Beberapa hari berikutnya berjalan tanpa pesan pribadi dari Agus.
Karina menyadarinya meskipun tidak sengaja menunggu.
Tidak ada sapaan yang diselipkan di antara urusan pasien.
Tidak ada pertanyaan kecil yang sebenarnya dapat dijawab orang lain.
Kabar Ica tetap datang melalui Bagas seperti biasa, dengan jumlah yang wajar dan tanpa usaha membawa nama adiknya ke dalam setiap percakapan.
Karina merasa lega.
Pada saat yang sama, ada bagian kecil dirinya yang merasa kehilangan percakapan mengenai hamster seperti kentang.
Ia tidak menyukai betapa rumitnya perasaan dapat bekerja.
Namun, ia tidak menyalahkan Agus karena mengikuti permintaan yang dibuatnya sendiri.
Di klinik, pekerjaan cukup padat untuk membuat hari berlalu cepat.
Len mulai lebih terbiasa dengan jadwal belajar.
Kadang ia datang dengan wajah lelah, tetapi juga dengan cerita baru.
Karina mendengarkan sambil memeriksa catatan.
Dunia masih memiliki banyak hal menarik selain siapa duduk bersama siapa.
***
Pada suatu siang, Len mengeluarkan buku dari tasnya dengan wajah malu.
"Dok, boleh tanya kalau nanti ada waktu?"
Karina melirik halaman yang ditunjukkan.
"Bagian mana?"
Len menjelaskan hal yang belum dipahami dari kegiatan belajar.
Karina membaca, lalu mengaku bahwa dirinya perlu melihat lebih teliti sebelum menjawab.
Pemuda itu berkedip.
"Dokter juga perlu baca dulu?"
"Tentu. Gelar tidak membuat semua isi buku masuk otomatis."
Len tertawa.
Mereka membahas bagian tersebut saat jeda, lalu Karina menyarankan beberapa pertanyaan yang dapat dibawa kepada pengajarnya.
Ia tidak mengambil alih seluruh pekerjaan.
Len perlu memahami, bukan hanya memiliki jawaban yang ditulis orang lain.
Setelah selesai, pemuda itu menutup buku dengan wajah lebih ringan.
"Terima kasih, Dok."
Karina mengangguk.
Ketika Len kembali bekerja, ia teringat dirinya dahulu yang takut bertanya karena tidak ingin dianggap bodoh.
Ada kepuasan kecil ketika dapat membuat tempat kerja terasa berbeda bagi orang lain.
***
Di rumah keluarga Tjokro, Bagas mulai kembali menangani sebagian urusan kantor sesuai pengaturan yang memungkinkan.
Ia tidak langsung kembali ke semua kebiasaan lama.
Ada waktu yang tetap disediakan untuk Ica, pemeriksaan lanjutan, dan penyesuaian perawatan.
Namun, ia mulai dapat meninggalkan rumah beberapa jam tanpa merasa setiap langkah merupakan pengkhianatan kepada putrinya.
Agus membantu pada bagian yang telah dibicarakan.
Andre juga belajar tidak menelepon Bagas untuk setiap pertanyaan yang sebenarnya dapat dicari jawabannya dalam catatan.
Pada pagi ketika Bagas hendak berangkat, Ica memandang tasnya.
"Papa kerja?"
"Iya. Nanti pulang setelah urusannya selesai."
"Om ada?"
"Sebentar lagi Om datang. Kakek juga di rumah."
Ica mengangguk.
Bagas menunggu beberapa detik, seolah mengharapkan larangan.
Anak itu justru kembali memperhatikan gambarnya.
Ia merasa lega sekaligus sedikit kehilangan.
Andre yang melihat langsung mendengus.
"Kamu ingin dia tenang atau ingin terus dicari?"
Bagas tertawa pelan.
Pertanyaan ayahnya menyebalkan karena tepat.
***
Agus datang tepat sebelum Bagas berangkat.
Mereka memeriksa beberapa hal, kemudian kakaknya pergi.
Ica mengajak Agus melihat gambar baru.
Kali ini hamster itu benar-benar memiliki telinga yang lebih jelas.
"Om harus belajar."
Agus memandang kertas.
"Iya."
"Kalau salah, hapus."
"Baik."
"Jangan marah."
Agus mengangkat alis.
"Kapan Om marah karena menggambar?"
Ica memikirkan pertanyaan itu.
Lalu menunjuk wajahnya.
"Kalau tidak bisa, alisnya begini."
Anak itu menirukan ekspresi serius dengan lucu.
Andre yang duduk tidak jauh langsung tertawa.
Agus menyerah.
Ia mengambil pensil dan mengikuti arahan Ica.
Hasilnya masih jauh dari bagus.
Namun, anak itu tampak menikmati kesempatan menjadi orang yang memberi petunjuk.
Agus membiarkannya.
Tidak semua hubungan harus menempatkan dirinya sebagai orang yang paling tahu.
***
Di sela kegiatan, Andre menerima panggilan Mommy.
Ia mengajak Ica menyapa sebentar sesuai tenaganya, lalu melanjutkan pembicaraan sendiri.
Agus mendengar sebagian percakapan mengenai pekerjaan dan pengeluaran.
Ayahnya tidak lagi menjawab semua pertanyaan dengan kata aman.
Ia menyebut hal yang sudah selesai dan bagian yang masih harus diatur.
Agus tidak menyela.
Setelah panggilan berakhir, ia menanyakan apakah ada kebutuhan yang dapat dibantu secara rutin.
Andre memandangnya.
"Kita bicarakan angkanya dulu. Jangan hanya bilang nanti kamu bayar semua."
Agus mengangguk.
Itu masuk akal.
Mereka duduk dengan catatan.
Tidak ada pengumuman bahwa satu orang akan menyelamatkan keluarga.
Hanya pembagian yang realistis agar Bagas tidak menanggung semuanya sendirian dan Andre tidak harus berpura-pura tidak memiliki keterbatasan.
Percakapan tersebut berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan.
Namun, ketika selesai, Agus mengetahui dengan jelas apa yang harus dilakukan bulan berikutnya.
Kejelasan itu terasa lebih berguna daripada kebanggaan.
***
Sementara itu, pertanyaan mengenai foto perlahan berkurang di klinik.
Masih ada orang yang penasaran.
Namun, sebagian besar datang karena hewannya membutuhkan pertolongan, bukan karena ingin memeriksa kehidupan Karina.
Gadis itu mulai bernapas lebih lega.
Lilis memberi kabar bahwa kegiatan program berikutnya akan berfokus pada pertanyaan yang memang berkaitan dengan perawatan dan tanggung jawab pemilik hewan.
Karina menyiapkan bahan bersama tim.
Ia tidak ingin rasa takut dibicarakan membuat dirinya meninggalkan pekerjaan yang dinikmati.
Bu Mawar juga menghubungi untuk memberi kabar mengenai perbaikan tempat dan bantuan yang telah diterima.
Tidak semuanya besar.
Namun, beberapa dukungan datang dengan teratur.
Karina mendengarkan dengan senang.
Kerja mereka tetap menghasilkan sesuatu meskipun perhatian orang sempat berbelok.
Foto tersebut bukan satu-satunya cerita yang beredar.
Dan bukan cerita yang paling ingin mereka pelihara.
***
Sore hari, Karina menerima panggilan video dari Ditya.
Kakaknya tampak sedang berada di tempat yang tenang setelah menyelesaikan urusan bersama orang tua.
Mereka saling bertukar kabar.
Karina menceritakan Len dan jadwal klinik.
Ditya menanyakan bi Murni.
Setelah pembicaraan biasa selesai, ia bertanya mengenai keadaan setelah foto beredar.
"Sudah lebih tenang," jawab Karina.
"Agus?"
"Tidak menghubungi pribadi setelah aku minta berhenti membuat rencana dulu."
Ditya mengangguk.
"Itu sesuai yang kamu minta."
"Iya."
"Kamu terlihat seperti ada lanjutan."
Karina memandang layar.
"Aku agak rindu bercanda."
Ditya tersenyum perlahan.
Karina langsung menunjuk.
"Jangan."
"Mas belum bicara."
"Wajah mas sudah sangat berisik."
Ditya tertawa.
Namun, setelah tawanya berhenti, ia tidak menyuruh Karina segera mengirim pesan.
Ia hanya mengatakan bahwa perasaan boleh diperhatikan tanpa harus langsung diikuti.
Karina mengangguk.
Kakaknya masih berhasil menyebalkan dan berguna dalam satu percakapan.
***
Pada malam yang sama, Bagas mengirim pertanyaan kepada Karina mengenai pengaturan pemeriksaan rutin hamster.
Ica ingin melihat dokter hewannya lagi, tetapi keluarga tidak ingin membuat kunjungan ke tempat praktik menjadi kegiatan yang terlalu melelahkan.
Karina membaca dengan teliti.
Ia menanyakan keperluan hewan terlebih dahulu, lalu membicarakan pilihan yang sesuai.
Salah satu kemungkinan adalah kunjungan rumah dalam jadwal praktik yang memang tersedia, dengan pengaturan melalui tempat kerja dan setelah dipastikan cocok bagi keluarga.
Bagas menyetujui untuk bertanya kepada staf mengenai jadwal.
Ia tidak meminta Karina datang sebagai tamu pribadi tanpa kejelasan.
Karina menghargai itu.
Setelah waktu disepakati, ia mencatat kunjungan tersebut bersama Len.
Pemuda itu mengangguk.
"Rumah Pak Andre."
"Iya."
Ia memandang Karina sebentar, lalu tidak menambahkan apa-apa.
Karina hampir tersenyum.
Len ternyata semakin pandai mengenali kapan pertanyaan tidak perlu diajukan.
***
Agus baru mengetahui rencana kunjungan dari Bagas malam berikutnya.
Ia mendengarkan, kemudian langsung menyebut bahwa pada jam tersebut dirinya masih bekerja.
Bagas mengangguk.
"Memang tidak perlu kamu ada."
"Aku tahu."
Kakaknya memandangnya.
"Kamu terlihat lega sekaligus kecewa."
Agus mendesah.
"Mas bisa berhenti membaca wajah?"
"Kalau wajahmu berhenti menulis."
Agus tertawa pendek.
Namun, setelah itu ia kembali serius.
"Aku tidak akan mengubah jadwal supaya kebetulan ada."
Bagas mengangguk.
"Bagus."
Percakapan beralih kepada Ica.
Agus tidak meminta kakaknya menyampaikan sesuatu kepada Karina.
Tidak menitipkan hadiah.
Tidak menanyakan apakah gadis itu pernah menyebut namanya.
Ia ingin mengetahui banyak hal.
Tetapi untuk saat ini, menjaga jarak yang diminta tetap menjadi satu-satunya jawaban yang benar-benar dapat diberikannya.
***
Sebelum tidur, Karina memeriksa tas untuk kunjungan berikutnya.
Ada alat.
Catatan.
Barang yang diperlukan untuk pekerjaan.
Tidak ada alasan untuk menjadikannya sesuatu yang lebih rumit.
Ia akan datang bersama Len, memeriksa pasien, lalu pulang setelah selesai.
Namun, ketika melihat nama keluarga Tjokro di jadwal, ia tetap memikirkan Agus.
Apakah ia akan berada di rumah?
Karina hampir bertanya kepada Bagas, lalu berhenti.
Pertanyaan itu tidak diperlukan untuk menyiapkan pemeriksaan.
Ia tersenyum kecil kepada dirinya sendiri.
Ternyata menahan rasa ingin tahu tidak hanya menjadi pekerjaan Agus.
Karina menutup tas.
Besok ia dapat menghadapi keadaan yang benar-benar ada.
Tidak perlu membuat percakapan dengan seseorang yang bahkan belum tentu ditemuinya.