Bi Murni membuka pintu sebelum Karina sempat mengambil kunci.
Gadis itu berhenti dengan tangan masih berada di dalam tas.
"Bibi belum tidur?"
"Belum malam sekali, Non."
Karina mengangguk. Entah mengapa, perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang daripada waktu yang sebenarnya terlewati.
Dari ruang tengah, Ditya menoleh.
Ia tidak langsung berdiri atau menanyakan hasil pertemuan. Kakaknya hanya menggeser tas yang terletak di sofa, memberi tempat jika Karina ingin duduk.
Bi Murni mengambil gelas.
"Makan dulu atau mandi?"
"Mandi dulu, Bi."
"Baik. Jangan lama-lama sampai makanannya ikut tidur."
Karina tersenyum.
Rumah menyambutnya dengan pertanyaan mengenai hal sederhana. Untuk beberapa menit pertama setelah percakapan yang melelahkan, justru itulah yang dibutuhkannya.
Ia naik ke kamar, meletakkan tas, lalu mengeluarkan kertas kecil yang dibawa.
Tiga kalimat di dalamnya tidak sempat dibaca saat pertemuan.
Namun, ia telah mengatakan semuanya.
Karina melipat kertas itu kembali.
Kali ini tangannya tidak gemetar.
***
Ketika turun, makanan sudah tersedia.
Ditya duduk di seberang sambil memegang gelas. Bi Murni mondar-mandir sebentar sebelum akhirnya memilih meninggalkan mereka dengan alasan memeriksa dapur.
Karina tahu perempuan itu mungkin masih dapat mendengar sebagian percakapan.
Ia tidak keberatan.
Ditya menunggu sampai adiknya makan beberapa suap.
"Bagaimana?"
"Sudah bicara."
"Dia mendengarkan?"
"Sebagian."
Ditya mengangkat alis.
Karina menjelaskan bahwa Damar meminta maaf dan mengakui beberapa hal dengan jelas. Namun, kebiasaan lama masih muncul di tengah percakapan.
"Dia sempat membicarakan kemungkinan kalau dulu kami tidak keras kepala."
Ditya meletakkan gelas.
"Lalu?"
"Aku bilang aku tidak datang untuk memulai hubungan lagi."
Kakaknya mengangguk perlahan.
"Bagus kalau kamu bisa mengatakan yang kamu inginkan."
Karina memandang piring.
"Aku takut setelah bilang begitu, aku akan merasa menyesal."
"Sekarang?"
Ia memikirkan jawabannya.
"Lelah."
Ditya tersenyum tipis.
"Itu bukan hal yang sama."
***
Karina menceritakan bagian yang ingin dibagikan.
Ia tidak mengulang setiap kalimat Damar.
Tidak pula membuat laki-laki itu terdengar lebih buruk agar keputusan dirinya mudah disetujui.
Ada permintaan maaf yang terasa sungguh-sungguh.
Ada bagian yang masih membuatnya kesal.
Ada pula kelegaan karena dirinya akhirnya dapat berbicara tanpa menangis sebelum selesai.
Ditya mendengarkan sambil sesekali mengajukan pertanyaan.
Ketika Karina mengatakan bahwa Damar bertanya apakah sudah ada seseorang, kakaknya mendengus.
"Tentu."
Karina menatapnya.
"Aku bilang jawabanku tetap sama, ada atau tidak."
Ditya tersenyum.
Kali ini cukup lebar sampai Karina merasa tidak nyaman.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Mas jangan memasang wajah seperti orang tua di acara kelulusan."
"Mas sedang menahan diri untuk tidak tepuk tangan."
Karina melempar tisu.
Ditya tertawa, lalu mengambil tisu itu sebelum bi Murni melihat mereka mengotori meja.
***
Setelah makan, Karina duduk lebih lama.
Ditya sudah kembali membuka urusan perjalanannya, tetapi tidak pergi ke kamar.
Keberangkatan kakaknya tinggal beberapa hari.
Kenyataan itu mendadak terasa lebih dekat setelah satu urusan lama selesai dibicarakan.
"Nanti kalau mas sudah pergi, rumah sepi lagi."
Ditya menoleh.
"Bi Murni tidak mungkin sepi."
"Maksudku tidak ada yang mencuri makanan."
"Mas menyelamatkan makanan dari kedaluwarsa."
Karina tersenyum, lalu memandangi layar televisi yang tidak dinyalakan.
Ditya menutup laptop.
"Kamu tidak harus menunggu ada masalah besar untuk menelepon."
"Aku tahu."
"Kalau hanya ingin mengeluh tentang pasien yang pemiliknya cerewet, boleh."
"Nanti mas bosan."
"Mas sudah dua puluh lima tahun menghadapi kamu. Kalau mau bosan, seharusnya dari dulu."
Karina menunduk sambil tertawa kecil.
Kakaknya mengacak rambutnya.
Ia menepis, tetapi kali ini hanya setelah beberapa detik.
***
Di rumah sakit, Bagas sedang membicarakan langkah berikutnya dengan tim yang merawat Ica.
Perkembangan anak itu memungkinkan persiapan untuk perawatan di rumah mulai dibahas, meskipun keputusan pulang tetap menunggu penilaian akhir.
Bagas mendengarkan dengan catatan terbuka.
Ada hal yang harus dipahami keluarga.
Ada jadwal lanjutan yang perlu diatur.
Ada pertanyaan yang ternyata baru muncul setelah ia membayangkan putrinya kembali berada di rumah.
Agus duduk di sampingnya.
Ia membantu mencatat, tetapi membiarkan Bagas menyampaikan kekhawatirannya sendiri.
"Kalau kami merasa ragu setelah pulang, menghubungi siapa?"
Penjelasan diberikan dengan jelas.
Bagas mengulang bagian penting untuk memastikan tidak salah memahami.
Agus melihat tangan kakaknya bergerak di atas kertas.
Beberapa waktu lalu, mereka hanya menunggu pintu terbuka.
Sekarang mereka mulai membicarakan bagaimana membawa kehidupan Ica kembali ke rumah.
Perubahannya membuat dada terasa hangat sekaligus berat.
***
Setelah pembicaraan selesai, Bagas tetap memandangi catatan.
Agus menyentuh ujung kertas.
"Ada yang belum jelas?"
"Sudah jelas."
"Tapi?"
Bagas mengusap wajah.
"Di sini selalu ada yang bisa ditanya."
Agus mengangguk.
Ia tidak menertawakan kekhawatiran itu.
Pulang memang kabar baik. Namun, bagi orang yang telah lama menggantungkan rasa aman pada langkah petugas di lorong, rumah dapat mendadak terasa terlalu sunyi.
"Kita siapkan bersama," katanya.
Bagas menatap adiknya.
"Jangan hanya karena ingin membuatku tenang."
"Aku memang punya waktu untuk bagian yang kita atur. Kalau ada yang tidak bisa, aku bilang dari awal."
Bagas mengangguk perlahan.
Janji itu tidak terdengar megah.
Justru karena itu, ia lebih mudah mempercayainya.
Di tempat tidur, Ica memanggil pelan.
Bagas langsung mendekat.
Anak itu ingin memastikan boneka kambingnya tidak tertinggal kalau nanti pulang.
Persiapan pertama rupanya sudah ditentukan pemiliknya sendiri.
***
Andre menerima kabar mengenai pembicaraan pulang dengan semangat yang segera membuat Agus waspada.
"Ayah akan menyiapkan semuanya."
Agus menatapnya melalui panggilan video.
"Semuanya yang mana?"
"Kamar. Rumah. Rambo."
"Rambo tidak perlu disiapkan untuk menyambut."
Andre mengernyit.
"Dia juga keluarga."
"Iya. Tapi Ica perlu istirahat, bukan upacara penerimaan."
Bagas tertawa pelan dari samping.
Andre hendak membantah, kemudian memikirkan kembali.
"Baik. Tidak ada ramai-ramai."
Agus mengangguk.
"Terima kasih, Yah."
"Tapi bonekanya boleh."
"Boneka memang akan dibawa pulang."
Andre tampak puas.
Perundingan selesai tanpa salah satu meninggikan suara.
Setelah panggilan ditutup, Bagas memandang adiknya.
"Kamu sekarang pandai menghadapi Ayah."
Agus mendesah.
"Karena aku mulai mengerti kenapa orang lelah menghadapi aku."
Bagas tertawa lebih lepas kali ini.
***
Keesokan paginya, Karina menerima kabar bahwa persiapan pulang Ica mulai dibicarakan.
Ia tersenyum ketika membaca pesan Bagas.
Len yang sedang merapikan meja langsung bertanya.
"Ica boleh pulang?"
"Belum dipastikan. Sedang disiapkan."
Len mengangguk.
Karina menyukai caranya menerima penjelasan tanpa memaksa kabar baik menjadi lebih cepat.
Mereka melanjutkan pekerjaan.
Ririn menghubungi dari pet shop untuk menanyakan persediaan dan jadwal Karina malam nanti. Setelah urusan selesai, perempuan itu menyelipkan pertanyaan.
"Dokter Rangga masih menyebalkan?"
Karina terdiam.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Katanya sekarang sering membantu."
"Dari siapa?"
"Len."
Karina menoleh kepada pemuda di dekatnya.
Len langsung mengangkat kedua tangan.
"Saya cuma cerita waktu hujan!"
Ririn tertawa di seberang.
Karina menghela napas.
"Dia sedang berusaha memperbaiki diri."
"Oh."
Satu kata itu terdengar terlalu panjang.
***
"Jangan oh begitu," kata Karina.
"Saya tidak bilang apa-apa."
"Nadanya sudah."
Ririn tertawa lagi sebelum berpamitan.
Setelah panggilan berakhir, Karina memandang Len.
Pemuda itu tampak sangat siap mempertahankan diri.
"Saya tidak cerita yang aneh-aneh, Dok."
"Saya tahu."
"Betul?"
Karina mengangguk.
Ia tidak ingin membuat setiap pembicaraan mengenai Agus terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan.
Laki-laki itu memang datang membantu.
Itu kenyataan.
Namun, menyadari bahwa orang lain mulai memperhatikan perubahan mereka membuatnya sedikit salah tingkah.
Len melihat wajahnya, lalu memilih kembali merapikan meja.
Keputusan yang bijaksana.
Karina membuka jadwal pasien agar memiliki sesuatu untuk dipandang.
Beberapa detik kemudian, ia menyadari kertas tersebut terbalik.
Ia membetulkannya sebelum Len sempat melihat.
Setidaknya ia berharap begitu.
***
Malamnya, Karina menyimpan kertas tiga kalimat ke dalam kotak lama.
Bukan bersama benda yang masih ingin dihidupkan kembali.
Melainkan sebagai pengingat bahwa pernah ada hari ketika dirinya berbicara dengan lengkap.
Ponselnya tidak menerima pesan lanjutan dari Damar.
Ia merasa lega.
Jika suatu saat pesan lain datang, ia akan memutuskan saat itu.
Karina menutup kotak, lalu memandang koper Ditya yang terlihat melalui pintu kamar seberang.
Hidup tidak menunggu semua perasaan tertata sebelum bergerak.
Kakaknya akan berangkat.
Ica sedang bersiap pulang.
Len akan mulai belajar lagi.
Dan dirinya masih harus membuka klinik pada pagi berikutnya.
Karina mematikan lampu.
Ada beberapa hal yang belum diketahuinya.
Termasuk apa yang sedang tumbuh setiap kali nama Agus muncul di layar.
Namun, malam itu ketidaktahuan tersebut tidak terasa seperti ancaman.
Ia dapat menunggu sambil tetap menjalani hidupnya.