Pertemuan kedua mereka berlangsung di tempat berbeda.
Karina memilih warung makan yang cukup dikenalnya, bukan karena berharap tidak ada orang yang melihat, melainkan karena dirinya ingin makan setelah bekerja.
Agus menyetujui.
Ketika datang, ia menemukan Karina sedang memandangi menu dengan sangat serius.
"Sudah lama?"
"Belum. Tapi aku sudah lapar."
Agus duduk.
"Berarti kita mulai dari hal penting."
Karina mengangguk.
Mereka memesan makanan sebelum membicarakan apa pun yang berat.
Tidak ada upaya menjadikan pertemuan tersebut sangat istimewa.
Justru karena itu, Karina merasa lebih mudah bernapas.
Agus datang memakai pakaian biasa.
Wajahnya tampak sedikit lelah setelah bekerja.
Karina juga tidak berusaha menyembunyikan helaian rambut yang terlepas dari ikatan.
Mereka bertemu sebagai dua orang yang baru selesai menjalani hari.
Bukan dua orang yang harus terlihat sempurna agar kesempatan tidak hilang.
***
"Jadi," kata Agus setelah pesanan disampaikan, "ceritakan bagian yang membuatmu sampai membuat daftar panjang."
Karina mengangkat alis.
"Bagaimana tahu daftarku panjang?"
"Kamu terlihat seperti orang yang menyiapkan tiga halaman sebelum mengatakan mungkin."
Ia tertawa.
"Lebih dari tiga."
Agus ikut tersenyum.
Karina mulai menjelaskan kegiatan yang dipertimbangkannya.
Tentang pengalaman yang ingin diperoleh.
Tentang orang-orang dari latar pekerjaan berbeda yang mungkin dapat ditemui.
Tentang kemungkinan membawa pulang pengetahuan yang berguna bagi pekerjaan klinik dan kegiatan satwa.
Agus mendengarkan sambil sesekali bertanya.
Ia tidak mengubah percakapan menjadi penjelasan mengenai dunia kedokteran manusia.
Tidak mencoba mencari bagian yang membuat dirinya lebih tahu.
Karina menyadari bahwa dirinya telah berbicara cukup lama ketika makanan datang.
"Maaf. Aku kebanyakan cerita."
Agus menggeleng.
"Kamu memang mengajakku untuk bercerita."
Kalimat itu membuat Karina tersenyum.
Betapa mudah ia masih meminta maaf ketika terlalu bersemangat mengenai hidupnya sendiri.
***
Mereka makan beberapa suap sebelum melanjutkan.
Agus menanyakan bagian yang paling sulit diatur.
Karina menyebut pekerjaan dan waktu.
Biaya juga perlu diperiksa, tetapi ia sedang menghitung pilihan yang masuk akal.
Reina, Lilis, dan keluarga belum memberikan janji kosong. Namun, mereka bersedia membahas pengaturan jika dirinya diterima.
"Jadi belum mendaftar?" tanya Agus.
"Sedang menyiapkan."
"Apa yang masih kurang?"
"Beberapa dokumen. Dan tulisan alasan mengikuti."
Agus tersenyum.
"Seharusnya kamu bisa menulisnya dari percakapan tadi."
Karina memandangnya.
"Mungkin."
"Tadi jelas sekali."
Pujian itu membuatnya diam sebentar.
Tidak mengenai rambut.
Tidak mengenai wajah.
Agus sedang mengatakan bahwa keinginannya dapat dipahami.
Karina mengambil minum.
"Aku ingin tidak terdengar seperti orang yang hanya ingin pergi."
"Kalau memang ingin belajar, tulis yang ingin dipelajari."
Karina mengangguk perlahan.
Kadang ia membuat sesuatu lebih rumit karena terlalu sibuk membayangkan bagaimana orang lain akan menilainya.
***
Setelah beberapa saat, Karina meletakkan sendok.
"Kamu sendiri bagaimana?"
Agus menatapnya.
"Tentang apa?"
"Enam minggu."
Laki-laki itu diam sejenak.
Ia tahu pertanyaan tersebut akan datang.
Ia tidak ingin menjawab dengan kalimat yang tampak mendukung tetapi menyembunyikan kekecewaan sebagai hukuman kecil setelahnya.
"Kalau jujur, aku merasa sayang karena kita baru mulai punya kesempatan bicara lagi."
Karina mendengarkan.
"Tapi itu perasaanku. Bukan alasan supaya kamu tidak mencoba."
Ia mengangguk pelan.
Agus memandang gelas.
"Aku juga tahu kita belum punya hubungan yang membuatku berhak menuntut sesuatu."
"Bahkan kalau punya, aku tetap perlu bisa mempertimbangkan kesempatan kerja."
Agus langsung menatapnya.
"Iya. Kamu benar."
Karina melihat apakah ada kejengkelan yang disembunyikan.
Yang tampak justru kesadaran bahwa kalimatnya tadi belum sepenuhnya tepat.
Agus tidak mempertahankannya hanya karena sudah terlanjur diucapkan.
***
"Aku tidak ingin bilang jarak pasti mudah," lanjutnya.
"Aku juga tidak."
"Dan belum tentu kamu diterima."
Karina menyipit.
Agus segera mengangkat tangan.
"Bukan meragukan. Maksudku, kita bahkan belum sampai pada keputusan itu."
Ia tertawa kecil.
"Aku tahu."
Mereka terdiam sebentar.
Karina merasa lega karena dapat membicarakan kemungkinan pergi tanpa harus membela keinginannya seperti sedang melakukan kesalahan.
Agus merasa tidak nyaman membayangkan jarak.
Namun, ia mengatakannya tanpa membuat Karina bertugas membatalkan rencana agar ketidaknyamanan itu hilang.
Perbedaannya besar.
"Aku dulu sering mengira hubungan yang baik berarti semua pilihan harus menuju tempat yang sama," kata Karina.
Agus mendengarkan.
"Sekarang aku belum tahu bentuk yang benar. Tapi aku tidak ingin salah satu selalu mengecil."
Agus mengangguk.
"Aku juga tidak ingin menjadi alasan kamu berhenti bertanya apa yang kamu inginkan."
***
Percakapan berikutnya justru lebih ringan.
Karina bercerita mengenai masa tinggal di Afrika Selatan bersama orang tuanya.
Tentang makanan yang dirindukan.
Kebiasaan mama mengirim foto hewan lebih cepat daripada menjawab pertanyaan anak.
Dan papa yang tetap sulit meletakkan kamera pada sudut yang benar meskipun pekerjaannya melibatkan banyak hal rumit.
Agus tertawa ketika mendengar cerita dagu papa yang memenuhi layar.
"Itu mirip Ayah. Bedanya, yang terlihat kopiah."
Karina ikut tertawa.
Mereka mulai menemukan persamaan tanpa harus menganggap hidup keduanya sama.
Ada keluarga yang cerewet.
Ada perhatian yang kadang disampaikan melalui omelan.
Ada orang tua yang semakin tua tetapi tetap ingin terlihat mampu mengurus semuanya.
Agus menceritakan bagaimana Bagas mulai kembali bekerja sebagian.
Karina menanyakan Ica.
Percakapan bergerak dari satu hal ke hal lain dengan lebih alami daripada pertemuan sebelumnya.
***
Ketika makanan hampir habis, seorang pengunjung memandang mereka beberapa kali.
Karina menyadarinya.
Bahunya menegang sedikit.
Agus mengikuti perubahan wajahnya, lalu melihat sekeliling sekilas.
Ia tidak menantang orang tersebut.
Tidak pula meminta Karina berpura-pura tidak melihat.
"Kamu ingin pindah tempat duduk atau pulang setelah selesai?"
Karina memikirkan jawabannya.
"Tidak perlu. Aku hanya teringat foto itu."
Agus mengangguk.
"Kita bisa selesai sesuai rencana."
Karina kembali mengambil minum.
Tidak ada kamera yang jelas terlihat.
Mungkin orang itu mengenali.
Mungkin sedang memandang hal lain.
Ia tidak ingin menghabiskan pertemuan dengan mengawasi semua orang.
Mereka melanjutkan percakapan, sedikit lebih pelan.
Agus tidak menjadikan ketegangannya sebagai alasan untuk mengatakan bahwa dirinya terlalu sensitif.
Karina menghargai itu.
Rasa aman kadang bertambah melalui respons kecil saat sesuatu tidak berjalan sempurna.
***
Setelah selesai makan, mereka berjalan menuju tempat kendaraan masing-masing.
Udara malam cukup sejuk.
Karina memegang tas dengan satu tangan.
Agus berjalan di sampingnya tanpa terlalu dekat.
"Aku senang kamu mengajakku mendengar," katanya.
Karina menoleh.
"Aku juga senang kamu tidak langsung bertanya kenapa harus jauh."
Agus tersenyum tipis.
"Pertanyaan itu sempat muncul."
"Aku percaya."
"Tapi setelah kamu bercerita, jawabannya sudah ada."
Karina berhenti di dekat kendaraannya.
Ia memandang laki-laki itu lebih lama.
Ada sesuatu yang mulai terasa berbeda.
Ketertarikan yang sebelumnya sering tertutup kehati-hatian kini memperoleh alasan yang lebih kuat untuk tetap tinggal.
Bukan karena Agus tidak pernah salah.
Melainkan karena ia mulai menunjukkan kemampuan mendengar setelah salah.
Karina belum siap menganggap itu cukup untuk seluruh masa depan.
Namun, cukup untuk malam ini.
***
"Aku masih ingin pelan," katanya.
Agus mengangguk.
"Aku ingat."
"Tapi pelan bukan berarti aku tidak tertarik."
Kalimat itu membuat Agus benar-benar diam.
Karina melihat perubahan wajahnya dan langsung merasa panas di pipi.
Ia hampir menambahkan penjelasan panjang.
Lalu berhenti.
Tidak perlu menghapus keberanian sendiri hanya karena malu.
Agus tersenyum perlahan.
"Terima kasih sudah bilang."
Karina mengangguk kecil.
"Jangan terlalu senang sampai lupa sifat menyebalkanmu."
Agus tertawa.
"Aku akan mencoba tetap sadar."
Mereka berpamitan.
Tidak ada pelukan mendadak.
Tidak ada janji mengenai enam minggu yang bahkan belum dipastikan.
Namun, ketika masuk ke kendaraan, Agus masih tersenyum.
Karina juga.
Malam itu, keduanya pulang dengan kabar yang sama-sama baru.
***
Di rumah, Karina membuka dokumen pendaftaran lagi.
Ia membaca tulisan alasan mengikuti program yang sebelumnya terasa kaku.
Lalu menghapus beberapa kalimat yang hanya dibuat agar terdengar mengesankan.
Ia mulai menulis dari hal yang tadi diceritakan kepada Agus.
Pekerjaan yang dijalani.
Pertanyaan yang belum dapat dijawab.
Keterampilan yang ingin diperkuat.
Cara pengalaman tersebut mungkin membantu dirinya bekerja setelah pulang.
Tulisan itu menjadi lebih jujur.
Tidak sempurna.
Tetapi terasa seperti miliknya.
Karina berhenti ketika bi Murni mengetuk dan mengingatkan waktu tidur.
Ia menyimpan dokumen.
Ponselnya menerima pesan dari Agus.
"Semoga menulis alasannya lebih mudah setelah bercerita."
Karina tersenyum dan membalas.
"Memang lebih mudah."
Untuk pertama kalinya setelah lama, kedekatan dengan seseorang tidak membuat rencana hidupnya mengecil.
Malam itu, keduanya justru memperoleh ruang.