Len membawa tas ketika Karina tiba di depan rumah keluarga Tjokro.
Andre sudah menunggu dengan wajah cerah.
Karina langsung menunjuknya sambil tersenyum.
"Hari ini pasiennya bukan Rambo, Pak."
Andre berhenti.
"Saya belum bertanya."
"Biasanya hampir."
Len menunduk menahan tawa.
Andre mendengus, lalu mempersilakan mereka masuk.
Bagas menyambut tidak jauh dari ruang keluarga. Ia menjelaskan bahwa Ica sedang beristirahat sebentar dan akan ikut melihat jika sudah cukup segar.
Karina mengangguk.
Tidak perlu membangunkan anak itu hanya karena dirinya datang.
Mereka menyiapkan pekerjaan terlebih dahulu.
Keperluan hamster diperiksa dengan tenang, termasuk pengaturan tempat dan kebiasaan yang diceritakan pengasuh serta keluarga.
Karina mendengarkan sebelum memberi penjelasan.
Andre berdiri terlalu dekat beberapa kali sampai Bagas menarik kursi untuknya.
"Ayah duduk."
"Saya ingin melihat."
"Dari kursi juga bisa."
Andre akhirnya menurut.
***
Ica muncul setelah beberapa waktu bersama pengasuhnya.
Wajahnya langsung cerah ketika melihat Karina.
"Bu dokter."
Karina menoleh.
"Halo."
Anak itu duduk di tempat yang telah disiapkan, lalu memperhatikan dengan penuh minat.
Karina tidak memindahkan seluruh pemeriksaan agar menjadi tontonan.
Ia menjelaskan seperlunya dengan bahasa yang dapat diikuti Ica.
Anak itu menunjuk hamster putih.
"Awan."
"Iya. Saya masih ingat."
"Om sekarang bisa gambar telinga."
Karina berhenti sebentar.
Len langsung tersenyum.
"Perkembangan penting," kata Karina.
Ica mengangguk sangat serius.
"Masih seperti kentang sedikit."
Bagas tertawa.
Karina juga tidak dapat menahannya.
Agus tidak ada di ruangan, tetapi hasil gambarnya rupanya tetap memiliki kemampuan membuat orang berkumpul dalam satu pendapat.
Ica kemudian menunjukkan gambar yang dimaksud.
Karina memujinya secukupnya.
Ada kemajuan.
Setidaknya kali ini ia tidak perlu membaca keterangan untuk mengetahui ujung mana yang merupakan kepala.
***
Pemeriksaan dan penjelasan selesai tanpa sesuatu yang memerlukan penanganan mendesak.
Karina menuliskan catatan untuk keluarga dan menjawab pertanyaan yang masih tersisa.
Bagas memastikan pembayaran mengikuti pengaturan praktik.
Tidak ada usaha menjadikan kedekatan sebagai alasan pekerjaan tersebut tidak perlu dihargai.
Karina merasa nyaman dengan kejelasan itu.
Setelah alat dibereskan, Ica meminta bercerita sebentar.
Karina melihat Bagas terlebih dahulu untuk memastikan waktunya sesuai.
Anak itu tampak masih cukup segar, sehingga mereka duduk beberapa menit.
Cerita kali ini tentang Lou yang tidak pernah merasa bersalah ketika tidur.
Len menjadi bagian cerita lagi.
Ia akhirnya mengeluh.
"Saya perlu membuat perjanjian sebelum ikut kunjungan."
Karina menoleh.
"Perjanjian apa?"
"Supaya tidak selalu kalah dari anjing."
Ica tertawa.
Andre ikut tertawa lebih keras daripada yang diperlukan.
Bagas mengingatkan agar suara tidak terlalu ramai.
Andre langsung mengecilkan tawanya dengan cara yang justru membuat Len hampir tersedak.
***
Agus pulang ketika sebagian besar pekerjaan sudah selesai.
Jadwalnya hari itu memang berakhir lebih cepat daripada kunjungan Karina yang sedikit bergeser karena keadaan Ica.
Ia berhenti di pintu setelah melihat tas praktik.
Kemudian memberi salam.
Karina menoleh.
"Halo."
Agus mengangguk.
"Bagaimana pemeriksaannya?"
"Sudah selesai. Catatannya dengan Pak Bagas."
"Baik."
Ia menyapa Len, lalu meletakkan tas kerjanya di tempat lain.
Tidak langsung duduk di sebelah Karina.
Tidak mencari alasan untuk mengambil alih percakapan.
Ica justru memanggil.
"Om, gambarnya sudah dilihat."
Agus berhenti.
"Gambar yang mana?"
"Yang kentang."
Andre tertawa lagi.
Agus memandang seluruh orang di ruangan dengan wajah pasrah.
"Sepertinya aku perlu berhenti menggambar di depan saksi."
Karina menahan senyum.
"Telinganya sudah lebih jelas."
Agus menatapnya.
"Terima kasih. Akhirnya ada penilaian profesional."
"Tapi masih perlu latihan."
"Tentu saja ada lanjutannya."
Tawa kecil kembali terdengar.
***
Ketika Ica mulai lelah, Bagas mengakhiri kegiatan dengan tenang.
Karina membantu merapikan gambar, kemudian berdiri.
Andre menawarkan minum sebelum mereka pulang.
Len tampak ingin menerima, tetapi menunggu Karina.
Gadis itu melihat waktu.
Masih ada ruang beberapa menit.
"Sebentar saja, Pak."
Andre langsung memanggil bantuan untuk menyiapkan minuman.
Karina dan Len duduk di ruang lain agar Ica dapat beristirahat.
Agus sempat hendak naik untuk berganti pakaian, tetapi Andre memanggil.
"Duduk dulu kalau sudah selesai."
Agus memandang Karina sekilas.
Ia tidak ingin membuat gadis itu merasa terjebak dalam pertemuan yang tidak direncanakan.
Karina mengangguk kecil ke arah kursi kosong.
Gerakannya sederhana.
Cukup untuk membuat Agus duduk tanpa menganggapnya undangan lebih jauh.
Len berada di antara percakapan mereka dengan kenyamanan seseorang yang masih memiliki tugas membereskan tali tas.
***
Pembicaraan mula-mula mengenai shelter.
Andre menanyakan perkembangan atap setelah hujan.
Karina menjelaskan bahwa pekerjaan perbaikan sudah berjalan dan kegiatan kembali lebih teratur.
Len menambahkan kabar mengenai Lou.
Agus mendengarkan sambil memegang gelas.
Ia tidak menyebut unggahan atau komentar di hadapan semua orang.
Karina merasa lega.
Bagas bergabung setelah memastikan Ica sudah beristirahat.
Percakapan kemudian beralih kepada Ditya dan orang tua Karina.
Andre mengenang pertemuan dengan kakaknya di klinik sambil mengeluh bahwa keluarga Karina tampaknya sama-sama sulit dibujuk membiarkan Rambo melakukan apa yang diinginkan.
"Itu namanya sepakat, Pak," jawab Karina.
"Itu namanya saya kalah jumlah."
Len tertawa.
Agus mengangkat gelas untuk menyembunyikan senyum.
Suasana tersebut tidak memiliki kilatan kamera atau kalimat yang harus disusun agar terdengar tepat.
Hanya orang-orang yang duduk setelah pekerjaan selesai.
Karina menyadari betapa dirindukannya keadaan biasa seperti itu.
***
Setelah minuman habis, Karina dan Len berpamitan.
Bagas membantu membawa satu tas sampai dekat pintu sebelum kembali ketika pengasuh memanggil.
Andre menyusul beberapa langkah untuk mengingatkan bahwa dirinya mungkin akan menghubungi klinik jika memiliki pertanyaan tentang Rambo.
Karina mengangguk.
"Tentu, Pak. Melalui jadwal seperti biasa."
Andre mendesah, tetapi tersenyum.
Len lebih dahulu menuju kendaraan untuk menata barang.
Agus berada di dekat pintu.
Mereka berdua akhirnya memiliki beberapa detik tanpa percakapan lain.
"Terima kasih sudah datang," katanya.
"Itu kunjungan praktik."
"Aku tahu. Untuk waktumu menemani Ica juga."
Karina mengangguk.
"Sama-sama."
Ada keheningan kecil.
Agus tidak menggunakannya untuk menanyakan kapan mereka bisa bertemu lagi.
Ia hanya memegang pintu agar Karina dapat lewat dengan tas.
Gadis itu berjalan satu langkah, lalu berhenti.
"Aku menghargai kamu memberi ruang."
Agus menatapnya.
***
"Aku hanya mengikuti yang kamu minta."
"Ya. Itu yang kuhargai."
Laki-laki itu mengangguk perlahan.
Karina memandang halaman.
Ia tidak ingin percakapan tersebut berubah menjadi hadiah karena Agus berhasil menahan diri.
Namun, ia juga tidak ingin terus menyimpan hal baik seolah mengakuinya akan membuat dirinya kehilangan kehati-hatian.
"Beberapa hari ini sudah lebih tenang," katanya.
"Aku senang mendengarnya."
"Belum berarti aku siap membuat banyak rencana."
Agus mengangguk.
"Tidak apa-apa."
Karina menatap wajahnya.
"Kamu benar-benar bisa sabar?"
Agus hampir menjawab cepat.
Lalu berhenti.
"Aku sedang belajar. Kadang tidak nyaman."
Karina memperhatikannya.
"Tapi ketidaknyamanan itu bukan sesuatu yang harus kamu selesaikan untukku," lanjut Agus.
Jawaban itu membuat gadis tersebut diam beberapa saat.
Bukan karena terdengar indah.
Justru karena ia melihat Agus mengambil waktu untuk tidak memberikan jawaban yang paling mudah disukai.
***
"Ada satu hal yang masih ingin kutahu," kata Karina.
Agus menunggu.
"Kamu mulai berubah karena takut kehilangan perhatian, atau karena akhirnya melihat masalahnya?"
Pertanyaan itu membuat laki-laki tersebut menunduk sedikit.
Ia memikirkan ayahnya.
Bagas.
Ica.
Irene dan Tasya.
Foto yang dahulu diambilnya sendiri.
"Aku rasa awalnya karena malu," jawabnya.
Karina tidak menyela.
"Malu karena ternyata aku salah tentangmu. Lalu setelah itu aku mulai melihat bahwa kebiasaanku bukan hanya menyakiti satu orang."
Ia menarik napas.
"Aku masih ingin disukai. Aku tidak akan berpura-pura tidak. Tapi aku tidak ingin menjadikan itu ukuran apakah aku perlu bertindak benar."
Karina mengangguk perlahan.
Jawaban tersebut tidak menyelesaikan seluruh keraguannya.
Namun, memberinya sesuatu yang lebih nyata daripada kalimat bahwa semua perubahan dilakukan demi dirinya.
Ia tidak ingin menjadi alasan tunggal seseorang bertumbuh.
Beban itu terlalu besar untuk sebuah hubungan yang bahkan baru mulai dikenali.
***
Len memanggil pelan dari kendaraan, menanyakan apakah tas terakhir sudah dibawa.
Karina menoleh.
"Sudah."
Ia kembali memandang Agus.
"Aku harus pergi."
"Iya. Hati-hati."
Karina mengangguk, lalu berjalan menuju mobil.
Tidak ada janji bertemu berikutnya.
Tidak ada foto yang diminta.
Agus tetap berada di dekat pintu sampai kendaraan keluar, kemudian kembali masuk.
Andre sedang berdiri dengan wajah yang terlalu penuh pertanyaan.
Agus langsung menunjuk.
"Jangan, Yah."
"Ayah belum bicara."
"Aku tahu."
Andre mendengus.
Namun, kali ini ia benar-benar tidak bertanya.
Di dalam kendaraan, Len memandang jalan sebelum berbicara.
"Dokter kelihatan lebih tenang."
Karina mengangguk.
"Iya."
Pemuda itu tidak meminta penjelasan.
Ia hanya memastikan tas tidak bergeser ketika mobil berbelok.
Karina memandangi jalan di depan.
Kehati-hatian masih ikut bersamanya.
Begitu pula ketertarikan yang belum pergi.
Hari itu ia tidak perlu memutuskan mana yang menang.
Ia hanya mengetahui bahwa sebuah kursi yang tidak direncanakan telah memberinya kesempatan melihat Agus di antara orang-orang yang selama ini lebih dahulu mengenalnya.
Dan untuk sementara, itu cukup.