Agus menulis penjelasan itu tanpa menyebut nama Irene atau Tasya.
Bukan karena ingin menghapus keberadaan mereka.
Ia hanya tidak berhak membuka kembali seluruh urusan pribadi keduanya demi membuat namanya terlihat lebih baik.
Kalimat pertama berbunyi bahwa dirinya pernah tidak jujur dalam hubungan pribadi dan telah menyampaikan hal tersebut kepada pihak yang bersangkutan.
Ia berhenti cukup lama setelah menulis.
Kalimat itu berat.
Namun, mengubahnya menjadi salah paham akan menjadi kebohongan baru.
Agus melanjutkan.
Pertemuan dalam foto berlangsung setelah hubungan-hubungan tersebut berakhir.
Dokter Karina tidak terlibat dalam persoalan itu.
Ia meminta orang tidak mengaitkan pekerjaan Karina dengan dugaan mengenai kehidupan pribadinya.
Tidak ada pernyataan bahwa mereka pasangan.
Tidak ada janji cinta.
Hanya bagian yang dapat dikatakannya dengan benar.
Agus membaca ulang, lalu mengirim kepada Karina seperti yang telah disepakati.
Setelah itu, ia menunggu.
***
Karina membaca pesan tersebut sebelum praktik dimulai.
Ia memperhatikan setiap kalimat.
Penjelasan Agus tidak membuat dirinya tampak seperti pahlawan.
Tidak pula menyebut perempuan-perempuan sebelumnya terlalu menuntut atau salah memahami.
Karina merasa sedikit lebih tenang.
Ia membalas bahwa bagian mengenai dirinya sudah sesuai, lalu menegaskan sekali lagi bahwa dirinya tidak ingin rincian pertemuan pribadi dibicarakan lebih jauh.
Agus menyetujui.
Penjelasan singkat itu kemudian disampaikan melalui akun yang memang digunakannya sendiri.
Ia tidak meminta Gilang menyulapnya menjadi bagian acara.
Tidak meminta teman-temannya menyerang orang yang mengunggah foto.
Setelah dipublikasikan, Agus meletakkan ponsel dan bersiap bekerja.
Tangannya masih terasa tegang.
Ia mengetahui bahwa mengaku tidak jujur dapat mendatangkan komentar yang tidak menyenangkan.
Namun, kali ini rasa tidak nyaman itu memang berasal dari perbuatannya sendiri.
Ia tidak akan memindahkannya kepada Karina.
***
Andre melihat penjelasan tersebut setelah menerima pesan dari seorang kenalan.
Ia memanggil Agus ketika putranya selesai bekerja dan pulang sebentar.
Wajahnya serius.
"Kenapa Ayah tahu dari orang lain?"
Agus duduk.
"Aku seharusnya memberi tahu. Maaf."
Andre mengangguk pendek.
"Kamu sudah bicara dengan Karina?"
"Sudah."
"Dia marah?"
"Kesal. Wajar."
Laki-laki itu memandang putranya cukup lama.
Agus bersiap menerima teguran panjang.
Namun, Andre justru menunduk.
"Ayah pernah membuat namanya ikut terseret karena ingin menyindir kamu."
Agus terdiam.
"Ayah tidak mau mengulang dengan menelepon semua orang dan merasa sedang membela," lanjutnya.
Agus menatap ayahnya.
"Terima kasih."
Andre menghela napas.
"Tapi kamu tetap harus menghadapi akibat perbuatanmu."
"Aku tahu."
"Jangan bersembunyi di belakang gadis itu karena sekarang orang menyukainya."
Agus mengangguk.
Peringatan tersebut tajam.
Ia menerimanya karena mengetahui ayahnya sedang menunjuk sesuatu yang memang perlu dijaga.
***
Penjelasan Agus tidak membuat semua orang langsung berhenti berbicara.
Beberapa menerima.
Beberapa tetap membuat dugaan.
Ada pula yang hanya mengambil bagian pengakuan dan mengabaikan kalimat lainnya.
Karina mengetahui itu dari Lilis tanpa perlu membaca seluruhnya sendiri.
Lilis memastikan kegiatan program tetap berjalan sesuai rencana.
"Kita tidak akan menjadikan ini bahan acara," katanya.
Karina mengucapkan terima kasih.
Nana juga mengingatkan tim agar pertanyaan kepada Karina tetap berkaitan dengan pekerjaan yang telah disepakati.
Sikap tersebut membantu lebih banyak daripada pujian panjang.
Karina tidak ingin setiap orang yang datang menatapnya seperti sedang memeriksa apakah dirinya sedih.
Ia ingin bekerja.
Namun, pada hari itu ada dua panggilan yang ternyata hanya ingin menanyakan kabar pribadinya dengan alasan mengenal program.
Staf menanganinya dengan sopan.
Setelah panggilan kedua, Karina duduk sebentar dan memejamkan mata.
Reina meletakkan air di dekatnya.
"Minum dulu."
Karina mengangguk.
***
"Menyesal minum kopi?" tanya Reina setelah ruangan lebih tenang.
Karina memikirkan jawabannya.
"Menyesal karena difoto? Iya."
"Itu bukan hal yang sama."
Karina tersenyum lelah.
Semua orang belakangan rupanya pandai mengembalikan pertanyaan kepada bagian yang tepat.
"Aku tidak menyesal berbicara dengannya," katanya akhirnya. "Tapi aku tidak suka hidupku mendadak ikut menjadi bahan dugaan."
Reina mengangguk.
"Wajar."
Karina menatap gelas.
"Aku tahu dia sudah berusaha menjelaskan."
"Dan kamu tetap boleh merasa capek."
Jawaban itu membuatnya mengembuskan napas.
Ia tidak harus memilih antara menghargai usaha Agus dan mengakui bahwa keadaan tersebut melelahkan.
Reina kembali bekerja setelah memastikan Karina memiliki beberapa menit.
Tidak ada nasihat mengenai menjadi kuat karena sudah tampil di televisi.
Karina berterima kasih untuk itu dalam hati.
Menjadi terlihat tidak membuat seseorang berhenti membutuhkan ruang.
***
Agus menerima komentar yang jauh lebih langsung mengenai dirinya.
Ada yang kecewa.
Ada yang mencibir.
Beberapa mengaitkan ketidakjujuran pribadi dengan penampilannya yang selama ini selalu rapi.
Ia membaca secukupnya, kemudian berhenti.
Bukan karena menganggap semua orang salah.
Justru karena sebagian kalimat menyentuh sesuatu yang memang pernah dilakukannya.
Namun, membacanya berulang kali tidak akan membantu dirinya bekerja atau memperlakukan orang lebih baik.
Gilang menanyakan apakah ia membutuhkan perubahan pengaturan untuk kegiatan berikutnya.
Agus mengatakan dapat melanjutkan sesuai jadwal.
"Kalau ada pertanyaan yang tidak berkaitan dengan materi, kita tidak perlu membawanya ke acara," kata Gilang.
Agus mengangguk.
"Terima kasih."
Ia tidak meminta dipuji karena berani mengaku.
Tidak pula meminta pekerjaan menjadi tempat menghapus seluruh akibat.
Ia hanya ingin menjalankan bagian yang memang menjadi tanggung jawabnya dengan benar.
***
Malamnya, Agus mengirim pesan kepada Karina.
"Aku tahu penjelasan itu belum menghentikan semuanya. Kalau ada bagian pekerjaanmu yang terganggu karena pertanyaan tentangku, aku minta maaf."
Karina membaca setelah pulang.
Ia duduk di meja makan sebelum membalas.
"Ada beberapa pertanyaan, tetapi sudah ditangani. Aku menghargai kamu menjelaskan tanpa mengubah ceritanya."
Agus menatap jawaban tersebut cukup lama.
Kemudian pesan kedua masuk.
"Untuk sementara aku ingin kita tidak membuat rencana bertemu pribadi lagi. Aku perlu tenang dulu."
Dadanya langsung terasa berat.
Ia membaca sekali lagi.
Tidak ada kalimat putus karena mereka memang belum memiliki hubungan yang dapat disebut begitu.
Namun, kehilangan kemungkinan tetap terasa seperti sesuatu yang nyata.
Agus meletakkan ponsel.
Ia mengambil waktu sebelum menjawab agar tidak menulis dari bagian dirinya yang sedang takut.
Akhirnya ia mengetik.
"Baik. Aku akan menghormatinya."
***
Bagas menemukan Agus duduk sendirian setelah makan.
"Kamu belum berangkat tidur?"
"Sebentar."
Kakaknya duduk.
Agus menjelaskan bahwa Karina meminta tidak membuat rencana pertemuan pribadi untuk sementara.
Bagas mengangguk.
"Dan kamu?"
"Setuju."
"Wajahmu tidak setuju."
"Aku tidak senang. Tapi itu berbeda."
Bagas tersenyum tipis.
Agus menyandarkan kepala.
"Aku ingin melakukan sesuatu supaya dia tidak merasa perlu menjauh."
"Kadang sesuatu yang perlu dilakukan justru berhenti menarik."
Agus menatap kakaknya.
Bagas tidak menambahkan apa-apa sampai adiknya sendiri mengangguk.
Karina telah mengatakan membutuhkan ketenangan.
Jika Agus menjawab dengan hadiah, panggilan berulang, atau kejutan, dirinya hanya akan menunjukkan bahwa kebutuhan tersebut kalah penting daripada rasa takutnya kehilangan kesempatan.
Agus mengusap wajah.
Ia mulai memahami.
Memahami tidak membuatnya langsung nyaman.
Namun, cukup untuk membantunya tidak melakukan hal yang salah malam itu.
***
Di rumah, bi Murni melihat Karina lebih diam setelah makan.
Perempuan itu tidak bertanya mengenai setiap pesan yang masuk.
Ia hanya membawa buah dan duduk sebentar.
"Besok bibi mau masak yang Non suka."
Karina menoleh.
"Kenapa?"
"Karena sudah lama."
Gadis itu tersenyum kecil.
Ia tahu sebagian alasan bi Murni, tetapi tidak perlu membongkarnya.
Mereka berbicara mengenai hal lain.
Tito.
Belanja.
Tetangga yang salah mengirim pesan ke kelompok percakapan.
Karina akhirnya tertawa.
Kehidupan di luar foto masih luas.
Ada banyak orang yang tidak sedang menilainya dari satu jam minum teh.
Ketika naik ke kamar, ia tidak membuka unggahan Agus lagi.
Penjelasan sudah disampaikan.
Untuk malam ini, ia memilih membiarkan pikirannya berhenti bekerja.
***
Agus memeriksa jadwal esok sebelum tidur.
Pekerjaan.
Waktu membantu Bagas.
Keperluan yang sudah dijanjikan kepada Andre.
Tidak ada rencana untuk berada di dekat klinik Karina.
Ia menyadari betapa mudah dahulu dirinya menyebut kebetulan sesuatu yang sebenarnya sengaja dicari.
Kini ia tidak ingin bermain dengan kata itu lagi.
Ponselnya diletakkan di meja.
Karina mungkin akan membutuhkan beberapa hari.
Mungkin lebih lama.
Agus tidak mengetahui apakah kedekatan mereka akan kembali bergerak.
Namun, satu hal jelas.
Jika perubahan dirinya hanya bertahan ketika memperoleh perhatian, maka Karina memang memiliki alasan untuk pergi.
Ia mematikan lampu.
Besok tetap harus dijalani dengan baik, meskipun tidak ada pesan darinya.