Pemeriksaan lanjutan Ica berlangsung pada hari yang telah dijadwalkan.
Bagas menyiapkan keperluan sejak malam sebelumnya agar pagi tidak dimulai dengan kepanikan.
Agus membantu mengantar sesuai pengaturan kerja.
Andre ingin ikut, tetapi akhirnya setuju menunggu kabar di rumah agar tidak terlalu banyak orang bergerak bersama.
Ia tetap mengirim pesan sebelum mereka berangkat.
Jangan lupa tanyakan semua.
Bagas memperlihatkannya kepada Agus.
Adiknya tersenyum.
"Kalau Ayah ikut, semua pertanyaan bisa diulang tiga kali."
Ica yang mendengar mengangkat kepala.
"Kakek lupa?"
Bagas mengusap rambut putrinya.
"Kakek ingin memastikan."
Anak itu mengangguk.
Ia membawa buku kecil dan satu gambar terbaru.
Kali ini gambarnya bukan hamster.
Ada rumah, beberapa orang, dan seekor kambing yang masih berukuran terlalu besar dibanding pintu.
Agus memandangnya.
Rambo rupanya tetap memiliki kedudukan tinggi dalam tata ruang keluarga.
***
Pembicaraan dengan Jo dan tim berjalan cukup tenang.
Perkembangan Ica dinilai kembali, pertanyaan keluarga dijawab, dan pengaturan berikutnya dibicarakan sesuai keadaan saat itu.
Bagas tidak hanya bertanya kapan semuanya selesai.
Ia mulai menanyakan bagaimana membantu putrinya menjalani hari dengan lebih baik selama proses masih berlangsung.
Termasuk kemungkinan kegiatan belajar yang sesuai dengan tenaga dan kebutuhan Ica.
Jo menjelaskan bahwa hal tersebut dapat direncanakan bertahap bersama pihak yang relevan, tanpa terburu-buru menyamakan kegiatan Ica dengan anak lain.
Bagas mengangguk.
Agus mencatat beberapa hal.
Ica mendengarkan ketika namanya disebut.
"Sekolah?"
Bagas menoleh.
"Kita sedang membicarakan cara belajar yang cocok dulu."
"Bareng anak lain?"
Pertanyaan itu membuat Bagas menarik napas pelan.
"Nanti kita lihat yang bisa diatur. Tidak harus semuanya sekaligus."
Ica memikirkan jawaban tersebut.
Lalu mengangguk meskipun wajahnya menunjukkan bahwa dirinya berharap memperoleh jawaban yang lebih cepat.
***
Setelah pemeriksaan selesai, mereka duduk sebentar.
Ica membuka gambar.
"Kalau teman belum ada, aku gambar dulu."
Bagas menatapnya.
Di kertas, anak itu mulai menambahkan beberapa sosok kecil.
Agus duduk di seberang dan memperhatikan tangan yang bergerak hati-hati.
Ia ingin mengatakan bahwa nanti pasti ada banyak teman.
Namun, ia tidak tahu kapan dan bagaimana.
Akhirnya ia bertanya.
"Yang ini siapa?"
"Belum tahu."
"Oh."
"Nanti kalau sudah ada, kasih nama."
Agus mengangguk.
Bagas memandang putrinya dengan mata yang kembali terasa panas.
Anak itu ternyata menemukan caranya sendiri untuk memberi ruang kepada sesuatu yang belum dimiliki.
Ia tidak menunggu seluruh hidup siap sebelum mulai membayangkan.
Agus membantu memegang ujung kertas agar tidak terlipat.
Pekerjaan kecil.
Namun, ia melakukannya dengan lebih hati-hati daripada menggambar apa pun.
***
Karina mendengar kabar pemeriksaan melalui pesan Bagas pada sore hari.
Ia membalas dengan lega setelah mengetahui rencana berikutnya sudah dibicarakan.
Lalu ia kembali menyiapkan dokumen.
Batas waktu pendaftaran semakin dekat.
Riwayat pengalaman sudah disusun.
Beberapa bukti kegiatan telah dikumpulkan.
Masih ada bagian tulisan yang perlu diperbaiki dan dokumen yang harus dipastikan lengkap.
Reina membantu membaca bagian yang berkaitan dengan pekerjaan klinik.
Ia menandai satu kalimat.
"Ini terlalu umum."
Karina mendekat.
"Yang mana?"
"Kamu menulis ingin menambah pengalaman. Semua orang bisa menulis itu. Pengalaman apa?"
Karina mengangguk.
Pertanyaannya tajam, tetapi berguna.
Mereka bekerja beberapa menit lagi sampai tulisan tersebut lebih jelas.
Tidak ada pujian yang dibuat agar Karina cepat senang.
Reina memperlakukannya seperti rekan yang mampu menerima masukan.
Karina menghargai itu.
***
Len juga memberi bantuan yang tidak disangka-sangka.
Ketika Karina mencari catatan mengenai kegiatan shelter terdahulu, pemuda itu mengeluarkan map yang disimpannya.
"Saya pernah merapikan salinannya, Dok."
Karina menatapnya.
"Kamu menyimpan ini?"
"Iya. Takut nanti dicari."
Ada beberapa catatan yang memang dibutuhkan.
Tidak semuanya langsung dapat dipakai, tetapi cukup membantu Karina menemukan informasi lebih cepat.
Ia memandang Len dengan sungguh-sungguh.
"Terima kasih."
Pemuda itu tersenyum lebar.
"Sekarang saya membantu tugas dokter."
Karina tertawa.
"Berarti nanti kamu boleh menagih bantuan?"
"Kalau soalnya sulit."
"Kamu harus mencoba dulu."
Len mengangguk.
Percakapan itu membuat pekerjaan terasa lebih ringan.
Karina tidak sedang membangun kesempatan sendirian.
Namun, bantuan orang lain juga tidak menghapus bahwa dirinya yang harus mengerjakan dan mempertanggungjawabkan isinya.
Itu bentuk kebersamaan yang mulai disukainya.
***
Menjelang malam, Agus meminta izin menelepon sebentar setelah mengetahui Karina sudah selesai bekerja.
Gadis itu menyetujui.
Ia sedang duduk di ruang tengah dengan laptop tertutup.
Agus menceritakan bagian ringan dari pemeriksaan Ica dan gambar teman yang belum memiliki nama.
Karina mendengarkan dengan dada terasa hangat.
"Dia punya cara sendiri," katanya.
"Iya."
"Kadang orang dewasa lebih cepat menyerah membayangkan."
Agus terdiam sebentar.
"Aku tadi ingin menjanjikan banyak hal."
"Tapi?"
"Aku tidak tahu bisa menepatinya atau tidak."
Karina mengangguk meskipun tidak terlihat.
"Jadi kamu melakukan apa?"
"Memegang kertas."
Gadis itu tersenyum.
"Mungkin itu yang dibutuhkan saat itu."
Agus tertawa pelan.
"Pekerjaan yang tidak membuatku terlihat hebat."
"Tidak semua hal baik harus membuatmu terlihat hebat."
"Aku sedang berusaha menerima kenyataan menyedihkan itu."
Karina tertawa.
***
Percakapan berpindah kepada pendaftaran.
Agus menanyakan apakah ada bagian yang masih membuat Karina ragu.
"Menekan tombol kirim," jawabnya.
"Dokumennya belum siap?"
"Hampir."
"Lalu?"
Karina memandang laptop.
"Kalau masih disimpan, kesempatan itu terasa utuh. Kalau dikirim, nanti bisa ditolak."
Agus tidak langsung menjawab.
Ia memahami dengan cara yang berbeda.
Mengajak seseorang bertemu juga membuat kemungkinan yang sebelumnya indah di kepala berubah menjadi jawaban nyata.
"Aku rasa ditolak setelah mencoba akan menyebalkan," katanya.
Karina tersenyum tipis.
"Sangat menghibur."
"Tapi setidaknya kamu tahu keputusan datang setelah mereka melihat pekerjaanmu. Bukan karena kamu lebih dahulu menolak diri sendiri."
Karina diam.
Kalimat itu sederhana.
Ia pernah mengatakan sesuatu yang mirip kepada Len.
Mendengarnya kembali untuk dirinya sendiri terasa berbeda.
"Besok aku periksa terakhir," katanya.
Agus mengangguk di seberang.
"Setelah itu?"
Karina menarik napas.
"Kirim."
***
Di rumah keluarga Tjokro, Andre melihat Agus menutup telepon dengan wajah lebih ringan.
Ia tidak langsung bertanya tentang Karina.
Namun, ketahanannya hanya berlangsung beberapa detik.
"Sudah baikan?"
Agus menoleh.
"Kami tidak bertengkar."
"Oh."
Laki-laki itu duduk di kursi lain.
Agus memandangnya.
"Ayah."
"Ayah hanya duduk."
"Kursi lain banyak."
"Rumah ini milik Bagas. Ayah juga belum dilarang duduk di sini."
Agus tertawa.
Andre ikut tersenyum, lalu wajahnya melunak.
"Kalau kamu sungguh-sungguh, jangan hanya pandai saat sedang mengejar."
Agus tidak membalas dengan gurauan.
Ia mengangguk.
Ayahnya berdiri setelah beberapa saat.
Untuk sekali ini, kalimat penting dibiarkan tetap pendek.
Agus memandangi ponsel.
Ia mengetahui dirinya mulai menginginkan sesuatu yang lebih jelas dengan Karina.
Keinginan itu tidak lagi hanya tentang diberi kesempatan.
Ia ingin mampu menjaga sesuatu setelah kesempatan benar-benar diberikan.
***
Malam itu, Karina menelepon mama dan papa untuk memastikan satu dokumen yang berkaitan dengan pengalaman lamanya.
Ditya sempat muncul di layar sambil membawa makanan.
Karina langsung menunjuk.
"Itu punyaku dulu."
"Dulu," jawab kakaknya.
Mama menyuruh keduanya berhenti.
Papa membantu menjawab pertanyaan, lalu mengingatkan bahwa keputusan akhir program berada pada pihak penyelenggara.
Karina mengangguk.
"Aku tahu."
"Kalau diterima, kita bicarakan persiapan berikutnya. Kalau belum, kita lihat kesempatan lain."
Kalimat tersebut membuat Karina merasa lebih tenang.
Pendaftaran ini penting.
Namun, bukan satu-satunya pintu menuju masa depan.
Setelah panggilan selesai, ia memeriksa daftar sekali lagi.
Dokumen.
Tulisan.
Riwayat pengalaman.
Semuanya mulai memiliki bentuk.
Ia menyimpan pekerjaan dan berdiri.
Besok ia akan mengirim.
Bukan setelah rasa takut hilang sepenuhnya.
Karena sekarang ia tahu rasa takut tidak harus ikut memegang keputusan.
***
Sebelum tidur, pesan Agus masuk.
Bukan pertanyaan mengenai dokumen.
Bukan pula sapaan panjang.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan setelah urusan pendaftaranmu selesai. Tidak mendesak, tapi aku ingin menyampaikannya dengan jelas."
Karina membaca dengan jantung sedikit lebih cepat.
Ia dapat menebak.
Namun, kali ini ia tidak merasa perlu menuntut jawaban saat itu juga.
"Baik," balasnya. "Setelah aku selesai menekan tombol yang menakutkan itu."
Agus mengirim tawa.
Karina meletakkan ponsel.
Di meja, laptop menunggu pemeriksaan terakhir.
Di kepalanya, ada percakapan lain yang belum terjadi.
Keduanya membuatnya gugup.
Anehnya, ia juga merasa siap melangkah sedikit lebih jauh daripada kemarin.