Karina menyelesaikan pekerjaan sebelum berangkat.
Tidak lebih cepat dengan meninggalkan sesuatu yang penting.
Tidak pula sengaja memperpanjang sampai memiliki alasan membatalkan.
Ia menyerahkan catatan kepada Reina, memastikan Len memahami pekerjaan yang tersisa, lalu mengambil tas.
Ditya sedang berdiri di dekat meja.
"Kabari kalau selesai."
Karina mengangguk.
"Mas jangan menunggu di parkiran."
Ditya mendesah.
"Mas punya pekerjaan."
"Wajah mas kadang punya pekerjaan lain."
Len menunduk sambil tersenyum.
Ditya menunjuk pintu.
"Pergi sebelum mas benar-benar berubah pikiran."
Karina tertawa kecil.
Gurauan itu membantu membuat langkahnya tidak terlalu berat.
Di dalam kendaraan, ia memeriksa alamat sekali lagi, lalu meletakkan ponsel.
Tempat tersebut dikenalnya.
Ia tahu jalannya.
Untuk sesuatu yang terasa begitu rumit, setidaknya perjalanan menuju ke sana tidak perlu ikut membingungkan.
***
Damar sudah datang ketika Karina tiba.
Laki-laki itu berdiri dari kursi dekat jendela.
Ada beberapa perubahan yang langsung terlihat.
Wajahnya lebih matang.
Potongan rambutnya berbeda.
Namun, cara ia tersenyum membuat Karina merasakan gema yang terlalu cepat dikenali.
"Karina."
"Halo."
Ia menerima salam tanpa mendekat lebih jauh daripada yang nyaman.
Damar mempersilakan duduk.
Karina meletakkan tas di samping, lalu memilih minuman setelah pelayan datang.
Damar mengatakan bahwa dirinya masih mengingat minuman yang dahulu disukai Karina.
Gadis itu menatap menu sebentar.
"Sekarang saya ingin yang ini."
Damar mengangguk.
"Baik."
Hal kecil.
Tidak ada pertengkaran.
Namun, Karina merasa perlu menyadari bahwa dirinya tidak wajib mempertahankan semua kebiasaan lama hanya karena seseorang masih mengingatnya.
Pelayan pergi.
Mereka akhirnya duduk berhadapan tanpa sesuatu yang dapat dipakai menunda percakapan.
***
Damar lebih dahulu mengucapkan selamat atas acara televisi.
Karina berterima kasih.
Ia menanyakan pekerjaan secukupnya, lalu mendengarkan jawaban yang disampaikan.
Percakapan awal berjalan sopan.
Terlalu sopan untuk dua orang yang membawa begitu banyak hal belum selesai.
Karina akhirnya meletakkan tangan di meja.
"Kamu bilang ingin meminta maaf."
Damar berhenti tersenyum.
"Iya."
"Aku ingin mendengar bagian itu."
Laki-laki tersebut mengangguk.
Ia mengatakan bahwa melihat Karina menjelaskan pekerjaannya membuatnya menyadari betapa banyak hal yang dahulu tidak diberi kesempatan untuk dipahami.
Karina mendengarkan tanpa menyela.
Damar mengakui pernah terlalu mudah menganggap pilihan Karina hanya reaksi terhadap keadaan.
Pernah meremehkan pendapatnya karena merasa memiliki pengalaman lebih banyak.
"Aku seharusnya tidak bicara seperti itu," katanya.
Karina mengangguk perlahan.
Itu pengakuan yang lebih jelas.
Namun, ia belum selesai mendengar.
***
"Dulu aku pikir kamu akan mengerti maksudku setelah lebih dewasa."
Karina menatapnya.
Damar tampak menyadari perubahan wajah tersebut.
"Maksudku—"
"Itu salah satu masalahnya," kata Karina.
Ia tidak meninggikan suara.
Justru karena tenang, kalimatnya terdengar lebih tegas.
"Setiap aku tidak setuju, kamu menganggap aku belum cukup dewasa untuk memahami."
Damar terdiam.
Karina melanjutkan.
"Aku bisa saja salah. Aku bisa berubah pikiran. Tapi pendapatku tidak otomatis tidak berharga hanya karena berbeda dari pendapatmu."
Damar menunduk sebentar.
"Iya. Aku mengerti sekarang."
Karina tidak langsung menerima kata mengerti sebagai penutup.
Ia telah datang untuk mengatakan sesuatu dengan lengkap.
Dahulu percakapan selalu bergerak terlalu cepat ke penjelasan Damar, sampai dirinya lupa bagian yang ingin disampaikan.
Kali ini ia tetap berada pada kalimatnya sendiri.
"Aku ingin kamu mendengarkan sampai selesai."
Damar mengangguk.
"Silakan."
***
Karina menarik napas.
"Aku memang pernah mempertimbangkan pilihan karena ingin dekat denganmu. Itu benar. Tapi aku juga punya keinginan sendiri."
Damar mendengarkan.
"Ketika semuanya menjadi rumit, aku merasa semua orang hanya melihat bagian pertama. Seolah aku tidak punya pikiran selain mengikutimu."
Ia berhenti sebentar ketika pelayan meletakkan minuman.
Setelah mereka ditinggalkan lagi, Karina melanjutkan.
"Papa sudah bicara denganku tentang bagiannya. Sekarang aku bicara tentang bagianmu."
Damar mengangguk kecil.
Karina memandang gelas.
"Aku ingat bagaimana kamu menertawakan beberapa hal yang ingin kupelajari. Mungkin bagimu gurauan. Tapi aku mulai menyembunyikan pertanyaan karena takut terdengar bodoh."
Wajah Damar berubah.
"Aku tidak tahu sampai begitu."
"Aku juga tidak pandai menjelaskannya waktu itu."
Karina mengangkat wajah.
"Tapi itu tidak membuat kejadiannya tidak ada."
Damar tidak membantah.
Untuk beberapa saat, yang terdengar hanya suara percakapan dari meja lain.
***
"Aku minta maaf," katanya akhirnya.
Kali ini ia tidak langsung menambahkan alasan.
Karina membiarkan kalimat tersebut berada di antara mereka.
Ia tidak merasa semua luka hilang.
Tidak pula memperoleh kepuasan besar melihat Damar menunduk.
Yang dirasakannya justru lelah.
Lelah karena mengingat.
Namun, ada juga kelegaan kecil karena kalimat yang dahulu selalu terpotong akhirnya selesai diucapkan.
"Terima kasih sudah mengatakan itu," jawabnya.
Damar mengangguk.
Ia meminum sedikit, kemudian bertanya mengenai kehidupan Karina sekarang.
Pekerjaan.
Keluarga.
Apakah ia bahagia.
Karina menjawab bagian yang ingin dibagikan.
Ia menceritakan klinik dan kegiatan dengan singkat.
Tidak membuka seluruh urusan Ica.
Tidak menyebut Agus.
Damar tidak memiliki hubungan dengan bagian hidup tersebut.
Karina tidak perlu membawa orang lain ke meja hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak kesepian.
***
"Aku senang melihatmu seperti sekarang," kata Damar.
Karina mengangguk.
"Terima kasih."
"Kalau dulu kita tidak sama-sama keras kepala, mungkin—"
Karina meletakkan gelas.
Damar berhenti.
"Aku tidak datang untuk membicarakan kemungkinan hubungan kita," katanya.
Kalimat itu telah ditulis di kertas.
Namun, mengucapkannya langsung tetap membuat jantungnya berdebar.
Damar memandangnya beberapa detik.
"Aku hanya berpikir."
"Aku mengerti. Tapi aku perlu jelas."
Ia tidak meminta maaf karena membuat suasana kurang nyaman.
Tidak pula melunakkan kalimat sampai maksudnya hilang.
"Aku datang untuk mendengar dan mengatakan hal yang belum selesai. Bukan untuk memulai lagi."
Damar menyandarkan tubuh.
Ada kekecewaan yang terlihat.
Karina membiarkannya ada.
Perasaan laki-laki itu tidak otomatis menjadi sesuatu yang harus diperbaikinya dengan memberi harapan.
***
"Ada seseorang sekarang?" tanya Damar.
Karina terdiam sebentar.
Pertanyaan itu mengingatkannya pada betapa mudah keputusan perempuan dianggap memerlukan laki-laki lain sebagai alasan.
"Ada atau tidak, jawabanku tetap sama."
Damar mengusap tengkuk.
"Baik."
Karina memperhatikan wajahnya.
Ia tidak tampak marah.
Mungkin malu.
Mungkin baru memahami bahwa pertemuan ini tidak bergerak menuju arah yang dibayangkan.
"Aku tidak ingin kita bermusuhan," katanya.
"Aku juga tidak datang untuk bermusuhan."
"Berarti kita bisa tetap berhubungan?"
Karina memikirkan pertanyaan tersebut.
"Aku belum ingin menjanjikan itu."
Damar mengangguk perlahan.
Kali ini ia tidak mendesak.
Karina merasa bahunya turun sedikit.
Percakapan tersebut tidak sempurna.
Namun, ia masih mengenali dirinya sendiri di dalamnya.
Itu jauh lebih penting daripada membuat pertemuan berakhir dengan senyum yang dipaksakan.
***
Ketika waktu yang disediakannya hampir habis, Karina mengatakan harus pulang.
Damar tidak meminta pindah ke tempat lain.
Mereka menyelesaikan pembayaran sesuai pilihan masing-masing setelah Karina mengatakan ingin membayar pesanannya sendiri.
Tidak ada perdebatan panjang.
Di depan, Damar mengucapkan terima kasih karena ia bersedia datang.
Karina mengangguk.
"Semoga pekerjaanmu lancar."
"Kamu juga."
Mereka berpisah.
Karina berjalan menuju kendaraan tanpa menoleh berkali-kali.
Namun, setelah duduk dan menutup pintu, kedua tangannya terasa lemas.
Ia meletakkannya di pangkuan.
Menarik napas.
Mengembuskan perlahan.
Ternyata berbicara tenang tidak berarti tubuh tidak bekerja keras.
Ia mengirim pesan kepada Ditya.
Sudah selesai. Aku pulang sebentar lagi.
Balasan kakaknya datang singkat.
Hati-hati.
Tidak ada rentetan pertanyaan.
Karina tersenyum kecil.
Ia membutuhkan beberapa menit sebelum mulai mengemudi.
Dan waktu itu boleh diambilnya.
***
Di rumah sakit, Agus sedang membantu Bagas membereskan buku ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Karina.
Laki-laki itu menatap layar dengan terkejut.
"Pembicaraannya sudah selesai. Terima kasih atas ucapanmu kemarin."
Agus membacanya dua kali.
Ia ingin bertanya bagaimana hasilnya.
Ingin mengetahui apakah Karina sedih.
Ingin menawarkan banyak hal sekaligus.
Namun, ia berhenti dan memikirkan pesan yang benar-benar diterimanya.
Karina sedang memberi kabar.
Bukan menyerahkan seluruh percakapan untuk diperiksa.
Agus membalas.
"Terima kasih sudah mengabari. Semoga perjalanan pulangnya lancar."
Ia meletakkan ponsel setelah itu.
Bagas melihat senyum yang sulit disembunyikan.
"Kabar baik?"
Agus mengangguk kecil.
"Sepertinya."
Ia kembali merapikan buku.
Di kendaraan, Karina membaca balasan tersebut sebelum berangkat.
Tidak ada tuntutan penjelasan.
Tidak ada pertanyaan yang membuatnya harus mengulang seluruh percakapan ketika masih lelah.
Ia menyimpan ponsel, lalu menyalakan mesin.
Hari itu ia telah meninggalkan satu kursi di seberang masa lalu.
Dan pulang menuju hidup yang masih dapat dipilihnya sendiri.