"Sudah lama menunggu?" tanya Karina.
"Belum."
Ia melirik gelas air di meja yang belum disentuh.
Agus mempersilakan duduk, lalu menunggu sampai Karina meletakkan tas.
Tempat itu cukup ramai untuk membuat percakapan terasa biasa, tetapi tidak terlalu bising.
Tidak ada ruangan khusus.
Tidak ada hiasan yang membuat Karina merasa sedang memasuki rencana besar yang belum disetujuinya.
Mereka memesan minuman.
Agus memilih kopi.
Karina memilih teh.
Laki-laki itu mengangkat alis sedikit.
"Katanya minum kopi."
"Ajakanmu begitu. Aku tidak menandatangani kewajiban minum yang sama."
Agus tertawa.
"Benar."
Karina tersenyum kecil.
Gurauan sederhana tersebut membantu mengurangi kekakuan.
Namun, setelah pelayan pergi, mereka kembali diam beberapa detik.
Agus akhirnya mengangkat gelas air.
"Biasanya saya lebih banyak bicara."
"Aku sudah pernah melihat akibatnya."
Ia hampir tersedak.
Karina menahan senyum.
"Maaf. Terlalu cepat?"
"Sedikit. Tapi memang benar."
***
Percakapan mulai mengalir ketika Karina menanyakan keadaan rumah setelah Ica pulang.
Agus menceritakan Andre yang ingin menyiapkan penyambutan terlalu meriah dan Bagas yang masih belajar merasa tenang di rumah.
Ia tidak membuka rincian perawatan yang tidak perlu.
Karina mendengarkan, sesekali tertawa pada bagian boneka kambing.
"Ayahmu benar-benar sayang Rambo."
"Kadang aku merasa harus membawa rumput supaya mendapat perhatian yang sama."
Karina tertawa lebih lepas.
Agus memandangnya sesaat, kemudian kembali melanjutkan cerita tanpa membuat tatapan itu terlalu lama.
Karina lalu bercerita mengenai keberangkatan Ditya.
Tentang koper yang terlalu penuh.
Tentang makanan yang ditemukan kembali.
Tentang pesan kakaknya yang masih berhasil membuatnya kesal meskipun sudah berada jauh.
Agus mendengarkan dengan wajah tertarik.
Ia tidak menyela untuk menceritakan perjalanan dirinya yang lebih jauh atau keluarga yang lebih ramai.
Karina menyadarinya.
Dan tanpa direncanakan, ia bercerita sedikit lebih banyak.
***
"Kamu dan kakakmu dekat," kata Agus.
Karina mengangguk.
"Sering bertengkar juga."
"Itu terlihat."
Ia menyipit.
Agus langsung mengangkat tangan.
"Dari cerita, maksudku."
Karina tersenyum.
"Mas Ditya menyebalkan. Tapi kalau dia tidak ada, aku mencarinya."
Agus mengangguk perlahan.
"Aku baru belakangan mengerti seberapa banyak Mas Bagas mengurus hal yang selama ini tidak kulihat."
"Karena kamu sibuk?"
"Sebagian. Sebagian lagi karena aku menganggap pasti ada yang membereskan."
Karina memandangnya.
Jawaban itu tidak terdengar seperti sesuatu yang dipoles agar menyenangkan.
Agus mengusap sisi gelas.
"Aku masih belajar membedakannya."
Karina mengangguk.
Ia tidak segera memuji.
Pengakuan yang baik tetap perlu diikuti kebiasaan.
Namun, ia menghargai bahwa laki-laki itu tidak menggunakan pekerjaannya untuk menutupi semua hal.
Minuman datang.
Mereka memberi ruang kepada pelayan, lalu melanjutkan percakapan dengan lebih santai.
***
Agus menanyakan bagian pekerjaan yang paling disukai Karina.
Gadis itu tidak langsung menjawab.
"Bukan semuanya menyenangkan."
"Aku percaya."
"Ada hari ketika aku hanya ingin pulang dan tidak mendengar pertanyaan lagi."
"Pemilik pasien?"
"Termasuk orang yang merasa membaca satu kalimat sudah membuatnya tahu lebih banyak daripada pemeriksaan."
Agus menunduk.
Karina melihat.
"Aku tidak sedang menyindir."
"Kadang tetap terasa cocok."
Ia tertawa kecil.
Karina ikut tersenyum sebelum menjelaskan bahwa dirinya menyukai saat pemilik hewan mulai memahami apa yang dibutuhkan pasiennya.
Bukan hanya ketika hewan sembuh.
Kadang saat orang berhenti memaksa.
Kadang saat mereka datang kembali dengan catatan yang lebih baik.
Agus mendengarkan sampai selesai.
"Jadi perubahan orangnya juga penting."
"Sangat."
Karina mengambil gelas.
"Ada pasien yang masalah terbesarnya justru manusia di ujung tali."
Agus tertawa.
Kalimat itu akan sulit dibantah setelah melihat Andre dan Rambo.
***
Sekitar setengah waktu berlalu ketika wajah Agus menjadi lebih serius.
Karina memperhatikan perubahan tersebut.
"Ada apa?"
"Ada sesuatu yang perlu kamu tahu sebelum kita melangkah lebih jauh dari percakapan seperti ini."
Karina meletakkan gelas.
Ia tidak suka kalimat yang terlalu besar.
Namun, ia memberi kesempatan.
Agus menarik napas.
"Aku pernah menjalani dua hubungan pada waktu yang bertumpang tindih. Aku tidak jujur kepada mereka mengenai itu."
Keheningan jatuh.
Karina menatapnya tanpa langsung menjawab.
Agus tidak menambahkan alasan.
Ia menyebut bahwa kedua hubungan tersebut telah diakhiri setelah dirinya mengatakan keadaan sebenarnya.
"Belum lama," tambahnya.
Karina memandang meja sebentar.
Nama Irene pernah didengarnya.
Tasya belum menjadi bagian yang diketahuinya dengan jelas.
Namun, persoalannya bukan nama.
Ia mengangkat wajah.
"Mereka tahu waktu masih bersama kamu?"
"Tidak."
"Karena kamu tidak memberi tahu?"
"Karena aku berbohong dan menghindari kejelasan."
***
Karina menyandarkan punggung.
Agus membiarkan pertanyaan berikutnya datang.
"Kenapa kamu menceritakan ini sekarang?"
"Karena aku mengajakmu bertemu dengan maksud pribadi. Aku tidak ingin kamu nanti mengetahui bagian ini dari orang lain dan merasa aku sengaja menyembunyikannya."
"Atau supaya aku bilang tidak apa-apa?"
Agus menggeleng.
"Memang tidak apa-apa bukan jawaban yang pantas untuk perbuatanku."
Karina memandangnya cukup lama.
Ia tidak marah seperti ketika dituduh di pet shop.
Namun, ada kehati-hatian yang kembali berdiri lebih tegak.
Laki-laki di hadapannya bukan sekadar pernah salah memahami sesuatu.
Ia pernah memilih menjaga beberapa hubungan dengan memberikan cerita yang tidak utuh kepada orang-orang di dalamnya.
Itu hal yang berbeda.
"Sudah benar-benar selesai?" tanyanya.
"Sudah. Mereka menyatakan tidak ingin melanjutkan. Aku menghormati itu."
"Dan sekarang kamu langsung ingin mengenal orang baru?"
Agus terdiam.
Pertanyaan itu tepat mengenai bagian yang masih perlu dipikirkannya sendiri.
***
"Aku tertarik kepadamu," katanya akhirnya. "Tapi aku tidak ingin menjadikan itu alasan untuk melewati pekerjaan yang belum selesai dalam diriku."
Karina mengangkat alis.
"Kalimatmu bagus."
Agus mengangguk.
"Aku tahu kalimat tidak cukup."
Gadis itu memandang minumannya.
Ia menghargai pengakuan tersebut.
Namun, penghargaan tidak sama dengan rasa aman yang langsung bertambah.
"Kalau aku bilang ini membuatku lebih hati-hati?"
"Itu wajar."
"Kalau aku tidak mau buru-buru?"
"Aku akan mengikuti keputusan itu."
Karina menatapnya.
"Jangan menjawab cepat hanya supaya pertemuan ini tetap menyenangkan."
Agus mengambil waktu sebelum berbicara lagi.
"Aku memang ingin pertemuan ini berjalan baik. Tapi bukan berarti kamu harus mengabaikan sesuatu yang membuatmu ragu."
Karina mengangguk perlahan.
Untuk beberapa saat, mereka diam.
Suara cangkir dari meja lain terdengar jelas.
Kopi Agus mulai dingin.
***
"Aku juga perlu mengatakan sesuatu," kata Karina.
Agus menunggu.
"Aku baru bertemu orang dari masa lalu. Ada hal yang dulu membuatku terlalu sering meragukan pikiran sendiri."
Ia tidak menyebut nama Damar.
Tidak menceritakan seluruh hubungan.
"Aku sedang belajar tidak mengulang itu. Jadi kalau aku bertanya, aku ingin jawaban yang jelas. Bukan dibuat merasa terlalu curiga."
Agus menunduk sesaat.
Ia teringat Irene.
Pertanyaan yang pernah dibalas dengan tuduhan kurang percaya.
"Aku mengerti kenapa itu penting," katanya.
Karina menggeleng sedikit.
"Kamu bisa mengatakan sudah mendengar. Mengerti sepenuhnya mungkin perlu waktu."
Agus memandangnya.
Lalu mengangguk.
"Aku sudah mendengar."
Jawaban tersebut membuat bahu Karina turun sedikit.
Ia tidak meminta laki-laki itu menjadi sempurna sore ini.
Ia hanya tidak ingin kembali berada dalam percakapan yang membuat kata-katanya dipakai untuk menghapus perasaannya sendiri.
***
Ponsel Agus bergetar di meja.
Nama Bagas muncul.
Agus melihat layar, kemudian memandang Karina.
"Aku perlu memastikan sebentar."
Karina mengangguk.
Agus membaca pesan.
Bukan keadaan darurat.
Bagas menanyakan letak satu berkas yang dipindahkan ketika mereka mengemas barang.
Agus membalas dengan lokasi yang jelas, lalu menyimpan ponsel.
"Sudah."
Karina memperhatikannya.
Ia tidak meninggalkan percakapan tanpa penjelasan.
Tidak pula mengabaikan keluarga demi terlihat sedang memberi perhatian sempurna.
Hanya menyelesaikan hal yang diperlukan.
Mereka kembali berbicara, kali ini mengenai hal yang lebih ringan.
Len dan sekolahnya.
Bi Murni yang menganggap makanan dapat menyelesaikan sebagian besar masalah.
Andre yang mungkin akan membawa pulang kambing lain jika diberi kesempatan terlalu lama berada di pasar.
Tawa kembali muncul.
Tidak menghapus percakapan sulit tadi.
Namun, membuatnya dapat ditempatkan di antara bagian lain dari dua orang yang sedang saling mengenal.
***
Karina melihat waktu ketika satu jam hampir selesai.
Agus mengikuti arah pandangnya.
"Kamu harus pulang."
Ia mengangguk.
"Aku sudah bilang bi Murni."
"Baik."
Mereka menyelesaikan pembayaran setelah membicarakannya singkat. Karina memilih membayar pesanannya sendiri, dan Agus tidak menjadikan hal tersebut perdebatan.
Di luar, udara terasa lebih sejuk.
Karina membetulkan tas.
"Terima kasih sudah jujur."
Agus mengangguk.
"Aku tahu itu tidak membuat semuanya langsung baik."
"Memang."
Ia tersenyum kecil setelah mengatakan itu.
Agus tidak tersinggung.
Karina memandangnya beberapa detik.
"Aku belum bisa mengatakan akan ke mana setelah ini."
"Aku juga tidak akan meminta jawaban sekarang."
"Kalau kita bertemu lagi, aku ingin tetap pelan."
Agus mengangguk.
"Baik."
Tidak ada janji berlebihan.
Tidak ada tangan yang tiba-tiba meraih.
Mereka berpisah setelah memastikan arah pulang masing-masing.
***
Di rumah, bi Murni hanya menanyakan apakah Karina sudah makan.
"Baru minum."
Perempuan itu langsung menunjuk meja.
"Berarti pembicaraan boleh nanti. Makan dulu."
Karina menurut.
Setelah beberapa suap, ia menyadari bahwa pertemuan tersebut meninggalkan perasaan yang tidak sederhana.
Ia senang berbicara dengan Agus.
Ia tertarik.
Namun, sekarang ia juga mengetahui sesuatu yang membuat langkah berikutnya harus lebih hati-hati.
Semua perasaan itu dapat ada bersamaan.
Ia tidak perlu memilih salah satu hanya agar cerita terdengar rapi.
Ponselnya menyala.
Agus mengirim pesan singkat bahwa dirinya sudah sampai dan mengucapkan terima kasih atas waktu sore tadi.
Karina membalas setelah meletakkan sendok.
"Sama-sama. Aku sudah di rumah."
Tidak ada percakapan panjang setelahnya.
Karina melanjutkan makan.
Satu jam itu tidak memberinya kepastian tentang cinta.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia pulang dari sebuah pertemuan dengan mengetahui bahwa dirinya tidak meninggalkan suara sendiri di kursi seberang.