Keputusan pulang Ica akhirnya disampaikan setelah tim menilai perkembangannya dan memastikan persiapan yang diperlukan telah dipahami keluarga.
Bagas mendengarkan dengan mata yang beberapa kali berpindah ke putrinya.
Anak itu belum mengetahui seluruh pembicaraan.
Ia sedang memegang boneka kambing dan memperhatikan pengasuh menata beberapa barang.
Agus duduk bersama Bagas saat penjelasan diberikan.
Mereka memastikan catatan, jadwal lanjutan, serta cara menghubungi pihak yang tepat jika ada hal yang mengkhawatirkan.
Bagas mengulang pertanyaan yang masih membuatnya ragu.
Tidak ada yang menyuruhnya berhenti karena seharusnya sudah mengerti.
Setelah semuanya cukup jelas, ia mengembuskan napas panjang.
Agus menutup catatan.
"Kita periksa barang?"
Bagas mengangguk.
Untuk pertama kalinya, mereka mengemas karena akan pulang.
Bukan berpindah ruangan.
Bukan menyiapkan tindakan.
Hanya pulang.
Kata itu terasa sederhana sampai seseorang menunggunya cukup lama.
***
Ica mengetahui kabar tersebut beberapa menit kemudian.
Anak itu memandang Bagas seolah perlu memastikan papa tidak sedang menjelaskan rencana yang masih jauh.
"Hari ini?"
"Iya. Setelah semua selesai."
"Ke rumah?"
Bagas tersenyum.
"Ke rumah."
Ica langsung memandang buku dan bonekanya.
"Semuanya ikut."
"Sudah disiapkan."
"Awan?"
"Awan menunggu di rumah."
Agus melihat wajah kecil itu berubah.
Ada senang.
Ada tidak percaya.
Lalu pertanyaan yang membuat Bagas berhenti sebentar.
"Nanti balik lagi?"
Bagas duduk lebih dekat.
"Kita tetap datang untuk pemeriksaan sesuai jadwal. Dokter masih membantu melihat perkembangan Ica."
Anak itu mengangguk.
Jadi rumah sakit belum benar-benar hilang dari hidupnya.
Namun, hari ini ia boleh pulang.
Untuk pikiran kecil yang sudah terlalu sering diminta menunggu, itu cukup menjadi sesuatu yang besar.
***
Andre telah menerima peringatan sejak pagi.
Tidak ada penyambutan ramai.
Tidak mengumpulkan orang di pintu.
Tidak membawa Rambo untuk berdiri seperti petugas penerima tamu.
Agus mengulangi bagian terakhir melalui telepon.
Andre mendesah.
"Kamu mengira Ayah tidak mengerti?"
"Ayah tadi bertanya apakah Rambo boleh melihat dari dekat."
"Melihat saja."
"Nanti sesuai keadaan. Jangan disiapkan di pintu."
Andre akhirnya mengangguk.
Setelah panggilan berakhir, ia memandang Bunga yang duduk di dekatnya.
"Kita disuruh tenang."
Bunga menggerakkan telinga.
Andre menganggap itu persetujuan.
Ia memeriksa ruangan yang telah disiapkan sesuai kebutuhan dan pengaturan yang dibicarakan dengan Bagas.
Tidak banyak hiasan.
Tidak ada balon.
Hanya rumah yang dibuat lebih mudah digunakan dan orang-orang yang diberi tahu agar tidak membuat Ica kelelahan.
Andre tetap menyelipkan boneka kecil lain di lemari.
Untuk nanti.
Ia merasa kompromi tersebut sangat dewasa.
***
Perjalanan pulang berlangsung tenang.
Agus mengemudi setelah memastikan semua sudah siap. Bagas duduk menemani Ica, sementara pengasuh membantu membawa keperluan.
Anak itu memandangi jalan melalui jendela.
Bangunan yang biasa mungkin terasa baru setelah lama melihat dinding rumah sakit.
Ia menunjuk sesuatu, bertanya singkat, lalu kembali diam.
Bagas tidak terus mengajaknya berbicara.
Agus juga membiarkan musik tetap tidak dinyalakan.
Di tengah perjalanan, Ica bertanya.
"Om kerja?"
"Setelah urusan mengantar selesai, Om punya pekerjaan lain nanti. Sekarang mengantar Ica dulu."
Anak itu mengangguk.
Bagas memandang adiknya melalui kaca.
Jawaban tersebut tidak membuat Agus terdengar seperti orang yang akan berada di rumah selamanya.
Namun, jelas.
Ica mengetahui apa yang sedang dilakukan dan apa yang akan terjadi berikutnya.
Bagas mulai memahami bahwa kepastian kecil sering lebih menenangkan daripada janji yang terlalu luas.
***
Andre membuka pintu ketika mereka tiba.
Ia menahan diri untuk tidak langsung membungkuk terlalu dekat sambil bertanya banyak hal.
"Ica pulang."
Anak itu tersenyum.
"Kakek."
Andre mengusap mata dengan gerakan yang dibuat seolah sedang membetulkan kacamata yang tidak dipakainya.
Agus melihat, tetapi tidak menggoda.
Bagas membantu putrinya mengikuti pengaturan yang telah disiapkan.
Barang dibawa masuk.
Suara orang-orang tetap pelan.
Ica melihat sekeliling dengan perhatian yang membuat rumah terasa seperti tempat baru.
"Boneka Om?"
Agus mengernyit.
"Yang mana?"
Anak itu menunjuk kambing di pelukannya.
"Oh. Itu dari Kakek."
Ica mengangguk, lalu meletakkannya di dekat tempat beristirahat.
Andre terlihat sangat puas.
Boneka tersebut telah memperoleh kedudukan resmi.
Bunga hanya terlihat sekilas dari bagian lain rumah, ditemani pegawai.
Tidak ada pertemuan heboh.
Rumah menyambut Ica dengan tenang, meskipun beberapa penghuninya harus berusaha keras untuk melakukannya.
***
Setelah Ica beristirahat, Bagas berdiri di dekat pintu dan memandang putrinya.
Agus selesai membawa tas terakhir.
"Mas mau duduk?"
Bagas mengangguk, tetapi belum bergerak.
"Aneh."
"Apa?"
"Aku ingin pulang sejak lama. Sekarang sudah di rumah, aku masih seperti menunggu seseorang masuk memeriksa."
Agus berdiri di sampingnya.
"Kalau ada yang perlu dipastikan, kita mengikuti catatan dan menghubungi sesuai petunjuk."
Bagas mengangguk.
Ia mengetahui itu.
Namun, tubuhnya masih terbiasa mendengarkan langkah di lorong.
Andre datang membawa air.
"Minum dulu."
Bagas menerima gelas.
Untuk beberapa menit, mereka bertiga duduk tanpa mengatur apa pun.
Ada pekerjaan berikutnya.
Ada jadwal yang harus diikuti.
Tetapi Ica sedang beristirahat di rumah.
Mereka boleh mengakui kebahagiaan itu sebelum kembali sibuk memastikan semuanya berjalan benar.
***
Karina menerima kabar pulang ketika sedang menyelesaikan catatan pasien.
Ia membaca pesan Bagas dengan senyum yang langsung terlihat Len.
"Jadi pulang?"
Karina mengangguk.
"Sudah sampai rumah."
Len mengucap syukur.
Reina yang berada di dekat mereka ikut tersenyum setelah mendengar.
Karina membalas bahwa dirinya senang menerima kabar tersebut dan berharap Ica dapat beristirahat dengan nyaman.
Ia tidak langsung menawarkan datang.
Hari pertama pulang sudah cukup penuh bagi keluarga itu.
Setelah pekerjaan selesai, ia mengirim satu pesan suara pendek untuk Ica melalui Bagas.
"Selamat pulang. Buku dan fotonya tidak perlu dibuka semua hari ini. Lou juga kadang lebih suka tidur daripada mendengarkan orang bicara."
Len yang mendengar tertawa.
Karina menatapnya.
"Apa?"
"Dokter seperti sedang memberi alasan supaya saya boleh tidur."
"Setelah pekerjaanmu selesai."
Len menghela napas.
Ternyata Lou tetap memiliki hak istimewa yang tidak dibagikan kepada pegawai.
***
Menjelang sore, Agus memeriksa apakah masih ada hal yang perlu dibantu sebelum berangkat menjalankan pekerjaannya.
Bagas mengatakan bahwa semuanya cukup tertata untuk sementara.
Andre akan berada di rumah, dan pembagian berikutnya sudah dibicarakan.
Agus mengambil tas.
Ayahnya memanggil sebelum ia keluar.
"Gus."
"Iya?"
"Jangan lupa urusanmu sendiri juga."
Agus memandangnya.
Andre tampak sedikit tidak nyaman mengucapkan kalimat tersebut.
Beberapa minggu lalu, ia lebih sering menuduh putranya terlalu memikirkan diri sendiri.
Sekarang ia harus mengakui bahwa perubahan juga memerlukan keseimbangan.
"Kalau kamu punya pekerjaan, kerjakan. Yang penting jelas," tambahnya.
Agus mengangguk.
"Iya, Yah."
Ia berpamitan kepada Bagas, lalu melihat Ica sebentar dari tempat yang tidak mengganggu istirahat.
Setelah itu, ia pergi.
Tidak ada rasa bangga karena meninggalkan semua urusan untuk keluarga.
Ia justru merasa lebih tenang karena pekerjaan dan keluarga tidak lagi harus saling dijadikan alasan.
***
Malam pertama di rumah tetap tidak mudah.
Bagas beberapa kali terbangun untuk memastikan sesuatu, lalu harus mengingat kembali hal yang telah dijelaskan kepadanya.
Pengasuh membantu sesuai pembagian.
Andre juga sempat muncul dengan alasan hendak mengambil air.
Bagas menatap gelas kosong di tangan ayahnya.
"Dari tadi Ayah mengambil air terus."
Andre berdeham.
"Haus."
"Dapurnya di arah lain."
Keduanya diam.
Lalu Bagas tersenyum kecil.
Andre akhirnya mengaku hanya ingin melihat apakah semuanya baik.
Bagas mengangguk.
"Aku juga."
Mereka berdiri beberapa saat sebelum kembali beristirahat.
Rumah tidak langsung membuat seluruh ketakutan hilang.
Namun, ada tempat tidur yang dikenal.
Ada suara malam yang akrab.
Dan pagi berikutnya akan datang tanpa mereka harus lebih dahulu mencari jalan menuju ruang tunggu.
***
Sebelum tidur, Bagas mengirim pesan kepada Agus.
Ica sudah beristirahat. Terima kasih untuk hari ini.
Agus membalas setelah selesai bekerja.
Sama-sama, Mas. Besok aku kabari setelah jadwalku selesai.
Kemudian ia membuka pesan Karina yang diteruskan Bagas untuk didengarkan Ica.
Ia tidak memutarnya berulang kali.
Sekali cukup membuatnya tersenyum.
Agus memandang layar, lalu menyadari sesuatu yang sudah beberapa hari berusaha tidak diberi nama.
Ia ingin berbicara dengan Karina ketika tidak ada kambing, pasien, atau urusan keluarga yang menjadi alasan.
Bukan menciptakan alasan baru.
Meminta waktu dengan jelas.
Pikiran itu membuatnya lebih gugup daripada ketika diminta tampil di depan kamera.
Di televisi, ia tahu perannya.
Di hadapan Karina, ia belum tahu apakah akan diberi kursi.