Karina memeriksa seluruh dokumen sekali lagi pada pagi yang lebih tenang.
Ia sudah menyisihkan waktu sebelum berangkat bekerja agar tidak harus melakukannya di antara pasien.
Nama.
Riwayat pengalaman.
Tulisan alasan mengikuti.
Lampiran.
Semua dibaca dengan teliti.
Bi Murni meletakkan sarapan di dekatnya, lalu berhenti ketika melihat wajah Karina.
"Masih ada yang kurang?"
"Sepertinya tidak."
"Kalau begitu?"
Karina memandangi tombol di layar.
Tangannya berada di atas mouse.
Bi Murni duduk.
Ia tidak mendesak.
Tidak menghitung mundur seperti orang hendak melompat dari tempat tinggi.
Hanya menunggu.
Karina menarik napas, lalu menekan.
Beberapa detik terasa lebih lama daripada seharusnya.
Kemudian pemberitahuan pengiriman muncul.
Berkas telah diterima untuk diproses.
Belum ada keputusan penerimaan.
Namun, pendaftarannya sudah masuk.
Karina bersandar dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Bi Murni tersenyum.
"Sekarang makan?"
Karina tertawa.
"Iya, Bi. Sekarang makan."
***
Kabar pertama dikirim kepada orang tua.
Lalu kepada Ditya, Reina, dan Len yang membantu menyiapkan bagian pekerjaan.
Balasan datang pada waktu berbeda.
Ada ucapan semoga lancar.
Ada pengingat bahwa sekarang Karina perlu menunggu.
Ditya mengirim pesan bahwa dirinya tidak boleh memeriksa kotak masuk setiap lima menit.
Karina membalas bahwa kakaknya terlalu mengenal kebiasaan buruknya.
Setelah itu, ia membuka percakapan Agus.
"Sudah dikirim."
Balasannya datang menjelang siang.
"Selamat sudah sampai tahap itu."
Karina memandang kalimat tersebut dengan senyum kecil.
Bukan selamat diterima.
Bukan keyakinan bahwa dirinya pasti lolos.
Agus mengucapkan selamat untuk pekerjaan yang memang sudah diselesaikan.
Ia membalas dengan ucapan terima kasih.
Kemudian menambahkan.
"Kamu ingin bicara kapan?"
Agus membaca setelah menyelesaikan urusan kerja.
Kali ini ia tidak membutuhkan tiga draf panjang.
Mereka memilih waktu pada sore berikutnya.
***
Hari itu, pekerjaan terasa sedikit lebih ringan meskipun jumlah pasien tidak berkurang.
Karina tidak terus memikirkan tulisan yang belum selesai.
Ia sudah mengirim.
Sekarang tugasnya menunggu tanpa berhenti menjalani hal lain.
Len tampak ikut lega.
"Kalau diterima, nanti dokter jangan lupa cerita tugasnya."
Karina mengangguk.
"Kalau tidak diterima?"
"Dokter tetap cerita. Biar saya tahu orang yang sudah pintar juga bisa mencoba lagi."
Karina menatapnya.
Pemuda itu tampak tidak menyadari bahwa kalimatnya membuat dada Karina hangat.
Ia hanya kembali merapikan alat.
Karina tersenyum sendiri.
Mungkin selama ini dirinya terlalu sibuk memberi nasihat sampai lupa bahwa orang yang lebih muda juga dapat mengingatkannya pada sesuatu yang penting.
Sore menjelang, ia memeriksa jadwal esok.
Ada pekerjaan.
Ada pertemuan dengan Agus.
Keduanya diberi tempat tanpa harus saling menghapus.
***
Agus mempersiapkan percakapan tersebut dengan cara yang lebih sederhana daripada sebelumnya.
Ia tidak mencari tempat mahal.
Tidak membawa hadiah yang dapat membuat Karina merasa perlu memberi jawaban menyenangkan.
Ia hanya memastikan waktunya benar-benar tersedia dan tidak bertabrakan dengan tanggung jawab lain.
Bagas mengetahui dari jadwal yang dibicarakan.
Kakaknya memandangnya sebentar.
"Mau mengatakan apa?"
"Yang jelas."
"Semoga memang jelas. Biasanya orang gugup banyak berputar."
Agus mendesah.
"Mas membantu sekali."
Bagas tersenyum, lalu menepuk bahunya.
"Jangan menjanjikan sesuatu yang belum bisa kamu kerjakan."
Agus mengangguk.
Nasihat itu telah didengarnya beberapa kali.
Namun, kali ini terasa berbeda.
Ia tidak sedang berusaha keluar dari kesalahan.
Ia sedang meminta kesempatan membangun sesuatu.
Dan ia ingin permintaan tersebut berdiri di atas keadaan dirinya sekarang, bukan gambaran sempurna yang dibuat agar orang lain bersedia mendekat.
***
Karina datang dengan pakaian sederhana setelah bekerja.
Mereka bertemu di tempat yang cukup tenang untuk berbicara, tetapi tetap merupakan tempat biasa yang dapat didatangi orang lain.
Agus berdiri ketika melihatnya.
"Kamu terlihat lega."
"Karena dokumennya sudah tidak bisa kuubah sesuka hati."
Agus tertawa.
"Berarti sekarang pekerjaanmu menunggu."
"Jangan terdengar senang. Aku buruk sekali dalam menunggu."
"Aku mulai mengerti."
Karina menatapnya, lalu tersenyum.
Mereka memesan minuman dan berbicara sebentar mengenai hari masing-masing.
Tidak lama.
Keduanya mengetahui ada sesuatu yang sengaja diberi waktu sore itu.
Ketika pelayan pergi, Agus meletakkan kedua tangan di meja.
Karina melihat gerakan tersebut dan merasa jantungnya kembali lebih cepat.
Laki-laki yang biasanya terlihat percaya diri itu tampak benar-benar sedang memilih kata.
Ia membiarkannya.
Tidak semua keheningan perlu diselamatkan.
***
"Aku menyukaimu," kata Agus akhirnya.
Karina tidak langsung menjawab.
Mendengar kalimat yang sudah dapat ditebak tetap berbeda dari membayangkannya.
Agus melanjutkan dengan suara tenang.
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat dan menjalani hubungan denganmu, kalau kamu juga menginginkannya."
Tidak ada kalimat tentang dirinya tidak dapat hidup tanpa Karina.
Tidak ada klaim bahwa hanya gadis itu yang dapat mengubahnya.
Karina mendengarkan.
"Aku tahu ada alasan yang membuatmu berhati-hati," katanya. "Sebagian besar berasal dari perbuatanku sendiri."
Karina mengangguk kecil.
"Aku tidak bisa meminta kamu melupakan itu. Tapi aku ingin mendapat kesempatan membangun kepercayaan lewat cara hidupku, bukan hanya lewat penjelasan."
Gadis itu memandang wajahnya.
Agus tidak tersenyum untuk melunakkan kalimat.
Ia tampak gugup.
Namun, tidak sedang berpura-pura menjadi orang yang tidak memiliki masa lalu.
***
"Bagaimana dengan kemungkinan aku pergi?" tanya Karina.
Agus mengambil waktu sebelum menjawab.
"Aku ingin tetap mencoba. Kalau kamu diterima dan memutuskan pergi, kita bicarakan pengaturannya dengan jujur."
"Enam minggu tidak selalu terasa singkat."
"Aku tahu."
"Kamu terbiasa dekat dengan banyak orang."
Agus mengangguk.
"Itu bagian yang perlu kuubah dari cara menjalani hubungan. Bukan sesuatu yang bisa dibenarkan dengan alasan kamu jauh."
Karina memandang gelas.
Ia menghargai jawabannya.
Namun, masih ada hal yang ingin dipastikan.
"Aku tidak mau berada dalam hubungan yang membuatku harus memeriksa ponsel orang supaya merasa tenang."
"Aku juga tidak ingin kamu hidup seperti itu."
"Dan aku tidak ingin dibohongi lalu disebut terlalu curiga."
Agus mengangguk lebih pelan.
"Aku mendengar."
Karina mengangkat wajah.
Kali ini ia melihat bahwa laki-laki itu mengingat koreksi yang pernah diberikannya.
Hal kecil.
Tetapi tidak terasa kecil baginya.
***
"Aku tidak meminta kamu menjadi orang lain dalam satu hari," kata Karina. "Tapi kalau ada sesuatu yang penting, aku ingin tahu dari kamu."
"Iya."
"Kalau ada kesalahan, jangan ditutup dengan alasan supaya suasana tetap baik."
Agus mengangguk.
"Aku akan berusaha mengatakan yang benar, termasuk ketika membuatku terlihat buruk."
Karina terdiam beberapa saat.
Ia memikirkan papa.
Ditya.
Damar.
Kejadian di pet shop.
Dan Agus yang duduk di hadapannya sekarang.
Semua pengalaman itu ikut membentuk kehati-hatiannya.
Namun, tidak semuanya harus menjadi tembok yang membuat dirinya tidak pernah memilih sesuatu karena takut.
"Aku juga menyukaimu," katanya akhirnya.
Agus benar-benar diam.
Karina hampir tertawa melihat wajahnya.
"Jangan seperti tidak mendengar."
"Aku mendengar."
"Bagus."
Laki-laki itu tersenyum perlahan, tetapi tetap menunggu.
Karina menarik napas.
"Aku mau mencoba menjalani hubungan ini. Pelan, tetapi jelas."
***
Agus mengangguk.
Tidak langsung meraih tangan.
Tidak mengubah jawabannya menjadi alasan untuk merencanakan seluruh masa depan.
"Terima kasih," katanya.
Karina mengangkat alis.
"Kamu seperti baru diterima bekerja."
Agus tertawa, kali ini lebih lega.
"Rasanya aku baru lolos percakapan yang sulit."
"Belum tentu masa percobaannya mudah."
"Baik, Bu Dokter."
Karina tertawa.
Ketegangan akhirnya turun.
Mereka membicarakan hal-hal sederhana setelahnya.
Bagaimana menjaga waktu kerja.
Tidak harus membalas setiap pesan seketika.
Memberi tahu ketika ada perubahan rencana.
Karina juga mengatakan bahwa dirinya belum ingin hubungan tersebut menjadi bahan acara atau pengumuman yang mengundang semua orang memberi pendapat.
Agus menyetujui.
"Keluarga boleh tahu?" tanyanya.
Karina memikirkan Andre.
Lalu mengembuskan napas.
"Pelan-pelan. Terutama ayahmu."
Agus tertawa sampai harus menutup mulut.
Untuk persoalan itu, mereka langsung memiliki kekhawatiran yang sama.
***
Ketika waktu pertemuan hampir selesai, Karina mengambil tas.
Agus berdiri dan berjalan bersamanya menuju pintu.
Di luar, mereka berhenti sebentar.
Tidak ada sesuatu yang berubah secara mencolok pada jalan atau suara kendaraan.
Namun, Karina merasa sore itu memiliki bentuk yang berbeda.
Agus berdiri di dekatnya.
Tangannya bergerak sedikit, lalu berhenti seolah masih mempertimbangkan.
Karina melihat.
Ia mengulurkan tangan lebih dahulu.
Agus menatapnya, kemudian menyambut dengan hati-hati.
Genggamannya hangat.
Tidak erat sampai menahan.
Karina tersenyum kecil.
"Aku masih bisa pulang sendiri."
"Aku tahu."
"Jangan tiba-tiba mengikuti mobil."
Agus menunduk sambil tertawa malu.
"Aku pantas mendapat pengingat itu."
"Iya."
Mereka berdiri beberapa detik lagi sebelum melepaskan tangan.
Karina berpamitan dan menuju kendaraannya.
Agus tidak mengikutinya.
Ia tetap di tempat sambil tersenyum seperti orang yang baru menyadari bahwa menunggu jawaban ternyata jauh lebih baik daripada menciptakan kedekatan dengan memaksa.
***
Di rumah, bi Murni mengetahui ada sesuatu bahkan sebelum Karina berbicara.
Perempuan itu melihat wajahnya, lalu meletakkan piring.
"Sudah jelas?"
Karina berhenti.
"Bibi tahu dari mana?"
"Non tersenyum kepada rak sepatu."
Karina langsung menoleh ke bawah.
Bi Murni tertawa.
Ia akhirnya mengangguk dan menceritakan inti percakapan.
Tidak semuanya.
Cukup bahwa dirinya dan Agus sepakat mencoba hubungan dengan serius, tetapi tetap berjalan perlahan.
Bi Murni mendengarkan.
Lalu mengusap lengan Karina.
"Semoga kalian saling menjaga."
Karina mengangguk.
"Tapi makan tetap jangan terlambat."
Ia tertawa.
Tentu saja kalimat terakhir itu tetap ada.
Malam tersebut belum memberinya kepastian bahwa semuanya akan mudah.
Pendaftaran belum memperoleh jawaban.
Kepercayaan masih harus dibangun.
Ica masih menjalani pemulihan.
Dan Agus tetap memiliki banyak kebiasaan yang perlu dijaga agar tidak kembali.
Namun, Karina telah membuat satu pilihan dengan suara sendiri.
Untuk malam itu, ia ingin membiarkan dirinya merasa bahagia.