Karina membuat daftar terlalu panjang.
Ia baru menyadarinya ketika melihat halaman kedua.
Di sana terdapat semua hal yang mungkin harus diatur jika dirinya diterima mengikuti pelatihan.
Sebagian memang penting.
Sebagian lain tampak seperti usaha pikirannya menakut-nakuti diri sendiri.
Bi Murni melihat dari seberang meja.
"Non sedang merencanakan pergi atau memindahkan rumah?"
Karina menatap kertas.
"Mengatur pekerjaan."
"Kenapa belanja sabun bibi ikut ditulis?"
Karina berhenti.
Memang ada.
Ia langsung mencoretnya.
Bi Murni menggeleng.
"Bibi bisa beli sabun tanpa menunggu Non pulang dari Afrika."
Karina tertawa malu.
Namun, setelah itu ia memahami sesuatu.
Ia sering mengatakan tidak ingin orang lain mengatur seluruh hidupnya, tetapi kadang menganggap kehidupan orang-orang di sekitarnya akan berhenti jika dirinya tidak berada di dekat.
Mungkin sebagian kekhawatirannya memang perhatian.
Sebagian lagi kebiasaan merasa harus mengurus semuanya.
***
Di klinik, pembicaraan dengan Reina dilakukan setelah mereka memiliki cukup waktu.
Karina membawa daftar yang sudah diperbaiki.
Mereka memeriksa pekerjaan yang memang membutuhkan kehadirannya dan bagian yang dapat diatur jika waktu keberangkatan cukup jelas.
Enam minggu tetap berarti perubahan.
Tidak ada jawaban bahwa semuanya mudah.
Ada jadwal yang mungkin harus dikurangi.
Ada pengaturan tenaga yang perlu dipikirkan.
Ada biaya yang harus dihitung.
Karina mencatat tanpa langsung menolak.
Reina memandangnya.
"Yang penting, jangan menerima sebelum kita tahu bisa diatur."
Karina mengangguk.
"Tapi jangan juga menolak sebelum tahu hasil pendaftarannya," tambah Reina.
Karina tersenyum kecil.
Dua hal tersebut ternyata dapat berjalan bersamaan.
Ia dapat mencoba memperoleh kesempatan sambil menyiapkan tanggung jawab.
Tidak harus memilih antara menjadi orang yang ingin berkembang dan orang yang dapat diandalkan.
***
Len mendapat penjelasan mengenai kemungkinan perubahan, meskipun semuanya masih sangat awal.
Karina sengaja mengajaknya berbicara agar pemuda itu tidak mendengar kabar setengah-setengah lalu mengira kegiatan belajarnya harus dihentikan.
"Jadwalmu tetap kita lindungi," katanya.
Len langsung menatapnya.
"Saya bisa membantu lebih banyak kalau perlu, Dok."
"Saya tahu. Tapi bukan berarti sekolahmu yang pertama dikorbankan."
Len terdiam.
Ia tampak belum terbiasa mendengar kegiatan belajarnya dianggap sesuatu yang perlu dijaga.
Karina melanjutkan bahwa mereka akan melihat pengaturan setelah memperoleh informasi lebih jelas.
Pemuda itu mengangguk.
Lalu wajahnya berubah sedikit cemas.
"Kalau nanti ada tugas saya yang tidak mengerti?"
Karina tersenyum.
"Kamu punya pengajar."
"Iya."
"Dan saya tidak menghilang."
Len tertawa malu.
Karina ikut tertawa.
Ia baru saja menyampaikan nasihat kepada dirinya sendiri dengan memakai orang lain sebagai pendengar.
Enam minggu memang bukan selamanya.
***
Siang harinya, Karina menghubungi Lilis.
Ia menjelaskan adanya kemungkinan mengikuti pelatihan beberapa bulan lagi dan ingin mengetahui apakah jadwal program dapat dibicarakan jika dirinya diterima.
Lilis tidak langsung memberikan janji.
Ia meminta waktu untuk memeriksa rencana yang sudah ada bersama tim.
Karina menyetujui.
Tidak ada alasan untuk marah jika pekerjaan orang lain juga membutuhkan penyesuaian.
Beberapa jam kemudian, Lilis mengabarkan bahwa ada beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan, termasuk mengatur pengambilan gambar lebih awal atau membahas jeda yang sesuai.
Semuanya masih perlu rincian.
Namun, pintunya tidak tertutup.
Karina berterima kasih.
Setelah panggilan selesai, ia menyadari betapa banyak ketakutan yang tadi malam ditulis seolah sudah menjadi penolakan orang lain.
Padahal belum ditanyakan.
Ia mencoret satu bagian pada kertas.
Bukan berarti persoalan selesai.
Hanya berarti sekarang ia memiliki jawaban yang lebih nyata daripada dugaan.
***
Papa menelepon pada waktu yang telah disepakati.
Karina langsung membuka catatan, bersiap menjelaskan seluruh pertimbangannya.
Papa mendengarkan beberapa menit sebelum tersenyum.
"Kamu seperti sedang mengajukan izin pembangunan."
Karina berhenti.
"Aku cuma mau memastikan Papa tahu."
"Papa tahu kamu sedang mempertimbangkan."
"Papa tidak keberatan?"
"Keberatan untuk apa?"
Karina terdiam.
Papa menatapnya melalui layar.
"Kamu sudah dewasa dan punya pekerjaan. Papa bisa membantu memberi pertimbangan. Keputusanmu tetap perlu kamu ambil sendiri."
Kalimat itu membuat Karina memegang pena lebih erat.
Ia senang.
Namun, juga merasakan ketakutan kecil.
Dahulu terlalu banyak keputusan diambil untuknya.
Sekarang ketika ruang benar-benar diberikan, ia tidak dapat lagi menyerahkan kemungkinan salah kepada orang lain.
Papa tampaknya memahami wajahnya.
"Memutuskan sendiri bukan berarti harus selalu benar," katanya.
Karina mengangguk perlahan.
Ia menuliskan kalimat itu di sudut kertas tanpa memberitahukan alasannya.
***
Mereka membicarakan biaya dan persyaratan.
Karina ingin menghitung bagian yang dapat ditanggungnya sendiri sebelum menerima bantuan apa pun.
Papa tidak tersinggung.
Ia menyarankan agar seluruh kebutuhan ditulis dengan jujur, termasuk pengeluaran yang sering terlupakan.
Tidak perlu memaksakan kemandirian sampai pengaturan menjadi tidak masuk akal.
Karina mengangguk.
Mereka juga membahas kemungkinan manfaat kegiatan tersebut bagi pekerjaan yang sedang dijalaninya.
Papa mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat Karina berpikir lebih jauh.
Bukan untuk menjatuhkan minat.
Melainkan memastikan bahwa dirinya benar-benar mengetahui apa yang ingin dicari.
Setelah panggilan selesai, Karina merasa lelah tetapi bersemangat.
Ia memiliki pekerjaan tambahan.
Mengumpulkan dokumen.
Menulis alasan.
Memeriksa pengalaman yang relevan.
Untuk sekali ini, pekerjaan tambahan itu datang dari sesuatu yang benar-benar ingin dilakukannya.
***
Agus menjalani hari tanpa mengetahui seluruh kesibukan baru Karina.
Ia bekerja, membantu keluarga sesuai jadwal, dan kembali mencoba menggambar ketika Ica meminta.
Hasilnya mulai menyerupai hewan.
Setidaknya Bagas tidak lagi langsung menyebutnya bahan makanan.
Andre justru mengatakan gambarnya terlalu kurus.
Agus meletakkan pensil.
"Ayah membandingkan semuanya dengan Rambo."
"Rambo bagus."
"Tidak semua yang bagus harus bulat."
Ica tertawa kecil.
Bagas melihat putrinya, kemudian mengingatkan agar kegiatan diakhiri setelah satu gambar lagi.
Agus mengikuti.
Ia tidak berusaha menjadi paman paling menyenangkan dengan mengabaikan pengaturan yang telah dibuat.
Setelah Ica beristirahat, Bagas menanyakan pekerjaannya.
Mereka berbicara mengenai hal biasa.
Tidak setiap percakapan berakhir pada Karina.
Agus mulai menghargai bahwa hidupnya tetap penuh meskipun sedang menunggu seseorang membuka ruang lagi.
***
Malamnya, Karina memandang percakapan Agus cukup lama.
Ia ingin bercerita mengenai pelatihan.
Keinginan tersebut membuatnya tersenyum sendiri.
Belum lama ia meminta jarak.
Sekarang ia mulai mencari orang yang ingin diberi kabar ketika sesuatu membuatnya bersemangat.
Karina tidak merasa perlu menghukum diri karena perasaannya berubah.
Ia hanya perlu memastikan bahwa dirinya memang siap berbicara, bukan sekadar mencari pengalih perhatian dari pekerjaan yang sulit.
Akhirnya ia mengirim pesan.
"Aku sedang mempertimbangkan kesempatan pelatihan. Belum pasti apa-apa, tapi cukup menarik."
Agus membaca setelah selesai membantu Bagas.
Balasannya sederhana.
"Bagian apa yang paling membuatmu tertarik?"
Karina menatap layar.
Bukan di mana.
Bukan berapa lama.
Bukan kapan pergi.
Pertanyaan itu membuatnya mulai mengetik lebih panjang.
Tentang pekerjaan.
Tentang pengalaman yang ingin diperoleh.
Tentang hal-hal yang selama ini hanya dibacanya dari jauh.
***
Percakapan berlangsung beberapa belas menit.
Agus tidak berpura-pura memahami seluruh bidang yang dibicarakan.
Ia bertanya ketika tidak mengerti.
Karina menjelaskan tanpa merasa sedang diuji.
Baru setelah beberapa pesan, ia menyebut tempat dan lamanya kegiatan.
"Afrika Selatan. Enam minggu."
Agus membaca.
Ia tidak segera membalas.
Karina melihat jeda itu.
Untuk sesaat, ingatan lama berusaha masuk.
Ia menahannya.
Jeda tidak selalu berarti penolakan.
Beberapa menit kemudian, pesan Agus datang.
"Jauh juga. Tapi dari ceritamu, aku mengerti kenapa kamu tertarik."
Karina mengembuskan napas.
Ia tidak memerlukan laki-laki itu berpura-pura jarak tidak ada.
Hanya ingin mengetahui apakah keinginannya dapat didengar sebelum dihadapkan pada kekhawatiran orang lain.
Malam itu, jawabannya terasa cukup baik.
***
Sebelum percakapan berakhir, Karina mengetik satu pesan lagi.
"Kalau kamu ada waktu beberapa hari ini, aku ingin bercerita langsung. Kita bisa minum sebentar lagi."
Agus memandang layar dengan dada yang mendadak hangat.
Ia tidak langsung mengirim pilihan tempat sebanyak mungkin.
Ia memeriksa jadwal.
Lalu menawarkan waktu yang benar-benar tersedia.
Karina menyetujui salah satunya.
Percakapan selesai dengan ucapan selamat malam.
Agus meletakkan ponsel.
Enam minggu di Afrika Selatan masih berputar di kepalanya.
Ia tidak senang membayangkan jarak yang mungkin datang saat mereka baru mulai dekat.
Namun, Karina belum meminta dirinya menentukan boleh atau tidak.
Gadis itu hanya mengundangnya mendengar.
Agus ingin mampu melakukan pekerjaan sederhana itu dengan baik.