berusaha menjadikannya tentang dirinya sendiri.
***
Setelah percakapan selesai, Agus tetap duduk.
Ia senang.
Namun, sekarang jarak yang sebelumnya dibicarakan sebagai kemungkinan mulai memiliki tanggal.
Enam minggu.
Afrika Selatan.
Beberapa bulan persiapan yang akan terasa cepat jika diisi pekerjaan.
Agus memandangi layar yang sudah gelap.
Ia tidak ingin menipu diri sendiri dengan menganggap tidak ada kekhawatiran.
Ada.
Bukan hanya takut Karina jauh.
Ia juga takut mengetahui apakah kebiasaan baru yang sedang dibangunnya cukup kuat ketika keadaan tidak mudah.
Bagas melihatnya saat pulang.
"Kabar baik?"
Agus mengangguk.
"Karina diterima."
Kakaknya tersenyum.
"Bagus."
"Iya."
Bagas memperhatikan jeda setelah jawaban itu.
"Dan kamu mulai memikirkan keberangkatannya."
Agus mengangguk lagi.
Tidak ada gunanya berpura-pura di hadapan orang yang sudah mengenal wajahnya sejak kecil.
***
"Aku senang untuknya," kata Agus.
"Mas percaya."
"Tapi aku juga takut."
Bagas duduk.
"Takut apa?"
Agus memikirkan jawaban yang tidak sekadar terdengar baik.
"Takut kami baru mulai, lalu jarak membuat semuanya lebih sulit. Takut aku mengecewakan lagi. Takut dia menyadari hidupnya lebih tenang tanpa aku."
Bagas mendengarkan sampai selesai.
Kemudian ia berkata pelan.
"Kalau hidup seseorang hanya bisa tenang ketika pasangannya terus berada di dekat dan mengawasi, hubungan itu memang perlu dipikirkan."
Agus menunduk.
"Aku tahu."
"Karina pergi belajar. Bukan sedang menjalankan ujian untuk membuktikan sayang kepadamu."
Agus mengangguk.
Kalimat tersebut menempatkan segala sesuatu pada tempat yang benar.
Kekhawatirannya boleh ada.
Namun, kesempatan Karina bukan alat untuk menenangkan rasa takut tersebut.
Ia harus mengurus bagiannya sendiri sambil tetap berbicara jujur.
***
Malamnya, Karina membaca surat penerimaan bersama bi Murni.
Perempuan itu tidak memahami setiap istilah, tetapi mendengarkan ketika Karina menjelaskan.
Ada tanggal.
Ada persiapan.
Ada hal yang masih harus dikonfirmasi.
Bi Murni kemudian mengambil kertas lain dan mulai menulis.
Karina mengernyit.
"Bibi membuat apa?"
"Daftar makanan."
"Bi."
"Baru daftar."
"Koperku belum ada isinya."
"Bagus. Masih banyak tempat."
Karina tertawa.
Namun, ketika tawa mereda, ia melihat mata bi Murni yang sedikit basah.
Gadis itu mendekat.
"Bibi nanti bagaimana?"
"Di rumah."
"Aku serius."
"Bibi juga."
Karina duduk di sampingnya.
Mereka membicarakan hal-hal praktis tanpa menganggap bi Murni tidak mampu mengurus diri.
Ada orang yang dapat dihubungi.
Ada kebutuhan rumah yang dapat disiapkan.
Ada waktu untuk saling menelepon.
Enam minggu akan terasa berbeda.
Tetapi mereka dapat membuatnya lebih mudah tanpa membatalkan kesempatan.
***
Keesokan harinya, pembicaraan di klinik menjadi lebih konkret.
Karina dan Reina membuka jadwal serta daftar pekerjaan yang sebelumnya disusun sebagai kemungkinan.
Sekarang mereka perlu mengetahui apa yang harus dipastikan dan kapan.
Tidak semuanya langsung mendapat jawaban.
Ada urusan tenaga kerja.
Ada jadwal kunjungan yang mungkin perlu diatur ulang.
Ada komunikasi kepada pihak yang bekerja bersama mereka.
Karina tidak meminta Reina mengurus semuanya sementara dirinya hanya menyiapkan perjalanan.
Ia mengambil bagian yang dapat dikerjakan sejak sekarang.
Len ikut mencatat beberapa hal yang berkaitan dengan tugasnya.
Jadwal belajarnya tetap diperhatikan.
Ketika pembicaraan selesai, Karina merasa lebih tenang.
Kesempatan yang besar ternyata tersusun dari banyak pekerjaan kecil.
Jika dikerjakan satu per satu, bentuknya tidak lagi terlalu menakutkan.
Reina menutup catatan.
"Kita lanjutkan setelah jawaban administrasimu lebih lengkap."
Karina mengangguk.
Satu tahap lagi.
Tidak perlu memaksa semuanya selesai dalam satu pagi.
***
Agus mengajak Karina makan pada waktu yang sesuai beberapa hari kemudian.
Kali ini jelas untuk merayakan kabar baik.
Tempatnya tetap sederhana.
Karina datang membawa salinan beberapa informasi karena ingin membicarakan rencana.
Agus tersenyum ketika melihat map.
"Perayaan dengan dokumen."
"Aku sedang menjadi orang yang membosankan."
"Tidak. Hanya sangat siap."
Mereka makan terlebih dahulu.
Setelah itu, Karina menceritakan langkah berikutnya dan bagian yang masih membuatnya khawatir.
Agus mendengarkan, lalu bertanya.
"Bagian mana yang kamu ingin kubantu?"
Karina memandangnya.
Pertanyaan itu membuat senyumnya muncul perlahan.
Bukan aku akan mengurus.
Bukan sudah kusiapkan.
Ia memberikan pilihan.
Karina menunjuk beberapa informasi yang ingin dibandingkan setelah seluruh petunjuk jelas.
"Bantu aku memeriksa pilihan nanti. Keputusannya kita bahas, tapi aku ingin memahami sendiri."
Agus mengangguk.
"Baik."
***
Setelah pembicaraan praktis selesai, Karina menutup map.
"Kamu sendiri bagaimana?"
Agus menatapnya.
Ia dapat menjawab senang dan berhenti di sana.
Namun, hubungan yang baru mereka pilih memerlukan lebih banyak kejujuran daripada itu.
"Aku senang. Dan mulai takut membayangkan kamu pergi."
Karina mendengarkan.
"Aku tidak ingin rasa takut itu membuatku mengganggu persiapanmu."
Gadis itu mengangguk perlahan.
"Aku juga takut."
Agus terkejut.
"Perginya?"
"Pergi. Meninggalkan pekerjaan sementara. Menjalani hubungan dari jauh. Tidak tahu apakah aku akan cukup mampu di tempat baru."
Mereka saling memandang.
Ternyata keduanya tidak sedang berdiri di sisi yang sepenuhnya yakin.
Karina meletakkan tangan di atas meja.
Agus menyambutnya ketika gadis itu mendekatkan jemari.
"Tapi aku tetap ingin mencoba," katanya.
Agus mengangguk.
"Aku tahu."
"Dan aku ingin kamu ada sebagai pasanganku. Bukan sebagai orang yang harus kubuktikan tidak akan kutinggalkan setiap hari."
Agus menggenggam tangannya sedikit lebih hangat.
"Aku akan mengingat itu."
***
Percakapan tersebut tidak menghasilkan aturan panjang malam itu.
Mereka sepakat membicarakan pengaturan setelah waktu dan kegiatan lebih jelas.
Tidak harus menelepon setiap jam.
Tidak menggunakan kecepatan membalas sebagai ukuran tunggal perhatian.
Jika ada kesulitan, dibicarakan.
Jika ada perubahan, diberi tahu.
Karina tersenyum setelah menyadari sebagian besar hal itu sebenarnya sudah mulai mereka pelajari.
Jarak akan membuatnya lebih sulit.
Namun, bukan berarti mereka harus menjadi orang lain ketika pesawat berangkat.
Setelah makan selesai, mereka berjalan keluar bersama.
Agus tidak mengatakan enam minggu akan terasa sebentar.
Karina juga tidak menjanjikan dirinya tidak akan berubah sama sekali.
Ia justru berharap pulang dengan pengalaman baru.
Dengan pengetahuan yang bertambah.
Dengan pandangan yang lebih luas.
Di dekat kendaraan, Agus berhenti dan memandangnya.
"Aku bangga kepadamu."
Karina tersenyum, kali ini tanpa menunduk untuk menyembunyikannya.
Kabar baik itu masih membuatnya gemetar.
Namun, sekarang ada tangan yang dapat digenggam tanpa harus melepas tujuan perjalanannya.