Karina tidak langsung pulang setelah meninggalkan rumah keluarga Tjokro.
Masih ada barang yang perlu dikembalikan ke klinik dan catatan kunjungan yang harus diselesaikan. Len membantu menurunkan tas, lalu memeriksa kembali agar tidak ada perlengkapan tertinggal.
Reina menoleh ketika mereka masuk.
"Sudah selesai?"
Karina mengangguk.
"Pasiennya baik. Pemiliknya banyak."
Reina tertawa kecil.
Len langsung menyambung.
"Pak Andre hampir mengalihkan pemeriksaan ke Rambo."
"Hampir?"
"Dokter Karina sudah mencegah sebelum pertanyaan pertama."
Karina menggeleng sambil tersenyum.
Ia duduk di meja dan mulai menulis catatan.
Percakapan dengan Agus di dekat pintu masih tersimpan jelas dalam ingatannya. Bukan terutama kalimat bahwa laki-laki itu sedang belajar sabar.
Melainkan pengakuan bahwa dirinya masih ingin disukai.
Karina lebih percaya pada jawaban yang tidak berusaha membuat pemiliknya tampak terlalu baik.
Setidaknya Agus tidak datang membawa cerita bahwa seluruh keburukannya telah selesai hanya karena beberapa hari berjalan tenang.
***
Menjelang sore, seorang pemilik anjing tua datang untuk pemeriksaan yang telah dijadwalkan.
Anjing itu bergerak lebih lambat daripada kunjungan sebelumnya. Pemiliknya terus meminta maaf setiap kali harus berhenti dan menunggu.
Karina berjongkok.
"Tidak perlu buru-buru."
Perempuan itu tersenyum lelah.
"Dulu dia yang menarik saya. Sekarang saya yang terus berhenti."
Karina mengangguk sambil memberi waktu.
Ada rasa sayang yang tampak sederhana dari cara perempuan itu membetulkan posisi tali dan memastikan hewannya tidak tergesa.
Pemeriksaan berlangsung lebih lama.
Karina menjelaskan hasil yang terlihat dan hal-hal yang perlu dibicarakan lebih lanjut. Pemiliknya mendengarkan, mencatat, lalu mengulang beberapa pertanyaan.
Setelah mereka pergi, Karina tetap duduk beberapa detik.
Len mulai merapikan meja.
"Dokter capek?"
"Sedikit."
"Masih ada catatan?"
"Masih."
Karina berdiri dan mencuci tangan.
Hari seperti itu mengingatkannya mengapa ia mencintai pekerjaan ini.
Tidak selalu ada sesuatu yang dapat diperbaiki seketika.
Namun, ia masih dapat membantu orang memahami bagaimana mendampingi dengan lebih baik.
***
Sore berubah menjadi malam sebelum Karina membuka surel pribadi.
Ada balasan dari papa mengenai satu pertanyaan lama.
Ada pemberitahuan yang tidak penting.
Dan sebuah pesan dari mama dengan judul yang membuatnya berhenti.
Coba dibaca kalau sudah senggang.
Karina membuka.
Mama meneruskan informasi dari seorang kenalan di lingkungan tempatnya dahulu belajar. Sebuah program pelatihan singkat di Afrika Selatan akan menerima peserta untuk kegiatan yang berkaitan dengan perawatan dan penanganan satwa.
Lamanya enam minggu.
Pelaksanaannya masih beberapa bulan lagi.
Pendaftar harus menyerahkan riwayat pengalaman, alasan mengikuti program, dan beberapa dokumen lain. Ada proses pemilihan. Tidak semua orang yang berminat akan langsung diterima.
Karina membaca lebih pelan.
Enam minggu.
Afrika Selatan.
Tempat yang pernah menjadi bagian hidupnya, tetapi kini terasa seperti halaman lama yang belum selesai dibaca.
Di bagian bawah, mama menulis satu kalimat.
Kalau memang menarik untukmu, pertimbangkan. Tidak harus karena Mama yang mengirim.
***
Karina bersandar.
Kalimat terakhir itu membuatnya tersenyum kecil.
Orang tuanya rupanya juga sedang belajar memilih cara berbicara.
Ia membaca informasi dari awal sekali lagi.
Program tersebut tidak persis sama dengan pekerjaan sehari-harinya di klinik. Justru ada bagian yang ingin diketahuinya lebih jauh.
Pengalaman dari tempat berbeda.
Cara kerja bersama orang yang menangani kasus lain.
Kesempatan melihat apakah ada sesuatu yang dapat dibawa pulang untuk kegiatan yang selama ini dilakukannya.
Namun, setelah rasa tertarik pertama, daftar persoalan segera muncul.
Klinik.
Pet shop.
Len yang baru mulai belajar.
Program televisi.
Bi Murni di rumah.
Biaya perjalanan dan waktu yang harus ditinggalkan.
Karina meletakkan ponsel.
Beberapa bulan lalu, mungkin ia akan langsung mengatakan tidak karena terlalu banyak urusan.
Sekarang ia belum ingin menolak sebelum benar-benar membaca.
Ia mengambil kertas dan mulai menulis pertanyaan.
Bukan jawaban.
Belum.
***
Bi Murni menemukan Karina masih duduk di meja ketika hendak membereskan ruang tengah.
"Non belum tidur?"
"Sedang baca, Bi."
Perempuan itu mendekat.
"Kerjaan?"
"Kesempatan ikut pelatihan."
"Di mana?"
"Afrika Selatan."
Bi Murni terdiam.
Karina langsung memandang wajahnya.
"Belum tentu pergi. Baru informasi."
"Berapa lama?"
"Enam minggu kalau diterima dan semua bisa diatur."
Bi Murni meletakkan kain di kursi.
Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, lalu memilih duduk.
"Non ingin?"
Karina memikirkan jawabannya.
"Tertarik."
"Kalau begitu cari tahu dulu."
Karina menatapnya dengan heran.
"Bibi tidak langsung bertanya nanti rumah bagaimana?"
"Rumah tidak ikut naik pesawat."
Karina tertawa.
Bi Murni ikut tersenyum, meskipun matanya masih memperlihatkan keterkejutan.
"Mas Ditya sudah pergi. Kalau Non pergi juga, bibi memang akan kangen. Tapi itu urusan nanti. Sekarang baca dulu."
***
Karina mengangguk perlahan.
Ia tidak ingin menggunakan keberanian bi Murni untuk mengabaikan kebutuhan perempuan itu.
Namun, ia juga tidak perlu menolak kesempatan hanya karena membayangkan semua orang pasti keberatan.
Setelah bi Murni kembali ke kamar, Karina menulis balasan kepada mama.
Ia tertarik dan ingin mengetahui beberapa rincian.
Kemudian ia menghubungi Ditya melalui pesan, menanyakan apakah kakaknya pernah mendengar kegiatan serupa dari lingkungan lama mereka.
Balasan tidak segera datang.
Karina tidak menunggu sambil terus menatap layar.
Ia kembali membaca persyaratan.
Ada hal yang dapat disiapkan sendiri.
Ada yang perlu ditanyakan.
Ada bagian yang belum tentu cocok.
Kesempatan itu belum menjadi rencana perjalanan.
Namun, untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu penuh urusan hati dan komentar orang, pikirannya dipenuhi kegembiraan yang sama sekali berbeda.
Rasa ingin belajar.
***
Keesokan paginya, Ditya membalas dengan pesan suara.
Ia sudah membaca informasi yang diteruskan Karina.
Menurutnya, hal itu layak dipelajari lebih jauh jika memang sesuai dengan kebutuhan adiknya. Namun, Karina perlu memastikan isi kegiatan dan pengaturannya secara langsung, bukan hanya tertarik karena nama tempat.
Karina tersenyum.
Kakaknya masih saja terdengar seperti orang yang ingin memastikan dirinya tidak memilih hidup karena hal yang kelihatan menarik dari jauh.
Namun, kali ini nasihat tersebut tidak terasa seperti larangan.
Di akhir pesan, Ditya menambahkan.
"Kalau kamu cuma ingin makan makanan yang dirindukan, bilang saja. Jangan menyamarkannya sebagai pendidikan."
Karina langsung membalas dengan ancaman.
Ditya mengirim tawa.
Percakapan kecil itu membuatnya lebih bersemangat.
Ia kemudian menyiapkan daftar pengalaman kerja yang mungkin relevan.
Klinik.
Kunjungan rumah.
Shelter.
Kegiatan lain yang selama ini dilakukan tanpa pernah disusun menjadi satu cerita tentang kemampuannya sendiri.
***
Di klinik, Reina mendengar rencana tersebut ketika Karina meminta waktu berbicara setelah pekerjaan lebih tenang.
"Belum mendaftar," kata Karina cepat. "Aku baru ingin melihat apakah masuk akal."
Reina membaca ringkasan yang ditunjukkan.
"Menarik."
"Enam minggu cukup lama."
"Iya."
"Aku tidak ingin langsung menganggap semuanya bisa ditinggalkan."
"Kalau begitu kita hitung dulu. Jangan langsung menganggap semuanya tidak bisa."
Karina terdiam.
Reina menutup catatan.
"Kita baru membahas kemungkinan. Belum menyusun jadwal keberangkatan besok."
Karina mengangguk.
Len yang sedang merapikan sesuatu di dekat mereka ikut mendengar.
Wajahnya tampak terkejut, tetapi ia tidak langsung bertanya apakah Karina akan pergi selamanya.
Ia hanya berkata pelan.
"Dokter belajar lagi?"
Karina menoleh.
"Kalau cocok dan diterima."
Len tersenyum.
"Berarti nanti sama-sama punya tugas."
Karina tertawa.
Ternyata cara memandang kesempatan bisa sesederhana itu.
***
Malamnya, Karina menerima pesan lain dari Damar.
Singkat.
Ia mengucapkan terima kasih karena Karina bersedia berbicara dan mengatakan akan menghormati keputusan yang telah disampaikan.
Karina membacanya tanpa debar seperti sebelumnya.
Ia membalas dengan ucapan terima kasih, kemudian menutup percakapan.
Tidak ada pertanyaan tambahan.
Tidak ada alasan membuka kembali sesuatu yang sudah cukup jelas.
Setelah itu, ia kembali kepada informasi pelatihan.
Perbandingannya terasa nyata.
Satu jendela sedang ditutup dengan tenang.
Jendela lain terbuka tanpa perlu dibanting lebar-lebar.
Karina belum mengetahui apakah dirinya akan melangkah melaluinya.
Namun, ia menyukai bahwa keputusan tersebut akan dibuat berdasarkan sesuatu yang ingin dipelajari.
Bukan karena ingin mengikuti seseorang.
Bukan untuk membuktikan bahwa orang lain pernah salah.
Ia mengambil pena dan menuliskan pertanyaan pertama untuk penyelenggara.
Lalu pertanyaan kedua.
Malam itu, masa depannya terasa lebih luas daripada satu foto yang pernah beredar.