Karina bangun sebelum alarm.
Beberapa saat ia hanya memandangi langit-langit, mencoba mengingat apakah semua sudah disiapkan.
Lalu daftar itu datang dengan sendirinya.
Perangkat.
Dokumen.
Waktu.
Tempat.
Ia duduk dan menarik napas.
Dari bawah terdengar suara bi Murni bergerak di dapur.
Rumah masih cukup tenang.
Karina mandi, mengenakan pakaian yang telah dipilih, lalu merapikan rambut.
Tidak ada usaha menjadi orang lain.
Ia hanya ingin tampak siap.
Ketika turun, sarapan sudah tersedia.
Bi Murni memandangnya dari ujung meja.
"Makan."
Karina tersenyum.
"Iya."
"Jangan hanya satu suap karena gugup."
Gadis itu menurut.
Makanan terasa sulit ditelan pada awalnya, tetapi beberapa menit kemudian tubuhnya lebih tenang.
Ia mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke tempat yang sudah disiapkan.
Bi Murni mengangkat ibu jari.
Gerakan sederhana itu membuat Karina tertawa kecil.
***
Beberapa menit sebelum waktu yang ditentukan, Karina duduk di depan layar.
Ia memeriksa suara dan kamera sekali lagi.
Ponsel diletakkan dalam keadaan yang tidak akan mengganggu.
Catatan ada di dekatnya, tetapi tidak dibuka seperti naskah yang harus dibacakan.
Ketika sambungan dimulai, jantungnya berdebar lebih cepat.
Wajah-wajah yang belum dikenalnya muncul.
Sapaan diberikan.
Karina membalas dengan suara yang sempat terlalu kecil, lalu membetulkan setelah diminta memastikan suaranya terdengar.
Kesalahan kecil itu justru membantu.
Ia sudah melakukan sesuatu yang tidak sempurna.
Dan dunia tidak runtuh.
Pertanyaan pertama mengenai pengalaman kerja.
Karina mulai menjawab.
Beberapa kalimat awal terdengar kaku.
Namun, ketika membicarakan kegiatan yang benar-benar dijalaninya, ia mulai menemukan irama.
Klinik.
Kunjungan rumah.
Shelter.
Kerja bersama orang lain.
Ia tidak lagi hanya mengingat jawaban.
Ia menceritakan hidupnya sendiri.
***
Salah satu pertanyaan meminta contoh keadaan ketika dirinya harus mengubah pendekatan setelah mengetahui rencana awal tidak sesuai.
Karina mengambil waktu beberapa detik.
Ia memilih pengalaman yang dapat diceritakan tanpa membuka identitas atau urusan pasien secara berlebihan.
Ia menjelaskan bagaimana kondisi hewan, keadaan pemilik, dan keterbatasan di lapangan kadang membuat rencana yang terlihat baik di atas kertas harus disesuaikan.
Bukan berarti menyerah pada standar pekerjaan.
Melainkan mencari cara yang tetap dapat dijalankan dengan bertanggung jawab.
Saat menjawab, ia teringat percakapan dengan Agus mengenai bantuan.
Kadang masalahnya bukan kurang ingin membantu.
Kadang seseorang terlalu cepat memilih bentuk bantuan sebelum mendengar keadaan sebenarnya.
Karina tidak menyebut hubungan pribadinya.
Namun, pengalaman tersebut membuat jawabannya lebih jelas.
Salah satu pewawancara mengajukan pertanyaan lanjutan.
Ia mendengarkan sampai selesai sebelum menjawab.
Tidak perlu membuktikan kepandaian dengan bergerak lebih cepat daripada pertanyaan.
***
Ada bagian yang membuatnya harus mengakui keterbatasan.
Karina belum memiliki pengalaman mendalam pada semua hal yang dibahas dalam program.
Dahulu mungkin ia akan berusaha menyamarkannya dengan kalimat panjang.
Pagi itu ia mengatakan dengan jelas apa yang sudah pernah dilakukan dan apa yang masih ingin dipelajari.
Ia menjelaskan bagaimana kebiasaan bekerja bersama tim membantunya mengetahui kapan perlu meminta penilaian orang yang lebih berpengalaman.
Tidak ada tanda bahwa pengakuan tersebut mengakhiri percakapan.
Pertanyaan justru berlanjut.
Karina merasa sedikit lebih tenang.
Ia tidak sedang diminta menjadi orang yang sudah mengetahui semua hal sebelum mengikuti pelatihan.
Ia perlu menunjukkan bahwa dirinya memiliki dasar, alasan, dan kemauan untuk belajar dengan benar.
Perbedaan itu membuat bahunya turun.
Di luar ruangan, bi Murni bergerak sangat pelan sampai suara langkahnya hampir tidak terdengar.
Rumah ikut menjaga waktu yang telah disiapkan.
***
Menjelang akhir, Karina diberi kesempatan mengajukan pertanyaan.
Ia menanyakan beberapa hal yang memang penting bagi persiapan dan harapan terhadap kegiatan.
Tidak memilih pertanyaan hanya agar tampak rajin.
Ia ingin tahu.
Jawaban dicatat singkat.
Lalu percakapan ditutup dengan penjelasan bahwa hasil tahap berikutnya akan disampaikan setelah proses penilaian selesai.
Karina mengucapkan terima kasih.
Sambungan berakhir.
Layar kembali memperlihatkan ruang yang kosong.
Ia tetap duduk beberapa detik.
Kemudian menutup wajah dengan kedua tangan dan mengembuskan napas panjang.
Selesai.
Belum tentu berhasil.
Namun, selesai.
Pintu diketuk pelan.
"Non?"
Karina menoleh.
"Sudah, Bi."
Bi Murni masuk dengan wajah menunggu.
"Bagaimana?"
Karina memikirkan jawabannya.
"Aku bisa bicara."
Perempuan itu tersenyum.
"Syukurlah. Dari tadi bibi juga tahu Non punya mulut."
Karina langsung tertawa.
***
Kabar dikirim kepada orang tua dan orang-orang yang menunggu.
Karina tidak langsung menyimpulkan hasil dari setiap ekspresi pewawancara.
Ia mencoba mengingat bagian yang dapat diperbaiki untuk kesempatan lain, lalu berhenti sebelum pikirannya berubah menjadi pemeriksaan tanpa akhir.
Reina menanyakan apakah dirinya tetap akan datang sesuai jadwal yang telah diatur.
Karina mengangguk melalui pesan.
Ia masih memiliki pekerjaan hari itu.
Datang ke klinik membantu mengembalikan tubuhnya kepada rutinitas.
Len menyambut dengan wajah penasaran.
"Sudah selesai, Dok?"
"Sudah."
"Sulit?"
"Ada bagian yang membuat berpikir."
Len mengangguk seolah sedang membicarakan tugasnya sendiri.
"Lalu dokter jawab?"
Karina tertawa.
"Iya."
"Berarti sudah dikerjakan."
Jawaban tersebut begitu sederhana sampai Karina berhenti mencari penjelasan yang lebih rumit.
Benar.
Ia sudah mengerjakan bagiannya.
Sekarang menunggu.
***
Agus baru menelepon setelah Karina memiliki waktu istirahat.
Ia tidak membuka dengan pertanyaan apakah semuanya pasti lancar.
"Bagaimana rasanya sekarang?"
Karina bersandar.
"Lapar lagi."
Agus tertawa.
"Jawaban yang cukup meyakinkan."
Ia menceritakan beberapa bagian wawancara.
Ada pertanyaan yang sesuai perkiraan.
Ada yang membuatnya harus berpikir.
Ada saat ia mengakui belum banyak pengalaman.
Agus mendengarkan tanpa mengubah semua itu menjadi pujian otomatis.
Ketika Karina mengatakan bahwa dirinya sempat khawatir pengakuan keterbatasan akan membuat penilaian buruk, Agus mengingatkan bahwa ia datang untuk mengikuti pelatihan.
Karina mengangguk.
"Aku tahu. Tapi tetap saja."
"Iya. Tetap gugup."
Gadis itu tersenyum.
Ia menyukai bahwa Agus tidak berusaha menghapus setiap perasaan hanya karena secara logika sudah ada jawaban.
Kadang mengetahui sesuatu memang belum membuat tubuh langsung tenang.
***
Hari-hari setelah wawancara kembali berjalan.
Tidak ada keputusan pada malam yang sama.
Tidak pula keesokan paginya.
Karina memeriksa surel pada waktu yang wajar, kemudian kembali bekerja.
Pada salah satu malam, ia dan Agus sempat bertemu untuk makan singkat.
Tidak merayakan penerimaan yang belum ada.
Hanya menandai bahwa satu tahap telah dijalani.
Agus membawa dirinya sendiri, bukan hadiah.
Karina merasa lega.
Mereka membicarakan hal-hal biasa sampai gadis itu tiba-tiba mengaku.
"Aku masih takut kalau tidak diterima."
Agus mengangguk.
"Aku juga akan kecewa kalau sesuatu yang kuinginkan tidak terjadi."
"Kamu tidak mau bilang pasti diterima?"
"Aku tidak tahu hasilnya."
Karina memandangnya.
Lalu tersenyum kecil.
"Jawaban yang jujur."
"Tapi aku tahu kamu sudah bekerja sungguh-sungguh."
Kalimat itu tinggal lebih lama daripada janji keberhasilan yang tidak dapat dibuat siapa pun.
***
Di rumah, Ica menerima perkembangan kecil dalam kegiatan belajarnya.
Ia mulai mengenali beberapa hal dengan lebih percaya diri, meskipun tenaga dan perhatian tetap perlu dijaga.
Bagas menunjukkan satu hasil kepada Agus setelah anak itu beristirahat.
Wajah kakaknya penuh kebanggaan.
Agus melihat tulisan yang masih belum rapi.
"Bagus."
Bagas mengangguk.
"Aku tahu ini kecil."
Agus menatapnya.
"Siapa bilang?"
Kakaknya terdiam.
Agus tersenyum.
Mereka telah melewati hari ketika satu panggilan Papa terasa sangat besar.
Tidak ada alasan sekarang ukuran keberhasilan harus langsung mengikuti orang lain.
Bagas menyimpan kertas itu dengan hati-hati.
Di dekatnya, Andre mulai membicarakan bingkai.
Agus menutup mata.
"Ayah, tidak semua kertas harus dipajang besok."
Andre mendengus.
"Ini cucu Ayah."
Bagas tertawa.
Sebagian kebiasaan keluarga rupanya akan tetap bertahan, hanya dengan alasan yang semakin banyak.
***
Hampir sepekan setelah wawancara, Karina menerima pemberitahuan baru ketika sedang bersiap menutup pekerjaan.
Ia melihat nama pengirim dan langsung berhenti.
Len yang berada di dekatnya ikut diam tanpa mengetahui isinya.
Karina membuka pesan.
Membaca bagian pertama.
Lalu kembali ke awal karena pikirannya terlalu cepat melompat.
Ada keputusan.
Ada ucapan selamat.
Ada daftar langkah administrasi berikutnya yang harus diselesaikan sebelum keikutsertaan dikonfirmasi sepenuhnya.
Karina memegang tepi meja.
Len mendekat satu langkah.
"Dok?"
Gadis itu mengangkat wajah.
Matanya mulai basah.
"Diterima."
Pemuda itu tersenyum lebar.
Reina yang baru masuk berhenti di pintu.
Karina tertawa sambil mengusap mata.
Bukan karena semua pekerjaan selesai.
Justru karena sekarang ada banyak hal nyata yang harus dikerjakan.
Tetapi untuk beberapa detik pertama, ia hanya ingin membiarkan kabar itu menjadi kabar baik.