Dua minggu berikutnya tidak dipenuhi pertemuan setiap hari.
Karina tetap bekerja di klinik dan pet shop. Ada kegiatan program yang sudah disepakati, kunjungan yang harus diatur, serta waktu istirahat yang tidak bisa terus dipinjam.
Agus juga memiliki jadwal praktik, siaran, dan bagian tanggung jawabnya di rumah.
Kadang mereka hanya bertukar beberapa pesan.
Kadang sempat berbicara sepuluh menit sebelum salah satu mengantuk.
Pertemuan pertama yang harus dibatalkan justru berasal dari Karina.
Ada pekerjaan yang memerlukan waktu lebih panjang daripada perkiraan. Ia mengabari Agus sebelum waktu yang disepakati, menjelaskan bahwa dirinya belum dapat pergi.
Agus sedang bersiap ketika pesan itu masuk.
Ia kecewa.
Tentu saja.
Namun, ia tidak membuat Karina menebak-nebak apakah dirinya marah.
"Baik. Selesaikan pekerjaanmu. Nanti kita cari waktu lain."
Karina membaca jawaban tersebut di antara dua urusan.
Ia membalas terima kasih, lalu kembali memusatkan perhatian.
Tidak ada tambahan pekerjaan menenangkan pacar yang merasa seluruh harinya dibatalkan.
***
Kesempatan berikutnya datang tiga hari kemudian.
Mereka makan malam singkat di tempat yang dekat dengan jalur pulang keduanya.
Agus datang lebih dahulu.
Karina tiba dengan rambut yang mulai lepas dari ikatan dan wajah lelah.
"Maaf, aku tidak sempat merapikan."
Agus memandangnya.
"Kamu datang setelah bekerja."
"Aku tahu. Tapi—"
"Pesan makanan dulu?"
Karina berhenti, lalu tertawa.
"Iya. Tolong."
Mereka makan sambil membicarakan hal-hal kecil.
Agus tidak menjadikan keterlambatan merapikan diri sebagai sesuatu yang perlu diperbaiki.
Karina juga tidak menganggap perhatian tersebut luar biasa sampai harus dibalas dengan pujian panjang.
Ia hanya merasa nyaman.
Setelah makanan datang, wajahnya perlahan lebih segar.
Agus melihat perubahan itu dan tersenyum.
"Apa?" tanya Karina.
"Ternyata makanan memang membantu."
"Jangan bilang kepada bi Murni. Dia akan merasa seluruh teorinya terbukti."
***
Di rumah, Bagas mulai mengatur kegiatan belajar sederhana untuk Ica berdasarkan pembicaraan dan penilaian yang telah dilakukan.
Tidak ada keputusan mendadak bahwa anak itu harus mengejar semua yang tertinggal.
Mereka mencari cara yang sesuai dengan tenaga serta kebutuhannya.
Kegiatan dimulai pendek.
Ada waktu untuk melihat gambar, mengenali bentuk, dan mendengarkan cerita.
Jika Ica lelah, mereka berhenti.
Agus kadang membantu, meskipun ia segera mengetahui bahwa kesabarannya masih perlu dilatih.
Ica dapat bertanya hal yang sama beberapa kali.
Kadang bukan karena tidak mengerti.
Ia hanya ingin mendengar jawabannya lagi.
Pada suatu sore, Agus hampir mengatakan bahwa dirinya sudah menjelaskan.
Lalu ia melihat wajah keponakannya.
Ia mengulang dengan cara berbeda.
Bagas yang berada di dekat mereka memperhatikan tanpa berkomentar.
Perubahan sering lebih meyakinkan ketika orang tidak menyadari sedang dilihat.
***
Karina mengetahui perkembangan itu melalui cerita Bagas dan Agus pada waktu berbeda.
Ia senang mendengarnya, tetapi tidak mengubah dirinya menjadi orang yang terus memeriksa semua kegiatan Ica.
Keluarga itu telah memiliki pengaturan.
Karina tetap datang ketika waktunya sesuai atau mengirim cerita jika diminta melalui Bagas.
Suatu kali ia menerima gambar dengan tulisan kecil yang dibuat Ica dengan bantuan.
Namanya belum ditulis sempurna.
Namun, Karina memandangi kertas dalam foto itu cukup lama.
Len mendekat.
"Nama dokter?"
Karina mengangguk.
"Lucu."
"Rambutnya masih besar."
Karina langsung menoleh.
Len tertawa dan mundur sebelum sempat disuruh membereskan sesuatu tambahan.
Gambar tersebut disimpan Karina di ponsel.
Bukan untuk diumumkan.
Hanya karena membuatnya senang.
Ada hubungan yang tumbuh melalui hal-hal kecil tanpa perlu diberi judul di hadapan banyak orang.
***
Agus menjalani siaran berikutnya tanpa menjadikan hubungan baru sebagai bahan pembicaraan.
Gilang mengetahui bahwa dirinya dan Karina mulai dekat lebih serius, tetapi menghormati permintaan untuk memisahkan urusan pribadi dari materi acara.
Sebelum siaran, seorang anggota tim sempat menggoda.
Agus tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan kepada pekerjaan.
Ia tidak bersikap seolah hubungan itu rahasia memalukan.
Namun, ia juga tidak ingin setiap senyum Karina menjadi sesuatu yang dapat dipakai untuk menarik perhatian penonton.
Pada malam yang sama, Karina menerima pertanyaan serupa dari seseorang di tempat pengambilan gambar.
Ia menjawab singkat bahwa kehidupan pribadinya baik, kemudian kembali membicarakan materi.
Setelah selesai, mereka saling berkabar.
"Ternyata mengalihkan pertanyaan memerlukan latihan," tulis Karina.
Agus membalas.
"Aku biasanya justru mencari kesempatan bicara tentang diri sendiri."
"Berarti ini pelajaran baru."
"Nilainya belum sempurna."
Karina tersenyum.
Setidaknya mereka sedang mempelajari hal yang sama.
***
Pada akhir minggu, Len pulang dari kegiatan belajar dengan wajah cerah.
Ia menunjukkan hasil tugas yang telah diperbaiki setelah mendapat masukan.
Bukan nilai sempurna.
Namun, jauh lebih baik daripada pekerjaan awalnya.
Karina membaca sebentar, lalu mengembalikan.
"Kamu memperbaiki bagian yang kemarin sulit."
Len mengangguk.
"Saya bertanya."
"Bagus."
"Awalnya malu."
"Masih malu?"
"Sedikit. Tapi ternyata lebih capek pura-pura mengerti."
Karina tertawa kecil.
Kalimat itu disampaikannya kepada Agus malam hari ketika mereka berbicara.
Laki-laki itu diam beberapa detik.
"Aku rasa banyak orang dewasa perlu belajar dari Len."
"Kamu termasuk?"
"Jelas."
Karina tersenyum.
Mereka kemudian membicarakan pekerjaan Agus yang belakangan lebih teratur.
Tidak menjadi lebih ringan.
Namun, ia mulai mengurangi kekacauan yang dahulu dibuat oleh kebiasaan menunda kejelasan.
Karina dapat mendengarnya dari cara ia menceritakan hari.
Tidak setiap masalah lagi-lagi berasal dari orang lain.
***
Suatu malam, Agus menelepon dengan suara lelah.
Karina sedang menutup catatan.
"Kamu masih bekerja?" tanyanya.
"Baru selesai."
"Kalau mau tidur, kita tidak perlu bicara lama."
"Aku ingin mendengar suaramu sebentar."
Karina terdiam.
Kalimat itu sederhana, tetapi membuat pipinya hangat.
Ia menurunkan pena.
"Baik. Sebentar."
Mereka tidak membicarakan sesuatu yang penting.
Agus bercerita bahwa Andre kembali mengeluh mengenai pakan Rambo.
Karina tertawa.
Lalu keheningan muncul.
Bukan keheningan yang harus diisi karena takut dianggap tidak menarik.
Hanya dua orang yang sedang lelah.
Setelah beberapa menit, Karina menyuruhnya tidur.
Agus menurut.
Panggilan berakhir tanpa janji bertemu esok.
Karina kembali merapikan meja.
Ia mulai mengerti bahwa kedekatan tidak selalu diukur dari berapa lama seseorang mengambil waktunya.
Kadang justru dari seberapa mudah mereka membiarkan satu sama lain beristirahat.
***
Pertanyaan mengenai pendaftaran muncul lebih jarang daripada yang dibayangkan Karina.
Orang tua tidak terus menagih kabar.
Ditya sesekali mengingatkan agar ia tidak memeriksa surel setiap lima menit.
Reina menanyakan hanya jika ada hal yang perlu dipersiapkan untuk kemungkinan jadwal.
Agus juga tidak menjadikan hasil seleksi sebagai pusat percakapan.
Karina bersyukur.
Ia ingin kesempatan itu.
Namun, ia tidak ingin seluruh kehidupannya menunggu satu pesan.
Pada hari ketika hampir berhasil tidak memikirkannya sepanjang siang, pemberitahuan baru masuk.
Karina sedang menyelesaikan catatan ketika melihat nama pengirim.
Tangannya berhenti.
Ia membuka surel dengan napas yang mendadak terasa pendek.
Bukan keputusan akhir.
Undangan mengikuti tahap wawancara.
Karina membaca dari awal sampai akhir.
Lalu membacanya sekali lagi.
Len yang melihat wajahnya langsung berhenti bekerja.
"Dok?"
***
Karina mengangkat ponsel.
"Masuk tahap berikutnya."
Len tersenyum lebar.
Reina menoleh dari meja lain.
"Selamat."
Karina tertawa kecil, masih seperti belum sepenuhnya percaya.
Ada jadwal yang harus dipilih dan beberapa hal yang perlu dikonfirmasi.
Wawancara dilakukan secara daring.
Tidak terlalu lama lagi.
Kegembiraan segera bercampur dengan gugup.
Ia memandang Reina.
"Berarti sekarang harus bicara."
Reina mengangkat alis.
"Kamu berbicara setiap hari."
"Ini berbeda."
"Tentu. Tapi mulutnya tetap sama."
Len tertawa.
Karina menutup wajah dengan satu tangan.
Ternyata seluruh orang di sekitarnya mulai mempelajari cara Ditya menenangkan melalui ejekan.
Namun, tawa itu membantu.
Ia duduk dan mulai membaca petunjuk dengan lebih teliti.
Kesempatan tersebut belum menjadi miliknya.
Tetapi kini pintunya terbuka sedikit lebih jauh.
***
Agus menerima kabar itu ketika sedang berada di rumah.
Ia langsung meminta izin menelepon sebentar.
Karina menyetujui setelah pekerjaannya selesai.
"Selamat," katanya.
"Belum diterima."
"Aku tahu. Selamat karena sampai tahap berikutnya."
Karina tersenyum.
Kalimat yang sama tetap membuatnya merasa dilihat dengan tepat.
Ia menceritakan jadwal wawancara, kemudian mengeluh bahwa dirinya sudah membayangkan lupa semua kata.
Agus tertawa pelan.
"Kamu boleh berlatih cerita denganku kalau mau."
"Jangan memberi nilai berdasarkan pacaran."
"Aku bisa mencoba sangat menyebalkan."
"Kamu tidak perlu mencoba terlalu keras."
Tawa mereka bertemu di dua tempat berbeda.
Setelah panggilan selesai, Karina membuka catatan baru.
Tahap berikutnya dimulai.
Dan untuk pertama kalinya, ia memiliki seseorang yang dapat diajak berbagi kegugupan tanpa harus mengurangi kegembiraannya sendiri.