Karina mengetahui foto itu dari Lilis.
Pagi baru dimulai ketika ponselnya berbunyi. Ia mengira ada perubahan jadwal pengambilan gambar.
Namun, suara Lilis terdengar lebih hati-hati daripada biasanya.
"Karina, saya mau memastikan kamu sudah melihat sesuatu atau belum."
"Apa?"
Lilis mengirim sebuah gambar.
Karina membukanya.
Dirinya dan Agus sedang duduk berhadapan di tempat minum dua hari sebelumnya.
Foto diambil dari sudut lain.
Tidak dekat, tetapi cukup jelas untuk mengenali wajah mereka.
Di bawahnya terdapat kalimat yang mengaitkan pertemuan tersebut dengan kehidupan asmara Agus.
Karina membaca sekali.
Lalu sekali lagi.
Yang membuat dadanya mengencang bukan foto itu sendiri.
Melainkan beberapa komentar yang mulai menebak urutan hubungan Agus dan menyelipkan dirinya ke dalam cerita yang tidak pernah dijalaninya.
Lilis menunggu.
"Karina?"
"Sudah saya lihat."
"Saya ingin kamu tahu sebelum ada orang bertanya saat bekerja."
Karina mengucapkan terima kasih.
Setelah panggilan selesai, ia tetap menatap layar.
***
Foto tersebut belum memenuhi seluruh dunia.
Hanya beredar di sebuah akun hiburan, kemudian disalin beberapa orang yang mengikuti acara mereka.
Namun, jumlahnya cukup untuk membuat nama Karina muncul di tempat yang tidak biasa.
Ada yang sekadar penasaran.
Ada yang menganggap mereka cocok.
Ada pula yang menanyakan apakah dirinya perempuan baru yang menyebabkan hubungan Agus sebelumnya berakhir.
Karina meletakkan ponsel.
Ia sudah mengetahui cerita Irene dan Tasya dari Agus.
Justru karena itu, ia memahami betapa mudah orang menyusun urutan yang salah.
Satu foto.
Beberapa nama.
Lalu kesimpulan.
Rasa tidak nyaman yang pernah muncul di pet shop kembali menyentuh bagian yang sama.
Orang lain merasa tahu tanpa bertanya.
Bedanya, kali ini Agus tidak berdiri di hadapannya sebagai orang yang menuduh.
Ia justru berada di foto yang sama.
Karina menarik napas, lalu berdiri.
Pasien pertama sudah datang.
Ia tidak bisa membiarkan semua orang di ruang tunggu ikut menunggu pikirannya selesai.
***
Len langsung menyadari ada sesuatu.
Karina lebih diam ketika menyiapkan pemeriksaan.
Namun, ia tetap bekerja dengan teliti.
Pemilik pasien yang datang sempat memandangnya beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum.
"Bu dokter yang kemarin fotonya dengan dokter televisi itu, ya?"
Karina berhenti menulis.
"Iya, saya ada di foto itu."
"Oh, jadi benar?"
"Kalau soal pasiennya, tadi sejak kapan makannya berkurang?"
Pemilik tersebut tampak sedikit salah tingkah, kemudian kembali menjelaskan keperluannya.
Karina tidak membentak.
Tidak pula membiarkan pemeriksaan berubah menjadi pembicaraan pribadi.
Namun, setelah pasien keluar, ia mengembuskan napas panjang.
Len mendekat.
"Dok?"
Karina menunjukkan foto tersebut.
Wajah pemuda itu berubah.
"Orang mengambilnya diam-diam?"
"Sepertinya."
Len membaca beberapa kalimat, lalu segera mengembalikan ponsel.
"Saya tidak suka tulisannya."
"Saya juga."
Itu saja.
Karina tidak membutuhkan pidato panjang untuk merasa dimengerti.
***
Agus menerima foto tersebut dari Gilang ketika sedang menyelesaikan urusan sebelum pekerjaan dimulai.
Ia menatap layar dan langsung mengencangkan rahang.
Gilang memandangnya.
"Ini pertemuan pribadi?"
Agus mengangguk.
"Saya tidak tahu ada yang mengambil gambar."
"Kami mulai menerima pertanyaan karena namamu dikaitkan dengan acara."
Agus membaca tulisan di bawah foto.
Rasa marahnya meningkat ketika melihat dugaan mengenai Karina.
Ia ingin segera menulis penjelasan.
Menyebut urutan kejadian.
Mengatakan bahwa orang-orang itu tidak mengetahui apa pun.
Namun, jarinya berhenti.
Jika ia langsung berbicara atas nama mereka berdua, dirinya kembali memutuskan sesuatu yang menyangkut Karina tanpa bertanya.
Agus meletakkan ponsel.
"Saya akan menghubungi dokter Karina dulu."
Gilang mengangguk.
"Tidak perlu menjawab sambil marah."
Agus hampir mengatakan bahwa dirinya tidak marah.
Lalu menyadari betapa tidak masuk akalnya kalimat tersebut.
Ia menarik napas panjang.
"Baik."
***
Pesannya kepada Karina singkat.
"Aku sudah melihat foto dan tulisannya. Aku ingin meluruskan bagian yang menyangkut hubunganku sebelumnya, tetapi aku tidak mau berbicara atas namamu. Kapan kamu punya waktu sebentar?"
Karina membacanya setelah pemeriksaan berikutnya selesai.
Ia menghargai pertanyaan tersebut.
Namun, penghargaan tidak membuat rasa kesalnya langsung berkurang.
Ia membalas bahwa dapat berbicara pada waktu istirahat.
Agus menyetujui dan tidak mengirim pesan tambahan.
Karina kembali bekerja.
Beberapa saat kemudian, Ririn menelepon untuk urusan pet shop, lalu dengan suara lebih pelan mengatakan bahwa dirinya juga melihat foto.
Karina memejamkan mata.
"Aku sedang bekerja, Rin."
"Iya, Dok. Saya cuma mau bilang kalau ada yang bertanya di sini, saya tidak akan menambah cerita."
Karina terdiam.
Kemudian suaranya melunak.
"Terima kasih."
Ririn tidak bercanda kali ini.
Ada waktu untuk menggoda.
Ada pula waktu ketika seorang teman perlu berhenti membuat keributan.
***
Saat istirahat, Karina menerima panggilan Agus di ruangan yang lebih tenang.
Laki-laki itu langsung meminta maaf karena masa lalunya menyeret nama Karina.
Karina mendengarkan sampai selesai.
"Kamu tidak mengambil foto itu," katanya.
"Tidak."
"Jadi jangan minta maaf untuk bagian yang tidak kamu lakukan."
Agus terdiam.
"Tapi tulisan tentang hubungan sebelumnya memang berasal dari kekacauan yang kubuat."
"Iya. Bagian itu perlu jelas."
Karina duduk.
Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin kehidupan klinik dan shelter terus dikaitkan dengan urusan tersebut.
Agus mendengarkan tanpa memotong.
"Aku ingin menjelaskan bahwa kamu tidak terlibat dalam masalah itu," katanya.
"Jelaskan bagianmu. Jangan mengumumkan sesuatu tentang hubungan kita yang bahkan belum kita tentukan."
"Aku mengerti."
Karina menarik napas.
"Kita baru minum satu jam, Gus."
Sapaan itu keluar begitu saja.
Namun, tidak ada yang sedang memiliki ruang untuk memperhatikannya.
***
"Aku tahu," jawab Agus.
"Foto itu membuat orang bicara seolah sudah ada cerita panjang."
"Aku tidak akan menambahkan cerita."
Karina memandang jendela.
Ia masih merasa kesal, tetapi percakapan tersebut sedikit membantu.
Agus tidak menuntutnya segera tenang.
Tidak mengatakan bahwa menjadi dekat dengan orang yang dikenal publik memang harus siap menerima semuanya.
Kalimat semacam itu pasti membuat Karina menutup telepon.
"Aku akan menyusun penjelasan singkat tentang bagianku," kata Agus. "Aku kirim dulu supaya kamu tahu apa yang akan disebut."
"Baik. Tapi jangan menjadikanku orang yang harus menyusun pembelaanmu."
"Tidak."
Mereka mengakhiri panggilan setelah menyepakati hal tersebut.
Karina duduk sebentar.
Minumannya di meja sudah tidak hangat.
Ia baru menyadari bahwa sejak pagi belum benar-benar menikmati satu hal pun tanpa pikirannya ditarik kembali ke foto.
***
Di rumah, Bagas mengetahui masalah itu ketika Agus datang setelah pekerjaannya selesai.
Ica sedang beristirahat sehingga mereka dapat berbicara di ruang lain.
Agus memperlihatkan unggahan tersebut.
Bagas membaca dengan dahi berkerut.
"Karina sudah tahu?"
"Sudah."
"Kalian sudah bicara?"
Agus mengangguk.
Bagas mengembalikan ponsel.
"Jangan hanya memikirkan cara membersihkan namamu."
"Aku sedang memikirkan namanya."
"Bagus. Tapi tetap jangan mengambil alih."
Agus mengusap wajah.
"Aku sudah bertanya."
Bagas mengangguk.
Ia melihat adiknya tampak lebih marah kepada dirinya sendiri daripada kepada orang yang mengunggah foto.
"Yang lalu tidak bisa kamu ubah hari ini," katanya. "Yang bisa kamu lakukan, jangan menambah kebohongan untuk membuat penjelasan terdengar lebih baik."
Agus memandangnya.
Ia tahu ada jalan mudah.
Menyebut hubungan dahulu tidak serius.
Mengecilkan perasaan Irene dan Tasya.
Ia tidak akan menggunakan jalan itu lagi.
***
Malamnya, Karina menerima pesan dari Ditya.
Kakaknya belum melihat unggahan tersebut, tetapi mama menerima kiriman dari seorang kenalan.
Karina menghela napas sebelum menelepon.
Ia menjelaskan inti persoalan dengan singkat.
Ditya mendengarkan.
"Agus bagaimana?"
"Sedang menyiapkan penjelasan mengenai bagiannya. Sudah bicara denganku dulu."
Kakaknya diam sebentar.
"Itu baik."
Karina menatap layar.
"Mas tidak langsung marah?"
"Mas marah kepada orang yang membuat cerita seenaknya. Tapi mas bertanya dulu supaya tidak ikut membuat cerita."
Karina tersenyum tipis.
Jarak rupanya tidak mengurangi kemampuan Ditya mengatakan sesuatu yang tepat ketika benar-benar diperlukan.
Setelah panggilan selesai, Karina meletakkan ponsel.
Ia tidak membuka komentar lagi.
Besok mungkin masih ada orang bertanya.
Namun, malam ini ia membutuhkan makan dan tidur.
Sebuah foto telah mengambil terlalu banyak waktunya.
Ia tidak akan menyerahkan seluruh malam juga.