Pesan pertama Agus keesokan paginya hanya berisi dua kata.
"Selamat pagi."
Karina membacanya ketika sedang mengikat rambut.
Ia menunggu beberapa detik, seolah akan ada kelanjutan mengenai pasien, jadwal, atau keadaan Ica.
Tidak ada.
Hanya sapaan.
Karina tersenyum sendiri, lalu membalas dengan kalimat yang sama.
Beberapa saat kemudian, pesan berikutnya masuk.
"Sudah sarapan?"
Ia langsung tertawa.
Bi Murni yang sedang membawa piring menoleh.
"Apa, Non?"
"Dokter Rangga menanyakan sarapan."
Perempuan itu mengangguk puas.
"Bagus. Setidaknya ada satu hal yang dia pahami."
Karina menggeleng.
Sekarang jumlah orang yang merasa perlu memeriksa isi perutnya bertambah.
Ia memotret sarapan, lalu mengirimkannya kepada Agus.
Balasan laki-laki itu datang singkat.
"Terlihat enak."
Karina mengetik sambil duduk.
"Ini bukan undangan."
Agus mengirim tawa.
Pagi pertama setelah mereka sepakat menjalani hubungan ternyata tetap dipenuhi hal-hal biasa.
Anehnya, justru itu yang membuat Karina senang.
***
Di rumah keluarga Tjokro, Agus tersenyum kepada ponsel sampai Bagas meletakkan gelas di depannya.
"Minum dulu sebelum menatap layar lagi."
Agus mendongak.
Kakaknya duduk dengan wajah yang jelas mengetahui sesuatu.
"Sudah bicara?"
Agus mengangguk.
"Dan?"
"Kami sepakat mencoba."
Bagas tersenyum.
"Baik."
Hanya itu.
Agus hampir kecewa karena reaksinya terlalu tenang.
Namun, beberapa detik kemudian Bagas menambahkan.
"Jangan membuat dia menyesal karena memberimu kesempatan."
Agus menghela napas.
"Mas selalu tahu cara merusak rasa senang."
"Bukan merusak. Menaruh lantai supaya kamu tidak melayang terlalu tinggi."
Agus tertawa.
Bagas menepuk bahunya sebelum berdiri untuk melihat Ica.
Percakapan itu singkat, tetapi membuat Agus merasa lebih mantap.
Ia tidak membutuhkan seluruh keluarga bersorak.
Cukup seseorang yang mengetahui seberapa jauh dirinya telah berusaha dan tetap mengingatkan bahwa usaha tersebut belum selesai.
***
Andre mengetahui beberapa menit kemudian.
Agus sengaja menyampaikan sendiri sebelum kabar tiba melalui dugaan.
Ia menunggu ayahnya selesai makan, lalu duduk.
"Ayah, aku dan Karina sepakat menjalani hubungan."
Sendok Andre berhenti di atas piring.
Laki-laki itu menatap putranya.
"Kamu?"
Agus mengerutkan kening.
"Iya. Aku."
"Dengan dokter Karina?"
"Orangnya tidak berubah sejak kalimat pertama."
Andre meletakkan sendok.
Beberapa detik ia diam.
Kemudian wajahnya cerah dengan kecepatan yang membuat Agus segera mengangkat tangan.
"Pelan-pelan, Yah."
Andre berhenti sebelum sempat berdiri.
"Ayah belum melakukan apa-apa."
"Aku tahu. Karena itu aku mengingatkan sekarang."
Laki-laki itu mendengus, tetapi duduk kembali.
Ia menanyakan apakah Karina benar-benar menyetujui, lalu Agus menjawab dengan tegas.
Setelah itu, Andre mengangguk berkali-kali.
Di dekat pintu, Bagas yang mendengar percakapan hanya tersenyum sambil menggeleng.
***
"Ayah boleh memberi selamat?" tanya Andre.
"Boleh."
"Boleh menelepon?"
Agus berpikir sebentar.
"Ayah bisa menyampaikan kalau bertemu. Jangan tiba-tiba membuat dia merasa harus melayani seluruh kegembiraan keluarga."
Andre menatapnya.
Kalimat tersebut jelas tidak sepenuhnya menyenangkan.
Namun, setelah beberapa saat ia mengangguk.
"Baik."
Agus tampak lega.
Lalu Andre bertanya dengan wajah serius.
"Berarti sekarang kamu harus lebih rajin memahami kambing."
Agus menutup mata.
"Ayah."
"Apa? Pacarmu dokter hewan."
"Hubungan kami bukan program magang peternakan."
Andre tertawa.
Bagas akhirnya ikut masuk dan mengatakan bahwa Rambo pasti senang memiliki alasan baru untuk memperoleh perhatian.
Agus memandang kedua orang itu.
Tampaknya ia baru saja memberikan keluarganya bahan ejekan untuk beberapa bulan berikutnya.
Namun, untuk sekali ini, ia tidak benar-benar keberatan.
***
Karina menyampaikan kabar kepada orang tuanya pada waktu yang telah mereka sepakati untuk berbicara.
Ditya ikut terlihat di belakang, duduk dengan ekspresi yang terlalu ingin tahu.
Karina langsung menunjuk layar.
"Mas jangan ikut membuat komentar dulu."
"Mas baru bernapas."
Mama tertawa.
Papa meminta mereka berhenti saling mengganggu agar Karina dapat bicara.
Gadis itu menjelaskan bahwa dirinya mulai menjalani hubungan dengan Agus.
Ia menyebut pekerjaannya sebagai dokter manusia tanpa berusaha menyembunyikan bagian tersebut.
Wajah papa berubah sedikit.
Bukan marah.
Lebih seperti seseorang yang langsung mengingat beberapa percakapan lama.
Karina menunggu.
Papa akhirnya bertanya.
"Kamu merasa bisa menjadi dirimu sendiri saat bersamanya?"
Pertanyaan itu membuat Karina terdiam lebih lama daripada jika papa menanyakan penghasilan atau keluarga.
"Iya," jawabnya. "Aku masih mengenalnya. Tapi aku bisa mengatakan tidak dan berbeda pendapat."
Papa mengangguk perlahan.
"Bagus. Pertahankan itu."
***
Karina tidak menceritakan seluruh kehidupan pribadi Agus kepada orang tua.
Namun, ia juga tidak berpura-pura bahwa awal kedekatan mereka selalu menyenangkan.
Ia mengatakan pernah ada kesalahan yang cukup serius, bahwa Agus telah mengakuinya, dan bahwa dirinya memilih melihat perubahan dengan hati-hati.
Papa mendengarkan.
Mama menanyakan apakah Karina merasa terburu-buru.
Gadis itu menggeleng.
"Kami sepakat pelan."
Ditya yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Papa, aku sudah pernah bertemu dia."
Karina langsung menoleh.
"Mas."
"Aku cuma bilang sudah bertemu."
Papa memandang putranya.
"Menurutmu?"
Ditya berpikir sebentar.
"Karina bisa menilai sendiri. Aku hanya melihat orang itu belakangan lebih mau mendengar."
Karina menatap layar.
Ia tidak menyangka kakaknya akan berhenti di sana.
Tidak mengambil alih penilaian.
Tidak menjadikan pendapatnya sebagai izin.
Ditya menangkap pandangannya dan tersenyum kecil.
Untuk sekali ini, wajahnya tidak terlalu menyebalkan.
***
Setelah panggilan selesai, Karina mengabari Agus bahwa orang tuanya sudah tahu.
Laki-laki itu membalas beberapa menit kemudian.
"Aku mendadak merasa perlu duduk."
Karina tertawa.
"Papa tidak sedang memanggilmu mengikuti ujian."
"Belum."
"Mungkin nanti."
Agus mengirim wajah pasrah.
Karina kemudian menanyakan apakah Andre sudah diberi tahu.
Jawaban Agus membuatnya memegang kening.
"Sudah. Aku diminta belajar kambing."
Karina tertawa sampai bi Murni menoleh lagi.
Ia memperlihatkan pesan itu.
Perempuan tersebut mengangguk seolah Andre telah mengajukan syarat yang sangat masuk akal.
"Bagus. Biar pekerjaannya bertambah."
Karina memandangnya.
"Bibi sekarang di pihak siapa?"
"Di pihak orang yang lapar. Makanannya nanti dingin."
Gadis itu menyerah dan meletakkan ponsel.
Hubungan baru rupanya tidak memberinya kebebasan mengabaikan jadwal makan.
***
Di klinik, Karina tidak mengumumkan apa pun.
Ia bekerja seperti biasa.
Namun, Len mengetahui ada perubahan ketika Karina menerima panggilan singkat dari Agus dan menjawab dengan suara yang terdengar lebih hangat.
Pemuda itu tidak langsung bertanya.
Baru pada waktu istirahat, ia mendekat dengan wajah ragu.
"Dok, boleh tanya?"
Karina memandangnya.
"Kalau soal tugas, tunjukkan bukunya."
"Bukan."
Gadis itu menghela napas, tetapi sudut bibirnya bergerak.
"Aku dan dokter Rangga memang sedang menjalani hubungan."
Len berkedip.
"Oh."
"Kamu juga punya kata itu?"
Len tertawa malu.
"Saya senang kalau dokter senang."
Karina terdiam sebentar.
Kemudian tersenyum.
"Terima kasih."
Tidak ada pertanyaan mengenai kapan menikah.
Tidak ada penilaian bahwa semua kesalahan Agus otomatis hilang.
Len hanya menerima kabar tersebut dengan sederhana.
Karina menyukai itu.
***
Malamnya, Agus duduk bersama Ica sambil melihat gambar.
Anak itu menunjuk sosok perempuan berambut besar.
"Bu dokter kapan datang lagi?"
"Nanti kalau ada jadwal dan waktunya cocok."
Ica mengangguk.
"Om sering bicara sama bu dokter?"
Agus berhenti.
Bagas yang sedang lewat langsung memperlambat langkah.
"Kadang," jawab Agus.
Ica memandangnya.
"Kalau bicara, jangan gambar hamster lagi. Sudah banyak."
Bagas tertawa keras sebelum menutup mulut.
Agus memandangi keponakannya.
Anak itu sama sekali tidak mengetahui alasan pamannya mendadak terlihat salah tingkah.
Baginya, persoalan utama tetap jumlah hamster di kertas.
Agus mengangguk.
"Baik. Om cari topik lain."
Ica kembali menggambar.
Bagas menepuk bahu adiknya ketika lewat.
Tampaknya seluruh keluarga memiliki cara sendiri untuk memastikan Agus tidak terlalu merasa hebat.
***
Sebelum tidur, Karina dan Agus berbicara sebentar melalui telepon.
Tidak ada topik besar.
Mereka saling menanyakan hari masing-masing.
Karina bercerita mengenai pasien yang menolak keluar dari tempat bawaannya, sementara Agus menceritakan komentar Ica tentang hamster.
Tawa membuat keheningan setelahnya terasa nyaman.
Kemudian Agus berkata pelan.
"Aku masih agak canggung menyebutmu pacarku."
Karina tersenyum dalam gelap.
"Aku juga."
"Buruk?"
"Tidak. Baru."
Agus mengangguk meskipun tidak terlihat.
Mereka tidak perlu segera terdengar seperti pasangan yang sudah saling mengenal bertahun-tahun.
Ada kebiasaan yang akan tumbuh.
Ada batas yang akan dibicarakan.
Ada rasa sayang yang belum harus dibuktikan melalui kalimat panjang setiap malam.
Karina mengingatkan bahwa esok mereka sama-sama bekerja.
Agus berpamitan.
Setelah panggilan berakhir, gadis itu meletakkan ponsel dengan senyum yang masih tinggal.
Canggung ternyata tidak selalu berarti salah.
Kadang hanya berarti sesuatu baru saja dimulai.