Koper Ditya tidak dapat ditutup.
Karina berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat, memandangi kakaknya yang sedang berusaha menekan bagian atas.
Bi Murni berdiri di sisi lain sambil memegang satu bungkusan terakhir.
Ditya menatap bungkusan itu.
"Bi."
"Ini kecil."
"Semua tadi katanya kecil."
Karina menutup mulut agar tidak tertawa.
Di dalam koper terdapat pakaian, beberapa keperluan pribadi, dan makanan yang jumlahnya mulai mengancam tujuan utama perjalanan.
Ditya menarik napas panjang.
"Kita periksa lagi mana yang benar-benar bisa dibawa."
Bi Murni tampak seperti baru diminta memilih anak kesayangan.
Karina akhirnya masuk membantu.
Mereka memisahkan barang, memeriksa ketentuan yang sudah disiapkan Ditya, lalu menata ulang.
Setelah hampir setengah jam, koper dapat ditutup.
Ditya berdiri dengan wajah puas.
Bi Murni masih memegang dua bungkusan.
"Kalau yang ini?"
"Untuk kami makan sebelum mas pergi," jawab Karina cepat.
Ditya langsung setuju.
Perjalanan damai dimulai dari kesediaan menghabiskan bekal yang tidak ikut berangkat.
***
Hari-hari menjelang keberangkatan dipenuhi pekerjaan kecil yang mudah terlupakan.
Ditya menyelesaikan urusan klinik bersama Reina.
Menghubungi orang tua untuk memastikan rencana kedatangan.
Memeriksa barang yang perlu dititipkan.
Dan menerima daftar permintaan mama yang terus bertambah setelah sempat dinyatakan selesai.
Karina melihat kakaknya membaca pesan dengan dahi berkerut.
"Apa lagi?"
"Mama bilang kalau masih muat, bawa sesuatu."
Karina memandang koper.
"Mas bisa duduk di luar pesawat?"
Ditya menunjuknya.
"Jangan bantu."
Di klinik, staf mengadakan makan bersama sederhana pada waktu yang tidak mengganggu pelayanan.
Len tampak lebih diam daripada biasanya.
Ditya memperhatikannya.
"Jangan terlihat seperti mas akan menghilang."
Len tersenyum malu.
"Tidak, Dok."
"Belajarnya jalan terus."
"Iya."
"Kalau dokter Karina terlalu galak, lapor."
Karina langsung menoleh.
Len tertawa.
"Tapi biasanya dokter Karina galak kalau memang saya salah."
Ditya mengangguk.
"Berarti kamu masih aman."
***
Reina menyerahkan beberapa catatan terakhir setelah makan selesai.
Percakapan mereka berlangsung singkat dan jelas.
Ketika staf lain kembali bekerja, Ditya mengucapkan terima kasih karena perempuan itu telah menjaga klinik selama dirinya jauh.
Reina memandangnya.
"Kita sama-sama punya bagian di sini."
"Aku tahu. Tetap saja, terima kasih."
Reina tersenyum kecil.
Ditya tidak mencoba memperpanjang momen tersebut menjadi sesuatu yang tidak lagi sesuai dengan hidup mereka.
Ia menanyakan satu hal mengenai jadwal, lalu menyimpan catatan.
Sebelum berpisah, Reina berkata bahwa dirinya berharap pekerjaan dan pendidikan berikutnya berjalan baik.
Ditya mengangguk.
"Kamu juga."
Tidak ada pelukan panjang yang membingungkan.
Tidak ada kalimat mengenai bagaimana mereka seharusnya dahulu.
Namun, ketika Ditya keluar dari ruangan, bahunya terasa lebih ringan.
Ada hubungan yang tidak kembali menjadi seperti semula.
Bukan berarti semua yang pernah ada harus dianggap sia-sia.
***
Pagi keberangkatan datang dengan terlalu banyak suara.
Bi Murni mengingatkan sarapan.
Ditya mencari sesuatu yang ternyata sudah berada di saku tas.
Karina memeriksa waktu.
Len membantu membawa barang ke kendaraan sebelum berangkat bekerja.
Di depan rumah, Bi Murni membetulkan kerah Ditya seperti sedang melepas anak sekolah.
"Jangan lupa makan."
"Iya, Bi."
"Jangan hanya kopi."
"Iya."
"Kalau sakit, bilang."
Ditya mengangguk lebih pelan.
Perempuan itu akhirnya berhenti merapikan pakaian yang sudah rapi.
Matanya tampak basah.
Karina langsung menoleh ke arah lain karena tahu dirinya mudah tertular.
Ditya memeluk bi Murni sebentar, lalu berpamitan kepada Len.
Pemuda itu mengangguk berkali-kali.
Setelah kendaraan bergerak, Ditya melihat rumah melalui kaca.
Karina duduk di sebelahnya.
Untuk beberapa menit, mereka tidak saling mengganggu.
Keajaiban kecil yang biasanya hanya terjadi ketika keduanya sedang tidur.
***
Di bandara, urusan keberangkatan memaksa mereka bergerak.
Barang diturunkan.
Dokumen diperiksa.
Waktu terus berjalan meskipun Karina diam-diam ingin memperlambatnya.
Setelah sebagian urusan selesai, mereka duduk sebentar.
Ditya menyerahkan sesuatu dari tas kecil.
Sebungkus makanan ringan.
Karina langsung mengenali.
"Kuku macan?"
"Sisanya."
"Katanya habis."
"Mas menyimpan cadangan."
Karina menatapnya dengan kesal.
Ditya tertawa.
"Sekarang untuk kamu."
Ia mengambil bungkusan itu.
Hadiah perpisahan kakaknya ternyata barang yang seharusnya sudah diberikan sejak awal.
Namun, Karina tetap memegangnya dengan hati-hati.
Ditya memandang adiknya.
"Jangan terlalu sering merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri."
Karina mengangguk.
"Mas juga."
"Mas punya Papa dan Mama nanti."
"Itu justru bisa menambah pekerjaan."
Ditya tertawa cukup keras sampai orang di dekat mereka menoleh.
Karina ikut tertawa.
Lebih mudah begitu daripada langsung menangis.
***
Ketika waktunya berpisah, Ditya berdiri.
Karina ikut bangkit.
Kakaknya memandang wajahnya, lalu mengulurkan tangan seolah hendak berjabat secara resmi.
Karina menatap tangan tersebut.
"Apa ini?"
"Perpisahan profesional."
"Mas menyebalkan."
Ia maju dan memeluk kakaknya.
Ditya tertawa pelan sebelum membalas.
Beberapa detik kemudian, Karina benar-benar menangis.
Tidak keras.
Namun, cukup membuat bahu Ditya sedikit basah.
"Katanya sudah besar," godanya.
"Orang besar juga punya mata."
"Benar."
Ditya menepuk punggungnya.
"Kabari kalau sudah sampai rumah."
"Mas yang pergi jauh."
"Kamu yang nanti menyetir sambil cemberut."
Karina melepaskan pelukan dan mengusap wajah.
Kakaknya menunggu sampai ia dapat tersenyum lagi.
Setelah itu, Ditya mengangkat tangan dan berjalan menuju pemeriksaan berikutnya.
Karina tetap berdiri sampai tidak lagi dapat melihatnya.
Bungkusan makanan di tangannya terasa terlalu ringan untuk menggantikan keributan satu orang.
***
Dalam perjalanan pulang, Karina berhenti sebentar di tempat yang aman.
Ia mengirim pesan kepada bi Murni bahwa Ditya sudah masuk.
Lalu kepada kakaknya, memberitahukan bahwa dirinya akan kembali.
Balasan Ditya datang dengan foto wajah yang sengaja dibuat jelek.
Karina tertawa di antara sisa air mata.
Ia menyimpan ponsel.
Rumah tidak akan menjadi tempat yang asing hanya karena kakaknya pergi.
Ia tahu itu.
Namun, mengetahui sesuatu tidak selalu membuat dada langsung menurut.
Karina menyalakan kendaraan dan melanjutkan perjalanan.
Ia memutuskan mampir ke klinik setelah mengganti pakaian.
Bukan untuk melarikan diri dari kesedihan.
Ada pekerjaan yang memang sudah diatur.
Dan ia menyukai gagasan bahwa setelah perpisahan, dirinya tetap memiliki tempat untuk datang dan sesuatu yang dapat dilakukan.
***
Di rumah sakit, Agus mendengar kabar keberangkatan Ditya dari Bagas.
Karina sebelumnya memberi tahu bahwa hari itu ia tidak dapat berkunjung karena mengantar kakaknya.
Agus mengangguk.
Ia teringat pembicaraan singkat di klinik mengenai perjalanan tersebut.
Gadis itu tampak biasa saja saat itu.
Namun, setelah mengenal sedikit hubungan kedua saudara tersebut, ia dapat membayangkan rumah yang mendadak lebih sepi.
Agus membuka percakapan Karina, lalu berhenti.
Ia tidak ingin membuat kesedihan orang menjadi kesempatan untuk mendekat.
Beberapa saat kemudian, ia menulis pesan sederhana.
"Semoga perjalanan kakak Anda lancar."
Karina membalas setelah beberapa waktu.
"Terima kasih. Mas Ditya sudah masuk."
Agus tidak menambahkan pertanyaan panjang.
Ia kembali membantu Bagas memeriksa keperluan yang akan dibawa ketika Ica diperbolehkan pulang.
Beberapa bentuk perhatian memang cukup berhenti pada satu kalimat yang tepat.
***
Sore itu, Karina datang ke klinik dan langsung disambut Len yang membawa catatan.
Pemuda itu berhenti ketika melihat matanya.
Karina mengangkat tangan.
"Jangan komentar."
"Saya belum—"
"Wajahmu baik sekali. Itu yang membuat saya curiga."
Len tertawa kecil.
Reina menyapa dan menanyakan apakah urusan bandara lancar.
Karina mengangguk.
Pekerjaan kemudian mengambil tempatnya.
Ada pasien.
Ada telepon.
Ada benda yang dipindahkan Ditya sebelum pergi sehingga Karina harus bertanya kepada tiga orang untuk menemukannya.
Ketika akhirnya ditemukan, ia memotret dan mengirim kepada kakaknya.
Mas masih sempat membuat masalah dari pesawat.
Pesan belum dibaca.
Karina tersenyum sendiri.
Jarak akan mengubah banyak kebiasaan.
Tampaknya mengejek kakaknya tidak termasuk yang harus berhenti.
***
Malamnya, meja makan terasa terlalu luas.
Bi Murni tanpa sadar menyiapkan piring lebih banyak, lalu berhenti memandang salah satunya.
Karina melihat, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Ia mengambil piring tersebut dan memindahkannya sambil menanyakan menu besok.
Bi Murni menjawab dengan suara biasa.
Mereka makan perlahan.
Setelah selesai, Karina membuka bungkusan makanan pemberian Ditya.
Ternyata ada secarik kertas di dalam lapisan luarnya.
Tulisan kakaknya pendek dan miring.
Jangan habiskan sambil menangis. Nanti asin semua.
Karina menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa sampai bi Murni bertanya ada apa.
Ia memperlihatkan kertas itu.
Perempuan tersebut menggeleng sambil tersenyum.
Rumah memang lebih sepi malam itu.
Namun, Ditya rupanya masih berhasil menyelipkan keributan kecil dari jauh.