Ditya akhirnya menunjukkan rencana perjalanan yang sudah lebih pasti.
Karina membacanya sambil berdiri di dekat meja makan.
Waktunya terasa terlalu dekat meskipun mereka telah membicarakannya berkali-kali.
Bi Murni langsung mulai menghitung makanan yang dapat disiapkan untuk dibawa.
Ditya mengangkat tangan.
"Bi, jangan satu dapur."
"Kalau mas tidak mau, nanti bilang."
"Mau. Tapi tidak semuanya bisa dibawa."
Bi Murni mendesah seolah aturan perjalanan sengaja dibuat untuk menghalangi kasih sayang.
Karina mengembalikan ponsel.
"Papa sudah tahu?"
"Sudah."
"Mama?"
"Lebih cepat tahu daripada mas selesai memeriksa."
Karina tersenyum.
Ditya memandangnya.
"Kita masih punya waktu menyelesaikan pekerjaan."
"Aku tahu."
"Dan mas tetap bisa dihubungi."
"Aku juga tahu."
Kakaknya mengangguk.
Namun, ketika Karina berbalik, ia menyadari bahwa mengetahui sesuatu tidak membuatnya lebih mudah diterima.
Rumah akan kembali lebih tenang.
Ia belum yakin menyukai bagian itu.
***
Di klinik, mereka melakukan pembagian pekerjaan dengan lebih teratur.
Reina ikut memeriksa jadwal.
Len mencatat bagian yang berkaitan dengan waktu belajarnya.
Karina memastikan tidak ada keputusan yang hanya disimpan di kepala salah satu orang.
Ditya melihat adiknya mengulang beberapa hal.
"Sudah tertulis."
"Aku memastikan."
"Kalau kamu memastikan sepuluh kali, tulisannya tidak bertambah."
Karina menatapnya.
Reina menahan senyum.
Len memilih memandang kertas.
Rapat kecil itu akhirnya selesai tanpa pertengkaran.
Ada pekerjaan yang tetap harus disesuaikan setelah Ditya pergi, tetapi mereka memiliki dasar yang jelas.
Reina menyampaikan bahwa dirinya akan memastikan staf mengetahui perubahan yang berkaitan dengan tugas masing-masing.
Ditya mengangguk.
Percakapan mereka kembali terasa sebagai kerja dua orang yang saling memahami kemampuan.
Karina memperhatikan tanpa bertanya mengenai hal pribadi.
Kakaknya juga memiliki urusan yang tidak selalu perlu dibuka di hadapannya.
***
Menjelang siang, Andre menghubungi klinik untuk menanyakan satu bagian dari catatan Rambo.
Staf membantu meneruskan pertanyaan sesuai kebutuhan.
Karina menjawab setelah selesai menangani pasien.
Percakapan berlangsung singkat.
Tidak ada sindiran mengenai calon menantu.
Tidak ada usaha mencari tahu apakah dirinya sering bertemu Agus di rumah sakit.
Setelah telepon ditutup, Karina merasa lega.
Hubungannya dengan keluarga itu perlahan memiliki bentuk yang lebih nyaman.
Andre boleh menjadi pemilik pasien yang cerewet.
Bagas boleh menjadi ayah yang mengirim kabar Ica.
Agus boleh menjadi laki-laki yang masih sedang dikenalnya melalui perbuatan.
Tidak semuanya harus disatukan menjadi rencana orang lain.
Len membawa berkas berikutnya.
"Pak Andre masih tanya Rambo boleh lari?"
Karina mengangguk.
Len tertawa.
"Sepertinya yang perlu dibatasi kegiatan bapaknya."
Karina menutup mulut.
Ia tidak akan membenarkan kalimat tersebut dalam catatan medis.
Namun, sulit menyangkal bahwa Len memahami persoalannya.
***
Di rumah sakit, Agus mendapati Bagas sedang membaca pesan pekerjaan dengan wajah tegang.
Ica sedang beristirahat.
Agus duduk agak jauh dan menunggu sampai kakaknya selesai.
"Ada masalah kantor?"
Bagas mengusap kening.
"Ada hal yang harus diselesaikan. Tidak besar, tapi tidak bisa terus ditunda."
"Mas perlu pergi?"
"Mungkin beberapa jam besok."
"Aku bisa membantu pada waktu yang sudah kuatur. Kita cocokkan."
Bagas memandangnya.
Agus mengambil catatan jadwal.
Mereka membicarakan waktu secara konkret.
Tidak ada janji akan tersedia sepanjang hari jika kenyataannya tidak.
Setelah memperoleh pengaturan yang memungkinkan, Bagas mengembuskan napas.
"Terima kasih."
Agus mengangguk.
Dahulu ia mungkin akan langsung berkata bahwa dirinya bersedia melakukan apa saja, lalu baru memikirkan benturannya belakangan.
Sekarang ia mencoba melakukan bagian yang lebih membosankan.
Memeriksa.
Memastikan.
Datang sesuai yang dikatakan.
Bagas tampak lebih percaya justru karena janji itu tidak terlalu besar.
***
Jo menemui mereka beberapa saat kemudian.
Penjelasan mengenai perkembangan Ica membuat Bagas dapat menanyakan kemungkinan langkah berikutnya, termasuk hal-hal yang masih perlu dipenuhi sebelum pembicaraan pulang menjadi lebih dekat.
Jo menjawab tanpa memberikan tanggal yang belum dapat dipastikan.
Bagas mengangguk.
Agus memperhatikan bahwa kakaknya tidak lagi langsung terlihat patah setiap kali mendengar kata belum.
Bukan karena sudah tidak berharap.
Mungkin karena ia mulai memahami bahwa setiap tahap memiliki pekerjaan sendiri.
Setelah Jo pergi, Ica terbangun dan meminta air sesuai pengaturan yang telah dijelaskan kepada keluarga.
Bagas membantunya.
Anak itu lalu bertanya apakah Papa akan membaca buku nanti.
"Iya," jawab Bagas.
"Yang bukan kambing."
Agus langsung menoleh.
"Akhirnya."
Bagas menahan tawa.
Ica memandang pamannya.
"Kambingnya sudah banyak."
Agus mengangguk sangat serius.
"Om setuju."
Di rumah, Andre tentu akan menganggap percakapan tersebut sebagai pengkhianatan.
***
Sore itu Karina datang sebentar untuk mengantar foto yang sebelumnya dijanjikan melalui Bagas.
Kunjungannya singkat karena masih memiliki pekerjaan.
Agus bertemu dengannya di luar ruangan ketika hendak mengambil sesuatu.
Mereka saling menyapa.
Karina tampak membawa pikiran lain, tetapi Agus tidak kembali mengajukan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
Ia hanya menanyakan apakah pekerjaan di shelter sudah lebih teratur setelah hujan.
Karina menjawab.
Percakapan mengalir beberapa menit sebelum gadis itu melihat waktu.
"Saya harus kembali."
Agus mengangguk.
"Hati-hati."
Karina berhenti sesaat.
"Besok saya bertemu seseorang dari masa lalu."
Kalimat itu keluar sebelum ia benar-benar merencanakannya.
Agus menatapnya.
Ada perubahan kecil pada wajahnya, tetapi ia tidak segera bertanya siapa atau mengapa.
Karina sendiri tampak terkejut telah mengatakan sesuatu.
Ia membetulkan tas.
"Urusan yang pernah saya sebut."
Agus mengangguk perlahan.
"Semoga pembicaraannya memberi kejelasan yang Anda perlukan."
***
Jawaban itu membuat Karina memandangnya lebih lama.
Ia mungkin mengharapkan pertanyaan.
Atau gurauan.
Bukan kalimat yang mengembalikan pusat pertemuan kepada dirinya sendiri.
"Terima kasih," katanya.
Agus mengangguk.
Ia memang penasaran.
Lebih dari yang ingin diakui.
Ada bagian dirinya yang mendadak ingin mengetahui apakah orang itu laki-laki, apakah mereka pernah dekat, dan apakah pertemuan tersebut dapat mengubah sesuatu yang bahkan belum dimilikinya.
Namun, pertanyaan-pertanyaan itu bukan keadaan darurat.
Ia dapat menahannya.
Karina berpamitan.
Agus membiarkannya pergi.
Setelah gadis itu tidak terlihat, ia tetap berdiri beberapa detik.
Ternyata belajar menghormati orang lain tidak selalu membuat perasaan menjadi nyaman.
Kadang justru berarti membiarkan ketidaknyamanan itu ada tanpa menjadikannya pekerjaan orang lain.
Agus mengusap wajah, lalu kembali mengambil barang yang sejak tadi hendak dicari.
***
Bagas langsung mengetahui bahwa pikiran adiknya sedang tidak sepenuhnya berada di tempat.
Agus menyerahkan barang yang salah.
Bagas memandangnya.
"Ini bukan yang tadi."
Agus melihat tangannya.
"Oh."
Ia mengambil yang benar.
Bagas tidak bertanya sampai Ica kembali beristirahat.
"Ada apa?"
Agus duduk.
"Karina akan bertemu seseorang dari masa lalunya."
Bagas mengangguk.
"Lalu?"
"Tidak ada."
"Kelihatannya ada."
Agus menghela napas.
"Aku penasaran."
"Itu bisa dimengerti."
"Aku juga tidak suka."
Bagas memandangnya tanpa terkejut.
"Kamu tidak harus menyukai semua keputusan orang yang kamu perhatikan."
Agus diam.
"Tapi keputusan itu tetap bukan milikmu," lanjut Bagas.
"Aku tahu."
"Bagus."
Agus menyandarkan kepala.
Kakaknya tidak memberikan cara agar dirinya merasa menang.
Karena memang tidak ada pertandingan yang sedang berlangsung.
Karina hanya sedang menjalani urusannya sendiri.
***
Malam sebelum pertemuan, Karina memilih pakaian sederhana yang biasa dikenakannya ketika keluar setelah bekerja.
Ia tidak mencoba terlihat seperti perempuan yang dibayangkan Damar dahulu.
Rambutnya akan dirapikan.
Itu cukup.
Bi Murni datang membawa segelas air.
"Sudah pilih?"
Karina mengangguk.
Perempuan itu melihat pakaian di kursi.
"Bagus."
"Biasa saja."
"Non mau bicara atau ikut lomba?"
Karina tertawa.
Setelah bi Murni pergi, ia membuka kertas berisi tiga kalimat yang telah ditulis.
Ia membacanya sekali lagi.
Tidak ada jaminan besok akan terasa mudah.
Damar mungkin memahami.
Mungkin juga tidak.
Karina tidak dapat menentukan respons orang lain.
Namun, ia dapat menentukan berapa lama dirinya tinggal, apa yang ingin dikatakan, dan kapan percakapan selesai.
Ia menyimpan kertas di dalam tas.
Lalu meletakkan ponsel di meja.
Untuk malam itu, persiapannya sudah cukup.
Besok ia tidak datang untuk membuktikan bahwa dirinya pantas dipilih.
Ia datang sebagai orang yang sudah memiliki pilihan.