Agus bangun lebih pagi daripada biasanya.
Bukan karena memiliki jadwal yang berubah, melainkan karena pikirannya telah bekerja sebelum tubuhnya bersedia meninggalkan tempat tidur.
Percakapan dengan Karina kembali dalam potongan kecil.
Tawanya ketika membicarakan Ditya.
Caranya meletakkan gelas setelah mendengar tentang Irene dan Tasya.
Kalimat bahwa dirinya ingin berjalan pelan jika mereka bertemu lagi.
Agus memandangi langit-langit.
Ia senang Karina tidak langsung pergi.
Namun, ia juga tahu bahwa keberadaan gadis itu sampai akhir pertemuan bukan berarti semua telah diterima tanpa pertimbangan.
Ponselnya berada di meja.
Tidak ada pesan baru.
Agus hampir mengetik sapaan pagi, lalu berhenti.
Ia tidak ingin setiap kegelisahan berubah menjadi pesan yang harus dijawab Karina.
Akhirnya ia bangun, mandi, dan turun untuk sarapan.
Ada pekerjaan yang menunggu.
Perubahan hidupnya tidak boleh hanya terlihat ketika Karina sedang memperhatikan.
***
Andre sedang membaca sesuatu ketika Agus duduk.
Laki-laki itu melirik putranya, kemudian kembali menunduk.
Beberapa detik kemudian, ia melirik lagi.
Agus meletakkan sendok.
"Ayah mau bertanya apa?"
"Siapa bilang Ayah mau bertanya?"
"Wajah Ayah."
Andre mendengus.
Di rumah itu, wajah rupanya telah kehilangan hak untuk menyimpan rahasia.
"Kemarin pulang tidak langsung makan."
"Aku sudah keluar sebentar."
"Dengan siapa?"
Agus menarik napas.
"Karina."
Andre menurunkan ponsel.
Keheningan yang muncul membuat Agus segera mengangkat tangan.
"Kami hanya minum. Belum ada sesuatu yang perlu Ayah rencanakan."
Andre membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Ayah belum mengatakan apa-apa."
"Tapi aku mengenal Ayah."
Laki-laki itu menyandarkan punggung.
Beberapa saat kemudian, ia mengangguk.
"Baik. Ayah tidak akan menelepon dia."
Agus tampak lega.
"Terima kasih."
"Tidak akan mengirim kambing juga."
Agus menatap ayahnya.
Andre tersenyum tipis.
Ia rupanya tetap membutuhkan sedikit hiburan.
***
Di rumah lain, Karina sedang mencari ikat rambut sambil mendengarkan bi Murni membicarakan menu makan malam.
Jawabannya terlambat beberapa kali.
Bi Murni akhirnya berhenti.
"Non mendengar?"
"Mendengar, Bi."
"Bibi tadi bilang apa?"
Karina memandangnya.
Perempuan itu menyilangkan tangan.
"Berarti tidak."
Karina tertawa kecil, lalu duduk.
"Aku sedang memikirkan sesuatu."
"Dokter itu?"
Karina mengangguk.
Bi Murni tidak langsung tersenyum menggoda. Ia melihat wajah Karina dan memilih menunggu.
"Ada hal yang dia ceritakan. Tentang hubungan sebelumnya."
Karina menyampaikan inti persoalan tanpa memberikan rincian yang tidak perlu.
Dua hubungan.
Ketidakjujuran.
Pengakuan yang baru diselesaikan belum lama.
Bi Murni menarik napas panjang.
Karina mengetahui alasan perempuan itu langsung terdiam.
Bekas suaminya pernah meninggalkan luka yang berbeda, tetapi kata tidak jujur selalu membawa gema yang sulit diabaikan.
"Non sekarang bagaimana?" tanyanya akhirnya.
"Aku masih ingin mengenal. Tapi lebih hati-hati."
***
Bi Murni mengangguk perlahan.
"Bibi tidak bisa memutuskan untuk Non."
"Aku tahu."
"Bibi juga tidak akan mengatakan orang pasti berubah hanya karena sudah mengaku."
Karina menunduk.
"Itu yang kupikirkan."
"Tapi jangan juga setiap hari mencari kesalahan sampai Non sendiri kelelahan."
Karina mengangkat wajah.
Nasihat itu tidak disangka-sangkanya.
Bi Murni mengambil ikat rambut dari sisi meja dan menyerahkannya.
"Kalau mau mengenal, lihat bagaimana hidupnya berjalan. Kalau belum nyaman, jangan memaksa diri demi terlihat baik."
Karina menerima ikat rambut tersebut.
Perempuan itu kemudian kembali membicarakan makanan.
Kali ini Karina mendengarkan.
Hidup rupanya tetap meminta keputusan mengenai lauk meskipun hati sedang penuh pertanyaan.
Anehnya, hal sederhana itu menolong.
Ia dapat berhati-hati mengenai Agus tanpa harus menghabiskan seluruh pagi membayangkan kemungkinan buruk.
***
Di klinik, Len datang membawa tas yang tampak lebih penuh.
Karina meliriknya.
"Hari ini mulai?"
Len mengangguk.
"Iya, Dok. Setelah pekerjaan yang sudah diatur selesai."
Wajahnya tegang, tetapi matanya berbinar.
Karina memeriksa jadwal sebentar, kemudian memastikan beberapa pekerjaan dibagi sesuai rencana.
Tidak ada kejutan.
Tidak ada pegawai lain yang tiba-tiba diminta menanggung semuanya tanpa tahu.
Reina ikut menanyakan jam Len harus berangkat.
Pemuda itu menjawab sambil menunjukkan catatan.
Karina tersenyum.
"Bagus. Jangan terlambat karena merasa harus membantu sampai semua meja mengilap."
Len tertawa.
"Saya takut terlihat tidak bertanggung jawab."
"Pergi belajar sesuai jadwal bukan meninggalkan tanggung jawab."
Ia mengangguk.
Namun, ketika waktunya benar-benar tiba, Len masih sempat merapikan satu benda lagi.
Karina akhirnya menunjuk pintu.
"Berangkat."
"Baik, Dok."
Pemuda itu berjalan cepat, lalu kembali karena tasnya tertinggal.
Karina menutup wajah sambil tertawa.
***
Sore tersebut sedikit lebih sibuk tanpa Len.
Karina menyadarinya ketika harus mengambil barang sendiri beberapa kali.
Namun, ia tidak menyesali keputusan yang telah dibuat.
Setiap perubahan membutuhkan penyesuaian nyata.
Tidak cukup berkata mendukung jika ia kemudian menunjukkan wajah kesal setiap kali Len mengikuti kegiatan belajarnya.
Reina membantu saat diperlukan.
Mereka menyelesaikan pasien terakhir sebelum jeda dengan cukup tenang.
Karina duduk sebentar dan memijat pangkal hidung.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Ditya.
Foto papa dan mama sedang duduk bersama di tempat tinggal mereka.
Di bawahnya, kakaknya menulis bahwa mama sudah bertanya mengenai acara minum kopi.
Karina mengerang.
Reina menoleh.
"Ada apa?"
"Keluarga."
Reina tersenyum seolah sudah memahami seluruh persoalan.
Karina membalas Ditya dengan ancaman akan menyimpan semua makanan kesukaannya di tempat rahasia ketika ia pulang.
Kakaknya membalas bahwa jarak membuat ancaman itu kurang menakutkan.
***
Di rumah keluarga Tjokro, Ica sedang belajar menerima bahwa pulang tidak berarti dapat langsung melakukan semua yang diinginkan.
Bagas menemaninya melihat gambar.
Anak itu ingin bercerita panjang mengenai hamster, tetapi cepat merasa lelah.
Bagas membantu mengakhiri kegiatan sebelum berubah menjadi keluhan.
Agus datang setelah pekerjaannya selesai dan duduk di dekat mereka.
"Om bisa gambar?"
Ica menyodorkan pensil.
Agus memandang Bagas.
Kakaknya langsung tersenyum.
"Ini kesempatan."
Agus mengambil pensil.
Beberapa menit kemudian, Ica menatap hasilnya.
"Itu apa?"
"Hamster."
Anak itu memiringkan kepala.
"Kok seperti kentang?"
Bagas tertawa sampai harus menunduk.
Agus memandang gambarnya sendiri.
Ia tidak dapat membantah sepenuhnya.
"Ini hamster yang sedang berpikir."
Ica tertawa kecil.
Agus menerima bahwa hari itu, wajah tampan dan pekerjaan televisi tidak memberinya kemampuan menggambar telinga.
***
Menjelang malam, Len mengirim pesan kepada Karina.
Kegiatan pertamanya sudah selesai.
Ia menuliskan beberapa hal yang perlu disiapkan untuk pertemuan berikutnya, lalu menambahkan bahwa dirinya sempat kesulitan mengikuti bagian tertentu.
Karina membalas agar ia mencatat bagian yang belum dipahami dan bertanya pada kesempatan berikutnya.
Tidak perlu berpura-pura mengerti.
Len mengirim jawaban singkat.
Baik, Dok. Ternyata yang tidak mengerti bukan cuma saya.
Karina tersenyum.
Kadang keberanian muncul setelah seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak sendirian dalam kebingungan.
Ia meneruskan kabar tersebut kepada Ditya karena kakaknya juga ikut membantu menyusun jadwal.
Balasan Ditya datang beberapa waktu kemudian.
Bagus. Jangan langsung diberi sepuluh nasihat.
Karina memandang pesannya sendiri kepada Len.
Hanya tiga kalimat.
Ia mengirim tangkapan layar kepada kakaknya sebagai pembelaan.
Ditya membalas dengan tawa.
Percakapan kecil itu membuat jarak terasa sedikit lebih pendek.
***
Agus tidak mengirim pesan pribadi kepada Karina sepanjang hari.
Namun, menjelang malam Bagas mengirim foto gambar hamster yang dibuatnya, setelah Ica meminta Karina melihat.
Di bawahnya ada keterangan singkat.
Ica bertanya apakah ini masih bisa disebut hamster.
Karina tertawa keras.
Bi Murni langsung menoleh.
Karina menunjukkan gambar tersebut.
Perempuan itu memicingkan mata.
"Ubi?"
Karina tertawa lagi sampai harus menutup mulut.
Ia membalas melalui Bagas.
"Masih boleh. Tetapi pemilik gambar perlu membantu memberi nama supaya orang tidak salah memasaknya."
Bagas memperlihatkan jawaban itu kepada Agus.
Laki-laki tersebut menatap layar dengan wajah pasrah.
Ica tertawa ketika kalimatnya dibacakan.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan kopi, Agus merasa dapat tersenyum tanpa harus memastikan apa arti senyum Karina baginya.
Hari itu ia hanya menjadi paman yang menggambar hamster seperti kentang.
Ternyata cukup menyenangkan.
***
Sebelum tidur, Karina membuka percakapan Agus.
Ia tidak memiliki pesan penting.
Tidak ada pasien yang perlu dibahas.
Namun, ia ingin mengatakan sesuatu.
Akhirnya ia mengetik.
"Hamstermu perlu sedikit perbaikan."
Balasan datang beberapa menit kemudian.
"Aku menerima kritik, tetapi belum menerima pesanan gambar."
Karina tersenyum.
"Syukurlah. Kasihan pelanggan."
"Besok aku latihan telinga."
"Mulai dari membedakan hamster dengan umbi."
Agus mengirim tawa.
Percakapan berhenti setelah itu.
Tidak panjang.
Tidak berubah menjadi janji bertemu setiap hari.
Karina meletakkan ponsel dan mematikan lampu.
Kehati-hatian masih ada.
Ketertarikan juga.
Ia tidak perlu memaksa salah satunya hilang malam ini.