Agus menulis pesan, lalu menghapusnya.
Kalimat pertama terdengar terlalu resmi.
Kalimat kedua terlalu akrab.
Pada percobaan ketiga, ia menyadari dirinya sedang menggunakan pertanyaan mengenai Ica sebagai pembuka untuk sesuatu yang sebenarnya tidak berkaitan dengan perawatan.
Ia menghapus semuanya.
Ponsel diletakkan.
Beberapa saat kemudian diambil lagi.
Bagas yang kebetulan melihat dari pintu ruang tengah berhenti.
"Kamu sedang menyusun pidato?"
Agus mendongak.
"Pesan."
"Kelihatannya sulit."
"Memang."
Bagas duduk di kursi lain, tetapi tidak mencoba melihat layar.
Agus mengusap wajah.
"Aku ingin mengajak Karina minum kopi."
Bagas mengangguk.
"Lalu?"
"Aku tidak ingin terdengar seperti mencari alasan."
"Kalau begitu jangan pakai alasan."
Agus menatap kakaknya.
Nasihat tersebut terlalu sederhana untuk jumlah waktu yang telah dihabiskannya.
Namun, mungkin justru itu masalahnya.
Ia sedang berusaha membuat pertanyaan biasa terlihat sempurna karena takut mendengar jawaban yang tidak diinginkan.
***
"Dia pernah meminta hanya bicara untuk keperluan yang jelas," kata Agus.
Bagas berpikir sebentar.
"Hubungan kalian sekarang bagaimana?"
"Kami sudah bisa bicara. Kadang dia yang mulai."
"Kalau kamu ingin bertanya, tanya dengan jelas. Beri ruang untuk menolak. Setelah itu hormati jawabannya."
Agus mengangguk.
"Mas tidak keberatan?"
Bagas memandangnya dengan bingung.
"Kenapa mas yang diminta izin?"
Agus terdiam.
Ia teringat rencana Andre yang pernah ingin menjodohkan Karina dengan kakaknya.
Bagas langsung memahami dari wajahnya.
"Rencana Ayah bukan hubungan yang pernah kumiliki."
"Iya."
"Dan Karina bukan sesuatu yang perlu dibagi di antara kita."
Agus mengembuskan napas.
"Aku tahu. Pertanyaanku bodoh."
"Sedikit."
Bagas berdiri setelah mendengar Ica memanggil.
Sebelum pergi, ia menoleh.
"Jangan menulis sepuluh paragraf. Dia punya pekerjaan."
Agus menatap layar.
Drafnya baru tiga baris.
Tetap saja, ia langsung memendekkannya.
***
Pesan itu dikirim ketika Karina sedang istirahat.
"Kalau kamu berkenan, aku ingin mengajak minum kopi di luar urusan pasien. Tidak harus sekarang. Kalau tidak nyaman, tidak apa-apa."
Karina membacanya dengan sendok berhenti di udara.
Len melihat.
"Kabar Ica?"
Karina menggeleng.
Len menunggu.
Karina meletakkan sendok.
"Ajakan minum kopi."
Pemuda itu berkedip.
"Dokter Rangga?"
Karina menatapnya.
"Kok langsung tahu?"
Len tampak menyesal telah menjawab terlalu cepat.
"Saya menebak."
"Hebat sekali tebakanmu."
Ia kembali memandang layar.
Ada perubahan sapaan dari Anda menjadi kamu yang terasa lebih jelas daripada panjang seluruh pesan.
Karina tidak langsung merasa terganggu.
Justru itu yang membuatnya berhenti lebih lama.
Len memilih berdiri untuk mengambil air.
Ia telah belajar mengenali saat ketika keberadaannya lebih berguna beberapa langkah dari meja.
***
Karina membaca pesan itu sekali lagi.
Tidak ada kambing yang harus diperiksa.
Tidak ada buku yang perlu diantar untuk Ica.
Agus telah mengatakan maksudnya dengan jelas.
Sekarang dirinya yang perlu mengetahui apa yang diinginkan.
Ia masih mengingat kejadian di pet shop.
Rasa marah itu tidak lenyap hanya karena beberapa pekan terakhir berjalan lebih baik.
Namun, ia juga mengingat laki-laki yang menunggu di luar klinik, bekerja saat hujan, mendampingi keluarga, dan membiarkan pertanyaannya tidak dijawab.
Semua itu bukan bukti bahwa Agus tidak akan pernah menyakitinya.
Tidak ada orang yang dapat memberikan kepastian semacam itu.
Karina hanya sedang memutuskan apakah ingin mengenalnya sedikit lebih jauh.
Ia akhirnya membalas.
"Boleh. Setelah pekerjaan besok selesai, satu jam. Tempat yang dekat klinik saja."
Setelah pesan terkirim, ia memandangi layar dengan jantung berdebar.
Len kembali membawa air.
Karina langsung mengambil sendok.
Makanannya sudah dingin.
***
Agus membaca jawaban tersebut di antara dua urusan pekerjaan.
Ia berhenti berjalan sampai seseorang di belakang harus meminta lewat.
Agus segera menepi dan meminta maaf.
Boleh.
Kata itu terlihat terlalu pendek untuk pengaruhnya terhadap wajahnya.
Ia membalas dengan pilihan tempat dan waktu yang sesuai, lalu meminta Karina menentukan jika ada yang lebih nyaman.
Gadis itu menyetujui salah satu tempat.
Percakapan selesai.
Agus menyimpan ponsel, kemudian mengambilnya lagi hanya untuk memastikan waktu.
Tidak ada perubahan.
Tentu saja tidak.
Ia menertawakan dirinya sendiri.
Dahulu mengajak seseorang keluar terasa mudah.
Ia memiliki banyak kalimat, banyak tempat, dan keyakinan bahwa penampilan akan membantu sebagian besar pekerjaan.
Sekarang ia justru memikirkan apakah dirinya mampu mendengarkan selama satu jam tanpa membuat percakapan berputar kembali kepada dirinya.
Pertanyaan itu jauh lebih berguna daripada memilih parfum.
***
Malamnya, Ririn mengetahui rencana tersebut dengan cara yang sangat tidak diharapkan Karina.
Ponsel Karina menyala ketika sedang diletakkan di meja pet shop.
Ririn hanya melihat nama pengirim, bukan isi pesan.
Namun, wajah Karina yang terlalu cepat mengambil ponsel membuat perempuan itu mengangkat alis.
"Oh."
Karina memejamkan mata.
"Kamu punya kata lain?"
"Dokter Rangga?"
"Iya."
"Masih soal kambing?"
Karina meletakkan barang yang sedang diperiksa.
"Tidak."
Ririn menatapnya.
Kemudian senyumnya melebar.
"Jadi?"
"Minum kopi. Satu jam. Sudah."
Ririn memegang dada.
"Saya merasa perlu duduk."
"Kamu dari tadi duduk."
"Berarti perlu berdiri."
Karina menggeleng sambil tertawa meskipun berusaha menahannya.
Ririn tidak langsung memberi selamat seolah pertunangan telah diumumkan.
Setelah gurauannya selesai, wajahnya justru lebih serius.
"Dokter nyaman?"
Karina mengangguk perlahan.
"Aku ingin mencoba bicara."
"Kalau begitu, semoga kopinya enak."
***
Di rumah, bi Murni menerima kabar dengan sikap yang berbeda.
Perempuan itu memandang Karina cukup lama.
"Yang pernah menuduh itu?"
Karina mengangguk.
"Yang membantu waktu hujan?"
"Iya."
"Yang pamannya Ica?"
"Orangnya satu, Bi."
Bi Murni mendengus.
"Bibi memastikan."
Karina duduk di tepi kursi.
"Aku cuma ingin mengenal lebih jauh."
"Ya sudah."
Jawaban itu membuat Karina terkejut.
"Bibi tidak melarang?"
"Non minta pendapat atau memberi tahu?"
Karina berpikir.
"Memberi tahu."
"Kalau begitu bibi mendengar."
Bi Murni kemudian menambahkan bahwa dirinya tetap tidak menyukai perbuatan Agus dahulu.
Karina mengangguk.
"Aku juga."
"Tapi bibi tidak ikut duduk di sana. Non yang lihat sendiri bagaimana dia sekarang."
Karina memandang perempuan itu dengan hangat.
Beberapa waktu terakhir, orang-orang di rumah rupanya sedang belajar hal yang sama.
Menyayangi tanpa mengambil alih setiap keputusan.
***
Karina hampir mengirim pesan kepada Ditya, lalu mengingat bahwa kakaknya sedang menyesuaikan perjalanan dan waktu bersama orang tua.
Ia menunggu sampai menerima kabar bahwa Ditya telah tiba dengan baik.
Foto yang dikirim memperlihatkan papa dan mama.
Karina tersenyum lama sebelum membalas.
Setelah saling berkabar, ia menyampaikan rencana minum kopi.
Balasan Ditya tidak langsung datang.
Kemudian muncul satu kalimat.
Dokter yang pernah mas ajak bicara di luar klinik?
Karina mengetik bahwa memang orang itu.
Ditya membalas dengan pesan suara pendek.
"Kamu yang memutuskan. Kalau dia kembali membuatmu tidak nyaman, kamu boleh pulang meskipun minumannya belum habis."
Karina tertawa.
Di akhir pesan terdengar suara mama menanyakan siapa yang akan minum kopi.
Ditya langsung menutup rekaman.
Karina menatap layar.
Berita tersebut mungkin akan melakukan perjalanan keluarga lebih cepat daripada yang direncanakannya.
***
Agus menghabiskan malam dengan lebih sedikit persiapan daripada yang dibayangkannya.
Ia memeriksa keadaan Ica.
Memastikan pekerjaan esok tidak bertabrakan.
Memilih pakaian yang biasa dikenakan setelah praktik.
Lalu berhenti.
Tidak ada hadiah.
Tidak ada pemesanan meja yang dibuat terlalu istimewa.
Karina menyetujui satu jam minum kopi.
Ia harus menghormati bentuk sederhana itu.
Namun, ketika hendak tidur, ada satu persoalan yang kembali mengganggu.
Irene.
Tasya.
Karina belum mengetahui seluruh cerita.
Agus memandang langit-langit.
Ia tidak ingin kedekatan baru dimulai dengan bagian penting yang sengaja ditunda karena takut membuat dirinya terlihat buruk.
Tetapi ia juga tidak ingin menjadikan pertemuan pertama sebagai tempat menumpahkan semua rasa bersalah agar Karina bertugas menenangkan.
Ia perlu mengatakan yang relevan dengan jelas.
Lalu membiarkan Karina menilai.
Pikiran itu membuat kegugupannya kembali.
Kali ini, ia tahu mengapa.
***
Keesokan sorenya, Karina menyelesaikan pekerjaan dan mengganti pakaian yang dipakai menangani pasien.
Ia merapikan rambut di depan cermin kecil.
Len sedang menutup catatan ketika melihatnya.
"Sudah selesai, Dok?"
"Sudah."
"Semoga lancar."
Karina menoleh.
"Kerjaannya atau kopinya?"
Len tersenyum.
"Keduanya."
Karina mengambil tas.
Ia tidak merasa seperti gadis yang hendak dibawa masuk ke kehidupan orang lain.
Klinik berada di belakangnya.
Rumah menunggu kepulangannya.
Keputusan tetap dapat diubah jika sesuatu membuatnya tidak nyaman.
Namun, saat berjalan menuju tempat yang disepakati, ia mengakui bahwa dirinya juga berharap percakapan berjalan menyenangkan.
Harapan kecil itu membuatnya tersenyum.
Agus sudah berada di depan pintu ketika ia tiba.
Laki-laki itu berdiri dengan wajah yang jauh lebih gugup daripada penampilannya di televisi.
Karina melihat dan merasa sedikit lebih tenang.
Ternyata bukan hanya dirinya yang sedang mencoba.